{"id":40863,"date":"2024-08-28T15:57:34","date_gmt":"2024-08-28T08:57:34","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=40863"},"modified":"2024-08-28T15:57:34","modified_gmt":"2024-08-28T08:57:34","slug":"faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/","title":{"rendered":"Faktor-Faktor Penyebab Daerah Tertinggal"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/#Faktor-Faktor_Penyebab_Daerah_Tertinggal\" >Faktor-Faktor Penyebab Daerah Tertinggal<\/a><ul class='ez-toc-list-level-4' ><li class='ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/#1_Faktor_Geografis\" >1. Faktor Geografis<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/#2_Faktor_Sumber_Daya_Manusia\" >2. Faktor Sumber Daya Manusia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/#3_Faktor_Ekonomi\" >3. Faktor Ekonomi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/#4_Faktor_Politik_dan_Kelembagaan\" >4. Faktor Politik dan Kelembagaan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/#5_Faktor_Sosial_Budaya\" >5. Faktor Sosial Budaya<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-penyebab-daerah-tertinggal-2\/#Penutup\" >Penutup<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p data-sourcepos=\"7:1-7:347\">Daerah tertinggal merupakan suatu kondisi di mana suatu wilayah mengalami keterbelakangan dalam berbagai aspek pembangunan, seperti ekonomi, sosial, dan infrastruktur. Kondisi ini seringkali menjadi tantangan besar bagi pemerintah dan masyarakat setempat. Untuk merumuskan strategi pembangunan yang efektif, perlu dilakukan pemahaman yang mendalam mengenai faktor-faktor yang menyebabkan suatu daerah tertinggal.<\/p>\n<h3 class=\"\" data-sourcepos=\"9:1-9:44\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor-Faktor_Penyebab_Daerah_Tertinggal\"><\/span>Faktor-Faktor Penyebab Daerah Tertinggal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<h4 class=\"\" data-sourcepos=\"11:1-11:24\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Faktor_Geografis\"><\/span>1. Faktor Geografis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<ul data-sourcepos=\"13:1-14:121\">\n<li data-sourcepos=\"13:1-13:374\"><strong>Kondisi Geologi dan Topografi:<\/strong> Daerah dengan kondisi geologi yang rawan bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, atau tanah longsor seringkali mengalami kesulitan dalam pembangunan infrastruktur dan pemulihan pasca bencana. Selain itu, daerah dengan topografi yang sulit seperti pegunungan atau daerah perbukitan juga menyulitkan aksesibilitas dan pembangunan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"14:1-14:121\"><strong>Ketersediaan Sumber Daya Alam:<\/strong> Kekurangan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara ekonomis dapat menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. Sebaliknya, daerah yang kaya akan sumber daya alam namun tidak dikelola dengan baik juga dapat mengalami keterbelakangan akibat eksploitasi yang tidak berkelanjutan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"15:1-16:0\"><strong>Iklim:<\/strong> Kondisi iklim yang ekstrem seperti kekeringan atau banjir dapat mengganggu aktivitas pertanian dan perekonomian masyarakat.<\/li>\n<\/ul>\n<h4 class=\"\" data-sourcepos=\"17:1-17:34\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Faktor_Sumber_Daya_Manusia\"><\/span>2. Faktor Sumber Daya Manusia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<ul data-sourcepos=\"19:1-20:107\">\n<li data-sourcepos=\"19:1-19:210\"><strong>Tingkat Pendidikan:<\/strong> Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat berdampak pada kualitas sumber daya manusia yang tersedia. Hal ini dapat menghambat penyerapan teknologi baru dan inovasi dalam berbagai sektor.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"20:1-20:107\"><strong>Kesehatan:<\/strong> Tingkat kesehatan masyarakat yang rendah dapat menurunkan produktivitas kerja dan kualitas hidup.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"21:1-22:0\"><strong>Keterampilan:<\/strong> Kurangnya keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja juga menjadi kendala dalam pengembangan ekonomi daerah.<\/li>\n<\/ul>\n<h4 class=\"\" data-sourcepos=\"23:1-23:22\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Faktor_Ekonomi\"><\/span>3. Faktor Ekonomi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<ul data-sourcepos=\"25:1-27:81\">\n<li data-sourcepos=\"25:1-25:154\"><strong>Kemiskinan:<\/strong> Tingkat kemiskinan yang tinggi menghambat kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar dan berinvestasi dalam pengembangan usaha.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"26:1-26:209\"><strong>Ketergantungan pada Sektor Tertentu:<\/strong> Ketergantungan pada sektor tertentu, seperti pertanian atau pertambangan, membuat daerah rentan terhadap fluktuasi harga komoditas dan perubahan kebijakan pemerintah.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"27:1-27:81\"><strong>Kurangnya Infrastruktur:<\/strong> Kurangnya infrastruktur yang memadai seperti jalan, listrik, dan air bersih menghambat mobilitas barang dan jasa serta menghambat investasi.<\/li>\n<\/ul>\n<h4 class=\"\" data-sourcepos=\"29:1-29:38\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Faktor_Politik_dan_Kelembagaan\"><\/span>4. Faktor Politik dan Kelembagaan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<ul data-sourcepos=\"31:1-34:0\">\n<li data-sourcepos=\"31:1-31:155\"><strong>Governance yang Lemah:<\/strong> Tata kelola pemerintahan yang lemah, korupsi, dan nepotisme dapat menghambat pembangunan dan alokasi sumber daya yang efektif.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"32:1-32:113\"><strong>Konflik Sosial:<\/strong> Konflik sosial yang berkepanjangan dapat merusak tatanan sosial dan menghambat pembangunan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"33:1-34:0\"><strong>Kelembagaan yang Lemah:<\/strong> Kelembagaan masyarakat yang lemah, seperti koperasi atau kelompok tani, menghambat pengembangan ekonomi masyarakat.<\/li>\n<\/ul>\n<h4 class=\"\" data-sourcepos=\"35:1-35:28\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Faktor_Sosial_Budaya\"><\/span>5. Faktor Sosial Budaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<ul data-sourcepos=\"37:1-37:9\">\n<li data-sourcepos=\"37:1-37:9\"><strong>Nilai dan Norma Masyarakat:<\/strong> Nilai dan norma masyarakat yang tradisional dan resisten terhadap perubahan dapat menghambat adopsi teknologi baru dan inovasi.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"38:1-38:114\"><strong>Sistem Kasta:<\/strong> Sistem kasta yang masih kuat dapat menghambat mobilitas sosial dan akses terhadap sumber daya.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"39:1-40:0\"><strong>Migrasi:<\/strong> Tingkat migrasi yang tinggi dapat menyebabkan kekurangan tenaga kerja produktif di daerah asal.<\/li>\n<\/ul>\n<h3 class=\"\" data-sourcepos=\"41:1-41:11\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penutup\"><\/span>Penutup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"43:1-43:293\">Daerah tertinggal merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Untuk mengatasi masalah ini diperlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Pemerintah, masyarakat,<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Daerah tertinggal merupakan suatu kondisi di mana suatu wilayah mengalami keterbelakangan dalam berbagai aspek pembangunan, seperti ekonomi, sosial, dan infrastruktur. Kondisi ini seringkali menjadi tantangan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[521,507],"class_list":["post-40863","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam","tag-ekonomi","tag-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40863","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=40863"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/40863\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=40863"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=40863"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=40863"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}