{"id":42890,"date":"2023-07-28T10:52:49","date_gmt":"2023-07-28T10:52:49","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=2502"},"modified":"2023-07-28T10:52:49","modified_gmt":"2023-07-28T10:52:49","slug":"tiga-bentuk-integrasi-sosial-dalam-masyarakat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tiga-bentuk-integrasi-sosial-dalam-masyarakat\/","title":{"rendered":"Tiga Bentuk Integrasi Sosial dalam Masyarakat"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tiga-bentuk-integrasi-sosial-dalam-masyarakat\/#Integrasi_Normatif\" >Integrasi Normatif<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tiga-bentuk-integrasi-sosial-dalam-masyarakat\/#Integrasi_Fungsional\" >Integrasi Fungsional<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tiga-bentuk-integrasi-sosial-dalam-masyarakat\/#Integrasi_Koersif\" >Integrasi Koersif<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tiga-bentuk-integrasi-sosial-dalam-masyarakat\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Integrasi sosial adalah proses penyesuaian unsur-unsur sosial yang berbeda sehingga membentuk kesatuan masyarakat yang serasi<sup>1<\/sup>.\u00a0Integrasi sosial mengacu pada kondisi adanya kelompok minoritas, yang tergabung dalam masyarakat dan dapat berpadu dengan komunitas yang lebih besar, tanpa adanya paksaan maupun tekanan<sup>2<\/sup>.\u00a0Integrasi sosial juga berkaitan dengan kesepakatan bersama di masyarakat terkait sistem makna, bahasa, budaya, dan lainnya, yang meminimalisir perbedaan dan mendorong semua kelompok untuk hidup berdampingan<sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Integrasi sosial memiliki sejumlah definisi menurut para ahli. Salah satu ahli yang pertama kali menjelaskan konsep integrasi sosial adalah Emile Durkheim, yang mengaitkannya dengan kesadaran kolektif.\u00a0Kesadaran kolektif adalah cara bersama dalam memahami dan berperilaku di dunia, yang dibentuk oleh norma, kepercayaan dan nilai yang diyakini oleh setiap orang<sup>3<\/sup>.\u00a0Kesadaran kolektif mengikat semua individu menjadi kesatuan masyarakat dan menciptakan integrasi sosial<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Dalam kajian sosiologi, setidaknya ada 3 jenis integrasi sosial. Ketiga bentuk itu ialah\u00a0<strong>integrasi normatif<\/strong>,\u00a0<strong>integrasi fungsional<\/strong>, dan\u00a0<strong>integrasi koersif<\/strong>. Berikut penjelasannya masing-masing.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Integrasi_Normatif\"><\/span>Integrasi Normatif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Integrasi normatif merupakan bentuk integrasi yang terjadi akibat adanya norma-norma yang berlaku di masyarakat dan menjadi pemersatu anggota masyarakat tersebut. Norma-norma tersebut dapat berupa hukum, agama, adat istiadat, moral, etika, atau nilai-nilai lainnya yang dianut oleh masyarakat. Contohnya prinsip Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila, UUD 1945, dan lain-lain. Integrasi normatif menunjukkan adanya kesesuaian antara perilaku individu dengan norma-norma yang ada di masyarakat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Integrasi_Fungsional\"><\/span>Integrasi Fungsional<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Integrasi fungsional merupakan integrasi yang terbentuk akibat adanya fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Fungsi-fungsi tersebut dapat berupa kegiatan ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, keamanan, atau lainnya yang saling berkaitan dan saling membutuhkan antara individu atau kelompok. Contohnya kerjasama antara petani dan pedagang, antara pemerintah dan rakyat, antara guru dan siswa, dan lain-lain. Integrasi fungsional menunjukkan adanya ketergantungan antara unsur-unsur sosial dalam masyarakat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Integrasi_Koersif\"><\/span>Integrasi Koersif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Integrasi koersif merupakan integrasi yang terbentuk atas dasar kekuasaan yang dimiliki pemimpin atau kelompok yang berkuasa. Kekuasaan tersebut dapat berupa kekuatan militer, politik, ekonomi, atau ideologi yang digunakan untuk memaksa atau menekan unsur-unsur sosial lainnya agar tunduk dan patuh. Contohnya penjajahan kolonialisme, rezim otoriter, gerakan separatis, dan lain-lain. Integrasi koersif menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara unsur-unsur sosial dalam masyarakat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Integrasi sosial adalah proses penyesuaian unsur-unsur sosial yang berbeda sehingga membentuk kesatuan masyarakat yang serasi. Integrasi sosial dapat terbentuk ke dalam tiga hal berikut ini: integrasi normatif, integrasi fungsional, dan integrasi koersif. Integrasi normatif terjadi karena adanya norma-norma yang berlaku di masyarakat. Integrasi fungsional terbentuk karena adanya fungsi-fungsi tertentu di dalam masyarakat. Integrasi koersif terbentuk atas dasar kekuasaan yang dimiliki pemimpin atau kelompok yang berkuasa.<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>(1) 7 Faktor Pendorong Integrasi Sosial dan Bentuk-bentuknya &#8211; detikcom. https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-5742628\/7-faktor-pendorong-integrasi-sosial-dan-bentuk-bentuknya.<\/p>\n<p>(2) Bentuk-bentuk Integrasi Sosial &amp; Definisinya dalam Kajian Sosiologi. https:\/\/tirto.id\/bentuk-bentuk-integrasi-sosial-definisinya-dalam-kajian-sosiologi-f92C.<\/p>\n<p>(3) Mengenal Jenis-Jenis Integrasi Sosial dan Pengertiannya dalam Ilmu &#8230;. https:\/\/kumparan.com\/sejarah-dan-sosial\/mengenal-jenis-jenis-integrasi-sosial-dan-pengertiannya-dalam-ilmu-sosiologi-20LROZBG38b.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Integrasi sosial adalah proses penyesuaian unsur-unsur sosial yang berbeda sehingga membentuk kesatuan masyarakat yang serasi1.\u00a0Integrasi sosial mengacu pada kondisi adanya kelompok minoritas, yang tergabung dalam&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-42890","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42890","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42890"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42890\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42890"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42890"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42890"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}