{"id":42041,"date":"2023-06-18T09:56:28","date_gmt":"2023-06-18T09:56:28","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1485"},"modified":"2023-06-18T09:56:28","modified_gmt":"2023-06-18T09:56:28","slug":"sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan\/","title":{"rendered":"Sejarah Penyebaran Agama Islam di Kalimantan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan\/#Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Selatan\" >Penyebaran Islam di Kalimantan Selatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan\/#Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Barat\" >Penyebaran Islam di Kalimantan Barat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan\/#Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Tengah\" >Penyebaran Islam di Kalimantan Tengah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-penyebaran-agama-islam-di-kalimantan\/#Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Timur\" >Penyebaran Islam di Kalimantan Timur<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kalimantan adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan agama. Salah satu agama yang berkembang di Kalimantan adalah Islam. Agama Islam masuk ke Kalimantan melalui jalur perdagangan dan dakwah para ulama dan pedagang muslim dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sumatera, Malaka, Arab, India, dan Cina.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Selatan\"><\/span>Penyebaran Islam di Kalimantan Selatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Menurut jurnal berjudul \u2018Islam di Kalimantan Selatan pada Abad ke-13 sampai Abad ke-17\u2019 karya Muhammad Azmi\u00b9, penyebaran Islam di Kalimantan Selatan dimulai sekitar abad 14 M, sebelum Kerajaan Banjar berdiri. Sosok yang berperan dalam penyebarannya adalah Raden Samudera, pewaris sah kerajaan Negara Daha.<\/p>\n<p>Raden Samudera meminta bantuan pasukan dari Kerajaan Demak untuk berperang melawan pamannya, Pangeran Tumenggung, yang merebut takhta Negara Daha. Setelah berhasil mengalahkan pamannya, Raden Samudera mengislamkan raja dan pejabat kerajaan. Ia kemudian bergelar Sultan Suriansyah dan mendirikan Kesultanan Banjar sebagai kerajaan Islam pertama di Kalimantan Selatan.<\/p>\n<p>Penyebaran Islam di Kalimantan Selatan juga didukung oleh para ulama dan wali yang datang dari Jawa dan Sumatera, seperti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Abdul Hamid Abulung, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, Syekh Zainuddin al-Makassari, dan Syekh Burhanuddin al-Banjari. Mereka menyebarkan ajaran Islam melalui pendidikan, pengajian, kitab-kitab, dan contoh perilaku.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Barat\"><\/span>Penyebaran Islam di Kalimantan Barat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Penyebaran agama Islam di Kalimantan Barat diduga terjadi pada abad 18 M. Salah satu sumber yang menjelaskan hal ini adalah Hikayat Banjar\u00b2, sebuah kumpulan naskah sejarah kerajaan di Kalimantan. Dalam Hikayat Banjar disebutkan bahwa Islam masuk ke Kalimantan Barat melalui Pontianak yang disiarkan oleh bangsawan Arab bernama Sultan Syarif Abdurrahman\u00b3.<\/p>\n<p>Sultan Syarif Abdurrahman adalah keturunan dari Syarif Ali bin Ajlan bin Rumaithah bin Muhammad bin Hasan al-Mutawakkil ala Allah bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ia datang ke Pontianak pada tahun 1741 M dan mendirikan Kesultanan Pontianak sebagai kerajaan Islam pertama di Kalimantan Barat.<\/p>\n<p>Selain Pontianak, daerah lain yang diperkirakan lebih awal menerima pengaruh Islam adalah Matan dan Mempawah. Menurut salah satu versi\u2074, pembawa Islam pertama ke daerah ini bernama Syarif Husein, seorang Arab yang datang bersama rombongan Sultan Syarif Abdurrahman. Ia kemudian menikahi putri raja Matan dan menjadi raja Matan dengan gelar Panembahan Adiwijaya.<\/p>\n<p>Penyebaran Islam di Kalimantan Barat juga dilakukan oleh para ulama dan pedagang muslim dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sumatera, Malaka, Arab, India, dan Cina. Mereka menyebarkan ajaran Islam melalui perdagangan, dakwah, pendidikan, pengajian, kitab-kitab, dan contoh perilaku.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Tengah\"><\/span>Penyebaran Islam di Kalimantan Tengah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Penyebaran agama Islam di Kalimantan Tengah tidak dapat dipisahkan dari peranan Kerajaan Kotawaringin yang merupakan salah satu kerajaan tertua di Kalimantan. Menurut Hikayat Banjar\u00b2, Kerajaan Kotawaringin didirikan oleh Raden Bima, putra dari Raja Negara Dipa yang memeluk agama Hindu. Raden Bima kemudian menikahi putri dari Raja Majapahit dan menjadi raja Kotawaringin dengan gelar Panembahan Giri Kusuma.<\/p>\n<p>Islam masuk ke Kerajaan Kotawaringin melalui pernikahan antara putra Panembahan Giri Kusuma, yaitu Raden Mas Rahmat, dengan putri Sultan Suriansyah dari Kesultanan Banjar, yaitu Putri Junjung Buih. Raden Mas Rahmat kemudian memeluk agama Islam dan bergelar Sultan Muhammad Zainuddin. Ia menjadi raja Kotawaringin yang pertama memeluk Islam.<\/p>\n<p>Penyebaran Islam di Kalimantan Tengah juga didorong oleh para ulama dan pedagang muslim yang datang dari berbagai daerah, seperti Jawa, Sumatera, Malaka, Arab, India, dan Cina. Mereka menyebarkan ajaran Islam melalui perdagangan, dakwah, pendidikan, pengajian, kitab-kitab, dan contoh perilaku.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebaran_Islam_di_Kalimantan_Timur\"><\/span>Penyebaran Islam di Kalimantan Timur<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Penyebaran agama Islam di Kalimantan Timur terjadi pada abad 15 M. Salah satu sumber yang menjelaskan hal ini adalah Sulalatus Salatin atau Sejarah Melayu, sebuah karya sastra sejarah kerajaan Melayu. Dalam Sulalatus Salatin disebutkan bahwa Islam masuk ke Kalimantan Timur melalui Kerajaan Kutai yang disiarkan oleh seorang ulama bernama Syekh Abdullah.<\/p>\n<p>Syekh Abdullah adalah seorang ulama dari Pasai yang datang ke Kutai pada tahun 1436 M. Ia berhasil mengislamkan raja Kutai yang bernama Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa dengan gelar Sultan Muhammad Aminullah. Ia menjadi raja Kutai yang pertama memeluk Islam dan mendirikan Kesultanan Kutai Kartanegara sebagai kerajaan Islam pertama di Kalimantan Timur.<\/p>\n<p>Penyebaran Islam di Kalimantan Timur juga dipengaruhi oleh hubungan perdagangan dan politik dengan kerajaan-kerajaan Islam lainnya, seperti Brunei, Sulu, Ternate, Tidore, Banjar, dan Gowa. Selain itu, para ulama dan pedagang muslim juga berperan dalam menyebarkan ajaran Islam melalui perdagangan, dakwah, pendidikan, pengajian, kitab-kitab, dan contoh perilaku.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Sekilas Sejarah Penyebaran Islam di Kalimantan &#8211; Muslim Obsession. https:\/\/www.muslimobsession.com\/sekilas-sejarah-penyebaran-islam-di-kalimantan\/.<br \/>\n(2) Hikayat Banjar, Bukti Sejarah Penyebaran Islam di Kalimantan. https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2022\/08\/19\/100000579\/hikayat-banjar-bukti-sejarah-penyebaran-islam-di-kalimantan?page=all.<br \/>\n(3) Kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan serta Peninggalannya. https:\/\/kumparan.com\/berita-update\/kerajaan-kerajaan-islam-di-kalimantan-serta-peninggalannya-1wnoj3mZetu.<br \/>\n(4) SEJARAH MASUKNYA ISLAM DI KALIMANTAN \u2013 TELUSUR SEJARAH \u2013 belajar &#8230;. https:\/\/baguskurniawan8.wordpress.com\/2014\/06\/29\/sejarah-masuknya-islam-di-kalimantan\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalimantan adalah salah satu pulau terbesar di Indonesia yang memiliki keanekaragaman budaya dan agama. Salah satu agama yang berkembang di Kalimantan adalah Islam. Agama Islam&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-42041","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42041","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42041"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42041\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42041"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42041"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42041"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}