{"id":4686,"date":"2023-08-28T12:02:10","date_gmt":"2023-08-28T12:02:10","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=4686"},"modified":"2023-08-28T12:02:10","modified_gmt":"2023-08-28T12:02:10","slug":"vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/","title":{"rendered":"Vulkanisme: Jenis Erupsi, Gejala, dan Bentuk Gunung Api yang Berbeda"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/#Gejala_Vulkanisme\" >Gejala Vulkanisme<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/#Gejala_Pravulkanisme\" >Gejala Pravulkanisme<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/#Gejala_Pascavulkanisme\" >Gejala Pascavulkanisme<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/#Erupsi_Gunung_Api\" >Erupsi Gunung Api<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/#Erupsi_Efusif\" >Erupsi Efusif<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/#Erupsi_Eksplosif\" >Erupsi Eksplosif<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/vulkanisme-jenis-erupsi-gejala-dan-bentuk-gunung-api-yang-berbeda\/#Bentuk_Gunung_Api\" >Bentuk Gunung Api<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Vulkanisme adalah fenomena alam yang berkaitan dengan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan bumi melalui celah, rekahan, atau ventilasi<sup>1<\/sup>.\u00a0Magma adalah batuan cair yang sangat panas dan terus bergerak di dalam lapisan litosfer<sup>2<\/sup>. Ketika magma mencapai permukaan bumi, namanya berubah menjadi lava.\u00a0Vulkanisme dapat menimbulkan berbagai gejala, seperti erupsi gunung api, geiser, fumarol, dan sumber air panas<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Gejala_Vulkanisme\"><\/span><strong>Gejala Vulkanisme<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Gejala vulkanisme dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu gejala pravulkanisme dan gejala pascavulkanisme<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Gejala_Pravulkanisme\"><\/span>Gejala Pravulkanisme<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Gejala pravulkanisme adalah gejala yang muncul sebelum terjadinya vulkanisme atau erupsi gunung api. Gejala ini dapat berupa:<\/p>\n<ul>\n<li>Sering terjadi gempa di sekitar gunung api<\/li>\n<li>Banyak sumber air mengering atau berkurang debitnya<\/li>\n<li>Peningkatan temperatur di sekitar kawah<\/li>\n<li>Terdengar gemuruh dari dalam gunung<\/li>\n<li>Hewan-hewan dari puncak gunung turun ke lereng gunung<\/li>\n<\/ul>\n<p>Gejala pravulkanisme ini dapat digunakan sebagai tanda peringatan untuk mengantisipasi erupsi gunung api.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Gejala_Pascavulkanisme\"><\/span>Gejala Pascavulkanisme<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Gejala pascavulkanisme adalah gejala yang muncul setelah terjadinya vulkanisme atau erupsi gunung api. Gejala ini dapat berupa:<\/p>\n<ul>\n<li>Munculnya sumber air panas atau geiser<\/li>\n<li>Munculnya sumber gas atau ekshalasi seperti belerang<\/li>\n<li>Munculnya sumber air yang mengandung mineral seperti belerang atau sulfur<\/li>\n<li>Terbentuknya bentang alam vulkanik seperti kawah, kaldera, danau kawah, dan kerucut abu<\/li>\n<\/ul>\n<p>Gejala pascavulkanisme ini dapat dimanfaatkan untuk kepentingan wisata, pengobatan, atau penelitian.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Erupsi_Gunung_Api\"><\/span><strong>Erupsi Gunung Api<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Erupsi gunung api adalah proses keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan bumi melalui ventilasi<sup>1<\/sup>.\u00a0Erupsi gunung api dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu erupsi efusif dan erupsi eksplosif<sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Erupsi_Efusif\"><\/span>Erupsi Efusif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Erupsi efusif adalah erupsi yang terjadi ketika magma yang sangat panas dengan viskositas (kekentalan) yang rendah keluar dari dalam bumi<sup>4<\/sup>. Magma yang cair ini membuat gas terlarut dapat keluar dengan mudah. Kandungan gas dalam erupsi efusif juga tidak terlalu banyak sehingga magma mengalir keluar tanpa menimbulkan ledakan yang besar. Erupsi efusif sering disebut sebagai lelehan lava. Contoh gunung api yang mengalami erupsi efusif adalah Gunung Kilauea di Hawaii.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Erupsi_Eksplosif\"><\/span>Erupsi Eksplosif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Erupsi eksplosif adalah erupsi yang terjadi ketika magma yang sangat kental dengan viskositas (kekentalan) yang tinggi keluar dari dalam bumi<sup>4<\/sup>. Magma yang kental ini membuat gas terlarut sulit keluar sehingga menimbulkan tekanan yang besar. Kandungan gas dalam erupsi eksplosif juga sangat banyak sehingga magma keluar dengan ledakan yang dahsyat. Erupsi eksplosif sering menghasilkan piroklastik, yaitu material vulkanik padat seperti abu, pasir, kerikil, dan batu. Contoh gunung api yang mengalami erupsi eksplosif adalah Gunung Krakatau di Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bentuk_Gunung_Api\"><\/span><strong>Bentuk Gunung Api<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bentuk gunung api dipengaruhi oleh tipe erupsinya. Ada beberapa bentuk gunung api yang umum ditemukan di dunia, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Gunung api perisai: bentuknya melengkung seperti perisai karena terbentuk dari lelehan lava yang mengalir jauh. Contoh: Gunung Kilauea di Hawaii.<\/li>\n<li>Gunung api kerucut: bentuknya seperti kerucut karena terbentuk dari piroklastik yang menumpuk di sekitar ventilasi. Contoh: Gunung Bromo di Indonesia.<\/li>\n<li>Gunung api stratovolcano: bentuknya tinggi dan runcing karena terbentuk dari lapisan-lapisan lava dan piroklastik yang bergantian. Contoh: Gunung Fuji di Jepang.<\/li>\n<li>Gunung api kaldera: bentuknya seperti cekungan besar karena terbentuk dari runtuhnya puncak gunung api setelah erupsi besar. Contoh: Danau Toba di Indonesia.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Vulkanisme: Pengertian, Gejala, Erupsi &amp; Bentuk Gunung Api &#8211; Ruangguru. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/pengertian-dan-gejala-vulkanisme.<br \/>\n(2) Vulkanisme: Pengertian dan Macam-macamnya &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2022\/03\/15\/101709569\/vulkanisme-pengertian-dan-macam-macamnya.<br \/>\n(3) Vulkanisme &#8211; ESDM. https:\/\/magma.esdm.go.id\/v1\/edukasi\/glossary\/vulkanisme.<br \/>\n(4) Vulkanisme &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Vulkanisme.<br \/>\n(5) Vulkanisme: Pengertian, Gejala, dan Macam-macamnya. https:\/\/kumparan.com\/kabar-harian\/vulkanisme-pengertian-gejala-dan-macam-macamnya-1x29x4hKmSu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Vulkanisme adalah fenomena alam yang berkaitan dengan keluarnya magma dari dalam bumi ke permukaan bumi melalui celah, rekahan, atau ventilasi1.\u00a0Magma adalah batuan cair yang sangat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4686","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4686","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4686"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4686\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4686"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4686"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4686"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}