{"id":4293,"date":"2023-08-25T03:28:10","date_gmt":"2023-08-25T03:28:10","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=4293"},"modified":"2023-08-25T03:28:10","modified_gmt":"2023-08-25T03:28:10","slug":"historiografi-kritis-sebuah-pendekatan-untuk-memahami-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/historiografi-kritis-sebuah-pendekatan-untuk-memahami-sejarah\/","title":{"rendered":"Historiografi Kritis: Sebuah Pendekatan untuk Memahami Sejarah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/historiografi-kritis-sebuah-pendekatan-untuk-memahami-sejarah\/#Pengertian_Historiografi_Kritis\" >Pengertian Historiografi Kritis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/historiografi-kritis-sebuah-pendekatan-untuk-memahami-sejarah\/#Ciri-ciri_Historiografi_Kritis\" >Ciri-ciri Historiografi Kritis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/historiografi-kritis-sebuah-pendekatan-untuk-memahami-sejarah\/#Contoh-contoh_Historiografi_Kritis\" >Contoh-contoh Historiografi Kritis<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Sejarah tidak hanya berisi fakta-fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi juga interpretasi dan penilaian dari para sejarawan yang menulisnya. Oleh karena itu, sejarah tidak bersifat monolitik atau tunggal, melainkan plural dan dinamis. Sejarah dapat ditulis dari berbagai perspektif, sudut pandang, dan tujuan yang berbeda-beda.<\/p>\n<p>Salah satu pendekatan untuk memahami sejarah adalah historiografi kritis. Historiografi kritis adalah suatu pendekatan yang menggunakan metode kritis untuk menilai, menganalisis, dan memahami karya sejarah.\u00a0Pendekatan ini menekankan pentingnya mempertimbangkan berbagai faktor yang berpengaruh dalam penulisan sejarah, termasuk budaya, sosial, politik, dan kultural<sup>1<\/sup>.\u00a0Historiografi kritis juga mengajak kita untuk melihat sejarah sebagai konstruksi sosial yang sarat dengan kekerasan politik, ketamakan kekuasaan, dan kolaborasi antara kekuasaan dan pengetahuan<sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang historiografi kritis, mulai dari pengertian, ciri-ciri, hingga contoh-contoh historiografi kritis dalam konteks Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Historiografi_Kritis\"><\/span>Pengertian Historiografi Kritis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Historiografi berasal dari kata historia yang berarti sejarah dan graphia yang berarti penulisan. Jadi, historiografi secara sederhana dapat diartikan sebagai penulisan sejarah. Namun, historiografi tidak hanya sekadar menulis sejarah, melainkan juga mempelajari perkembangan penulisan sejarah dari masa ke masa.\u00a0Dengan kata lain, historiografi adalah sejarah dari penulisan sejarah<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Historiografi kritis adalah sebuah cabang dari historiografi yang mengkritisi cara-cara penulisan sejarah yang ada. Historiografi kritis tidak menerima begitu saja karya sejarah sebagai suatu kebenaran yang objektif dan final, melainkan menguji dan menelaahnya secara mendalam.\u00a0Historiografi kritis bertanya tentang siapa yang menulis sejarah, bagaimana mereka menulisnya, apa tujuan mereka menulisnya, dan apa dampaknya bagi masyarakat<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Historiografi kritis lahir sebagai respons terhadap historiografi tradisional, kolonial, dan nasional yang dianggap memiliki kelemahan-kelemahan tertentu. Historiografi tradisional adalah penulisan sejarah yang dilakukan oleh para pujangga atau sastrawan keraton dan bangsawan kerajaan.\u00a0Historiografi tradisional bersifat istanasentris (berpusat pada istana), anakronis (tidak jelas waktu), mitis (mengandung unsur mitos), dan regiosentris (berdasarkan daerah tertentu)<sup>3<\/sup>. Historiografi kolonial adalah penulisan sejarah yang dilakukan oleh para penjajah atau kolonialis.\u00a0Historiografi kolonial bersifat etnosentris (menganggap superioritas ras atau etnis tertentu), orientalis (memandang Timur sebagai objek eksotis), dan imperialistis (mempertahankan kepentingan imperium)<sup>3<\/sup>. Historiografi nasional adalah penulisan sejarah yang dilakukan oleh para nasionalis atau pejuang kemerdekaan.