{"id":4474,"date":"2023-08-27T00:51:14","date_gmt":"2023-08-27T00:51:14","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=4474"},"modified":"2023-08-27T00:51:14","modified_gmt":"2023-08-27T00:51:14","slug":"jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Jenis-Jenis Manusia Purba yang Pernah Hidup di Indonesia"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Meganthropus_Paleojavanicus\" >Meganthropus Paleojavanicus<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Pithecanthropus\" >Pithecanthropus<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Pithecanthropus_Mojokertensis\" >Pithecanthropus Mojokertensis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Pithecanthropus_Erectus\" >Pithecanthropus Erectus<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Pithecanthropus_Soloensis\" >Pithecanthropus Soloensis<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Homo\" >Homo<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Homo_Soloensis\" >Homo Soloensis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Homo_Wajakensis\" >Homo Wajakensis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Homo_Floresiensis\" >Homo Floresiensis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/jenis-jenis-manusia-purba-yang-pernah-hidup-di-indonesia\/#Homo_Sapiens\" >Homo Sapiens<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Manusia purba adalah manusia yang hidup sebelum tulisan ditemukan. Cara hidup mereka masih sangat sederhana dan masih sangat bergantung pada alam. Di Indonesia, terdapat banyak situs tempat fosil manusia purba ditemukan, seperti di Sangiran, Mojokerto, Solo, Ngandong, Pacitan, Wajak, Liang Bua, dan lain-lain. Berdasarkan fosil-fosil yang ditemukan, para ahli mengklasifikasikan beberapa jenis manusia purba yang pernah hidup di Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Meganthropus_Paleojavanicus\"><\/span><strong>Meganthropus Paleojavanicus<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Meganthropus paleojavanicus berarti manusia besar tertua dari Jawa. Nama ini diambil dari kata mega (besar), anthropus (manusia), paleo (tua), dan javanicus (Jawa). Jenis manusia purba ini pertama kali ditemukan oleh G. H. R.\u00a0von Koenigswald di Sangiran, Jawa Tengah pada tahun 1936-1941<sup>1<\/sup>. Fosil yang ditemukan berupa rahang bawah yang memiliki ukuran yang cukup besar.\u00a0Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa meganthropus memiliki tinggi badan sekitar 2 meter dan berat sekitar 100 kg<sup>2<\/sup>. Ciri-ciri meganthropus antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan tajam di belakang kepala.<\/li>\n<li>Bertulang pipi tebal dengan tonjolan kening yang mencolok.<\/li>\n<li>Tidak mempunyai dagu, sehingga lebih menyerupai kera.<\/li>\n<li>Mempunyai otot kunyah, gigi, dan rahang yang besar dan kuat.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Meganthropus hidup pada zaman Pleistosen awal, sekitar 1-2 juta tahun yang lalu<sup>2<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pithecanthropus\"><\/span><strong>Pithecanthropus<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pithecanthropus berarti manusia kera yang berjalan tegak. Nama ini diambil dari kata pithecos (kera) dan anthropus (manusia). Jenis manusia purba ini terdiri dari tiga sub-jenis, yaitu:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pithecanthropus_Mojokertensis\"><\/span>Pithecanthropus Mojokertensis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pithecanthropus mojokertensis berarti manusia kera dari Mojokerto.\u00a0Jenis manusia purba ini ditemukan oleh von Koenigswald di Mojokerto, Jawa Timur pada tahun 1936<sup>1<\/sup>. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak bagian atas yang masih utuh.\u00a0Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa pithecanthropus mojokertensis memiliki tinggi badan sekitar 165-180 cm dan berat sekitar 60 kg<sup>2<\/sup>. Ciri-ciri pithecanthropus mojokertensis antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan kening yang lebar dan menonjol.<\/li>\n<li>Mempunyai rongga mata yang dalam dan sempit.<\/li>\n<li>Mempunyai tulang hidung yang rendah dan lebar.<\/li>\n<li>Mempunyai otak yang kecil, sekitar 900 cc.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pithecanthropus mojokertensis hidup pada zaman Pleistosen tengah, sekitar 800 ribu tahun yang lalu<sup>2<\/sup>.\u00a0Jenis manusia purba ini diyakini sebagai yang paling tua usianya di antara jenis-jenis pithecanthropus lainnya<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pithecanthropus_Erectus\"><\/span>Pithecanthropus Erectus<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pithecanthropus erectus berarti manusia kera berbadan tegak.