{"id":44963,"date":"2024-10-05T10:56:20","date_gmt":"2024-10-05T03:56:20","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=41990"},"modified":"2024-10-05T10:56:20","modified_gmt":"2024-10-05T03:56:20","slug":"mengapa-mencubit-termasuk-kdrt-dan-bagaimana-cara-mengatasinya-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/mengapa-mencubit-termasuk-kdrt-dan-bagaimana-cara-mengatasinya-2\/","title":{"rendered":"Mencubit sebagai Bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/mengapa-mencubit-termasuk-kdrt-dan-bagaimana-cara-mengatasinya-2\/#Definisi_KDRT_dan_Kekerasan_Fisik\" >Definisi KDRT dan Kekerasan Fisik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/mengapa-mencubit-termasuk-kdrt-dan-bagaimana-cara-mengatasinya-2\/#Bentuk-Bentuk_Kekerasan_dalam_KDRT\" >Bentuk-Bentuk Kekerasan dalam KDRT<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/mengapa-mencubit-termasuk-kdrt-dan-bagaimana-cara-mengatasinya-2\/#Perlindungan_Hukum_bagi_Korban_KDRT\" >Perlindungan Hukum bagi Korban KDRT<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/mengapa-mencubit-termasuk-kdrt-dan-bagaimana-cara-mengatasinya-2\/#Dampak_Kekerasan_Fisik_Seperti_Mencubit\" >Dampak Kekerasan Fisik Seperti Mencubit<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/mengapa-mencubit-termasuk-kdrt-dan-bagaimana-cara-mengatasinya-2\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan salah satu isu yang kompleks dan memerlukan perhatian serius. Banyak orang menganggap KDRT hanya berupa tindakan kekerasan fisik yang menyebabkan luka berat, namun faktanya, bentuk-bentuk KDRT bisa beragam, termasuk tindakan yang sering dianggap sepele, seperti mencubit. Berdasarkan <strong>Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT)<\/strong>, tindakan seperti mencubit bisa termasuk dalam kategori KDRT apabila dilakukan dalam konteks intimidasi atau menyebabkan penderitaan fisik, psikologis, atau seksual terhadap korban. Artikel ini akan membahas secara mendalam apakah tindakan mencubit bisa termasuk dalam KDRT dan bagaimana perlindungan hukum di Indonesia mengatur hal tersebut.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Definisi_KDRT_dan_Kekerasan_Fisik\"><\/span>Definisi KDRT dan Kekerasan Fisik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Menurut <strong>Pasal 1 UU PKDRT<\/strong>, KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang, terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, atau penelantaran rumah tangga. Hal ini mencakup ancaman untuk melakukan tindakan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga.<\/p>\n<p>Kekerasan fisik, sebagaimana dijelaskan dalam <strong>Pasal 6 UU PKDRT<\/strong>, adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat. Dalam hal ini, mencubit bisa digolongkan sebagai tindakan kekerasan fisik apabila dilakukan dengan intensi yang menyakiti atau menyebabkan rasa sakit pada korban.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bentuk-Bentuk_Kekerasan_dalam_KDRT\"><\/span>Bentuk-Bentuk Kekerasan dalam KDRT<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kekerasan dalam rumah tangga tidak hanya terbatas pada kekerasan fisik. <strong>UU PKDRT<\/strong> menjelaskan beberapa bentuk kekerasan yang termasuk dalam KDRT, antara lain:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Kekerasan fisik<\/strong> \u2013 termasuk tindakan yang menyebabkan rasa sakit atau luka, seperti memukul, mencubit, atau menendang.<\/li>\n<li><strong>Kekerasan psikis<\/strong> \u2013 tindakan yang menyebabkan ketakutan, rasa tidak nyaman, atau penderitaan psikologis, seperti penghinaan atau ancaman verbal.<\/li>\n<li><strong>Kekerasan seksual<\/strong> \u2013 segala bentuk pemaksaan hubungan seksual, termasuk pelecehan seksual atau pemerkosaan dalam lingkup rumah tangga.<\/li>\n<li><strong>Penelantaran rumah tangga<\/strong> \u2013 tindakan yang mengabaikan tanggung jawab untuk memberikan kebutuhan dasar bagi anggota keluarga, termasuk kebutuhan ekonomi.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam konteks ini, mencubit bisa dikategorikan sebagai kekerasan fisik jika dilakukan secara berulang atau dengan intensi tertentu, serta menyebabkan korban merasa sakit, takut, atau terintimidasi.