\u00a0Historiografi nasional bersifat patriotis (menyuarakan semangat nasionalisme), heroik (menonjolkan peran tokoh-tokoh besar), dan monolitik (menyamakan pandangan sejarah)<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Historiografi kritis ingin mengoreksi dan melengkapi historiografi-historiografi tersebut dengan cara-cara berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Bersifat multivokal: artinya dalam penulisan sejarah tidak hanya mengutip satu sumber saja, tetapi juga sumber-sumber lain yang berbeda latar belakangnya.<\/li>\n<li>Bersifat multidisipliner: artinya dalam penelitian sejarah tidak hanya menggunakan satu disiplin ilmu saja, tetapi juga disiplin ilmu lain yang relevan.<\/li>\n<li>Bersifat multikultural: artinya dalam penulisan sejarah tidak hanya mengangkat satu budaya saja, tetapi juga budaya-budaya lain yang beragam dan berinteraksi.<\/li>\n<li>Bersifat kritis historis: artinya dalam penelitian sejarah menggunakan pendekatan kritis yang mempertanyakan asumsi-asumsi dan bias-bias yang ada.<\/li>\n<li>Sebagai kritik terhadap historiografi nasional: lahir sebagai kritik terhadap historiografi nasional yang dianggap memiliki kecenderungan menghilangkan unsur asing dalam proses pembentukan keindonesiaan<sup>3<\/sup>.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-ciri_Historiografi_Kritis\"><\/span>Ciri-ciri Historiografi Kritis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Historiografi kritis memiliki beberapa ciri-ciri yang membedakannya dari historiografi-historiografi lain. Berikut adalah beberapa ciri-ciri historiografi kritis:<\/p>\n<ul>\n<li>Menggunakan metode kritis: artinya dalam menulis sejarah, historiografi kritis tidak hanya mengandalkan sumber-sumber primer dan sekunder, tetapi juga sumber-sumber tersier yang berupa kritik, analisis, dan interpretasi dari para ahli sejarah lainnya. Metode kritis juga melibatkan penggunaan teori-teori sosial, budaya, politik, dan lain-lain untuk memahami konteks dan makna dari peristiwa sejarah.<\/li>\n<li>Memperhatikan faktor-faktor non-sejarah: artinya dalam menulis sejarah, historiografi kritis tidak hanya fokus pada fakta-fakta sejarah, tetapi juga faktor-faktor non-sejarah yang mempengaruhi penulisan sejarah itu sendiri. Faktor-faktor non-sejarah ini meliputi latar belakang penulis, tujuan penulisan, sudut pandang, ideologi, kepentingan, dan dampak dari karya sejarah tersebut.<\/li>\n<li>Menyajikan perspektif alternatif: artinya dalam menulis sejarah, historiografi kritis tidak hanya menyajikan perspektif dominan atau mayoritas, tetapi juga perspektif alternatif atau minoritas yang sering terabaikan atau terpinggirkan. Perspektif alternatif ini meliputi perspektif dari golongan-golongan tertindas, marjinal, subaltern, atau subkultur yang memiliki suara dan pengalaman yang berbeda dari golongan dominan.<\/li>\n<li>Menyadari ketidakpastian sejarah: artinya dalam menulis sejarah, historiografi kritis tidak mengklaim bahwa karya sejarahnya adalah kebenaran mutlak atau final, melainkan menyadari bahwa karya sejarahnya adalah salah satu dari banyak kemungkinan interpretasi yang dapat berubah atau direvisi sesuai dengan perkembangan zaman dan pengetahuan.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh-contoh_Historiografi_Kritis\"><\/span>Contoh-contoh Historiografi Kritis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Historiografi kritis telah banyak dihasilkan oleh para sejarawan Indonesia maupun asing yang tertarik dengan sejarah Indonesia. Berikut adalah beberapa contoh-contoh historiografi kritis yang dapat kita baca dan pelajari:<\/p>\n<ul>\n<li>Buku \u201cSejarah Indonesia Modern\u201d (1993) oleh M.C. Ricklefs. Buku ini merupakan salah satu buku teks sejarah Indonesia yang paling populer dan banyak digunakan di perguruan tinggi. Buku ini mencoba memberikan gambaran komprehensif tentang sejarah Indonesia dari masa pra-kolonial hingga masa reformasi. Buku ini menggunakan pendekatan multidisipliner dan multikultural untuk menjelaskan berbagai aspek sejarah Indonesia, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, dan etnis. Buku ini juga mengkritisi beberapa mitos dan stereotip tentang sejarah Indonesia, seperti mitos Majapahit sebagai cikal bakal Indonesia atau stereotip tentang Islam sebagai agama asing.