{"id":42946,"date":"2023-07-31T03:38:38","date_gmt":"2023-07-31T03:38:38","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=2651"},"modified":"2023-07-31T03:38:38","modified_gmt":"2023-07-31T03:38:38","slug":"teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-pengertian-ciri-ciri-hukum-gossen-dan-contoh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-pengertian-ciri-ciri-hukum-gossen-dan-contoh\/","title":{"rendered":"Teori Perilaku Konsumen Pendekatan Kardinal: Pengertian, Ciri-Ciri, Hukum Gossen, dan Contoh"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-pengertian-ciri-ciri-hukum-gossen-dan-contoh\/#Pengertian_Pendekatan_Kardinal\" >Pengertian Pendekatan Kardinal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-pengertian-ciri-ciri-hukum-gossen-dan-contoh\/#Ciri-Ciri_Pendekatan_Kardinal\" >Ciri-Ciri Pendekatan Kardinal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-pengertian-ciri-ciri-hukum-gossen-dan-contoh\/#Hukum_Gossen\" >Hukum Gossen<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-pengertian-ciri-ciri-hukum-gossen-dan-contoh\/#Contoh_Pendekatan_Kardinal\" >Contoh Pendekatan Kardinal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-pengertian-ciri-ciri-hukum-gossen-dan-contoh\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Pendekatan_Kardinal\"><\/span>Pengertian Pendekatan Kardinal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pendekatan kardinal adalah salah satu cara dalam menganalisis perilaku konsumen berdasarkan asumsi bahwa tingkat kepuasan pelanggan\/konsumen dapat diukur dengan satuan nominal tertentu, seperti uang, jumlah, atau unit.\u00a0Oleh karena itu, pendekatan ini disebut juga dengan pendekatan kardinal (cardinal approach)<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Teori kardinal digagas dan dikembangkan oleh Hermann Heinrich Gossen, William Stanley Jevons, dan Leon Walras.\u00a0Para ahli ekonomi tersebut beranggapan bahwa tinggi rendahnya nilai suatu barang atau jasa bergantung nilai guna yang dirasakan oleh penggunanya<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup><sup>1<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-Ciri_Pendekatan_Kardinal\"><\/span>Ciri-Ciri Pendekatan Kardinal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pendekatan kardinal memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain<sup>1<\/sup>:<\/p>\n<ul>\n<li>Konsumen dapat mengukur tingkat kepuasan yang diperoleh dari mengonsumsi suatu barang atau jasa dengan menggunakan satuan util.<\/li>\n<li>Utilitas total adalah jumlah utilitas yang diperoleh dari mengonsumsi seluruh barang atau jasa yang tersedia.<\/li>\n<li>Utilitas marginal adalah tambahan utilitas yang diperoleh dari mengonsumsi satu unit tambahan barang atau jasa.<\/li>\n<li>Semakin banyak konsumen mengonsumsi suatu barang atau jasa, maka utilitas total akan semakin meningkat, tetapi utilitas marginal akan semakin menurun. Hal ini disebut dengan hukum Gossen atau hukum utilitas marjinal yang semakin berkurang (law of diminishing marginal utility).<\/li>\n<li>Konsumen akan mencapai titik maksimum kepuasan ketika utilitas marjinal sama dengan nol atau harga barang atau jasa sama dengan utilitas marjinalnya.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hukum_Gossen\"><\/span>Hukum Gossen<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Hukum Gossen adalah salah satu konsep penting dalam teori perilaku konsumen pendekatan kardinal.\u00a0Hukum ini menyatakan bahwa semakin banyak konsumen mengonsumsi suatu barang atau jasa, maka tambahan kepuasan yang diperoleh akan semakin menurun<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>. Hukum ini dapat digambarkan dengan kurva utilitas marjinal yang menurun terhadap jumlah barang atau jasa yang dikonsumsi.<\/p>\n<p>Hukum Gossen memiliki dua implikasi, yaitu<sup>2<\/sup>:<\/p>\n<ul>\n<li>Konsumen akan mengalokasikan pengeluarannya sedemikian rupa sehingga utilitas marjinal per satuan uang yang dikeluarkan untuk setiap barang atau jasa sama besar.<\/li>\n<li>Konsumen akan mencapai titik maksimum kepuasan ketika utilitas marjinal per satuan uang yang dikeluarkan untuk setiap barang atau jasa sama dengan utilitas marjinal uang itu sendiri.