{"id":4676,"date":"2023-08-28T10:59:40","date_gmt":"2023-08-28T10:59:40","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=4676"},"modified":"2023-08-28T10:59:40","modified_gmt":"2023-08-28T10:59:40","slug":"siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/","title":{"rendered":"Siklus Batuan Penyusun Litosfer: Proses, Jenis, dan Contoh Soal"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Pengertian_Litosfer\" >Pengertian Litosfer<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Jenis-Jenis_Batuan_Penyusun_Litosfer\" >Jenis-Jenis Batuan Penyusun Litosfer<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Batuan_Beku\" >Batuan Beku<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Batuan_Sedimen\" >Batuan Sedimen<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Batuan_Metamorf\" >Batuan Metamorf<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Siklus_Batuan_Penyusun_Litosfer\" >Siklus Batuan Penyusun Litosfer<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Tahap_Pembentukan_Batuan_Beku\" >Tahap Pembentukan Batuan Beku<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Tahap_Pembentukan_Batuan_Sedimen\" >Tahap Pembentukan Batuan Sedimen<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Tahap_Pembentukan_Batuan_Metamorf\" >Tahap Pembentukan Batuan Metamorf<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/siklus-batuan-penyusun-litosfer-proses-jenis-dan-contoh-soal\/#Tahap_Pembentukan_Magma\" >Tahap Pembentukan Magma<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Litosfer\"><\/span><strong>Pengertian Litosfer<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Litosfer berasal dari kata lithos yang berarti batu dan sphere yang berarti lapisan. Jadi, litosfer adalah lapisan Bumi yang tersusun oleh batu-batuan. Litosfer merupakan bagian dari kerak Bumi yang memiliki ketebalan sekitar 50-100 km. Litosfer terdiri dari dua bagian, yaitu lapisan SiAl (Silium Alumunium) dan lapisan SiMa (Silium Magnesium).\u00a0Lapisan SiAl selalu berada di atas lapisan SiMa karena memiliki berat jenis yang lebih kecil<sup>1<\/sup><sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Litosfer juga merupakan lapisan yang kuat dan kaku yang terletak di atas astenosfer, yaitu lapisan yang lemah dan plastis. Astenosfer merupakan sumber magma yang dapat menembus litosfer melalui celah-celah atau retakan-retakan.\u00a0Litosfer juga dapat turun ke astenosfer akibat gaya regang atau gaya tekan<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Litosfer terpecah-pecah menjadi beberapa lempeng tektonik yang dapat bergerak satu sama lain akibat konveksi mantel.\u00a0Pergerakan lempeng tektonik ini dapat menyebabkan fenomena geologis seperti gempa bumi, gunung berapi, pegunungan, palung laut, dan sebagainya<sup>2<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jenis-Jenis_Batuan_Penyusun_Litosfer\"><\/span><strong>Jenis-Jenis Batuan Penyusun Litosfer<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Batuan penyusun litosfer dapat dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Setiap jenis batuan memiliki karakteristik dan proses pembentukan yang berbeda.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Batuan_Beku\"><\/span>Batuan Beku<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma atau lava yang membeku atau mengkristal menjadi padat.\u00a0Magma adalah cairan panas yang berasal dari dalam Bumi, sedangkan lava adalah magma yang keluar ke permukaan Bumi melalui gunung berapi<sup>1<\/sup><sup>4<\/sup>.<\/p>\n<p>Ciri-ciri batuan beku adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Homogen dan kompak<\/li>\n<li>Tidak terdapat pelapisan<\/li>\n<li>Tidak mengandung fosil<\/li>\n<li>Tersusun atas kristal-kristal<\/li>\n<\/ul>\n<p>Berdasarkan tempat pembekuannya, batuan beku dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Batuan beku dalam (plutonik\/tubir), yaitu batuan yang membeku di dalam dapur magma secara perlahan-lahan sehingga memiliki kristal-kristal besar. Contoh: granit, diorit, gabro.