{"id":44046,"date":"2024-11-23T13:40:07","date_gmt":"2024-11-23T06:40:07","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=44046"},"modified":"2024-11-23T13:40:07","modified_gmt":"2024-11-23T06:40:07","slug":"rincian-12-rakaat-shalat-sunnah-rawatib-dan-keutamaannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rincian-12-rakaat-shalat-sunnah-rawatib-dan-keutamaannya\/","title":{"rendered":"Rincian 12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib dan Keutamaannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rincian-12-rakaat-shalat-sunnah-rawatib-dan-keutamaannya\/#Rincian_12_Rakaat_Shalat_Sunnah_Rawatib_Muakkad\" >Rincian 12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib Muakkad<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rincian-12-rakaat-shalat-sunnah-rawatib-dan-keutamaannya\/#Keutamaan_Melaksanakan_12_Rakaat_Shalat_Sunnah_Rawatib\" >Keutamaan Melaksanakan 12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib:<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rincian-12-rakaat-shalat-sunnah-rawatib-dan-keutamaannya\/#Shalat_Sunnah_Rawatib_Ghairu_Muakkad\" >Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad:<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/rincian-12-rakaat-shalat-sunnah-rawatib-dan-keutamaannya\/#Penutup\" >Penutup<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Shalat sunnah rawatib merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan sebelum dan sesudah shalat fardhu lima waktu. Shalat ini terbagi menjadi dua kategori: sunnah muakkad (sangat dianjurkan) dan sunnah ghairu muakkad (tidak terlalu dianjurkan). Secara keseluruhan, terdapat 12 rakaat shalat sunnah rawatib yang sangat dianjurkan untuk dilaksanakan setiap hari.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Rincian_12_Rakaat_Shalat_Sunnah_Rawatib_Muakkad\"><\/span>Rincian 12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib Muakkad<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ol>\n<li>Dua Rakaat Sebelum Shalat Subuh (Qabliyah Subuh).\u00a0Shalat ini dilaksanakan sebelum shalat Subuh. Rasulullah SAW sangat menjaga pelaksanaan shalat sunnah ini, bahkan dalam kondisi safar. Beliau bersabda, &#8220;Dua rakaat fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya.&#8221;<\/li>\n<li>Empat Rakaat Sebelum Shalat Zuhur (Qabliyah Zuhur).\u00a0Dilaksanakan sebelum shalat Zuhur, biasanya dengan dua salam (dua rakaat dua kali). Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Barangsiapa yang menjaga empat rakaat sebelum Zuhur, Allah akan mengharamkan baginya api neraka.&#8221;<\/li>\n<li>Dua Rakaat Setelah Shalat Zuhur (Ba&#8217;diyah Zuhur).\u00a0Dilaksanakan setelah shalat Zuhur. Dalam hadits lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan dua rakaat setelah Zuhur.<\/li>\n<li>Dua Rakaat Setelah Shalat Maghrib (Ba&#8217;diyah Maghrib).\u00a0Dilaksanakan setelah shalat Maghrib. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Barangsiapa yang shalat dua rakaat setelah Maghrib sebelum berbicara, maka pahalanya akan dicatat di surga Illiyyin.&#8221;<\/li>\n<li>Dua Rakaat Setelah Shalat Isya (Ba&#8217;diyah Isya).\u00a0Dilaksanakan setelah shalat Isya. Rasulullah SAW melaksanakan dua rakaat setelah Isya di rumahnya.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Keutamaan_Melaksanakan_12_Rakaat_Shalat_Sunnah_Rawatib\"><\/span>Keutamaan Melaksanakan 12 Rakaat Shalat Sunnah Rawatib:<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Melaksanakan 12 rakaat shalat sunnah rawatib secara konsisten memiliki keutamaan yang sangat besar dalam Islam. Berikut penjelasan mendalam mengenai keutamaan-keutamaan tersebut:<\/p>\n<ol>\n<li>Dibangunkan Rumah di Surga.\u00a0Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Tidaklah seorang hamba Muslim melaksanakan karena Allah setiap hari dua belas rakaat shalat sunnah selain yang fardhu, kecuali Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.&#8221;Hadits ini menunjukkan bahwa dengan menjaga shalat sunnah rawatib, seorang Muslim dijanjikan tempat tinggal di surga, yang merupakan anugerah luar biasa dari Allah SWT.<\/li>\n<li>Menyempurnakan Kekurangan dalam Shalat Fardhu.\u00a0Shalat sunnah rawatib berfungsi sebagai penyempurna bagi kekurangan yang mungkin terjadi dalam shalat fardhu. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Sesungguhnya amalan manusia yang pertama kali dihisab di hari kiamat nanti adalah shalat. Jika shalatnya baik, maka baik pula seluruh amalannya. Jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh amalannya.&#8221;Dengan demikian, shalat sunnah rawatib membantu menutupi kekurangan dan meningkatkan kualitas shalat wajib kita.<\/li>\n<li>Menghapus Dosa dan Meninggikan Derajat.