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perlindungan_Hukum_bagi_Korban_KDRT\"><\/span>Perlindungan Hukum bagi Korban KDRT<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sejak diundangkannya <strong>UU PKDRT<\/strong>, pemerintah Indonesia telah memberikan payung hukum untuk melindungi korban KDRT. Korban kekerasan fisik, seperti akibat mencubit, berhak mendapatkan perlindungan hukum yang meliputi:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Perlindungan fisik dan psikis<\/strong> dari pelaku.<\/li>\n<li><strong>Layanan kesehatan<\/strong> untuk pemulihan kondisi korban.<\/li>\n<li><strong>Bantuan hukum<\/strong> melalui pendampingan dalam proses peradilan.<\/li>\n<li><strong>Pendampingan sosial dan psikologis<\/strong> untuk membantu korban menghadapi trauma.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain itu, korban juga dapat melaporkan kasus KDRT ke pihak berwajib untuk diusut tuntas dan diadili berdasarkan hukum yang berlaku.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_Kekerasan_Fisik_Seperti_Mencubit\"><\/span>Dampak Kekerasan Fisik Seperti Mencubit<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Meskipun mencubit mungkin terlihat sepele, dampaknya terhadap korban tidak boleh dianggap remeh. Tindakan ini dapat menimbulkan:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Luka fisik<\/strong> \u2013 Mencubit bisa menyebabkan memar, luka, atau rasa sakit yang signifikan.<\/li>\n<li><strong>Dampak psikologis<\/strong> \u2013 Korban bisa merasa tertekan, takut, atau terintimidasi, yang berpotensi mengarah pada trauma berkepanjangan.<\/li>\n<li><strong>Kerusakan hubungan<\/strong> \u2013 Tindakan seperti mencubit bisa merusak kepercayaan dan keintiman dalam hubungan rumah tangga, terutama jika dilakukan berulang kali.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dalam beberapa kasus, kekerasan fisik yang dimulai dengan tindakan kecil seperti mencubit bisa meningkat menjadi bentuk kekerasan yang lebih parah. Oleh karena itu, penting bagi korban untuk segera melaporkan tindakan kekerasan ini agar bisa dihentikan dan mendapatkan bantuan yang diperlukan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Mencubit, jika dilakukan dengan maksud menyakiti atau menimbulkan penderitaan, termasuk dalam kategori KDRT berdasarkan <strong>UU Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga<\/strong>. Tindakan ini dianggap sebagai bentuk kekerasan fisik yang dapat berdampak buruk pada kondisi fisik dan psikologis korban. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk menyadari bahwa tindakan kekerasan sekecil apapun dalam lingkup rumah tangga harus dihindari dan dilaporkan agar dapat diatasi dengan tepat. Pemerintah, melalui UU PKDRT, telah menyediakan perlindungan bagi korban, termasuk akses terhadap bantuan hukum, kesehatan, dan sosial.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<ul>\n<li>Wati, Emy Rosna. &#8220;Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga di Kabupaten Sidoarjo Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004.&#8221; Halu Oleo Law Review, vol. 1, no. 1, 2017, pp. 86-104. Neliti.<\/li>\n<li>Harwati, Tuti. &#8220;Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Perlindungan Anak.&#8221; UIN Mataram, 2020. UIN Mataram Repository.<\/li>\n<li>Yusnita. &#8220;Perlindungan Hukum Terhadap Anak Korban Kekerasan.&#8221; IAIN Bengkulu, 2020. IAIN Bengkulu Repository.<\/li>\n<li>&#8220;Pengantar Hukum Kekerasan Dalam Rumah Tangga.&#8221; Universitas Jayabaya, 2021. Jayabaya Repository.<\/li>\n<li>Anam, Ahmad Sofwanul. &#8220;Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan Hukum di Indonesia.&#8221; UIN Walisongo, 2015. Walisongo Repository.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) merupakan salah satu isu yang kompleks dan memerlukan perhatian serius. Banyak orang menganggap KDRT hanya berupa tindakan kekerasan fisik yang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[521,507],"class_list":["post-44963","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam","tag-ekonomi","tag-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44963","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44963"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44963\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44963"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44963"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44963"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}