{"id":39062,"date":"2024-04-27T11:35:39","date_gmt":"2024-04-27T04:35:39","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=39062"},"modified":"2024-04-27T11:35:39","modified_gmt":"2024-04-27T04:35:39","slug":"asal-usul-jagung-jejak-sejarah-dari-benua-amerika-hingga-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/asal-usul-jagung-jejak-sejarah-dari-benua-amerika-hingga-nusantara\/","title":{"rendered":"Asal Usul Jagung: Jejak Sejarah dari Benua Amerika hingga Nusantara"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/asal-usul-jagung-jejak-sejarah-dari-benua-amerika-hingga-nusantara\/#Benih_Peradaban_di_Mesoamerika\" >Benih Peradaban di Mesoamerika<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/asal-usul-jagung-jejak-sejarah-dari-benua-amerika-hingga-nusantara\/#Penyebaran_Jagung_ke_Seluruh_Dunia\" >Penyebaran Jagung ke Seluruh Dunia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/asal-usul-jagung-jejak-sejarah-dari-benua-amerika-hingga-nusantara\/#Jagung_di_Nusantara_Dari_Makanan_Baru_hingga_Pangan_Pokok\" >Jagung di Nusantara: Dari Makanan Baru hingga Pangan Pokok<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/asal-usul-jagung-jejak-sejarah-dari-benua-amerika-hingga-nusantara\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"markdown markdown-main-panel\" dir=\"ltr\">\n<p data-sourcepos=\"3:1-3:338\">Jagung, si kuning keemasan, merupakan salah satu tanaman pangan terpenting di dunia. Biji-bijinya yang kaya karbohidrat menjadi sumber energi bagi jutaan orang di berbagai belahan bumi. Namun, tahukah Anda dari mana tanaman ini berasal? Mari kita telusuri jejak sejarah jagung yang menakjubkan, dari tanah Mesoamerika hingga ke Nusantara.<\/p>\n<h3 data-sourcepos=\"5:1-5:34\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Benih_Peradaban_di_Mesoamerika\"><\/span><strong>Benih Peradaban di Mesoamerika<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"7:1-7:422\">Berdasarkan temuan arkeologis dan genetik, asal-usul jagung dapat ditelusuri kembali ke Mesoamerika, wilayah yang meliputi Meksiko, Guatemala, dan El Salvador. Di sanalah, sekitar 10.000 tahun yang lalu, nenek moyang jagung modern, <strong>teosinte<\/strong>, mulai didomestikasi oleh masyarakat Mesoamerika. Teosinte, dengan tongkol kecil dan biji-bijinya yang tidak teratur, merupakan cikal bakal bagi jagung yang kita kenal sekarang.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"9:1-9:404\">Proses domestikasi ini berlangsung perlahan selama beribu-ribu tahun. Melalui seleksi alam dan intervensi manusia, teosinte berevolusi menjadi jagung dengan tongkol yang lebih besar, biji yang lebih teratur, dan kandungan pati yang lebih tinggi. Perkembangan ini memungkinkan jagung untuk menghasilkan panen yang lebih melimpah, menjadikannya sumber makanan yang ideal bagi populasi yang terus bertumbuh.<\/p>\n<h3 data-sourcepos=\"11:1-11:38\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penyebaran_Jagung_ke_Seluruh_Dunia\"><\/span><strong>Penyebaran Jagung ke Seluruh Dunia<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"13:1-13:429\">Jagung tidak hanya menjadi makanan pokok bagi masyarakat Mesoamerika, tetapi juga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Penyebaran ini terjadi melalui berbagai jalur, seperti perdagangan, migrasi, dan penjelajahan. Pada abad ke-15, para penjelajah Spanyol membawa jagung ke Eropa, Afrika, dan Asia. Di Asia, jagung dengan cepat diadopsi oleh masyarakat lokal, dan menjadi tanaman pangan penting di banyak negara, termasuk Indonesia.<\/p>\n<h3 data-sourcepos=\"15:1-15:62\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jagung_di_Nusantara_Dari_Makanan_Baru_hingga_Pangan_Pokok\"><\/span><strong>Jagung di Nusantara: Dari Makanan Baru hingga Pangan Pokok<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"17:1-17:387\">Jagung diperkirakan masuk ke Nusantara pada abad ke-16, dibawa oleh para penjelajah Portugis. Awalnya, jagung ditanam di kebun-kebun kecil sebagai tanaman pelengkap. Namun, karena ketahanannya terhadap kekeringan dan kemampuannya beradaptasi dengan berbagai kondisi tanah, jagung mulai ditanam secara luas dan menjadi makanan pokok di beberapa daerah, seperti di Nusa Tenggara dan Timor.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"19:1-19:280\">Saat ini, jagung merupakan salah satu tanaman pangan terpenting di Indonesia. Selain sebagai makanan pokok, jagung juga diolah menjadi berbagai produk olahan, seperti tepung jagung, minyak jagung, dan popcorn. Jagung juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan bahan baku industri.<\/p>\n<h3 data-sourcepos=\"21:1-21:14\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"23:1-23:343\">Jagung memiliki sejarah panjang dan kaya yang menghubungkan berbagai benua dan budaya. Dari asal-usulnya di Mesoamerika hingga penyebarannya ke seluruh dunia, jagung telah menjadi sumber makanan dan kekuatan bagi peradaban manusia. Di Indonesia, jagung bukan hanya tanaman pangan, tetapi juga bagian penting dari budaya dan tradisi masyarakat.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"25:1-25:11\"><strong>Sumber:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"27:1-31:0\">\n<li data-sourcepos=\"27:1-27:78\">https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Jagung<\/li>\n<li data-sourcepos=\"28:1-28:216\">https:\/\/www.kompas.com\/food\/read\/2021\/03\/01\/093300275\/sejarah-jagung-di-indonesia-kini-jadi-makanan-pokok<\/li>\n<li data-sourcepos=\"29:1-29:94\">https:\/\/mc-tester.com\/merk\/amtast-indonesia\/<\/li>\n<li data-sourcepos=\"30:1-31:0\">https:\/\/repository.um-surabaya.ac.id\/963\/<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jagung, si kuning keemasan, merupakan salah satu tanaman pangan terpenting di dunia. Biji-bijinya yang kaya karbohidrat menjadi sumber energi bagi jutaan orang di berbagai belahan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[507],"class_list":["post-39062","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam","tag-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39062","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39062"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39062\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39062"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39062"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39062"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}