{"id":3832,"date":"2023-08-14T06:30:21","date_gmt":"2023-08-14T06:30:21","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/blog\/?p=3832"},"modified":"2023-08-14T06:30:21","modified_gmt":"2023-08-14T06:30:21","slug":"latar-belakang-pendudukan-jepang-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/latar-belakang-pendudukan-jepang-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/latar-belakang-pendudukan-jepang-di-indonesia\/#Perang_Dunia_II_dan_Ekspansi_Jepang_di_Asia\" >Perang Dunia II dan Ekspansi Jepang di Asia<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/latar-belakang-pendudukan-jepang-di-indonesia\/#Indonesia_sebagai_Target_Strategis_Jepang\" >Indonesia sebagai Target Strategis Jepang<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/latar-belakang-pendudukan-jepang-di-indonesia\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perang_Dunia_II_dan_Ekspansi_Jepang_di_Asia\"><\/span>Perang Dunia II dan Ekspansi Jepang di Asia<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia tidak terlepas dari adanya Perang Dunia II yang terjadi di dua benua, yaitu Eropa dan Asia. Di Eropa, Nazi Jerman melawan pasukan Sekutu yang terdiri dari Inggris, Prancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet. Di Asia, Jepang melawan Sekutu yang sama, ditambah dengan Cina dan Belanda.\u00a0Jerman dan Jepang berpaham fasisme yang ingin menguasai negara-negara di dunia<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Perang Dunia II di Asia dikenal dengan Perang Pasifik atau Perang Asia Timur Raya. Jepang berusaha membangun imperium di Asia dengan slogan \u201cAsia untuk Asia\u201d atau \u201cAsia untuk orang Asia\u201d. Jepang mengklaim sebagai pemimpin dan pelindung bangsa-bangsa Asia dari penjajahan Barat.\u00a0Namun, tujuan sebenarnya Jepang adalah untuk menguasai sumber daya alam dan pasar di Asia untuk menunjang keperluan perangnya<sup>2<\/sup>.<\/p>\n<p>Perang Pasifik dimulai pada 8 Desember 1941 saat tentara Jepang mendadak menyerang Pearl Harbor di Hawaii, pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat terbesar di Pasifik. Serangan ini mengejutkan Amerika Serikat dan memicu pernyataan perangnya terhadap Jepang.\u00a0Pasukan Jepang dipimpin oleh Laksamana Yamamoto bergerak sangat cepat menuju selatan termasuk ke Indonesia<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Indonesia_sebagai_Target_Strategis_Jepang\"><\/span>Indonesia sebagai Target Strategis Jepang<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Indonesia saat itu masih berada di bawah penjajahan Belanda dengan nama Hindia Belanda. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, terutama minyak bumi, karet, timah, tembaga, dan beras. Sumber daya ini sangat dibutuhkan oleh Jepang untuk memenuhi kebutuhan angkatan perangnya yang semakin besar.\u00a0Selain itu, Indonesia juga memiliki posisi geografis yang strategis sebagai jalur pelayaran dan pertahanan bagi Jepang<sup>3<\/sup>.<\/p>\n<p>Jepang mulai menyerbu Indonesia pada Januari-Februari 1942 dengan mendarat di beberapa daerah seperti Tarakan, Balikpapan, Pontianak, Banjarmasin, Palembang, Makassar, Ambon, Manado, dan Timor. Daerah-daerah ini merupakan daerah pertambangan minyak dan pangkalan militer Belanda.\u00a0Dengan mudahnya Jepang menguasai daerah-daerah ini, maka jalan menuju Pulau Jawa terbuka lebar<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Untuk menghadapi ekspansi Jepang, Sekutu membentuk komando gabungan yang bernama ABDACOM (American British Dutch Australian Command) dengan markas di Lembang, Bandung. Komando ini dipimpin oleh Jenderal Sir Archibald Wavell dari Inggris. Namun komando ini tidak efektif karena kurangnya koordinasi dan persenjataan yang memadai.\u00a0Sementara itu Letnan Jenderal Hein Ter Poorten diangkat sebagai Panglima Tentara Hindia Belanda (KNIL)<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang berhasil mendarat di Pulau Jawa, tepatnya di Teluk Banten. Kemudian juga mendarat di Kragan (Jawa Timur), dan Eretan (Jawa Barat). Dalam waktu singkat, kota Batavia (Jakarta) jatuh ke tangan Jepang pada 5 Maret 1942.\u00a0Setelah itu, pertempuran-pertempuran sengit terjadi antara tentara Sekutu dan tentara Jepang di daerah Bandung, Surabaya, Semarang, Solo, Yogyakarta, dan Magelang<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<p>Akhirnya pada 8 Maret 1942, Belanda secara resmi menyerah kepada Jepang melalui sebuah upacara di Kalijati, Subang, Jawa Barat. Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan Jenderal Ter Poorten menjadi wakil Sekutu dalam upacara tersebut, sedangkan Jenderal Hitoshi Imamura menjadi wakil dari Jepang.\u00a0Dengan berakhirnya upacara penyerahan tersebut, secara otomatis Indonesia berada di bawah pendudukan Jepang<sup>1<\/sup>.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia adalah adanya Perang Dunia II yang melibatkan Jepang sebagai salah satu pihak yang berpaham fasisme. Jepang ingin menguasai Asia dengan slogan \u201cAsia untuk Asia\u201d atau \u201cAsia untuk orang Asia\u201d. Jepang membutuhkan sumber daya alam dan posisi strategis Indonesia untuk menunjang keperluan perangnya. Jepang menyerbu Indonesia dengan perang kilat (Blitzkrieg) dan berhasil mengalahkan Belanda dan Sekutu dalam waktu singkat.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia &#8211; Kompas.com. https:\/\/www.kompas.com\/skola\/read\/2020\/04\/16\/190000969\/latar-belakang-pendudukan-jepang-di-indonesia.<br \/>\n(2) Proses dan Latar Belakang Pendudukan Jepang di Indonesia &#8211; Ruangguru. https:\/\/www.ruangguru.com\/blog\/proses-dan-latar-belakang-pendudukan-jepang-di-indonesia.<br \/>\n(3) Pendudukan Jepang di Indonesia Latar Belakang, Dampak &#8230; &#8211; pijarbelajar. https:\/\/www.pijarbelajar.id\/blog\/pendudukan-jepang-di-indonesia-latar-belakang-dampak-kebijakan-kronologi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Perang Dunia II dan Ekspansi Jepang di Asia Latar belakang pendudukan Jepang di Indonesia tidak terlepas dari adanya Perang Dunia II yang terjadi di dua&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3832","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3832"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3832\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}