Menu Tutup

Passive Voice: Kapan dan Bagaimana Menggunakannya?

Dalam dunia tulis-menulis, pemilihan antara kalimat aktif dan pasif seringkali menjadi dilema. Banyak penulis, baik pemula maupun berpengalaman, terkadang bingung kapan sebaiknya menggunakan passive voice atau kalimat pasif. Padahal, pemahaman yang tepat tentang penggunaan passive voice dapat membuat tulisan Anda lebih variatif, formal, atau bahkan lebih fokus pada objek tertentu. Artikel ini akan mengupas tuntas seluk-beluk passive voice, mulai dari pengertian dasar hingga panduan praktis kapan dan bagaimana menggunakannya secara efektif dalam tulisan Anda.

Apa Itu Passive Voice (Kalimat Pasif)?

Sebelum melangkah lebih jauh, mari kita pahami terlebih dahulu apa sebenarnya passive voice itu.

Definisi Sederhana Passive Voice

Secara sederhana, passive voice adalah struktur kalimat di mana subjek kalimat menerima tindakan, bukan melakukan tindakan. Fokus utama dalam kalimat pasif adalah pada objek yang dikenai pekerjaan atau hasil dari suatu tindakan, sementara pelaku tindakan (agen) bisa jadi kurang penting atau bahkan tidak disebutkan sama sekali.

Perbedaan Mendasar dengan Kalimat Aktif (Active Voice)

Untuk memahami passive voice dengan lebih baik, penting untuk membandingkannya dengan kalimat aktif (active voice).

  • Kalimat Aktif: Subjek melakukan aksi terhadap objek.
    • Pola: Subjek + Predikat (Kata Kerja Aktif) + Objek
    • Contoh: “Andi memakan apel itu.” (Andi adalah subjek yang melakukan aksi ‘memakan’ terhadap objek ‘apel itu’).
  • Kalimat Pasif: Objek dari kalimat aktif menjadi subjek yang dikenai aksi.
    • Pola: Subjek (awalnya objek) + Predikat (Kata Kerja Pasif: di-/ter- + kata kerja dasar atau to be + past participle) + (oleh + Agen/Pelaku)
    • Contoh: “Apel itu dimakan (oleh) Andi.” (Apel itu adalah subjek yang dikenai aksi ‘dimakan’).

Bagaimana Cara Membentuk Kalimat Pasif?

Pembentukan passive voice dalam bahasa Indonesia umumnya menggunakan awalan di- atau ter- pada kata kerja. Dalam bahasa Inggris, polanya adalah to be + past participle (Verb 3).

  • Contoh Bahasa Indonesia:
    • Aktif: Polisi menangkap pencuri itu.
    • Pasif: Pencuri itu ditangkap (oleh) polisi.
  • Contoh Bahasa Inggris:
    • Aktif: The cat chased the mouse.
    • Pasif: The mouse was chased (by the cat).

Kapan Sebaiknya Menggunakan Passive Voice?

Meskipun kalimat aktif seringkali dianggap lebih lugas dan bertenaga, ada situasi-situasi tertentu di mana penggunaan passive voice justru lebih tepat dan efektif. Berikut adalah beberapa kondisi kapan Anda sebaiknya mempertimbangkan menggunakan kalimat pasif:

