{"id":4409,"date":"2023-08-26T01:08:14","date_gmt":"2023-08-26T01:08:14","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=4409"},"modified":"2023-08-26T01:08:14","modified_gmt":"2023-08-26T01:08:14","slug":"respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/","title":{"rendered":"Respon Internasional terhadap Kemerdekaan RI"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Latar_Belakang\" >Latar Belakang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Respon_Positif\" >Respon Positif<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Mesir\" >Mesir<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#India\" >India<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Australia\" >Australia<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Respon_Negatif\" >Respon Negatif<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Belanda\" >Belanda<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Inggris\" >Inggris<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Amerika_Serikat\" >Amerika Serikat<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-ri\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang\"><\/span><strong>Latar Belakang<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II. Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan pernyataan keberanian dan tekad bangsa Indonesia untuk melepaskan diri dari penjajahan asing yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Namun, proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak serta merta diakui oleh dunia internasional. Belanda, sebagai mantan penjajah, masih menganggap Indonesia sebagai bagian dari wilayahnya dan berusaha untuk merebut kembali kekuasaannya. Indonesia pun harus menghadapi berbagai tantangan dan rintangan untuk mempertahankan dan mengukuhkan kedaulatannya di mata dunia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Respon_Positif\"><\/span><strong>Respon Positif<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Meskipun banyak negara yang masih ragu-ragu atau bahkan menolak untuk mengakui kemerdekaan Indonesia, ada juga beberapa negara yang memberikan respon positif dan mendukung perjuangan Indonesia. Berikut ini adalah beberapa contoh negara yang memberikan respon positif terhadap kemerdekaan Indonesia:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Mesir\"><\/span>Mesir<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Mesir merupakan negara Arab pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada tanggal 22 Maret 1946<sup>1<\/sup>. Mesir juga mendorong agar negara-negara anggota Liga Arab melakukan hal yang sama. Terlebih Liga Arab mendukung perjuangan dekolonisasi yang dilakukan bangsa-bangsa mayoritas muslim. Selain itu, hubungan negara-negara Arab dengan Indonesia juga telah terjalin sejak lama. Oleh sebab itu, kabar kemerdekaan Indonesia menuai simpati dari rakyat Mesir.<\/p>\n<p>Pada tanggal 10 Juni 1947, Mesir mengakui kedaulatan negara RI secara de jure<sup>2<\/sup>. Hal ini ditandai dengan ditanda-tanganinya secara resmi perjanjian persahabatan antara Indonesia dan Mesir. Perjanjian ini juga membuka kerja sama di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan antara kedua negara.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"India\"><\/span>India<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>India merupakan salah satu sahabat Indonesia. Keduanya sama-sama paham sulitnya hidup di bawah belenggu kolonialisme selama berabad-abad. Oleh sebab itu kedua bangsa ini saling bekerja sama.\u00a0Pada 1946 Indonesia mengirim bantuan sebesar 500.000 ton beras kepada India yang saat itu sedang mengalami krisis pangan akibat penjajahan Inggris<sup>3<\/sup>. India membalas kebaikan hati rakyat Indonesia dengan turut menyuarakan perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Ketika Belanda melakukan agresi militer, India merupakan salah satu negara yang mengutuk tindakan tersebut.\u00a0India juga berperan aktif dalam membentuk Komite Nasional Asia-Afrika (KNAA) pada tahun 1947, yang bertujuan untuk membantu perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia dan Afrika<sup>4<\/sup>. India juga menjadi salah satu inisiator Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955, yang menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok (GNB).<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Australia\"><\/span>Australia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Australia juga memberikan dukungan kepada Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaannya. Ribuan pelaut Australia melakukan boikot besar-besaran terhadap kapal-kapal milik Belanda yang memuat persenjataan. Akibatnya kapal-kapal tersebut tidak dapat melanjutkan pelayaran ke Indonesia.\u00a0Peristiwa ini dinamai \u201cBlack Armada\u201d<sup>3<\/sup>. Aksi tersebut didukung oleh Partai Buruh yang saat itu menguasai pemerintahan Australia.<\/p>\n<p>Selain itu, Australia juga secara aktif mendorong Dewan Keamanan PBB untuk menyelesaikan masalah Indonesia dan mengakui kedaulatannya.\u00a0Australia juga menjadi salah satu anggota Komisi Tiga Negara (KTN) bersama Belgia dan Amerika Serikat, yang bertugas untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1947<sup>5<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Respon_Negatif\"><\/span><strong>Respon Negatif<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Di sisi lain, ada juga negara-negara yang memberikan respon negatif terhadap kemerdekaan Indonesia. Negara-negara ini umumnya masih memiliki kepentingan kolonial atau tidak ingin melihat Indonesia menjadi negara yang berdaulat dan berpengaruh di kawasan Asia. Berikut ini adalah beberapa contoh negara yang memberikan respon negatif terhadap kemerdekaan Indonesia:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Belanda\"><\/span>Belanda<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Belanda merupakan negara yang paling menentang kemerdekaan Indonesia. Belanda masih menganggap Indonesia sebagai wilayah jajahannya yang harus dipertahankan dengan segala cara. Belanda tidak mau mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia dan berusaha untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia dengan melakukan agresi militer sebanyak dua kali, yaitu pada tahun 1947 dan 1948.