{"id":41860,"date":"2024-09-22T11:17:58","date_gmt":"2024-09-22T04:17:58","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=41860"},"modified":"2024-09-22T11:17:58","modified_gmt":"2024-09-22T04:17:58","slug":"cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/","title":{"rendered":"Kekerasan Pada Anak, Jenis, Dampak, Pencegahan, dan Penanganannya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#Jenis-Jenis_Kekerasan_pada_Anak\" >Jenis-Jenis Kekerasan pada Anak<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#1_Kekerasan_Fisik\" >1. Kekerasan Fisik<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#2_Kekerasan_Emosional\" >2. Kekerasan Emosional<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#3_Kekerasan_Seksual\" >3. Kekerasan Seksual<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#4_Penelantaran_Anak\" >4. Penelantaran Anak<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#Dampak_Kekerasan_Pada_Anak\" >Dampak Kekerasan Pada Anak<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#1_Gangguan_Psikologis\" >1. Gangguan Psikologis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#2_Masalah_Perkembangan_Fisik_dan_Mental\" >2. Masalah Perkembangan Fisik dan Mental<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#3_Perilaku_Berisiko_di_Masa_Depan\" >3. Perilaku Berisiko di Masa Depan<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#Pencegahan_Kekerasan_Pada_Anak\" >Pencegahan Kekerasan Pada Anak<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#1_Pendidikan_dan_Kesadaran_Masyarakat\" >1. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#2_Peran_Keluarga\" >2. Peran Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#3_Peran_Sekolah\" >3. Peran Sekolah<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#Cara_Mengatasi_Trauma_pada_Anak_Korban_Kekerasan\" >Cara Mengatasi Trauma pada Anak Korban Kekerasan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-15\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#1_Menciptakan_Rasa_Aman\" >1. Menciptakan Rasa Aman<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-16\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#2_Konseling_dan_Dukungan_Psikologis\" >2. Konseling dan Dukungan Psikologis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-17\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#3_Keterlibatan_dalam_Aktivitas_Positif\" >3. Keterlibatan dalam Aktivitas Positif<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-18\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-membantu-anak-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-2\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Kekerasan terhadap anak adalah isu serius yang masih banyak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kekerasan ini dapat berupa kekerasan fisik, emosional, seksual, hingga penelantaran yang berdampak buruk bagi perkembangan anak secara fisik, mental, dan sosial. Berbagai bentuk kekerasan pada anak tidak hanya melanggar hak-hak dasar anak, tetapi juga merusak masa depan generasi penerus bangsa. Oleh karena itu, memahami, mencegah, serta mengatasi kekerasan pada anak adalah tanggung jawab bersama masyarakat, orang tua, dan pemerintah.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jenis-Jenis_Kekerasan_pada_Anak\"><\/span>Jenis-Jenis Kekerasan pada Anak<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kekerasan terhadap anak dapat terjadi dalam berbagai bentuk, dengan dampak yang serius dan berkepanjangan. Berikut adalah jenis-jenis kekerasan yang sering terjadi pada anak:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Kekerasan_Fisik\"><\/span>1. Kekerasan Fisik<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kekerasan fisik pada anak melibatkan penggunaan kekuatan fisik yang mengakibatkan cedera pada tubuh anak. Bentuk-bentuk kekerasan ini meliputi pemukulan, penendangan, atau kekerasan fisik lainnya. Anak yang menjadi korban kekerasan fisik sering kali mengalami luka, memar, atau cedera lain yang dapat berisiko pada perkembangan fisiknya.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Kekerasan_Emosional\"><\/span>2. Kekerasan Emosional<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kekerasan emosional adalah tindakan atau ucapan yang melukai perasaan dan merusak harga diri anak. Ini termasuk penghinaan, ancaman, pengabaian, serta manipulasi emosi. Kekerasan ini sering kali sulit dideteksi, namun dampaknya sangat besar pada kesehatan mental anak, seperti memicu depresi, kecemasan, dan gangguan perkembangan emosional.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Kekerasan_Seksual\"><\/span>3. Kekerasan Seksual<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kekerasan seksual terhadap anak mencakup semua bentuk eksploitasi seksual yang melibatkan anak-anak. Bentuk kekerasan ini bisa berupa pelecehan seksual, pemerkosaan, atau eksploitasi komersial. Kekerasan seksual berdampak buruk pada kesehatan fisik dan psikologis anak, termasuk trauma berkepanjangan dan gangguan perkembangan seksual.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Penelantaran_Anak\"><\/span>4. Penelantaran Anak<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Penelantaran adalah bentuk kekerasan dimana kebutuhan dasar anak, seperti makanan, tempat tinggal, pendidikan, dan perhatian emosional, tidak terpenuhi. Anak yang ditelantarkan cenderung mengalami masalah kesehatan, pertumbuhan terhambat, serta kesulitan dalam pengembangan sosial dan emosional.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_Kekerasan_Pada_Anak\"><\/span>Dampak Kekerasan Pada Anak<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kekerasan terhadap anak tidak hanya berdampak langsung, tetapi juga menimbulkan efek jangka panjang yang merusak kesejahteraan dan masa depan mereka. Berikut adalah beberapa dampak signifikan dari kekerasan terhadap anak:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Gangguan_Psikologis\"><\/span>1. Gangguan Psikologis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kekerasan, terutama kekerasan emosional dan seksual, dapat menyebabkan gangguan psikologis serius seperti depresi, kecemasan, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Anak yang mengalami kekerasan mungkin mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan dengan orang lain dan sering kali merasa rendah diri.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Masalah_Perkembangan_Fisik_dan_Mental\"><\/span>2. Masalah Perkembangan Fisik dan Mental<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kekerasan fisik dapat menyebabkan cedera serius yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak. Sementara itu, kekerasan emosional dapat mempengaruhi perkembangan mental anak, menyebabkan kesulitan dalam belajar, serta perilaku yang bermasalah di sekolah.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Perilaku_Berisiko_di_Masa_Depan\"><\/span>3. Perilaku Berisiko di Masa Depan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Anak-anak yang mengalami kekerasan cenderung terlibat dalam perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat, kenakalan remaja, atau bahkan kekerasan di masa dewasa. Kekerasan yang dialami saat kecil sering kali membentuk pola perilaku negatif yang sulit diubah tanpa bantuan profesional.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pencegahan_Kekerasan_Pada_Anak\"><\/span>Pencegahan Kekerasan Pada Anak<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pencegahan kekerasan terhadap anak adalah langkah penting yang harus dilakukan oleh semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga pemerintah. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kekerasan pada anak:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Pendidikan_dan_Kesadaran_Masyarakat\"><\/span>1. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak negatif kekerasan pada anak sangat penting. Edukasi kepada orang tua, pengasuh, dan masyarakat tentang pengasuhan positif, manajemen emosi, serta pentingnya menghormati hak-hak anak harus ditingkatkan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Peran_Keluarga\"><\/span>2. Peran Keluarga<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Keluarga adalah lingkungan pertama anak, sehingga penting bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang baik dengan anak. Orang tua harus menghindari penggunaan kekerasan fisik dan emosional dalam mendidik anak. Sebaliknya, gunakan pendekatan yang mendukung, menghargai perasaan anak, dan membantu mereka mengembangkan empati serta pengelolaan emosi yang sehat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Peran_Sekolah\"><\/span>3. Peran Sekolah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sekolah memiliki peran penting dalam mencegah kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan di lingkungan sekolah seperti bullying. Sekolah harus menerapkan kebijakan anti-bullying yang tegas, memberikan pendidikan tentang etika sosial dan perilaku positif, serta menyediakan dukungan konseling bagi siswa yang membutuhkan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Mengatasi_Trauma_pada_Anak_Korban_Kekerasan\"><\/span>Cara Mengatasi Trauma pada Anak Korban Kekerasan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Anak-anak yang telah mengalami kekerasan membutuhkan bantuan untuk pulih dari trauma yang mereka alami. Beberapa langkah yang dapat diambil untuk membantu anak mengatasi trauma adalah:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Menciptakan_Rasa_Aman\"><\/span>1. Menciptakan Rasa Aman<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Anak yang mengalami trauma sering kali merasa tidak aman. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan bebas dari ancaman kekerasan. Berikan mereka ruang untuk berbicara tentang perasaan dan pengalaman mereka tanpa rasa takut.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Konseling_dan_Dukungan_Psikologis\"><\/span>2. Konseling dan Dukungan Psikologis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Bantuan profesional, seperti konseling dari psikolog anak, sangat penting bagi pemulihan anak korban kekerasan. Melalui terapi psikologis, anak dapat belajar untuk mengatasi trauma, mengembangkan mekanisme penanganan stres yang sehat, serta membangun kembali kepercayaan diri.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Keterlibatan_dalam_Aktivitas_Positif\"><\/span>3. Keterlibatan dalam Aktivitas Positif<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Melibatkan anak dalam aktivitas yang positif seperti seni, olahraga, atau kegiatan lain yang mereka sukai dapat membantu mengalihkan perhatian mereka dari pengalaman traumatis. Aktivitas ini juga membantu anak membangun kembali hubungan sosial yang positif.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kekerasan terhadap anak adalah masalah yang kompleks dan berdampak besar pada perkembangan anak. Tindakan kekerasan dalam bentuk apapun\u2014baik fisik, emosional, seksual, maupun penelantaran\u2014tidak dapat dibenarkan dan harus dihentikan. Upaya pencegahan dan penanganan kekerasan terhadap anak membutuhkan peran aktif keluarga, sekolah, serta masyarakat. Dukungan kepada anak-anak korban kekerasan sangat penting untuk membantu mereka pulih dari trauma dan kembali tumbuh menjadi individu yang sehat dan bahagia.<\/p>\n<p><strong>Referensi:\u00a0<\/strong><\/p>\n<ol>\n<li>Blog Universitas Negeri Malang. (n.d.). Kekerasan pada AUD. Diakses dari http:\/\/yd.blog.um.ac.id\/category\/opini-populer\/kekerasan-pada-aud\/<\/li>\n<li>Saputra, J. (n.d.). Bagaimana Mendukung Anak yang Mengalami Kekerasan di Rumah. Kumparan. Diakses dari https:\/\/kumparan.com\/jehan-saputra\/bagaimana-mendukung-anak-yang-mengalami-kekerasan-di-rumah-22nRSvoedxL<\/li>\n<li>Halodoc. (n.d.). Ini 6 Cara Mengatasi Trauma Anak yang Disebabkan KDRT. Diakses dari https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/ini-6-cara-mengatasi-trauma-anak-yang-disebabkan-kdrt?srsltid=AfmBOoo8FkV_zQME8mcdQOjxiyOvXAbGFfMFphDSF3lwIl4yoDefb97n<\/li>\n<li>SOA Edu. (n.d.). Memahami dan Membantu Anak Korban Kekerasan. Diakses dari https:\/\/soa-edu.com\/memahami-dan-membantu-anak-korban-kekerasan\/<\/li>\n<li>Detik. (n.d.). 5 Cara Praktis Cegah Kekerasan pada Anak Buat Orang Tua. Diakses dari https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-6894381\/5-cara-praktis-cegah-kekerasan-pada-anak-buat-orang-tua<\/li>\n<li>Pijar Psikologi. (n.d.). Bagaimana Menghadapi Trauma pada Anak Korban Kekerasan. Diakses dari https:\/\/pijarpsikologi.org\/blog\/bagaimana-menghadapi-trauma-pada-anak-korban-kekerasan<\/li>\n<li>Superbook Indonesia. (n.d.). 8 Cara Membantu Memulihkan Trauma Anak yang Menjadi Saksi KDRT. Diakses dari https:\/\/www.superbookindonesia.com\/article\/read\/article\/8+Cara+Membantu+Memulihkan+Trauma+Anak+yang+Menjadi+Saksi+KDRT\/id\/3681.html<\/li>\n<li>Fimela. (n.d.). Lakukan Tips Ini untuk Mengatasi Trauma pada Anak Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga. Diakses dari https:\/\/www.fimela.com\/parenting\/read\/5563380\/lakukan-tips-ini-untuk-mengatasi-trauma-pada-anak-korban-kekerasan-dalam-rumah-tangga<\/li>\n<li>RSUP Soeradji. (n.d.). (n.d.). Diakses dari https:\/\/rsupsoeradji.id\/17269-2\/<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kekerasan terhadap anak adalah isu serius yang masih banyak terjadi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Kekerasan ini dapat berupa kekerasan fisik, emosional, seksual, hingga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[507],"class_list":["post-41860","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam","tag-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41860","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41860"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41860\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41860"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41860"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41860"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}