<\/li>\n<li>Batuan beku luar (leleran\/ekstrusiva), yaitu batuan yang membeku di permukaan Bumi secara cepat sehingga memiliki kristal-kristal kecil atau tidak tampak. Contoh: andesit, basalt, riolit.<\/li>\n<li>Batuan beku korok\/gang (intrusif), yaitu batuan yang membeku di antara lapisan-lapisan litosfer sehingga memiliki kristal-kristal sedang. Contoh: pegmatit, porfiri.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Batuan_Sedimen\"><\/span>Batuan Sedimen<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk dari endapan-endapan bahan-bahan yang tererosi, terangkut, dan terendapkan di permukaan Bumi.\u00a0Endapan-endapan ini dapat berasal dari batuan beku, batuan sedimen, atau batuan metamorf yang mengalami pelapukan dan pengikisan oleh air, angin, es, atau makhluk hidup<sup>1<\/sup><sup>4<\/sup>.<\/p>\n<p>Ciri-ciri batuan sedimen adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Tidak homogen dan tidak kompak<\/li>\n<li>Terdapat pelapisan<\/li>\n<li>Mengandung fosil<\/li>\n<li>Tersusun atas butir-butir<\/li>\n<\/ul>\n<p>Berdasarkan asal bahan penyusunnya, batuan sedimen dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Batuan sedimen klastik (mekanik), yaitu batuan yang terbentuk dari endapan-endapan butiran batuan yang terikat oleh semen alami. Contoh: konglomerat, breksi, batu pasir, batu lempung.<\/li>\n<li>Batuan sedimen non-klastik (kimia), yaitu batuan yang terbentuk dari endapan-endapan zat-zat yang larut dalam air yang mengendap dan mengkristal. Contoh: gamping, dolomit, gipsum, halit.<\/li>\n<li>Batuan sedimen organik (biogenik), yaitu batuan yang terbentuk dari endapan-endapan sisa-sisa makhluk hidup yang mengalami penguraian atau pengawetan. Contoh: batu bara, gambut, kalkarenit, kalkarudit.<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Batuan_Metamorf\"><\/span>Batuan Metamorf<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk dari perubahan bentuk dan susunan mineral batuan beku, batuan sedimen, atau batuan metamorf lainnya akibat tekanan dan suhu tinggi di dalam Bumi.\u00a0Proses perubahan ini disebut metamorfosis<sup>1<\/sup><sup>4<\/sup>.<\/p>\n<p>Ciri-ciri batuan metamorf adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Homogen dan kompak<\/li>\n<li>Tidak terdapat pelapisan<\/li>\n<li>Tidak mengandung fosil<\/li>\n<li>Tersusun atas kristal-kristal<\/li>\n<\/ul>\n<p>Berdasarkan jenis tekanan yang dialaminya, batuan metamorf dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li>Batuan metamorf dinamis (regional), yaitu batuan yang terbentuk akibat tekanan arah yang tidak sama (tekanan diferensial) yang menyebabkan rekahan-rekahan atau lipatan-lipatan pada batuan. Contoh: sekis, filit, skolopendrit.<\/li>\n<li>Batuan metamorf termal (kontak), yaitu batuan yang terbentuk akibat tekanan arah yang sama (tekanan hidrostatik) dan suhu tinggi dari magma yang menyebabkan perubahan mineral pada batuan. Contoh: marmer, kuarsit, hornfels.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Siklus_Batuan_Penyusun_Litosfer\"><\/span><strong>Siklus Batuan Penyusun Litosfer<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Siklus batuan penyusun litosfer adalah proses perubahan jenis batuan yang terjadi secara berulang-ulang akibat faktor-faktor geologis seperti vulkanisme, erosi, sedimentasi, metamorfosis, dan peleburan.\u00a0Siklus ini dapat dimulai dari jenis batuan apapun dan berakhir pada jenis batuan yang sama atau berbeda<sup>5<\/sup><sup>6<\/sup>.