{"id":3954,"date":"2023-08-15T06:57:30","date_gmt":"2023-08-15T06:57:30","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=3954"},"modified":"2023-08-15T06:57:30","modified_gmt":"2023-08-15T06:57:30","slug":"peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional\/","title":{"rendered":"Peristiwa Westerling di Makassar: Latar Belakang, Perlawanan, dan Pahlawan Nasional"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional\/#Latar_Belakang\" >Latar Belakang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional\/#Pusat_Pemuda_Nasional_Indonesia_PPNI\" >Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional\/#Peristiwa_Westerling\" >Peristiwa Westerling<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional\/#Perlawanan_Rakyat\" >Perlawanan Rakyat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional\/#Akhir_Peristiwa\" >Akhir Peristiwa<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-perlawanan-dan-pahlawan-nasional\/#Dampak_dan_Makna\" >Dampak dan Makna<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang\"><\/span>Latar Belakang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Pada tahun 1946, Belanda mencoba untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia dengan membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. NIT ini bertentangan dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945. Oleh karena itu, banyak rakyat dan pejuang Indonesia yang menolak dan melawan rencana Belanda ini.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pusat_Pemuda_Nasional_Indonesia_PPNI\"><\/span>Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Salah satu organisasi yang berperan aktif dalam perlawanan terhadap Belanda adalah Pusat Pemuda Nasional Indonesia (PPNI) yang didirikan oleh Gubernur Sulawesi Selatan, dr. Sam Ratulangi, dengan ketua Manai Sophiaan. PPNI merupakan wadah untuk menampung aspirasi masyarakat Sulawesi Selatan yang ingin mempertahankan kemerdekaan Indonesia. PPNI juga melakukan kampanye dan gerakan untuk menggalang dukungan rakyat terhadap pemerintahan Republik Indonesia yang berpusat di Yogyakarta.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peristiwa_Westerling\"><\/span>Peristiwa Westerling<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk menghadapi perlawanan rakyat Sulawesi Selatan, Belanda mengirimkan pasukan khusus yang dipimpin oleh Kapten Raymond Westerling. Pasukan ini dikenal dengan nama Depot Speciale Troepen (DST) atau Pasukan Khusus Depot. Misi utama Westerling adalah untuk menumpas pemberontakan (counter-insurgency) para pejuang dan rakyat Makassar yang menentang pembentukan NIT.<\/p>\n<p>Westerling menerapkan metode kekerasan dan teror yang sangat brutal dan tidak manusiawi. Ia menggunakan metode Gestapo, yaitu metode yang diterapkan oleh polisi rahasia Jerman pada masa Adolf Hitler. Metode ini melibatkan penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan massal terhadap orang-orang yang dicurigai sebagai musuh atau simpatisan Republik Indonesia.<\/p>\n<p>Dalam kurun waktu 7-25 Desember 1946, Westerling berhasil membunuh sekitar 40.000 orang sipil yang tidak berdosa di Makassar. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa Westerling atau Pembantaian Makassar.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perlawanan_Rakyat\"><\/span>Perlawanan Rakyat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Meskipun menghadapi ancaman dan bahaya dari pasukan Westerling, rakyat Makassar tidak menyerah dan tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka dibantu oleh para pemuda yang tergabung dalam PPNI, seperti A. Rivai, Paresi, dan Robert Wolter Monginsidi.<\/p>\n<p>Mereka melakukan serangan-serangan gerilya terhadap pos-pos Belanda dan merebut tempat-tempat strategis yang dikuasai oleh NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Mereka juga membentuk Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS) dengan tujuan utama menggerakkan perlawanan rakyat terhadap Belanda.<\/p>\n<p>Salah satu tokoh perempuan yang berperan penting dalam perlawanan rakyat Makassar adalah Emmy Salen. Ia melakukan aksi heroik dengan meledakkan granat di posisi pasukan Belanda di Kassi-Kassi. Ia tewas bersama dengan delapan tentara Belanda dalam ledakan tersebut.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Akhir_Peristiwa\"><\/span>Akhir Peristiwa<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Peristiwa Westerling berakhir pada tanggal 25 Desember 1946, ketika Westerling dipanggil kembali ke Jakarta oleh pemerintah Belanda. Ia dituduh telah melanggar perintah dan melakukan kekejaman yang tidak dapat dibenarkan. Namun, ia tidak pernah diadili atau dihukum atas perbuatannya.<\/p>\n<p>Perlawanan rakyat Makassar juga berakhir pada tahun 1949, setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) sebagai hasil dari Konferensi Meja Bundar (KMB). RIS kemudian dibubarkan pada tahun 1950 dan digantikan oleh Republik Indonesia yang berdaulat penuh.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Dampak_dan_Makna\"><\/span>Dampak dan Makna<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Peristiwa Westerling di Makassar merupakan salah satu peristiwa paling tragis dan menyedihkan dalam sejarah Indonesia. Peristiwa ini menunjukkan betapa kejamnya penjajah Belanda yang tidak menghargai hak asasi manusia dan kemerdekaan bangsa Indonesia.<\/p>\n<p>Namun, peristiwa ini juga menunjukkan betapa gigihnya rakyat Makassar yang tidak mau menyerah dan tetap berjuang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka mengorbankan nyawa dan harta benda demi cita-cita bersama. Mereka juga menginspirasi rakyat Indonesia lainnya untuk terus berjuang melawan penjajahan.<\/p>\n<p>Peristiwa Westerling di Makassar juga melahirkan beberapa pahlawan nasional yang patut dihormati dan diteladani. Mereka adalah Robert Wolter Monginsidi, Emmy Salen, Ranggong Daeng Romo, Makkaraeng Daeng Jjarung, dan lain-lain. Mereka adalah simbol dari semangat juang dan patriotisme rakyat Makassar.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Peristiwa Westerling di Makassar (Latar Belakang, Tokoh &#8230; &#8211; Freedomsiana. https:\/\/www.freedomsiana.id\/peristiwa-westerling-di-makassar-latar-belakang-tokoh-dan-kronologi\/.<br \/>\n(2) Materi Ppni Makassar &#8211; Kelas 11 Sejarah Indonesia &#8211; Zenius Education. https:\/\/www.zenius.net\/materi-belajar\/sejarah-indonesia-lp15429\/ppni-makassar-lp16032\/ppni-makassar-lu114131\/.<br \/>\n(3) Menelusuri Jejak Sejarah Lahirnya PPNI &#8211; Nerslicious. https:\/\/www.nerslicious.com\/sejarah-ppni\/.<br \/>\n(4) Materi Ppni Makassar &#8211; Kelas 11 Sejarah Indonesia &#8211; Zenius Education. https:\/\/www.zenius.net\/materi-belajar\/sejarah-indonesia-lp15429\/?topic=ppni-makassar-lp16032.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Latar Belakang Pada tahun 1946, Belanda mencoba untuk mengembalikan kekuasaannya di Indonesia dengan membentuk Negara Indonesia Timur (NIT) yang meliputi Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3954","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3954"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3954\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}