{"id":38957,"date":"2024-04-26T19:15:07","date_gmt":"2024-04-26T12:15:07","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=38957"},"modified":"2024-04-26T19:15:07","modified_gmt":"2024-04-26T12:15:07","slug":"pengolahan-tanah-dan-pemupukan-dasar-jagung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengolahan-tanah-dan-pemupukan-dasar-jagung\/","title":{"rendered":"Pengolahan Tanah dan Pemupukan Dasar Jagung\u00a0"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengolahan-tanah-dan-pemupukan-dasar-jagung\/#Pengolahan_Tanah\" >Pengolahan Tanah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengolahan-tanah-dan-pemupukan-dasar-jagung\/#Pemupukan_Dasar\" >Pemupukan Dasar<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<div class=\"markdown markdown-main-panel\" dir=\"ltr\">\n<h3 data-sourcepos=\"3:1-3:20\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengolahan_Tanah\"><\/span><strong>Pengolahan Tanah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"5:1-5:205\">Pengolahan tanah yang baik untuk budidaya jagung sangat penting untuk menciptakan kondisi tanah yang ideal bagi pertumbuhan tanaman. Berikut adalah langkah-langkah pengolahan tanah jagung yang lebih rinci:<\/p>\n<p data-sourcepos=\"7:1-7:32\"><strong>1. Pembajakan dan Penggaruan<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"9:1-12:0\">\n<li data-sourcepos=\"9:1-9:195\">Lakukan pembajakan sedalam 20-30 cm untuk tanah normal dan 10-15 cm untuk tanah liat. Waktu yang tepat untuk pembajakan adalah pada akhir musim kemarau, saat tanah kering dan mudah dihancurkan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"10:1-10:117\">Gunakan traktor atau cangkul untuk membajak tanah. Pastikan pembajakan dilakukan merata ke seluruh permukaan lahan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"11:1-12:0\">Setelah pembajakan, lakukan penggaruan untuk meratakan tanah, mematikan gulma, dan memperbaiki struktur tanah. Penggaruan dapat dilakukan dengan menggunakan traktor, garu tangan, atau cangkul.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"13:1-13:27\"><strong>2. Pembentukan Bedengan<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"15:1-19:0\">\n<li data-sourcepos=\"15:1-15:92\">Buatlah bedengan dengan tinggi 10-20 cm dan lebar 50-70 cm. Jarak antar bedengan 70-80 cm.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"16:1-16:102\">Pastikan bedengan dibuat dengan arah yang sesuai dengan kemiringan tanah agar terhindar dari erosi.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"17:1-17:83\">Untuk tanah dengan kemiringan lebih dari 15%, buatlah bedengan dengan terasering.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"18:1-19:0\">Gunakan cangkul atau traktor untuk membuat bedengan.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"20:1-20:32\"><strong>3. Penyiangan dan Pengapuran<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"22:1-24:0\">\n<li data-sourcepos=\"22:1-22:183\">Lakukan penyiangan untuk membersihkan gulma yang tumbuh di lahan. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan menggunakan tangan atau cangkul, atau dengan menggunakan herbisida.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"23:1-24:0\">Lakukan pengapuran jika tanah memiliki pH yang terlalu rendah (asam). Kapur yang biasa digunakan adalah dolomit atau kalsit. Dosis kapur yang digunakan tergantung pada tingkat keasaman tanah.<\/li>\n<\/ul>\n<h3 data-sourcepos=\"25:1-25:19\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pemupukan_Dasar\"><\/span><strong>Pemupukan Dasar<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p data-sourcepos=\"27:1-27:191\">Pemupukan dasar diberikan sebelum penanaman untuk menyediakan unsur hara yang dibutuhkan tanaman jagung pada awal pertumbuhan. Berikut adalah jenis dan dosis pupuk dasar yang biasa digunakan:<\/p>\n<p data-sourcepos=\"29:1-29:18\"><strong>Pupuk Organik:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"31:1-34:0\">\n<li data-sourcepos=\"31:1-31:29\">Pupuk kandang: 10-20 ton\/ha<\/li>\n<li data-sourcepos=\"32:1-32:27\">Pupuk kompos: 5-10 ton\/ha<\/li>\n<li data-sourcepos=\"33:1-34:0\">Pupuk hijau: 2-4 ton\/ha<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"35:1-35:20\"><strong>Pupuk Anorganik:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"37:1-40:0\">\n<li data-sourcepos=\"37:1-37:21\">Urea: 100-200 kg\/ha<\/li>\n<li data-sourcepos=\"38:1-38:22\">SP-36: 150-200 kg\/ha<\/li>\n<li data-sourcepos=\"39:1-40:0\">KCl: 100-150 kg\/ha<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"41:1-41:12\"><strong>Catatan:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"43:1-47:0\">\n<li data-sourcepos=\"43:1-43:123\">Dosis pupuk dasar yang digunakan dapat disesuaikan dengan jenis tanah, kesuburan tanah, dan varietas jagung yang ditanam.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"44:1-44:124\">Sebaiknya lakukan pengujian tanah terlebih dahulu untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah dan kebutuhan pupuk yang tepat.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"45:1-45:88\">Campurkan pupuk organik dan pupuk anorganik secara merata sebelum ditaburkan ke lahan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"46:1-47:0\">Pupuk dasar dapat ditaburkan secara manual atau dengan menggunakan mesin penabur pupuk.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"48:1-48:18\"><strong>Tips tambahan:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"50:1-54:0\">\n<li data-sourcepos=\"50:1-50:62\">Lakukan pengolahan tanah minimal 2 minggu sebelum penanaman.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"51:1-51:77\">Pastikan tanah memiliki drainase yang baik agar tidak terjadi genangan air.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"52:1-52:67\">Lakukan pemupukan dasar secara merata ke seluruh permukaan lahan.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"53:1-54:0\">Lakukan penyiangan secara berkala untuk mencegah gulma mengganggu pertumbuhan tanaman.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"55:1-55:157\">Dengan melakukan pengolahan tanah dan pemupukan dasar yang tepat, diharapkan tanaman jagung dapat tumbuh dengan optimal dan menghasilkan panen yang melimpah.<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengolahan Tanah Pengolahan tanah yang baik untuk budidaya jagung sangat penting untuk menciptakan kondisi tanah yang ideal bagi pertumbuhan tanaman. Berikut adalah langkah-langkah pengolahan tanah&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[507],"class_list":["post-38957","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam","tag-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38957","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=38957"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/38957\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=38957"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=38957"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=38957"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}