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Pendekatan_Kardinal\"><\/span>Contoh Pendekatan Kardinal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk lebih memahami teori perilaku konsumen dengan pendekatan kardinal, perhatikan contoh berikut<sup>3<\/sup>:<\/p>\n<p>Misalkan seorang konsumen memiliki pendapatan Rp 100.000 dan ingin membeli dua jenis barang, yaitu buku dan pensil. Harga buku adalah Rp 25.000 per buah dan harga pensil adalah Rp 5.000 per buah. Berapa jumlah buku dan pensil yang akan dibeli oleh konsumen agar mencapai titik maksimum kepuasan?<\/p>\n<p>Langkah pertama adalah menentukan fungsi utilitas total dan utilitas marginal dari masing-masing barang. Misalkan fungsi utilitas total dari buku adalah U(B) = 100B &#8211; B^2 dan fungsi utilitas total dari pensil adalah U(P) = 50P &#8211; P^2, di mana B adalah jumlah buku dan P adalah jumlah pensil. Maka fungsi utilitas marginal dari buku adalah MU(B) = 100 &#8211; 2B dan fungsi utilitas marginal dari pensil adalah MU(P) = 50 &#8211; 2P.<\/p>\n<p>Langkah kedua adalah menentukan batasan anggaran konsumen. Misalkan batasan anggaran konsumen adalah C = 100.000, maka persamaan batasan anggarannya adalah 25.000B + 5.000P = 100.000.<\/p>\n<p>Langkah ketiga adalah menentukan jumlah buku dan pensil yang memaksimalkan utilitas total dengan menggunakan metode Lagrange. Misalkan fungsi Lagrange-nya adalah L = U(B) + U(P) + \u03bb(100.000 &#8211; 25.000B &#8211; 5.000P), di mana \u03bb adalah multiplier Lagrange. Maka turunan parsial dari fungsi Lagrange terhadap B, P, dan \u03bb adalah:<\/p>\n<p>L\/B = 100 &#8211; 2B &#8211; 25.000\u03bb = 0 L\/P = 50 &#8211; 2P &#8211; 5.000\u03bb = 0 L\/\u03bb = 100.000 &#8211; 25.000B &#8211; 5.000P = 0<\/p>\n<p>Dengan menyelesaikan sistem persamaan tersebut, maka diperoleh nilai B = 1,6, P = 8, dan \u03bb = 0,002. Artinya, konsumen akan membeli 1,6 buah buku dan 8 buah pensil untuk mencapai titik maksimum kepuasan.<\/p>\n<p>Langkah keempat adalah mengecek apakah solusi tersebut memenuhi hukum Gossen. Dengan menghitung nilai utilitas marginal dari masing-masing barang, maka diperoleh MU(B) = 100 &#8211; 2(1,6) = 96,8 dan MU(P) = 50 &#8211; 2(8) = 34. Dengan membagi utilitas marginal dengan harga barang, maka diperoleh MU(B)\/PB = 96,8\/25.000 = 0,003872 dan MU(P)\/PP = 34\/5.000 = 0,0068. Karena nilai-nilai tersebut sama dengan nilai \u03bb, maka solusi tersebut memenuhi hukum Gossen.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Teori perilaku konsumen pendekatan kardinal adalah teori yang mengasumsikan bahwa tingkat kepuasan konsumen dapat diukur dengan satuan nominal tertentu. Teori ini dikembangkan oleh Gossen, Jevons, dan Walras yang beranggapan bahwa nilai suatu barang atau jasa bergantung dari nilai guna yang dirasakan oleh penggunanya. Teori ini memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain utilitas total, utilitas marginal, dan hukum Gossen. Teori ini dapat digunakan untuk menganalisis jumlah barang atau jasa yang akan dikonsumsi oleh konsumen agar mencapai titik maksimum kepuasan dengan menggunakan metode Lagrange.<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>(1) Teori Pendekatan Kardinal: Fungsi, Ciri, dan Hukum Gossen &#8211; majoo. https:\/\/majoo.id\/solusi\/detail\/pendekatan-kardinal.<\/p>\n<p>(2) Teori Perilaku Konsumen: Pendekatan Kardinal &#8211; Jago Ekonomi. https:\/\/jagoekonomi.com\/2020\/06\/15\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal\/.<\/p>\n<p>(3) Teori perilaku konsumen: pendekatan kardinal dan ordinal. https:\/\/studiekonomi.com\/ekonomi\/mikro\/teori-perilaku-konsumen-pendekatan-kardinal-dan-ordinal\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Pendekatan Kardinal Pendekatan kardinal adalah salah satu cara dalam menganalisis perilaku konsumen berdasarkan asumsi bahwa tingkat kepuasan pelanggan\/konsumen dapat diukur dengan satuan nominal tertentu,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-42946","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42946","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42946"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42946\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42946"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42946"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42946"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}