{"id":41783,"date":"2024-09-16T20:14:47","date_gmt":"2024-09-16T13:14:47","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=41783"},"modified":"2024-09-16T20:14:47","modified_gmt":"2024-09-16T13:14:47","slug":"kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar\/","title":{"rendered":"Kisah Masuk Islamnya Iyas bin Mu&#8217;adz dan Penolakan Abul Haisar"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar\/#Misi_ke_Makkah_Pencarian_Sekutu\" >Misi ke Makkah: Pencarian Sekutu<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar\/#Hati_yang_Tergerak_Respons_Iyas_bin_Muadz\" >Hati yang Tergerak: Respons Iyas bin Mu&#8217;adz<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar\/#Penolakan_Abul_Haisar\" >Penolakan Abul Haisar<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar\/#Akhir_Hidup_Iyas_bin_Muadz\" >Akhir Hidup Iyas bin Mu&#8217;adz<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar\/#Pelajaran_dari_Kisah_Iyas_bin_Muadz_dan_Abul_Haisar\" >Pelajaran dari Kisah Iyas bin Mu&#8217;adz dan Abul Haisar<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kisah-masuk-islamnya-iyas-bin-muadz-dan-penolakan-abul-haisar\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Pada masa awal dakwah Islam, Rasulullah \ufdfa kerap menemui banyak kabilah Arab untuk mengajak mereka menerima Islam. Salah satu kisah menarik dari upaya dakwah tersebut adalah tentang seorang pemuda cerdas bernama <strong>Iyas bin Mu&#8217;adz<\/strong> dan seorang pemimpin kabilah bernama <strong>Abul Haisar<\/strong>, atau Anas bin Rafi&#8217;. Kisah ini tidak hanya menggambarkan pertemuan antara dua generasi yang berbeda, tetapi juga memperlihatkan bagaimana hidayah dapat datang kepada hati yang terbuka, meskipun terhalang oleh penolakan dari yang lebih tua.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Misi_ke_Makkah_Pencarian_Sekutu\"><\/span>Misi ke Makkah: Pencarian Sekutu<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Semua bermula ketika <strong>Abul Haisar<\/strong>, seorang tokoh dari suku <strong>Bani Abdul Asyhal<\/strong>, memimpin rombongan kabilahnya menuju Makkah. Tujuan utama mereka adalah mencari sekutu untuk memperkuat posisi dalam konflik internal mereka dengan suku <strong>Al-Khazraj<\/strong>, salah satu kelompok besar di Madinah. Di antara rombongan itu, ikut pula seorang pemuda bernama <strong>Iyas bin Mu&#8217;adz<\/strong>. Meski masih muda, Iyas sudah dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan penuh potensi.<\/p>\n<p>Saat mereka tiba di Makkah, kabar tentang kedatangan rombongan dari Madinah sampai ke telinga Rasulullah \ufdfa. Nabi melihat ini sebagai kesempatan untuk menyampaikan dakwah kepada mereka. Rasulullah \ufdfa segera menemui rombongan tersebut dan memulai percakapan dengan penuh kelembutan. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai utusan Allah yang diutus untuk menyampaikan risalah kebenaran. Rasulullah \ufdfa juga menawarkan Islam kepada mereka sebagai jalan keselamatan, serta membacakan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang penuh dengan hikmah dan petunjuk.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hati_yang_Tergerak_Respons_Iyas_bin_Muadz\"><\/span>Hati yang Tergerak: Respons Iyas bin Mu&#8217;adz<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ketika mendengar kata-kata Nabi Muhammad \ufdfa dan lantunan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, <strong>Iyas bin Mu&#8217;adz<\/strong> segera merasakan sesuatu yang berbeda. Ada getaran dalam hatinya yang membuatnya sadar bahwa apa yang disampaikan oleh Rasulullah \ufdfa lebih dari sekadar ajakan biasa. Dalam hatinya, Iyas merasa bahwa Islam adalah kebenaran yang selama ini ia cari.<\/p>\n<p>Tanpa ragu, Iyas menyuarakan pendapatnya di hadapan seluruh rombongan, \u201cWahai kaumku, demi Allah, apa yang dikatakan oleh laki-laki ini lebih baik daripada tujuan kita ke sini.\u201d Ucapan Iyas menunjukkan bahwa dirinya telah menerima ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad \ufdfa dengan hati terbuka. Meski usianya masih muda, ia mampu melihat kebenaran yang tidak dilihat oleh orang-orang yang lebih tua darinya .<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penolakan_Abul_Haisar\"><\/span>Penolakan Abul Haisar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Namun, tidak semua orang dalam rombongan merespons dengan cara yang sama seperti Iyas. <strong>Abul Haisar<\/strong>, sebagai pemimpin rombongan, merasa tidak nyaman dengan ucapan Iyas. Baginya, tujuan utama mereka datang ke Makkah adalah untuk mencari sekutu, bukan untuk mendengarkan ajaran baru yang asing bagi mereka.