<\/p>\n<p>Siklus batuan penyusun litosfer dapat dijelaskan sebagai berikut:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tahap_Pembentukan_Batuan_Beku\"><\/span>Tahap Pembentukan Batuan Beku<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tahap ini dimulai dari magma yang berasal dari astenosfer atau mantel Bumi. Magma ini dapat naik ke permukaan Bumi melalui celah-celah atau retakan-retakan pada litosfer akibat pergerakan lempeng tektonik. Magma ini kemudian akan membeku atau mengkristal menjadi padat dan membentuk batuan beku. Proses pembekuan magma dapat terjadi di dalam Bumi (batuan beku dalam), di permukaan Bumi (batuan beku luar), atau di antara lapisan-lapisan litosfer (batuan beku korok).<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tahap_Pembentukan_Batuan_Sedimen\"><\/span>Tahap Pembentukan Batuan Sedimen<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tahap ini dimulai dari batuan beku yang mengalami pelapukan dan pengikisan oleh air, angin, es, atau makhluk hidup. Butiran-butiran hasil erosi ini kemudian akan terangkut dan terendapkan di permukaan Bumi. Endapan-endapan ini kemudian akan mengalami litifikasi, yaitu proses pengerasan menjadi batuan sedimen akibat tekanan, suhu, dan semen alami. Proses litifikasi dapat terjadi di dasar laut, sungai, danau, padang pasir, rawa, atau tempat lainnya.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tahap_Pembentukan_Batuan_Metamorf\"><\/span>Tahap Pembentukan Batuan Metamorf<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tahap ini dimulai dari batuan beku atau batuan sedimen yang mengalami perubahan bentuk dan susunan mineral akibat tekanan dan suhu tinggi di dalam Bumi. Tekanan dan suhu tinggi ini dapat berasal dari magma, lempeng tektonik, atau gaya tektonik lainnya. Perubahan ini menyebabkan batuan menjadi lebih padat, keras, dan berstruktur kristal. Proses perubahan ini disebut metamorfosis.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tahap_Pembentukan_Magma\"><\/span>Tahap Pembentukan Magma<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tahap ini dimulai dari batuan metamorf yang mengalami peleburan akibat tekanan dan suhu yang sangat tinggi di dalam Bumi. Peleburan ini menghasilkan cairan panas yang disebut magma. Magma ini kemudian dapat naik kembali ke permukaan Bumi melalui celah-celah atau retakan-retakan pada litosfer dan membentuk batuan beku. Dengan demikian, siklus batuan penyusun litosfer berulang kembali.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Batuan Penyusun Litosfer Bumi dan Siklusnya | idschool. https:\/\/idschool.net\/sma\/jenis-batuan-penyusun-litosfer-bumi-dan-siklusnya\/.<br \/>\n(2) Litosfer &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Litosfer.<br \/>\n(3) Litosfer: Pengertian, Bentuk, Perubahaan, Susunan dan Teori. https:\/\/triyanagroup.co.id\/materi-litosfer.<br \/>\n(4) Gambarlah dan jelaskan siklus batuan penyusun lito&#8230; &#8211; Roboguru. https:\/\/roboguru.ruangguru.com\/forum\/gambarlah-dan-jelaskan-siklus-batuan-penyusun-litosfer-atau-kulit-bumi-_FRM-XSZ8QNA8.<br \/>\n(5) Pengertian Litosfer, Struktur Lapisan, dan Jenis Batuan Penyusunnya. https:\/\/tirto.id\/pengertian-litosfer-struktur-lapisan-dan-jenis-batuan-penyusunnya-gbEi.<br \/>\n(6) Batuan Beku, Sedimen, Metamorf adalah Batuan Penyusun Litosfer &#8211; Tirto.ID. https:\/\/tirto.id\/batuan-beku-sedimen-metamorf-adalah-batuan-penyusun-litosfer-gceE.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Litosfer Litosfer berasal dari kata lithos yang berarti batu dan sphere yang berarti lapisan. Jadi, litosfer adalah lapisan Bumi yang tersusun oleh batu-batuan. Litosfer&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4676","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4676"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4676\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}