\u00a0Jenis manusia purba ini ditemukan oleh Eugene Dubois di Lembah Bengawan Solo, Jawa Tengah pada tahun 1891<sup>1<\/sup>. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak bagian atas dan tulang paha.\u00a0Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa pithecanthropus erectus memiliki tinggi badan sekitar 170 cm dan berat sekitar 70 kg<sup>2<\/sup>. Ciri-ciri pithecanthropus erectus antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan kening yang lebar dan menonjol.<\/li>\n<li>Mempunyai rongga mata yang dalam dan sempit.<\/li>\n<li>Mempunyai tulang hidung yang rendah dan lebar.<\/li>\n<li>Mempunyai otak yang kecil, sekitar 900 cc.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pithecanthropus erectus hidup pada zaman Pleistosen tengah, sekitar 800 ribu tahun yang lalu<sup>2<\/sup>.\u00a0Jenis manusia purba ini merupakan jenis pertama yang ditemukan di Indonesia dan dianggap sebagai nenek moyang manusia modern<sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pithecanthropus_Soloensis\"><\/span>Pithecanthropus Soloensis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pithecanthropus soloensis berarti manusia kera dari Solo.\u00a0Jenis manusia purba ini ditemukan oleh Oppenoorth di Ngandong, Jawa Tengah pada tahun 1931<sup>1<\/sup>. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak bagian atas dan tulang rahang.\u00a0Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa pithecanthropus soloensis memiliki tinggi badan sekitar 180 cm dan berat sekitar 80 kg<sup>2<\/sup>. Ciri-ciri pithecanthropus soloensis antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan kening yang lebar dan menonjol.<\/li>\n<li>Mempunyai rongga mata yang dalam dan sempit.<\/li>\n<li>Mempunyai tulang hidung yang rendah dan lebar.<\/li>\n<li>Mempunyai otak yang besar, sekitar 1100 cc.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pithecanthropus soloensis hidup pada zaman Pleistosen akhir, sekitar 300 ribu tahun yang lalu<sup>2<\/sup>.\u00a0Jenis manusia purba ini merupakan jenis terakhir dari pithecanthropus dan dianggap sebagai peralihan ke jenis homo<sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Homo\"><\/span><strong>Homo<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Homo berarti manusia. Nama ini diambil dari kata homo yang dalam bahasa Latin berarti manusia. Jenis manusia purba ini terdiri dari empat sub-jenis, yaitu:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Homo_Soloensis\"><\/span>Homo Soloensis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Homo soloensis berarti manusia dari Solo.\u00a0Jenis manusia purba ini ditemukan oleh Ter Haar di Ngandong, Jawa Tengah pada tahun 1931<sup>1<\/sup>. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak bagian atas dan tulang rahang.\u00a0Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa homo soloensis memiliki tinggi badan sekitar 180 cm dan berat sekitar 80 kg<sup>2<\/sup>. Ciri-ciri homo soloensis antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan kening yang lebar dan menonjol.<\/li>\n<li>Mempunyai rongga mata yang dalam dan sempit.<\/li>\n<li>Mempunyai tulang hidung yang rendah dan lebar.<\/li>\n<li>Mempunyai otak yang besar, sekitar 1100 cc.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Homo soloensis hidup pada zaman Pleistosen akhir, sekitar 300 ribu tahun yang lalu<sup>2<\/sup>.\u00a0Jenis manusia purba ini merupakan jenis peralihan dari pithecanthropus soloensis ke homo sapiens<sup>4<\/sup>.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Homo_Wajakensis\"><\/span>Homo Wajakensis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Homo wajakensis berarti manusia dari Wajak. Jenis manusia purba ini ditemukan oleh Dubois di Wajak, Jawa Timur pada tahun 1889. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak bagian atas dan tulang rahang. Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa homo wajakensis memiliki tinggi badan sekitar 160 cm dan berat sekitar 60 kg. Ciri-ciri homo wajakensis antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan kening yang sedikit menonjol.<\/li>\n<li>Mempunyai rongga mata yang agak luas dan datar.<\/li>\n<li>Mempunyai tulang hidung yang tinggi dan sempit.<\/li>\n<li>Mempunyai otak yang besar, sekitar 1200 cc.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan dan hewan kecil.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Homo wajakensis hidup pada zaman Pleistosen akhir, sekitar 200 ribu tahun yang lalu. Jenis manusia purba ini merupakan jenis peralihan dari pithecanthropus ke homo sapiens.