<\/p>\n<p>Belanda juga mencoba untuk memecah belah bangsa Indonesia dengan membentuk negara-negara boneka seperti Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Sumatera Timur, dan Republik Maluku Selatan (RMS). Belanda juga menolak untuk mengikuti perundingan-perundingan yang diadakan oleh PBB untuk menyelesaikan konflik dengan Indonesia.<\/p>\n<p>Belanda baru mau mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada tanggal 27 Desember 1949, setelah menandatangani Perjanjian Roem-Royen dan Konferensi Meja Bundar (KMB). Namun, Belanda masih belum mau melepaskan Irian Barat (Papua) dari cengkeramannya. Belanda baru mau menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia pada tahun 1963, setelah mendapat tekanan dari dunia internasional.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Inggris\"><\/span>Inggris<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Inggris juga memberikan respon negatif terhadap kemerdekaan Indonesia. Inggris masih memiliki kepentingan kolonial di Asia, terutama di India dan Malaya. Inggris khawatir bahwa kemerdekaan Indonesia akan memicu gerakan nasionalisme di wilayah-wilayah jajahannya. Oleh karena itu, Inggris berusaha untuk membantu Belanda dalam menghadapi perjuangan Indonesia.<\/p>\n<p>Inggris juga melakukan beberapa tindakan yang merugikan Indonesia, seperti membekukan aset-aset Indonesia di London, memberikan bantuan militer kepada Belanda, dan menyerang basis-basis pejuang Indonesia di Surabaya pada tahun 1945. Inggris juga mendukung pembentukan RMS oleh Belanda pada tahun 1950.<\/p>\n<p>Inggris baru mau mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada tanggal 30 April 1950, setelah mendapat tekanan dari India dan Australia. Namun, Inggris masih belum mau mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure hingga tahun 1956.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Amerika_Serikat\"><\/span>Amerika Serikat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Amerika Serikat juga memberikan respon negatif terhadap kemerdekaan Indonesia pada awalnya. Amerika Serikat masih memiliki hubungan baik dengan Belanda sebagai sekutunya dalam Perang Dunia II. Amerika Serikat juga khawatir bahwa Indonesia akan menjadi negara komunis yang bersekutu dengan Uni Soviet atau China. Oleh karena itu, Amerika Serikat tidak mau mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia dan memberikan bantuan militer kepada Belanda.<\/p>\n<p>Namun, seiring dengan berjalannya waktu, Amerika Serikat mulai menyadari bahwa perjuangan Indonesia adalah perjuangan yang sah dan pantas untuk didukung. Amerika Serikat juga menyadari bahwa Indonesia memiliki potensi besar sebagai negara yang strategis dan berpengaruh di Asia Tenggara. Oleh karena itu, Amerika Serikat mulai mengubah sikapnya menjadi lebih bersimpati kepada Indonesia.<\/p>\n<p>Amerika Serikat menjadi salah satu anggota KTN yang bertugas untuk mengawasi gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1947<sup>5<\/sup>. Amerika Serikat juga menekan Belanda untuk mengakui kemerdekaan Indonesia secara de facto pada tahun 1949 dengan mengancam akan menarik bantuan Marshall Plan. Amerika Serikat juga menjadi salah satu negara yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure pada tanggal 28 Juli 1950.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kemerdekaan Indonesia merupakan hasil dari perjuangan panjang dan berat bangsa Indonesia melawan penjajahan asing. Kemerdekaan Indonesia juga mendapat berbagai respon dari dunia internasional, baik yang positif maupun yang negatif. Respon-respon tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti hubungan sejarah, kepentingan politik, ekonomi, dan ideologi, serta perkembangan situasi global.<\/p>\n<p>Respon positif terhadap kemerdekaan Indonesia berasal dari negara-negara yang memiliki kesamaan nasib, aspirasi, dan cita-cita dengan Indonesia, seperti Mesir, India, dan Australia. Respon positif tersebut berupa pengakuan kedaulatan, bantuan materiil, dukungan moral, dan kerja sama di berbagai bidang.<\/p>\n<p>Respon negatif terhadap kemerdekaan Indonesia berasal dari negara-negara yang masih memiliki kepentingan kolonial atau tidak ingin melihat Indonesia menjadi negara yang berdaulat dan berpengaruh di kawasan Asia, seperti Belanda, Inggris, dan Amerika Serikat (pada awalnya). Respon negatif tersebut berupa penolakan pengakuan, bantuan militer kepada Belanda, pembekuan aset-aset Indonesia, dan serangan-serangan militer.<\/p>\n<p>Namun, seiring dengan berjalannya waktu, respon negatif tersebut mulai berubah menjadi lebih bersimpati atau bahkan mendukung kemerdekaan Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tekanan dari dunia internasional, perubahan situasi politik global, dan kesadaran akan potensi dan peran Indonesia di Asia Tenggara.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Respons Internasional Terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. https:\/\/kumparan.com\/berita-hari-ini\/respons-internasional-terhadap-proklamasi-kemerdekaan-indonesia-1up63PcEDuN.<br \/>\n(2) Ringkasan Respon Internasional Terhadap Proklamasi Kemerdekaan &#8230;. https:\/\/kumparan.com\/berita-terkini\/ringkasan-respon-internasional-terhadap-proklamasi-kemerdekaan-indonesia-1wIr6TugtBb.<br \/>\n(3) MATERI SEJARAH PEMINATAN KELAS XII IIS (PART 1). https:\/\/aw3r3mu.wordpress.com\/2017\/08\/14\/materi-sejarah-peminatan-kelas-xii-iis-part-1\/.<br \/>\n(4) Kepoin Respon Internasional Terhadap Kemerdekaan Indonesia! &#8211; Quipper. https:\/\/www.quipper.com\/id\/blog\/mapel\/sejarah\/respon-internasional-terhadap-kemerdekaan-indonesia\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, setelah Jepang menyerah kepada Sekutu dalam Perang Dunia II. Proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan pernyataan keberanian&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4409","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4409","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4409"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4409\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4409"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4409"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4409"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}