  1. Ketika Pelaku Aksi Tidak Diketahui atau Tidak Penting:Jika siapa atau apa yang melakukan tindakan tidak diketahui, tidak relevan, atau tidak ingin Anda tonjolkan, passive voice adalah pilihan yang baik.
    • Contoh: “Dompet saya telah dicuri.” (Siapa yang mencuri tidak diketahui atau tidak menjadi fokus utama).
    • Contoh: “Kesalahan telah dibuat.” (Fokus pada kesalahan itu sendiri, bukan siapa yang melakukannya).
  2. Ketika Objek Aksi Lebih Penting daripada Pelaku:Dalam tulisan ilmiah, laporan, atau berita, seringkali objek atau hasil dari tindakan lebih penting daripada pelakunya.
    • Contoh: “Sampel tersebut kemudian dipanaskan hingga suhu 100°C.” (Fokus pada ‘sampel’ dan proses yang dialaminya).
    • Contoh: “Undang-undang baru telah disahkan.” (Fokus pada ‘undang-undang baru’).
  3. Untuk Memberikan Kesan Formal, Objektif, atau Ilmiah:Passive voice sering digunakan dalam penulisan akademis, laporan resmi, dan dokumen teknis untuk menciptakan nada yang lebih impersonal dan objektif.
    • Contoh: “Berdasarkan data yang terkumpul, dapat disimpulkan bahwa…”
  4. Untuk Menghindari Menyebutkan Pelaku Secara Langsung (Menjaga Kesopanan atau Menghindari Menyalahkan):Terkadang, menggunakan passive voice bisa menjadi cara yang lebih halus untuk menyampaikan informasi tanpa harus secara eksplisit menyebut atau menyalahkan seseorang.
    • Contoh: “Pekerjaan itu tidak diselesaikan tepat waktu.” (Lebih sopan daripada “Anda tidak menyelesaikan pekerjaan itu tepat waktu.”).
  5. Untuk Variasi Gaya Penulisan:Menggunakan kombinasi kalimat aktif dan pasif dapat membuat tulisan Anda lebih dinamis dan tidak monoton. Namun, pastikan penggunaannya tetap tepat sasaran.

Bagaimana Cara Menggunakan Passive Voice dengan Tepat?

Setelah mengetahui kapan waktu yang tepat, penting juga untuk memahami cara menggunakan passive voice secara benar agar pesan tersampaikan dengan jelas.

  • Pastikan Kejelasan Makna:Meskipun menyembunyikan pelaku bisa jadi tujuan, jangan sampai kalimat pasif Anda menjadi ambigu atau sulit dipahami. Pastikan konteksnya jelas bagi pembaca.
  • Gunakan Kata Kerja Bantu (Auxiliary Verb) yang Sesuai (khususnya dalam Bahasa Inggris):Dalam bahasa Inggris, perhatikan penggunaan be (is, am, are, was, were, been, being) yang sesuai dengan tense kalimat.
    • Contoh: The report is written by the team. (Simple Present)
    • Contoh: The discovery was made accidentally. (Simple Past)
  • Perhatikan Bentuk Kata Kerja:Dalam bahasa Indonesia, pastikan penggunaan awalan di- atau ter- sudah benar. Dalam bahasa Inggris, gunakan Past Participle (Verb 3).
  • Hindari Penggunaan Berlebihan:Meskipun bermanfaat, penggunaan passive voice yang berlebihan dapat membuat tulisan terasa kaku, berbelit-belit, dan kurang bertenaga. Kalimat aktif umumnya lebih langsung dan mudah dicerna. Gunakan passive voice secara strategis.

Kapan Harus Menghindari Passive Voice?

Secara umum, hindari passive voice ketika:

  • Anda ingin tulisan lebih lugas, langsung, dan bersemangat.
  • Pelaku tindakan penting untuk diketahui dan ingin ditonjolkan.
  • Penggunaannya membuat kalimat menjadi tidak jelas atau terlalu panjang.

Kesimpulan: Menguasai Passive Voice untuk Tulisan Lebih Baik

Passive voice atau kalimat pasif bukanlah struktur yang harus dihindari sama sekali. Sebaliknya, ia adalah alat yang berguna dalam “kotak perkakas” seorang penulis. Dengan memahami apa itu passive voice, kapan sebaiknya menggunakan passive voice, dan bagaimana cara menggunakannya dengan tepat, Anda dapat meningkatkan kualitas tulisan Anda.

Kunci utamanya adalah keseimbangan dan tujuan. Gunakan passive voice ketika situasinya memang membutuhkan penekanan pada objek atau ketika pelaku tidak relevan. Di sisi lain, tetaplah utamakan kalimat aktif untuk kejelasan dan ketegasan dalam sebagian besar tulisan Anda. Dengan latihan dan kepekaan terhadap konteks, Anda akan semakin mahir menentukan kapan struktur pasif menjadi pilihan terbaik untuk menyampaikan pesan Anda secara efektif.

Lainnya: