{"id":42011,"date":"2023-06-09T00:31:50","date_gmt":"2023-06-09T00:31:50","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=1401"},"modified":"2023-06-09T00:31:50","modified_gmt":"2023-06-09T00:31:50","slug":"tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-dki-jakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-dki-jakarta\/","title":{"rendered":"Tokoh-tokoh Penyebar Agama Islam di DKI Jakarta"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-dki-jakarta\/#1_Abdullah_Syafii\" >1. Abdullah Syafi&#8217;i<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-dki-jakarta\/#2_Habib_Ali_bin_Abdurrahman_Alhabsyi\" >2. Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tokoh-tokoh-penyebar-agama-islam-di-dki-jakarta\/#3_Muhammad_Nuh\" >3. Muhammad Nuh<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Agama Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk DKI Jakarta. Menurut sensus BPS tahun 2010, sekitar 85,36% atau 8.200.796 jiwa penduduk Jakarta menganut agama Islam\u00b3. Perkembangan Islam di Jakarta tidak lepas dari peran para ulama yang gigih mendakwahkan ajaran agama yang mengacu pada Al-Qur&#8217;an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.<\/p>\n<p>Sejarah mencatat bahwa penyebaran Islam di Jakarta dimulai sejak abad ke-15, ketika wilayah ini masih bernama Sunda Kelapa. Salah satu ulama yang pertama kali mensyiarkan Islam di sini adalah Syekh Hasanuddin (Syekh Quro) yang berasal dari Champa. Ia menikah dengan penduduk setempat dan mendirikan Pondok Pesantren Quro pada tahun 1428 di Tanjungpura, Karawang\u00b2.<\/p>\n<p>Selain Syekh Quro, terdapat tujuh wali Betawi yang juga berperan dalam proses Islamisasi di Jakarta. Mereka adalah Pangeran Darmakumala, Kumpi Datuk, Habib Sawangan, Pangeran Papak, Ema Datuk, Datuk Ibrahim, dan Wali Ki Aling. Mereka hidup sebelum penyerbuan Fatahillah ke Sunda Kelapa dan dimakamkan di berbagai tempat di Jakarta dan sekitarnya\u00b2.<\/p>\n<p>Pada abad ke-20, terdapat beberapa ulama yang terkenal dengan kiprahnya dalam mensyiarkan Islam di Jakarta. Berikut ini adalah lima di antaranya:<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Abdullah_Syafii\"><\/span>1. Abdullah Syafi&#8217;i<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kiai Haji Abdullah Syafi&#8217;i lahir pada 10 Agustus 1910 di Kampung Bali Matraman, Manggarai, Jakarta Selatan. Ia meninggal pada 3 September 1985 dalam usia 75 tahun. KH Abdullah Syafi&#8217;i adalah pendiri dan pengasuh pertama Perguruan as-Syafi&#8217;iyah di Jakarta. Ia pernah menjabat sebagai ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada periode pertama serta ketua umum Majelis Ulama DKI Jakarta pada periode pertama dan kedua. Ia merupakan ayah dari Dra Hajah Tuti Alawiyah, mantan menteri sosial dan menteri peranan wanita pada masa Orde Baru sekaligus penerus pengasuh Perguruan Asy-Syafi&#8217;iyah\u00b9.<\/p>\n<p>Kiai Dulloh \u2013sapaan akrabnya\u2013 adalah ulama asli Jakarta yang terkenal dengan julukan &#8220;Macan Betawi Kharismatik&#8221;. Ia juga dikenal sebagai ulama yang ahli ilmu agama dan mempunyai pandangan luas yang mengacu pada masa depan. Menurut Profesor KH Ali Yafie, KH Abdullah Syafi\u2019i adalah tokoh pemberani, ikhlas, dan tidak kenal lelah berdakwah. Dia sangat tegas dalam menegakkan Amar ma&#8217;ruf nahi munkar\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Habib_Ali_bin_Abdurrahman_Alhabsyi\"><\/span>2. Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Habib Ali bin Abdurrahman Alhabsyi lebih dikenal dengan nama Habib Ali Kwitang. Ia lahir di Jakarta pada 20 April 1870. Wafat di Jakarta pada 13 Oktober 1968 dalam usia 98 tahun. Habib Ali Kwitang merupakan salah seorang ulama terdepan dalam mensyiarkan agama Islam di Jakarta pada abad ke-20. Ia juga pendiri serta pimpinan pertama pengajian Majelis Taklim Kwitang yang merupakan cikal-bakal organisasi-organisasi keagamaan lainnya di Jakarta\u00b9.<\/p>\n<p>Habib Ali Kwitang adalah keturunan keempat dari Sayyid Abdurrahman bin Abdullah Alaydrus (Habib Alaydrus), salah satu ulama terkemuka di Nusantara yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Ia belajar agama dari ayahnya, Habib Abdurrahman Alhabsyi, dan beberapa ulama lainnya di Jakarta, seperti Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, Habib Abdullah bin Umar Alaydrus, dan Habib Muhammad bin Husein Alhabsyi. Ia juga pernah belajar di Mekkah selama 10 tahun\u00b9.<\/p>\n<p>Habib Ali Kwitang dikenal sebagai ulama yang berwibawa, zuhud, dan dermawan. Ia banyak mengajar ilmu-ilmu agama, seperti tafsir, hadis, fiqih, tasawuf, dan bahasa Arab. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan, seperti membantu fakir miskin, yatim piatu, dan korban bencana. Ia juga mendirikan beberapa lembaga pendidikan Islam, seperti Madrasah al-Irsyad al-Islamiyah dan Madrasah al-Muawanah\u00b9.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Muhammad_Nuh\"><\/span>3. Muhammad Nuh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kiai Haji Muhammad Nuh lahir pada 5 November 1909 di Ciputat, Tangerang Selatan. Ia meninggal pada 14 Agustus 1967 dalam usia 57 tahun. KH Muhammad Nuh adalah pendiri dan pengasuh pertama Pondok Pesantren al-Muawanah di Ciputat. Ia juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada masa Orde Lama dan Orde Baru. Ia merupakan ayah dari KH Ma&#8217;ruf Amin, mantan ketua umum MUI dan wakil presiden Republik Indonesia periode 2019-2024.<\/p>\n<p>Kiai Nuh \u2013sapaan akrabnya\u2013 adalah ulama yang memiliki keilmuan yang luas dan mendalam. Ia belajar agama dari beberapa ulama besar di Jawa Barat dan Jawa Tengah, seperti KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), KH Ahmad Sanusi (pendiri Persis), KH Abdul Halim Hasan (pendiri PERSIS), KH Mas Mansur (pendiri PSII), KH Ahmad Rifa&#8217;i (pendiri Nahdlatul Wathan), dan KH Hasjim Asy&#8217;ari (pendiri NU). Ia juga pernah belajar di Mekkah selama 10 tahun.<\/p>\n<p>Kiai Nuh dikenal sebagai ulama yang moderat, toleran, dan berwawasan nasional. Ia banyak mengajarkan ilmu-ilmu agama yang bersifat universal dan aktual, seperti tauhid, akhlak, sejarah Islam, politik Islam, ekonomi Islam, dan dakwah Islam. Ia juga aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan, seperti NU, MUI, Perti, Muhammadiyah, Persis, PSII, Nahdlatul Wathan, dan Hizbullah.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Islam di Daerah Khusus Ibukota Jakarta &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia &#8230;. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Islam_di_Daerah_Khusus_Ibukota_Jakarta.<br \/>\n(2) Mengenal 7 Ulama Betawi Penyebar Islam di Jakarta Tempo Dulu. https:\/\/muslim.okezone.com\/read\/2021\/06\/22\/614\/2429051\/mengenal-7-ulama-betawi-penyebar-islam-di-jakarta-tempo-dulu.<br \/>\n(3) 5 Ulama yang Gigih Mensyiarkan Agama Islam di Jakarta. https:\/\/muslim.okezone.com\/read\/2020\/06\/22\/614\/2234076\/5-ulama-yang-gigih-mensyiarkan-agama-islam-di-jakarta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Agama Islam adalah agama yang dianut oleh mayoritas penduduk DKI Jakarta. Menurut sensus BPS tahun 2010, sekitar 85,36% atau 8.200.796 jiwa penduduk Jakarta menganut agama&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[515],"tags":[],"class_list":["post-42011","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-v"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42011","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=42011"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/42011\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=42011"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=42011"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=42011"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}