{"id":38985,"date":"2024-04-26T20:28:52","date_gmt":"2024-04-26T13:28:52","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=38985"},"modified":"2024-04-26T20:28:52","modified_gmt":"2024-04-26T13:28:52","slug":"cara-cara-penyiangan-dan-pengendalian-gulma-jagung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-cara-penyiangan-dan-pengendalian-gulma-jagung\/","title":{"rendered":"Cara-cara Penyiangan dan Pengendalian Gulma Jagung"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-cara-penyiangan-dan-pengendalian-gulma-jagung\/#Cara-cara_Penyiangan_dan_Pengendalian_Gulma_Jagung\" >Cara-cara Penyiangan dan Pengendalian Gulma Jagung<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-cara-penyiangan-dan-pengendalian-gulma-jagung\/#Pemilihan_metode_pengendalian_gulma_yang_tepat\" >Pemilihan metode pengendalian gulma yang tepat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-cara-penyiangan-dan-pengendalian-gulma-jagung\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"markdown markdown-main-panel\" dir=\"ltr\">\n<p data-sourcepos=\"5:1-5:308\">Gulma merupakan salah satu faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Gulma bersaing dengan tanaman jagung dalam memperebutkan air, hara, cahaya matahari, dan ruang tumbuh. Oleh karena itu, pengendalian gulma yang efektif sangat penting untuk dilakukan dalam budidaya jagung.<\/p>\n<h3 data-sourcepos=\"7:1-7:54\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara-cara_Penyiangan_dan_Pengendalian_Gulma_Jagung\"><\/span><strong>Cara-cara Penyiangan dan Pengendalian Gulma Jagung<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"9:1-9:92\">Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengendalikan gulma pada tanaman jagung, yaitu:<\/p>\n<p data-sourcepos=\"11:1-11:27\"><strong>1. Pengendalian Mekanik<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"13:1-15:0\">\n<li data-sourcepos=\"13:1-13:209\"><strong>Penyiangan manual:<\/strong> Cara ini dilakukan dengan mencabut gulma secara manual menggunakan tangan atau cangkul. Penyiangan manual harus dilakukan secara berkala, terutama pada awal pertumbuhan tanaman jagung.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"14:1-15:0\"><strong>Penggunaan alat-alat pertanian:<\/strong> Alat-alat pertanian seperti traktor tangan, rotary cutter, dan cultivator dapat digunakan untuk mengendalikan gulma secara mekanik. Penggunaan alat-alat pertanian ini lebih efisien dan hemat waktu dibandingkan dengan penyiangan manual.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"16:1-16:27\"><strong>2. Pengendalian Kimiawi<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"18:1-20:0\">\n<li data-sourcepos=\"18:1-18:314\"><strong>Penggunaan herbisida:<\/strong> Herbisida adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh gulma. Herbisida dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu herbisida pra-tumbuh, herbisida pasca-tumbuh, dan herbisida selektif. Penggunaan herbisida harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan dosis yang dianjurkan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"19:1-20:0\"><strong>Pemupukan berimbang:<\/strong> Pemupukan berimbang dapat membantu tanaman jagung tumbuh lebih kuat dan tahan terhadap persaingan dengan gulma.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"21:1-21:27\"><strong>3. Pengendalian Biologi<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"23:1-25:0\">\n<li data-sourcepos=\"23:1-23:206\"><strong>Penggunaan agen hayati:<\/strong> Agen hayati seperti serangga, jamur, dan bakteri dapat digunakan untuk mengendalikan gulma secara biologis. Agen hayati ini dapat menyerang gulma dan menghambat pertumbuhannya.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"24:1-25:0\"><strong>Penggunaan tanaman penutup tanah:<\/strong> Tanaman penutup tanah seperti kacang tanah dan kroto dapat ditanam di sela-sela tanaman jagung untuk menekan pertumbuhan gulma.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"26:1-26:26\"><strong>4. Pengendalian Kultur<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"28:1-31:0\">\n<li data-sourcepos=\"28:1-28:151\"><strong>Pemilihan varietas tahan gulma:<\/strong> Beberapa varietas jagung memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap gulma dibandingkan dengan varietas lainnya.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"29:1-29:118\"><strong>Penerapan pola tanam yang tepat:<\/strong> Pola tanam yang tepat dapat membantu mengurangi populasi gulma di lahan jagung.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"30:1-31:0\"><strong>Pengolahan tanah yang baik:<\/strong> Pengolahan tanah yang baik dapat membantu mematikan gulma dan benih gulma di dalam tanah.<\/li>\n<\/ul>\n<h3 data-sourcepos=\"32:1-32:50\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pemilihan_metode_pengendalian_gulma_yang_tepat\"><\/span><strong>Pemilihan metode pengendalian gulma yang tepat<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"34:1-34:286\">Metode pengendalian gulma yang tepat untuk digunakan tergantung pada beberapa faktor, yaitu jenis gulma, stadia pertumbuhan tanaman jagung, luas lahan, dan biaya yang tersedia. Pada umumnya, pengendalian gulma yang efektif dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa metode yang berbeda.<\/p>\n<h3 data-sourcepos=\"41:1-41:14\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"43:1-43:235\">Pengendalian gulma merupakan salah satu faktor penting dalam budidaya jagung yang perlu mendapat perhatian. Dengan melakukan pengendalian gulma yang efektif, diharapkan hasil panen jagung dapat meningkat dan kualitasnya pun lebih baik.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gulma merupakan salah satu faktor utama yang dapat menghambat pertumbuhan dan produksi tanaman jagung. Gulma bersaing dengan tanaman jagung dalam memperebutkan air, hara, cahaya matahari,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[507],"class_list":["post-38985","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam","tag-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38985","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38985"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38985\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38985"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38985"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38985"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}