{"id":3960,"date":"2023-08-15T07:02:36","date_gmt":"2023-08-15T07:02:36","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=3960"},"modified":"2023-08-15T07:02:36","modified_gmt":"2023-08-15T07:02:36","slug":"perundingan-hooge-veluwe-upaya-diplomasi-indonesia-dalam-menghadapi-belanda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perundingan-hooge-veluwe-upaya-diplomasi-indonesia-dalam-menghadapi-belanda\/","title":{"rendered":"Perundingan Hooge Veluwe: Upaya Diplomasi Indonesia dalam Menghadapi Belanda"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perundingan-hooge-veluwe-upaya-diplomasi-indonesia-dalam-menghadapi-belanda\/#Latar_Belakang_Perundingan\" >Latar Belakang Perundingan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perundingan-hooge-veluwe-upaya-diplomasi-indonesia-dalam-menghadapi-belanda\/#Jalannya_Perundingan\" >Jalannya Perundingan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perundingan-hooge-veluwe-upaya-diplomasi-indonesia-dalam-menghadapi-belanda\/#Hasil_Perundingan\" >Hasil Perundingan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Hooge Veluwe adalah sebuah taman nasional di Belanda yang menjadi tempat perundingan antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1946. Perundingan ini merupakan salah satu upaya diplomasi yang ditempuh oleh pemerintah Republik Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajahan Belanda.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang_Perundingan\"><\/span>Latar Belakang Perundingan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perundingan Hooge Veluwe disebabkan oleh kegagalan perundingan pendahuluan antara NICA (Belanda) dan Indonesia pada 23 Oktober 1945 di Jakarta. Dalam perundingan ini, Belanda menyampaikan keinginan untuk menjadikan Indonesia sebagai negara bawahan dalam persemakmuran Belanda.\u00a0Indonesia menolak keinginan tersebut dan menuntut pengakuan kedaulatan secara penuh dari pihak Belanda<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Sebelum pelaksanaan perundingan Hooge Veluwe, Indonesia dan Belanda telah menandatangani naskah kesepahaman bernama Draft Jakarta pada 27 Maret 1946. Dalam Draft Jakarta, Belanda mengakui secara de facto pemerintahan Indonesia yang meliputi Jawa dan Sumatera.\u00a0Selain itu, Belanda juga sepakat untuk membahas gagasan hubungan sejajar antara Belanda dan Indonesia sebagai dua negara berdaulat<sup>2<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jalannya_Perundingan\"><\/span>Jalannya Perundingan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perundingan Hooge Veluwe mulai dilaksanakan pada tanggal 14 April 1946. Dalam perundingan ini, Inggris menjadi penengah dengan mengirimkan Sir Archibald Clark Kerr. Indonesia mengirimkan tiga delegasi yaitu, W. Soewandi, Sudarsono dan A.K Pringgodigdo.\u00a0Sedangkan pihak Belanda mengirimkan Van Mook, Van Royen, Idenburg, Van Asbeck, Sultan Hamid II, Soeria Santoso, dan Logeman sebagai delegasinya<sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Dalam perundingan ini, terjadi beberapa perbedaan pandangan antara kedua belah pihak. Salah satunya adalah mengenai status kenegaraan Indonesia. Pihak Indonesia menuntut pengakuan kedaulatan secara de jure atas seluruh wilayah Indonesia yang mencakup Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua Barat dan Nusa Tenggara.\u00a0Sedangkan pihak Belanda hanya bersedia mengakui kedaulatan secara de facto atas Jawa dan Sumatera saja<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Selain itu, pihak Indonesia juga menolak usulan Belanda untuk membentuk suatu federasi yang terdiri dari beberapa negara bagian di bawah naungan Kerajaan Belanda.\u00a0Pihak Indonesia menginginkan suatu bentuk negara kesatuan yang berdaulat dan merdeka<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hasil_Perundingan\"><\/span>Hasil Perundingan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perundingan Hooge Veluwe berakhir tanpa mencapai kesepakatan di antara kedua belah pihak. Pihak Indonesia tetap bersikukuh pada tuntutan mereka, sementara pihak Belanda tidak mau mengalah pada kepentingan mereka.\u00a0Perundingan ini pun dianggap gagal oleh kedua belah pihak<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Meskipun demikian, perundingan Hooge Veluwe memiliki beberapa dampak bagi perkembangan sejarah Indonesia.\u00a0Salah satunya adalah mendorong terbentuknya Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang merupakan koalisi dari berbagai partai politik dan organisasi massa yang mendukung sikap pemerintah RI dalam perundingan tersebut<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Selain itu, perundingan Hooge Veluwe juga memicu terjadinya perpecahan politik di dalam negeri. Beberapa kelompok seperti Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Sayap Kiri PNI mengecam sikap Sutan Sjahrir yang dianggap terlalu lunak dalam bernegosiasi dengan Belanda.\u00a0Mereka menuntut agar dilakukan perjuangan bersenjata untuk merebut kemerdekaan secara total<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Perundingan Hooge Veluwe menjadi salah satu babak penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Perundingan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak mau tunduk pada kehendak Belanda yang ingin mengembalikan penjajahan. Perundingan ini juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki semangat diplomasi yang tinggi untuk mendapatkan pengakuan internasional atas kemerdekaannya.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Sejarah Perundingan Hoge Veluwe 1946 dan Dampaknya bagi Indonesia. https:\/\/tirto.id\/sejarah-perundingan-hoge-veluwe-1946-dan-dampaknya-bagi-indonesia-gwbz.<br \/>\n(2) Perundingan Hooge-Veluwe (1946) &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/12\/21\/145618269\/perundingan-hooge-veluwe-1946.<br \/>\n(3) Perundingan Hooge-Veluwe: Upaya Indonesia Pertahankan &#8230; &#8211; Ruangguru. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/perundingan-hooge-veluwe-upaya-indonesia-pertahankan-kemerdekaan.<br \/>\n(4) Sejarah Perundingan Hoge Veluwe 1946 dan Dampaknya bagi Indonesia. https:\/\/tirto.id\/sejarah-perundingan-hoge-veluwe-1946-dan-dampaknya-bagi-indonesia-gwbz.<br \/>\n(5) Perundingan Hooge-Veluwe (1946) &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/12\/21\/145618269\/perundingan-hooge-veluwe-1946.<br \/>\n(6) Perundingan Hooge-Veluwe: Upaya Indonesia Pertahankan &#8230; &#8211; Ruangguru. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/perundingan-hooge-veluwe-upaya-indonesia-pertahankan-kemerdekaan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hooge Veluwe adalah sebuah taman nasional di Belanda yang menjadi tempat perundingan antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1946. Perundingan ini merupakan salah satu upaya&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3960","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3960","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3960"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3960\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3960"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3960"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3960"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}