\u00a0Setiap sujud dalam shalat sunnah, termasuk rawatib, memiliki keutamaan menghapus dosa dan meninggikan derajat. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Hendaklah engkau memperbanyak sujud (shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau sujud kepada Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu.&#8221;Ini menunjukkan bahwa shalat sunnah rawatib berperan dalam membersihkan diri dari dosa-dosa kecil dan meningkatkan kedudukan kita di sisi Allah SWT.<\/li>\n<li>Menjaga Konsistensi Ibadah.\u00a0Melaksanakan shalat sunnah rawatib secara rutin mencerminkan komitmen dan konsistensi seorang hamba dalam beribadah. Konsistensi ini sangat dicintai oleh Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, &#8220;Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu walaupun sedikit.&#8221; Dengan demikian, menjaga shalat sunnah rawatib membantu kita membangun kebiasaan ibadah yang berkelanjutan.<\/li>\n<li>Mendapatkan Rahmat dan Perlindungan Allah.\u00a0Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Allah akan merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.&#8221;Meskipun shalat sunnah sebelum Ashar termasuk ghairu muakkad, hadits ini menunjukkan bahwa melaksanakan shalat sunnah rawatib dapat mendatangkan rahmat dan perlindungan dari Allah SWT.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Dengan memahami keutamaan-keutamaan di atas, diharapkan kita termotivasi untuk senantiasa menjaga dan melaksanakan 12 rakaat shalat sunnah rawatib setiap hari sebagai bentuk ketaatan dan cinta kepada Allah SWT serta Rasul-Nya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Shalat_Sunnah_Rawatib_Ghairu_Muakkad\"><\/span>Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad:<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad merujuk pada shalat sunnah yang mengiringi shalat fardhu lima waktu, namun tidak memiliki penekanan sekuat shalat sunnah muakkad. Meskipun demikian, pelaksanaannya tetap dianjurkan karena dapat menambah pahala dan menyempurnakan kekurangan dalam shalat wajib.<\/p>\n<p>Rincian Shalat Sunnah Rawatib Ghairu Muakkad:<\/p>\n<ol>\n<li>Dua Rakaat Sebelum Shalat Zuhur (Qabliyah Zuhur).\u00a0Selain empat rakaat qabliyah Zuhur yang termasuk sunnah muakkad, terdapat dua rakaat tambahan yang termasuk ghairu muakkad. Pelaksanaannya menambah keutamaan dan pahala bagi yang mengerjakannya.<\/li>\n<li>Dua Rakaat Setelah Shalat Zuhur (Ba&#8217;diyah Zuhur).\u00a0Selain dua rakaat ba&#8217;diyah Zuhur yang termasuk sunnah muakkad, terdapat dua rakaat tambahan yang termasuk ghairu muakkad. Pelaksanaannya menambah keutamaan dan pahala bagi yang mengerjakannya.<\/li>\n<li>Empat Rakaat Sebelum Shalat Ashar (Qabliyah Ashar).\u00a0Shalat ini terdiri dari empat rakaat yang dilaksanakan sebelum shalat Ashar. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Semoga Allah merahmati seseorang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.&#8221;<\/li>\n<li>Dua Rakaat Sebelum Shalat Maghrib (Qabliyah Maghrib).\u00a0Shalat ini dilaksanakan setelah adzan Maghrib dan sebelum shalat fardhu Maghrib. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Shalatlah kalian sebelum Maghrib, shalatlah kalian sebelum Maghrib.&#8221;<\/li>\n<li>Dua Rakaat Sebelum Shalat Isya (Qabliyah Isya). Shalat ini dilaksanakan setelah adzan Isya dan sebelum shalat fardhu Isya. Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Di antara dua adzan (adzan dan iqamah) ada shalat.&#8221;<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penutup\"><\/span>Penutup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dengan melaksanakan shalat sunnah rawatib secara rutin, seorang Muslim tidak hanya menambah kedekatan dengan Allah SWT, tetapi juga memperoleh berbagai keutamaan yang telah dijanjikan. Oleh karena itu, mari kita berusaha untuk menjaga dan melaksanakan shalat sunnah rawatib sebagai bentuk ketaatan dan cinta kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Shalat sunnah rawatib merupakan shalat sunnah yang dilaksanakan sebelum dan sesudah shalat fardhu lima waktu. Shalat ini terbagi menjadi dua kategori: sunnah muakkad (sangat dianjurkan)&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44047,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-44046","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44046","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=44046"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/44046\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=44046"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=44046"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=44046"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}