{"id":39089,"date":"2024-04-27T13:19:51","date_gmt":"2024-04-27T06:19:51","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=39089"},"modified":"2024-04-27T13:19:51","modified_gmt":"2024-04-27T06:19:51","slug":"kapan-waktu-pemupukan-jagung-yang-tepat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kapan-waktu-pemupukan-jagung-yang-tepat\/","title":{"rendered":"Kapan waktu pemupukan jagung yang tepat?"},"content":{"rendered":"<div class=\"markdown markdown-main-panel\" dir=\"ltr\">\n<p data-sourcepos=\"1:1-1:68\">Waktu pemupukan jagung yang tepat terbagi menjadi tiga tahap, yaitu:<\/p>\n<p data-sourcepos=\"3:1-3:18\"><strong>1. Pupuk Dasar<\/strong><\/p>\n<p data-sourcepos=\"5:1-5:390\">Pemupukan dasar dilakukan <strong>sebelum penanaman<\/strong>, biasanya dicampur bersama dengan tanah saat pengolahan lahan. Pupuk yang digunakan pada tahap ini adalah pupuk organik, seperti pupuk kandang atau kompos, dengan dosis <strong>20-30 ton\/ha<\/strong>. Pupuk organik ini akan membantu meningkatkan kesuburan tanah dan menyediakan unsur hara makro dan mikro yang penting untuk pertumbuhan awal tanaman jagung.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"7:1-7:28\"><strong>2. Pupuk Susulan Pertama<\/strong><\/p>\n<p data-sourcepos=\"9:1-9:403\">Pemupukan susulan pertama dilakukan pada saat tanaman jagung berumur <strong>15-20 hari setelah tanam (HST)<\/strong>. Pupuk yang digunakan pada tahap ini adalah kombinasi pupuk kimia, yaitu <strong>urea, SP-36, dan KCl<\/strong> dengan dosis <strong>50 kg\/ha urea, 8 kg\/ha SP-36, dan 40 kg\/ha KCl<\/strong>. Pupuk ini akan membantu memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman jagung pada masa pertumbuhan vegetatif, yaitu pembentukan daun dan batang.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"11:1-11:26\"><strong>3. Pupuk Susulan Kedua<\/strong><\/p>\n<p data-sourcepos=\"13:1-13:333\">Pemupukan susulan kedua dilakukan pada saat tanaman jagung berumur <strong>45-50 HST<\/strong>. Pupuk yang digunakan pada tahap ini adalah pupuk kimia, yaitu <strong>urea dan KCl<\/strong> dengan dosis <strong>50 kg\/ha urea dan 50 kg\/ha KCl<\/strong>. Pupuk ini akan membantu memenuhi kebutuhan unsur hara tanaman jagung pada masa generatif, yaitu pembentukan bunga dan buah.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"15:1-15:12\"><strong>Catatan:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"17:1-19:0\">\n<li data-sourcepos=\"17:1-17:94\">Dosis pupuk di atas dapat disesuaikan dengan kondisi tanah dan varietas jagung yang ditanam.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"18:1-19:0\">Sebaiknya lakukan konsultasi dengan petugas pertanian setempat untuk mendapatkan rekomendasi pupuk yang tepat untuk lahan Anda.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"20:1-20:249\">Selain waktu-waktu di atas, Anda juga dapat melakukan <strong>pemupukan daun<\/strong> secara berkala untuk membantu meningkatkan kualitas buah jagung. Gunakan pupuk daun yang mengandung unsur hara mikro, seperti boron dan zinc, sesuai dengan petunjuk penggunaan.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"22:1-22:184\">Dengan mengikuti panduan pemupukan di atas, Anda dapat membantu tanaman jagung tumbuh dengan optimal dan menghasilkan panen yang melimpah dengan buah jagung yang besar dan berkualitas.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Waktu pemupukan jagung yang tepat terbagi menjadi tiga tahap, yaitu: 1. Pupuk Dasar Pemupukan dasar dilakukan sebelum penanaman, biasanya dicampur bersama dengan tanah saat pengolahan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[507],"class_list":["post-39089","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam","tag-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39089","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39089"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39089\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39089"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39089"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39089"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}