{"id":42044,"date":"2023-06-19T02:56:21","date_gmt":"2023-06-19T02:56:21","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1495"},"modified":"2023-06-19T02:56:21","modified_gmt":"2023-06-19T02:56:21","slug":"sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan-barat\/","title":{"rendered":"Sejarah Penyebaran Agama Islam di Kalimantan Barat"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan-barat\/#Islam_Masuk_Melalui_Perdagangan_dan_Dakwah\" >Islam Masuk Melalui Perdagangan dan Dakwah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan-barat\/#Kerajaan-Kerajaan_Islam_di_Kalimantan_Barat\" >Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan Barat<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Agama Islam adalah agama mayoritas di Kalimantan Barat. Menurut data Kementerian Dalam Negeri tahun 2021, terdapat 3.290.000 Muslim di provinsi ini, yang membentuk 60,14% dari total populasi\u00b2. Islam masuk ke Kalimantan Barat melalui berbagai jalur dan proses, yang tidak dapat ditentukan secara pasti. Namun, beberapa sumber sejarah memberikan gambaran tentang perkembangan Islam di daerah ini.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Islam_Masuk_Melalui_Perdagangan_dan_Dakwah\"><\/span>Islam Masuk Melalui Perdagangan dan Dakwah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Salah satu pendapat yang dikemukakan oleh Sendam (1970:35) menyatakan bahwa Islam masuk ke Kalimantan Barat sekitar abad ke-15 melalui perdagangan dan tidak melalui organisasi misi, tetapi merupakan kegiatan perorangan\u00b3. Terdapat dua proses berlangsungnya penyebaran Islam. Pertama, penduduk pribumi yang berhubungan dengan Islam lalu menganutnya. Kedua, orang-orang Asia (Arab, India, Tiongkok dan lainnya) yang telah memeluk Islam dan bertempat tinggal secara permanen di suatu wilayah kemudian melakukan perkawinan campuran dan menjadi anggota masyarakat lainnya\u00b3.<\/p>\n<p>Daerah pertama di Kalimantan Barat yang diperkirakan terdahulu mendapat sentuhan agama Islam adalah Pontianak, Matan dan Mempawah. Islam masuk ke daerah-daerah ini diperkirakan antara tahun 1741, 1743 dan 1750\u00b9\u00b3\u2074. Menurut salah satu versi, pembawa Islam pertama bernama Syarief Husein, seorang Arab\u00b9\u00b3\u2074. Namun, ada versi lain yang mengatakan bahwa nama beliau adalah Syarif Abdurrahman al-Kadri, putra dari Syarif Husein\u00b9. Beliau adalah putra asli Kalimantan Barat, yang lahir di Matan pada tahun 1739 M dari ayah keturunan Arab dan ibu putri Dayak\u00b9.<\/p>\n<p>Syarif Husein menetap di Matan (Ketapang) dan berdakwah di sana. Ia mendapatkan respon yang sangat baik sehingga penganut Islam semakin banyak dan Islam memasyarakat sampai ke pedalaman. Antara tahun 1704-1755 M, ia diangkat sebagai Mufti (hakim agama Islam) di kerajaan Matan\u00b9. Setelah itu, ia sekeluarga diminta oleh Raja Mempawah Opo Daeng Menambun untuk pindah ke Mempawah dan mengajar agama di sana sampai kemudian diangkat menjadi Tuan Besar Kerajaan Mempawah\u00b9. Syarif Husein tidak hanya menyebar Islam di kalangan rakyat jelata, tetapi juga di kalangan bangsawan. Salah satu cara yang ditempuh beliau dalam menyebarkan agama Islam adalah dengan melakukan perkawinan dengan putri-putri bangsawan\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kerajaan-Kerajaan_Islam_di_Kalimantan_Barat\"><\/span>Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan Barat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Penyebaran agama Islam di Kalimantan Barat juga dipengaruhi oleh berdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang mengakui kedaulatan Kesultanan Banjar sebagai pusat penyebaran Islam di pulau Kalimantan\u00b3. Beberapa kerajaan Islam yang terkenal di Kalimantan Barat antara lain:<\/p>\n<p>&#8211; Keraton Kadriah. Ini adalah istana kesultanan Pontianak yang didirikan oleh Syarif Abdurrahman al-Kadri pada tahun 1771 M. Keraton ini menjadi pusat pemerintahan dan kebudayaan Islam di Kalimantan Barat. Di dalam keraton ini terdapat masjid yang megah dan makam-makam para sultan dan keluarganya\u00b3.<br \/>\n&#8211; Kerajaan Jongkong. Ini adalah kerajaan Islam yang berada di daerah Hulu Kapuas, yang didirikan oleh Raden Sulaiman pada tahun 1778 M. Kerajaan ini merupakan hasil peleburan dari beberapa kerajaan kecil yang sebelumnya beragama Hindu-Buddha. Kerajaan ini memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Kalimantan Barat dan Banjar\u00b3.<br \/>\n&#8211; Kesultanan Sambas. Ini adalah kesultanan Islam yang berada di daerah pesisir Kalimantan Barat, yang didirikan oleh Ratu Sepudak pada tahun 1609 M. Kesultanan ini merupakan salah satu kerajaan tertua dan terbesar di Kalimantan Barat, yang memiliki pengaruh besar di daerah sekitarnya. Kesultanan ini memiliki hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara dan Asia\u00b3.<br \/>\n&#8211; Kesultanan Sintang. Ini adalah kesultanan Islam yang berada di daerah pedalaman Kalimantan Barat, yang didirikan oleh Raden Mas Surya Negara pada tahun 1792 M. Kesultanan ini merupakan hasil konversi dari kerajaan Hindu-Buddha yang bernama Kerajaan Sekadau. Kesultanan ini memiliki hubungan baik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya di Kalimantan Barat dan Banjar, serta dengan Belanda\u00b3.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Islam di Kalimantan Barat &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Islam_di_Kalimantan_Barat.<br \/>\n(2) SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI KALIMANTAN \u2013 TELUSUR SEJARAH \u2013 belajar &#8230;. https:\/\/baguskurniawan8.wordpress.com\/2014\/06\/29\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan\/.<br \/>\n(3) Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Kalimantan Barat. https:\/\/www.freedomsiana.id\/sejarah-masuk-dan-berkembangnya-islam-di-kalimantan-barat\/.<br \/>\n(4) PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI KALIMANTAN by imelda aili &#8211; Prezi. https:\/\/prezi.com\/1ob1wap9sgpb\/penyebaran-agama-islam-di-kalimantan\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Agama Islam adalah agama mayoritas di Kalimantan Barat. Menurut data Kementerian Dalam Negeri tahun 2021, terdapat 3.290.000 Muslim di provinsi ini, yang membentuk 60,14% dari&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-42044","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42044","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42044"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42044\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42044"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42044"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42044"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}