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Buku \u201cThe Spectre of Comparisons: Nationalism, Southeast Asia and the World\u201d (1998) oleh Benedict Anderson. Buku ini merupakan kumpulan esai dari salah satu ahli studi nasionalisme terkemuka di dunia. Buku ini membahas berbagai topik tentang nasionalisme, kolonialisme, modernitas, dan globalisasi di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Filipina. Buku ini menggunakan pendekatan komparatif dan historis untuk menunjukkan bagaimana bangsa-bangsa di Asia Tenggara membentuk identitas nasional mereka dalam konteks dunia yang lebih luas. Buku ini juga mengkritisi beberapa konsep dan narasi yang sering digunakan dalam sejarah nasional, seperti konsep \u201cmasyarakat sipil\u201d atau narasi \u201crevolusi nasional\u201d.<\/li>\n<li>Buku \u201cThe Killing Season: A History of the Indonesian Massacres, 1965-66\u201d (2018) oleh Geoffrey Robinson. Buku ini merupakan hasil penelitian mendalam tentang salah satu peristiwa paling tragis dan kontroversial dalam sejarah Indonesia, yaitu pembunuhan massal yang terjadi pada tahun 1965-66. Buku ini mengungkap fakta-fakta baru tentang penyebab, pelaku, korban, dan dampak dari pembunuhan massal tersebut. Buku ini juga menantang beberapa mitos dan pembenaran yang sering digunakan oleh rezim Orde Baru dan sekutu-sekutunya untuk menutupi kejahatan mereka. Buku ini menggunakan pendekatan transnasional dan multidisipliner untuk menempatkan peristiwa tersebut dalam konteks sejarah global dan regional.<\/li>\n<li>Buku \u201cThe Jakarta Method: Washington\u2019s Anticommunist Crusade and the Mass Murder Program that Shaped Our World\u201d (2020) oleh Vincent Bevins. Buku ini merupakan sebuah investigasi jurnalistik tentang peran Amerika Serikat dalam mendukung dan memfasilitasi pembunuhan massal di Indonesia dan negara-negara lain di dunia. Buku ini menghubungkan peristiwa di Indonesia dengan peristiwa serupa di Brasil, Chile, Guatemala, Iran, Irak, Vietnam, dan lain-lain. Buku ini menunjukkan bagaimana Amerika Serikat menggunakan metode Jakarta, yaitu strategi untuk menghancurkan gerakan-gerakan sosialis dan nasionalis dengan cara membunuh atau menghilangkan anggota-anggota mereka secara sistematis. Buku ini juga mengeksplorasi dampak jangka panjang dari metode Jakarta bagi perkembangan politik, ekonomi, sosial, dan budaya di dunia.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Apa Yang Dimaksud Dengan Historiografi Kritis Jelaskan. https:\/\/gooddoctor.id\/pendidikan\/apa-yang-dimaksud-dengan-historiografi-kritis-jelaskan.<br \/>\n(2) Pentingnya Memahami Sejarah dalam Perspektif Kritis &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/tren\/read\/2021\/09\/29\/181534465\/pentingnya-memahami-sejarah-dalam-perspektif-kritis.<br \/>\n(3) Memahami 4 Jenis Historiografi dalam Sejarah | Sejarah Kelas 10 &#8211; Ruangguru. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/historiografi-sejarah.<br \/>\n(4) Apa Yang Dimaksud Dengan Historiografi Kritis Jelaskan. https:\/\/igun.uk\/apa-yang-dimaksud-dengan-historiografi-kritis-jelaskan\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejarah adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Sejarah tidak hanya berisi fakta-fakta yang dapat dibuktikan secara ilmiah, tetapi juga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4293","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4293","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4293"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4293\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4293"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4293"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4293"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}