{"id":4074,"date":"2023-08-21T08:09:43","date_gmt":"2023-08-21T08:09:43","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=4074"},"modified":"2023-08-21T08:09:43","modified_gmt":"2023-08-21T08:09:43","slug":"bubarnya-dwitunggal-mundurnya-hatta-marahnya-soekarno","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bubarnya-dwitunggal-mundurnya-hatta-marahnya-soekarno\/","title":{"rendered":"Bubarnya Dwitunggal: Mundurnya Hatta, Marahnya Soekarno"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bubarnya-dwitunggal-mundurnya-hatta-marahnya-soekarno\/#Latar_Belakang\" >Latar Belakang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bubarnya-dwitunggal-mundurnya-hatta-marahnya-soekarno\/#Penyebab\" >Penyebab<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bubarnya-dwitunggal-mundurnya-hatta-marahnya-soekarno\/#Dampak\" >Dampak<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/bubarnya-dwitunggal-mundurnya-hatta-marahnya-soekarno\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang\"><\/span>Latar Belakang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dwitunggal adalah julukan yang diberikan kepada Soekarno dan Mohammad Hatta, dua tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia.\u00a0Keduanya dianggap sebagai simbol kepemimpinan Indonesia di masa awal kemerdekaan<sup>1<\/sup>. Namun, hubungan keduanya tidak selalu harmonis.\u00a0Sejak awal pertemuan mereka, Soekarno dan Hatta sudah memiliki perbedaan pandangan dalam hal cara memerdekakan Indonesia, ideologi politik, dan sistem pemerintahan<sup>2<\/sup>.\u00a0Perbedaan ini semakin memuncak pada tahun 1956, ketika Hatta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden dan menyebabkan bubarnya dwitunggal<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebab\"><\/span>Penyebab<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ada beberapa faktor yang menyebabkan bubarnya dwitunggal, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Perbedaan ideologi politik<\/strong>. Soekarno cenderung berhaluan sosialis dan nasionalis, sedangkan Hatta lebih condong ke arah liberal dan demokratis.\u00a0Soekarno menginginkan pemerintahan yang kuat dan sentralistik, sedangkan Hatta mengusung pemerintahan yang desentralistik dan menghormati otonomi daerah<sup>2<\/sup>.\u00a0Soekarno juga lebih mendukung hubungan dekat dengan Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur, sedangkan Hatta lebih bersimpati dengan Amerika Serikat dan negara-negara Blok Barat<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<li><strong>Perbedaan sikap terhadap pemberontakan regional<\/strong>. Pada tahun 1956, beberapa daerah di Indonesia melakukan pemberontakan terhadap pemerintah pusat dengan menuntut otonomi yang lebih luas. Pemberontakan ini dikenal dengan nama PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Sulawesi. Soekarno menanggapi pemberontakan ini dengan tegas dan mengirim pasukan militer untuk menumpasnya.\u00a0Sedangkan Hatta lebih memilih pendekatan diplomatis dan dialog untuk menyelesaikan masalah ini<sup>3<\/sup>.\u00a0Hatta juga merasa tidak dilibatkan oleh Soekarno dalam mengambil keputusan terkait pemberontakan ini<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<li><strong>Perbedaan pandangan terhadap sistem demokrasi<\/strong>. Soekarno merasa bahwa sistem demokrasi parlementer yang berlaku saat itu tidak efektif dan tidak sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Ia mengusulkan sistem demokrasi terpimpin yang memberikan kekuasaan lebih besar kepada presiden sebagai pemimpin tunggal bangsa.\u00a0Sedangkan Hatta tetap mempertahankan sistem demokrasi parlementer yang menghargai peran parlemen dan partai-partai politik sebagai wakil rakyat<sup>3<\/sup>.\u00a0Hatta juga khawatir bahwa sistem demokrasi terpimpin akan membuka peluang bagi Soekarno untuk menjadi diktator<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak\"><\/span>Dampak<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bubarnya dwitunggal memiliki dampak yang signifikan bagi perkembangan politik Indonesia, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Melemahnya posisi Hatta dalam politik nasional<\/strong>. Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wakil Presiden, Hatta menjadi semakin terpinggirkan dari panggung politik nasional. Ia tidak lagi memiliki pengaruh yang besar dalam menentukan arah kebijakan pemerintah.\u00a0Ia juga tidak lagi menjadi penyeimbang bagi Soekarno yang semakin berkuasa<sup>3<\/sup>.\u00a0Meskipun demikian, Hatta tetap aktif dalam kegiatan sosial dan pendidikan, serta memberikan saran-saran kepada Soekarno melalui surat-surat pribadi<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<li><strong>Menguatnya posisi Soekarno dalam politik nasional<\/strong>. Setelah bubarnya dwitunggal, Soekarno menjadi semakin tak terbendung dalam mewujudkan visinya tentang Indonesia. Ia berhasil mengubah sistem demokrasi parlementer menjadi demokrasi terpimpin pada tahun 1959 dengan mengeluarkan Dekret Presiden 5 Juli 1959.\u00a0Ia juga memperluas hubungan luar negeri Indonesia dengan mendirikan Konferensi Asia Afrika, Gerakan Non-Blok, dan Dwi Tunggal Indonesia-Cina<sup>3<\/sup>.\u00a0Ia juga mengembangkan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) sebagai ideologi negara<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<li><strong>Meningkatnya ketegangan politik dan sosial di Indonesia<\/strong>. Bubarnya dwitunggal juga menimbulkan ketidakstabilan politik dan sosial di Indonesia. Pemberontakan regional PRRI dan Permesta berlangsung hingga tahun 1961. Konflik antara partai-partai politik, terutama antara Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai-partai Islam, semakin memanas.\u00a0Kondisi ekonomi Indonesia juga semakin memburuk akibat inflasi, korupsi, dan utang luar negeri yang membengkak<sup>3<\/sup>.\u00a0Semua ini berujung pada terjadinya Gerakan 30 September 1965 yang menewaskan enam jenderal Angkatan Darat dan mencoba menggulingkan Soekarno<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Bubarnya dwitunggal adalah peristiwa yang menandai berakhirnya kerjasama antara Soekarno dan Hatta sebagai pemimpin Indonesia di masa awal kemerdekaan. Peristiwa ini disebabkan oleh perbedaan ideologi politik, sikap terhadap pemberontakan regional, dan pandangan terhadap sistem demokrasi antara keduanya. Peristiwa ini juga memiliki dampak yang besar bagi perkembangan politik Indonesia, yaitu melemahnya posisi Hatta, menguatnya posisi Soekarno, dan meningkatnya ketegangan politik dan sosial di Indonesia.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Prolog Materi &#8211; Bubarnya Dwitunggal &#8211; Zenius Education. https:\/\/www.zenius.net\/prologmateri\/sejarah\/a\/355\/BubarnyaDwitunggal.<br \/>\n(2) Soekarno dan Hatta, Dwitunggal yang Terpisahkan oleh Politik tetapi &#8230;. https:\/\/nasional.kompas.com\/read\/2021\/06\/18\/13414211\/soekarno-dan-hatta-dwitunggal-yang-terpisahkan-oleh-politik-tetapi-tetap.<br \/>\n(3) Kisah Konflik Soekarno-Hatta Mengejar Kemerdekaan, Musuh Politik &#8230;. https:\/\/kuyou.id\/homepage\/read\/12491\/kisah-konflik-soekarno-hatta-mengejar-kemerdekaan-musuh-politik-dibalik-bubarnya-dwitunggal.<br \/>\n(4) Ini Cerita Bubarnya Dwitunggal Soekarno-Hatta &#8211; Minews ID. https:\/\/minews.id\/news\/ini-cerita-bubarnya-dwitunggal-soekarno-hatta.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang Dwitunggal adalah julukan yang diberikan kepada Soekarno dan Mohammad Hatta, dua tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia yang menjadi Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4074","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4074","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4074"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4074\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4074"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4074"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4074"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}