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Homo_Floresiensis\"><\/span>Homo Floresiensis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Homo floresiensis berarti manusia dari Flores.\u00a0Jenis manusia purba ini ditemukan oleh tim arkeologi Indonesia-Australia di Liang Bua, Pulau Flores pada tahun 2003<sup>1<\/sup>. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak, tulang rahang, tulang belakang, tulang tangan, tulang kaki, dan tulang pinggul.\u00a0Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa homo floresiensis memiliki tinggi badan sekitar 100 cm dan berat sekitar 25 kg<sup>2<\/sup>. Ciri-ciri homo floresiensis antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan kening yang sedikit menonjol.<\/li>\n<li>Mempunyai rongga mata yang agak luas dan datar.<\/li>\n<li>Mempunyai tulang hidung yang tinggi dan sempit.<\/li>\n<li>Mempunyai otak yang sangat kecil, sekitar 400 cc.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan, hewan kecil, dan burung.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Homo floresiensis hidup pada zaman Pleistosen akhir hingga Holosen awal, sekitar 95 ribu hingga 12 ribu tahun yang lalu<sup>2<\/sup>.\u00a0Jenis manusia purba ini memiliki ukuran tubuh yang sangat kecil dan dijuluki sebagai \u201chobbit\u201d karena mirip dengan karakter fiksi dalam novel The Lord of the Rings<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Homo_Sapiens\"><\/span>Homo Sapiens<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Homo sapiens berarti manusia yang bijaksana. Jenis manusia purba ini merupakan jenis manusia modern yang masih hidup hingga saat ini.\u00a0Jenis manusia purba ini ditemukan di berbagai tempat di Indonesia, seperti di Pacitan, Jawa Timur; Wajak, Jawa Timur; Gilimanuk, Bali; dan Leang-Leang, Sulawesi Selatan<sup>1<\/sup>. Fosil yang ditemukan berupa tengkorak, tulang rahang, tulang tangan, tulang kaki, dan tulang pinggul.\u00a0Dari hasil rekonstruksi, para ahli memperkirakan bahwa homo sapiens memiliki tinggi badan sekitar 160-180 cm dan berat sekitar 60-80 kg<sup>2<\/sup>. Ciri-ciri homo sapiens antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Mempunyai tonjolan kening yang tidak menonjol.<\/li>\n<li>Mempunyai rongga mata yang luas dan datar.<\/li>\n<li>Mempunyai tulang hidung yang tinggi dan sempit.<\/li>\n<li>Mempunyai otak yang besar, sekitar 1400 cc.<\/li>\n<li>Makanannya berupa tumbuh-tumbuhan, hewan besar, dan ikan.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Homo sapiens hidup pada zaman Pleistosen akhir hingga saat ini, sekitar 200 ribu tahun yang lalu hingga sekarang<sup>2<\/sup>. Jenis manusia purba ini merupakan jenis manusia yang paling maju dalam hal kebudayaan dan teknologi. Mereka mampu membuat alat-alat dari batu, tulang, kayu, logam, dan bahan lainnya.\u00a0Mereka juga mampu membuat seni lukis di gua-gua dan membuat perhiasan dari manik-manik<sup>4<\/sup>.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Manusia Purba Di Indonesia &#8211; Pengertian, Jenis, Ciri, Gambar. https:\/\/www.dosenpendidikan.co.id\/manusia-purba-di-indonesia\/.<br \/>\n(2) Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia | Sejarah Kelas 10. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/manusia-purba-indonesia.<br \/>\n(3) Manusia Purba di Indonesia: Jenis dan Ciri-cirinya &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/01\/30\/170000169\/manusia-purba-di-indonesia-jenis-dan-ciri-cirinya.<br \/>\n(4) Sejarah Penemuan Manusia Purba dan Jenis-jenisnya di Indonesia &#8211; detikcom. https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-6619657\/sejarah-penemuan-manusia-purba-dan-jenis-jenisnya-di-indonesia.<br \/>\n(5) 8 Jenis Manusia Purba yang Ditemukan di Indonesia Lengkap Ciri-cirinya &#8230;. https:\/\/kebudayaan.kemdikbud.go.id\/bpsmpsangiran\/8-jenis-manusia-purba-yang-ditemukan-di-indonesia-lengkap-ciri-cirinya\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Manusia purba adalah manusia yang hidup sebelum tulisan ditemukan. Cara hidup mereka masih sangat sederhana dan masih sangat bergantung pada alam. Di Indonesia, terdapat banyak&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4474","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4474","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4474"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4474\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4474"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4474"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4474"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}