<\/p>\n<p>Dengan nada marah, Abul Haisar mengambil segenggam tanah dan menaburkannya ke wajah Iyas. \u201cDiam! Jangan berbicara!\u201d bentaknya. Bagi Abul Haisar, menerima ajakan Nabi \ufdfa berarti meninggalkan tujuan mereka yang lebih pragmatis\u2014yaitu mencari dukungan politik dan militer. Ia menolak keras ajaran Islam dan memutuskan untuk kembali ke Madinah tanpa membawa apapun selain kekecewaan .<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Akhir_Hidup_Iyas_bin_Muadz\"><\/span>Akhir Hidup Iyas bin Mu&#8217;adz<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah kembali ke Madinah, kehidupan Iyas berjalan seperti biasa. Namun, tak lama kemudian, <strong>Perang Bu&#8217;ats<\/strong> meletus antara suku Aus dan Khazraj, memperparah permusuhan di antara mereka. Di tengah situasi yang semakin memburuk, Iyas jatuh sakit. Menjelang kematiannya, Iyas sering kali terdengar melafalkan tahlil, takbir, tahmid, dan tasbih, yang menandakan kecintaannya kepada Allah dan keimanannya kepada ajaran Nabi Muhammad \ufdfa.<\/p>\n<p>Meskipun Iyas tidak secara formal menyatakan keislamannya di hadapan kaumnya, banyak orang dari sukunya yang percaya bahwa Iyas telah memeluk Islam dalam hatinya. Mereka berkata, \u201cIyas telah wafat sebagai seorang Muslim.\u201d Keimanan yang tumbuh di hatinya setelah pertemuannya dengan Rasulullah \ufdfa adalah bukti bahwa hidayah Allah bisa datang kepada siapa saja yang hatinya terbuka .<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pelajaran_dari_Kisah_Iyas_bin_Muadz_dan_Abul_Haisar\"><\/span>Pelajaran dari Kisah Iyas bin Mu&#8217;adz dan Abul Haisar<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kisah ini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana kebenaran dapat diterima oleh mereka yang berpikiran terbuka, seperti Iyas bin Mu&#8217;adz, yang meskipun muda, mampu melihat keindahan dan kebenaran dalam ajaran Islam. Keterbukaannya terhadap dakwah Nabi \ufdfa menunjukkan bahwa usia bukanlah penghalang untuk menerima hidayah.<\/p>\n<p>Sebaliknya, Abul Haisar, yang terikat dengan tradisi dan kepentingan duniawi, menolak kebenaran yang sudah ada di hadapannya. Ini menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh Rasulullah \ufdfa dalam menyampaikan Islam. Banyak orang pada masa itu, terutama para pemimpin suku, melihat Islam sebagai ancaman terhadap kekuasaan mereka dan bukan sebagai cahaya petunjuk dari Allah.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kisah <strong>Iyas bin Mu&#8217;adz<\/strong> dan <strong>Abul Haisar<\/strong> adalah contoh bagaimana dakwah Islam pada masa awal menghadapi berbagai macam respon\u2014dari penerimaan yang tulus hingga penolakan yang keras. Iyas bin Mu&#8217;adz, meski muda, memberikan teladan bahwa siapapun yang membuka hatinya terhadap kebenaran akan mendapatkan petunjuk dari Allah. Sementara itu, Abul Haisar mewakili mereka yang enggan menerima Islam karena terikat oleh kepentingan duniawi.<\/p>\n<p>Kisah ini mengajarkan pentingnya bersikap rendah hati dan terbuka dalam menerima kebenaran. Hidayah adalah anugerah Allah yang bisa datang kepada siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seperti yang terjadi pada Iyas bin Mu&#8217;adz. Sebagai Muslim, tugas kita adalah terus menyampaikan kebenaran dengan penuh kesabaran, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad \ufdfa.<\/p>\n<p>Referensi;<\/p>\n<ul>\n<li>Hisyam, Ibnu. <em>Sirah Nabawiyah<\/em>. Terjemahan oleh Qisthi Press. Qisthi Press, 2019.<\/li>\n<li>Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. <em>Ar-Rahiq al-Makhtum: Sirah Nabawiyah &#8211; Sejarah Lengkap Kehidupan Nabi Muhammad Salallahu&#8217;alaihi Wasalam<\/em>. Qisthi Press, 2016.<\/li>\n<li>Katsir, Ibnu, dan Abu Ihsan al-Atsari. <em>Sirah Nabi Muhammad<\/em>. Pustaka Imam Asy-Syafi&#8217;i, 2010.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada masa awal dakwah Islam, Rasulullah \ufdfa kerap menemui banyak kabilah Arab untuk mengajak mereka menerima Islam. Salah satu kisah menarik dari upaya dakwah tersebut&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-41783","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41783","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=41783"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/41783\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=41783"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=41783"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=41783"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}