{"id":42729,"date":"2024-11-01T16:09:06","date_gmt":"2024-11-01T09:09:06","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=42729"},"modified":"2024-11-01T16:09:06","modified_gmt":"2024-11-01T09:09:06","slug":"bahasa-indonesia-baku-pengertian-fungsi-proses-dan-ciri-ciri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bahasa-indonesia-baku-pengertian-fungsi-proses-dan-ciri-ciri\/","title":{"rendered":"Mengenal Bahasa Indonesia Baku: Definisi, Fungsi, dan Ciri-Ciri Utama"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bahasa-indonesia-baku-pengertian-fungsi-proses-dan-ciri-ciri\/#Pengertian_Bahasa_Indonesia_Baku\" >Pengertian Bahasa Indonesia Baku<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bahasa-indonesia-baku-pengertian-fungsi-proses-dan-ciri-ciri\/#Fungsi_Bahasa_Indonesia_Baku\" >Fungsi Bahasa Indonesia Baku<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bahasa-indonesia-baku-pengertian-fungsi-proses-dan-ciri-ciri\/#Proses_Pembakuan_Bahasa\" >Proses Pembakuan Bahasa<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bahasa-indonesia-baku-pengertian-fungsi-proses-dan-ciri-ciri\/#Ciri-Ciri_Bahasa_Indonesia_Baku\" >Ciri-Ciri Bahasa Indonesia Baku<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Bahasa Indonesia baku adalah ragam bahasa yang dipakai dalam situasi formal, baik lisan maupun tulisan, dan digunakan sesuai dengan kaidah tata bahasa yang telah disepakati. Bahasa baku merupakan pilar komunikasi resmi, seperti dalam dunia pendidikan, pemerintahan, serta penulisan karya ilmiah. Proses pembentukan bahasa baku melibatkan kodifikasi, adaptasi, dan penerapan kaidah bahasa yang konsisten agar dapat diterima luas oleh masyarakat.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Bahasa_Indonesia_Baku\"><\/span>Pengertian Bahasa Indonesia Baku<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bahasa Indonesia baku merujuk pada varian bahasa yang mengikuti kaidah tata bahasa, ejaan, dan pilihan kosakata yang sesuai dengan standar baku. Bahasa ini disusun berdasarkan aturan yang termuat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan kamus baku seperti Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bahasa baku biasanya diterapkan dalam konteks formal seperti tulisan ilmiah, pidato resmi, dan komunikasi administratif.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Fungsi_Bahasa_Indonesia_Baku\"><\/span>Fungsi Bahasa Indonesia Baku<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bahasa baku memiliki beberapa fungsi utama yang penting bagi keberlangsungan bahasa sebagai alat komunikasi resmi dan pemersatu bangsa:<\/p>\n<ol>\n<li>Pemersatu: Bahasa baku membantu menyatukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku dan budaya. Dengan menggunakan satu standar bahasa, komunikasi antarwarga dari berbagai latar belakang menjadi lebih mudah.<\/li>\n<li>Pemberi Kekhasan: Bahasa baku memberikan ciri khas yang membedakan bahasa Indonesia dari bahasa lain. Ini mendukung identitas nasional dan memisahkannya dari dialek atau bahasa daerah.<\/li>\n<li>Pembawa Kewibawaan: Bahasa baku dianggap memiliki nilai resmi dan dihormati, sering digunakan oleh akademisi, pejabat, dan masyarakat umum dalam konteks yang membutuhkan formalitas.<\/li>\n<li>Kerangka Acuan: Sebagai standar, bahasa baku memberikan pedoman untuk penulisan dan pengucapan yang benar, sehingga pengguna bahasa dapat saling memahami dengan lebih mudah dan menghindari makna yang rancu atau ambigu.<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Proses_Pembakuan_Bahasa\"><\/span>Proses Pembakuan Bahasa<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Proses pembakuan bahasa Indonesia melibatkan beberapa tahapan penting yang memastikan konsistensi dan relevansi bahasa sesuai perkembangan zaman:<\/p>\n<ul>\n<li>Kodifikasi: Penetapan aturan bahasa yang meliputi tata bahasa, ejaan, dan kosakata.<\/li>\n<li>Penyempurnaan dan Penyesuaian: Proses ini melibatkan penyesuaian bahasa agar selalu sesuai dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, terutama dalam kosakata.<\/li>\n<li>Sosialisasi: Mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya bahasa baku dalam konteks formal serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ciri-Ciri_Bahasa_Indonesia_Baku\"><\/span>Ciri-Ciri Bahasa Indonesia Baku<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bahasa Indonesia baku memiliki karakteristik yang membedakannya dari bahasa tidak baku. Beberapa ciri utama dari bahasa baku adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li>Tidak Dipengaruhi Bahasa Daerah atau Asing: Bahasa baku tidak mencampurkan kata atau istilah dari bahasa daerah atau bahasa asing. Misalnya, kata &#8220;saya&#8221; digunakan sebagai bentuk baku, bukan &#8220;gue&#8221; atau &#8220;aku&#8221;.<\/li>\n<li>Menggunakan Imbuhan secara Eksplisit: Pemakaian imbuhan di dalam bahasa baku sesuai aturan. Sebagai contoh, &#8220;mendengarkan&#8221; dalam bahasa baku, bukan &#8220;dengerin&#8221;.<\/li>\n<li>Bukan Ragam Percakapan Sehari-Hari: Bahasa baku tidak menggunakan kosakata percakapan santai. Kata seperti &#8220;tidak&#8221; dalam bahasa baku berbeda dengan &#8220;nggak&#8221; yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.<\/li>\n<li>Tidak Mengandung Makna Ganda atau Rancu: Bahasa baku diupayakan agar tidak menyebabkan kebingungan atau ambigu. Misalnya, kalimat &#8220;menghemat waktu&#8221; lebih baku dibandingkan &#8220;mempersingkat waktu&#8221; yang dapat memiliki makna berbeda dalam konteks tertentu.<\/li>\n<li>Pemakaian yang Konsisten dengan Kaidah PUEBI: Bahasa baku mengikuti aturan ejaan dan tata bahasa yang ditetapkan dalam PUEBI, seperti penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan struktur kalimat yang benar.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Bahasa Indonesia baku adalah elemen penting dalam memperkuat identitas nasional dan menjaga keseragaman dalam komunikasi formal. Pemahaman dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di lingkungan akademik dan pemerintahan, mencerminkan pentingnya kesadaran bahasa dalam memperkokoh persatuan bangsa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bahasa Indonesia baku adalah ragam bahasa yang dipakai dalam situasi formal, baik lisan maupun tulisan, dan digunakan sesuai dengan kaidah tata bahasa yang telah disepakati.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[524,290],"class_list":["post-42729","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam","tag-bahasa-indonesia","tag-karya-tulis"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42729","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42729"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42729\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42729"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42729"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42729"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}