{"id":37935,"date":"2024-03-16T10:38:29","date_gmt":"2024-03-16T03:38:29","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=37935"},"modified":"2024-03-16T10:38:29","modified_gmt":"2024-03-16T03:38:29","slug":"takjil-dan-iftar-memahami-perbedaannya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/takjil-dan-iftar-memahami-perbedaannya\/","title":{"rendered":"Takjil dan Iftar: Memahami Perbedaannya"},"content":{"rendered":"<div class=\"markdown markdown-main-panel\" dir=\"ltr\">\n<p data-sourcepos=\"3:1-3:167\"><strong>Takjil<\/strong> dan <strong>ifthar<\/strong> adalah dua istilah yang sering didengar saat bulan Ramadhan. Meskipun sering digunakan interchangeably, keduanya memiliki makna yang berbeda.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"5:1-5:282\"><strong>Takjil<\/strong> berasal dari bahasa Arab &#8220;ta&#8217;jil&#8221; yang berarti &#8220;mempercepat&#8221;. Dalam konteks Ramadhan, takjil merujuk pada <strong>kegiatan menyegerakan berbuka puasa<\/strong>. Biasanya, takjil dilakukan dengan menyantap makanan ringan dan minuman untuk mengembalikan energi setelah seharian berpuasa.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"7:1-7:269\">Sedangkan <strong>ifthar<\/strong> berasal dari bahasa Arab &#8220;afthara&#8221; yang berarti &#8220;membatalkan puasa&#8221;. Iftar merujuk pada <strong>waktu berbuka puasa<\/strong> itu sendiri, yaitu saat matahari terbenam. Pada waktu ifthar, umat Islam diperbolehkan untuk makan dan minum untuk membatalkan puasanya.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"9:1-9:19\"><strong>Secara ringkas:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"11:1-13:0\">\n<li data-sourcepos=\"11:1-11:84\"><strong>Takjil:<\/strong> kegiatan menyegerakan berbuka puasa dengan makanan ringan dan minuman.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"12:1-13:0\"><strong>Iftar:<\/strong> waktu berbuka puasa saat matahari terbenam.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"14:1-14:39\"><strong>Berikut beberapa perbedaan lainnya:<\/strong><\/p>\n<ul data-sourcepos=\"16:1-19:0\">\n<li data-sourcepos=\"16:1-16:203\"><strong>Jenis makanan:<\/strong> Takjil umumnya berupa makanan ringan dan minuman, seperti gorengan, kolak, kurma, dan es teh. Iftar bisa berupa makanan ringan atau makanan berat, seperti nasi, lauk pauk, dan sayur.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"17:1-17:154\"><strong>Waktu:<\/strong> Takjil dilakukan sebelum waktu ifthar, biasanya beberapa menit sebelum matahari terbenam. Iftar dilakukan tepat pada waktu matahari terbenam.<\/li>\n<li data-sourcepos=\"18:1-19:0\"><strong>Tujuan:<\/strong> Takjil bertujuan untuk mengembalikan energi dan menghilangkan rasa haus dan lapar setelah seharian berpuasa. Iftar bertujuan untuk membatalkan puasa dan memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh.<\/li>\n<\/ul>\n<p data-sourcepos=\"20:1-20:15\"><strong>Kesimpulan:<\/strong><\/p>\n<p data-sourcepos=\"22:1-22:211\">Takjil dan ifthar adalah dua hal yang berbeda dalam tradisi Ramadhan. Takjil adalah kegiatan menyegerakan berbuka puasa dengan makanan ringan dan minuman, sedangkan ifthar adalah waktu berbuka puasa itu sendiri.<\/p>\n<p data-sourcepos=\"24:1-24:31\">Semoga penjelasan ini membantu!<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Takjil dan ifthar adalah dua istilah yang sering didengar saat bulan Ramadhan. Meskipun sering digunakan interchangeably, keduanya memiliki makna yang berbeda. Takjil berasal dari bahasa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-37935","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37935","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=37935"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/37935\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=37935"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=37935"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=37935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}