{"id":36421,"date":"2022-11-01T05:17:46","date_gmt":"2022-11-01T05:17:46","guid":{"rendered":"http:\/\/abi.an-nur.ac.id\/?p=88"},"modified":"2022-11-01T05:17:46","modified_gmt":"2022-11-01T05:17:46","slug":"cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/","title":{"rendered":"Cara menyikapi ikhtilaf NU dan Muhammadiyah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Akar_Perbedaan_NU_dan_Muhammadiyah\" >Akar Perbedaan NU dan Muhammadiyah<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Latar_Belakang_Metodologi\" >Latar Belakang Metodologi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Pengaruh_Sosial_dan_Budaya\" >Pengaruh Sosial dan Budaya<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Menghargai_Perbedaan_sebagai_Rahmat\" >Menghargai Perbedaan sebagai Rahmat<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Perspektif_Al-Quran_dan_Hadis\" >Perspektif Al-Qur&#8217;an dan Hadis<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Menanamkan_Toleransi_dalam_Pendidikan\" >Menanamkan Toleransi dalam Pendidikan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Peran_Pendidikan_dan_Pesantren\" >Peran Pendidikan dan Pesantren<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Contoh_Teladan_dari_Ulama\" >Contoh Teladan dari Ulama<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Menghindari_Fanatisme_Buta\" >Menghindari Fanatisme Buta<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Bahaya_Fanatisme\" >Bahaya Fanatisme<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Solusi_Melalui_Pemahaman_Ilmiah\" >Solusi Melalui Pemahaman Ilmiah<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Peran_Majelis_Ulama_Indonesia_MUI\" >Peran Majelis Ulama Indonesia (MUI)<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/cara-menyikapi-ikhtilaf-nu-dan-muhammadiyah\/#Penutup\" >Penutup<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p data-pm-slice=\"1 1 []\">Dalam menyikapi perbedaan pendapat atau ikhtilaf, penting bagi umat Islam untuk kembali pada prinsip dasar agama yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu kisah inspiratif dalam hal ini adalah dialog antara Rasulullah SAW dan Mu\u2019adz bin Jabal ketika beliau diutus ke Yaman sebagai gubernur. Rasulullah bertanya kepada Muadz tentang caranya memutuskan perkara, dan Muadz menjawab bahwa ia akan berpegang pada Kitabullah, Sunnah Rasul, dan berijtihad jika tidak menemukan solusi dalam dua sumber utama tersebut. Rasulullah pun memuji pendekatan ini (HR Imam Tirmidzi dan Abu Dawud).<\/p>\n<p>Kisah ini menegaskan pentingnya ijtihad dalam Islam. Ijtihad adalah usaha sungguh-sungguh dalam menggali hukum agama, yang sering kali menghasilkan berbagai produk hukum yang berbeda. Perbedaan ini bukanlah cacat, melainkan cerminan dari kekayaan intelektual Islam. Namun, bagaimana kita menyikapi perbedaan ini, terutama dalam konteks dua organisasi Islam besar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, adalah pertanyaan yang membutuhkan perenungan mendalam.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Akar_Perbedaan_NU_dan_Muhammadiyah\"><\/span>Akar Perbedaan NU dan Muhammadiyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang_Metodologi\"><\/span>Latar Belakang Metodologi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>NU dan Muhammadiyah memiliki metodologi yang berbeda dalam memahami dan mengamalkan Islam. NU cenderung mengacu pada tradisi fiqh madzhab Syafi&#8217;i dengan pendekatan yang lebih tekstual dan tradisional. Sementara itu, Muhammadiyah lebih condong pada pemurnian ajaran Islam berdasarkan Al-Qur&#8217;an dan Sunnah, dengan pendekatan kontekstual yang sering kali melibatkan tajdid (pembaruan).<\/p>\n<p>Perbedaan metodologi ini memengaruhi banyak aspek, mulai dari tata cara ibadah hingga pandangan sosial. Sebagai contoh, dalam penentuan awal Ramadan, NU menggunakan rukyatul hilal (pengamatan bulan secara langsung), sementara Muhammadiyah mengandalkan hisab (perhitungan astronomis).<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengaruh_Sosial_dan_Budaya\"><\/span>Pengaruh Sosial dan Budaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Kedua organisasi juga dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya tempat mereka berkembang. NU yang lahir di lingkungan pesantren pedesaan lebih dekat dengan tradisi lokal, sementara Muhammadiyah yang banyak berkembang di perkotaan sering kali membawa semangat modernitas.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menghargai_Perbedaan_sebagai_Rahmat\"><\/span>Menghargai Perbedaan sebagai Rahmat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perspektif_Al-Quran_dan_Hadis\"><\/span>Perspektif Al-Qur&#8217;an dan Hadis<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Al-Qur&#8217;an menegaskan pentingnya persatuan umat Islam:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cDan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai\u2026\u201d (QS. Ali Imran: 103).<\/p><\/blockquote>\n<p>Perbedaan adalah sunnatullah yang tidak bisa dihindari. Rasulullah SAW bersabda:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cPerbedaan di antara umatku adalah rahmat.\u201d (HR Baihaqi).<\/p><\/blockquote>\n<p>Perbedaan pendapat dalam Islam harus dilihat sebagai peluang untuk saling melengkapi, bukan sumber konflik. Persatuan umat Islam tidak berarti harus seragam dalam segala hal, melainkan tetap bersatu dalam akidah, meskipun ada perbedaan dalam fiqh.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menanamkan_Toleransi_dalam_Pendidikan\"><\/span>Menanamkan Toleransi dalam Pendidikan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peran_Pendidikan_dan_Pesantren\"><\/span>Peran Pendidikan dan Pesantren<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pendidikan Islam, baik di sekolah maupun pesantren, memiliki peran penting dalam membentuk sikap toleransi terhadap perbedaan. Sayangnya, banyak lembaga pendidikan yang hanya mengajarkan satu pendapat fiqh tertentu, sehingga siswa tidak mengenal keanekaragaman dalam Islam.<\/p>\n<p>NU dan Muhammadiyah, sebagai organisasi yang memiliki jaringan pendidikan luas, seharusnya mengintegrasikan materi tentang fiqh ikhtilaf dalam kurikulum mereka. Hal ini akan membantu generasi muda memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari tradisi Islam yang kaya.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Contoh_Teladan_dari_Ulama\"><\/span>Contoh Teladan dari Ulama<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tokoh-tokoh seperti Buya Hamka dari Muhammadiyah dan KH. Hasyim Asy&#8217;ari dari NU menunjukkan sikap saling menghormati meskipun memiliki pandangan fiqh yang berbeda. Buya Hamka pernah meminta KH. Abdullah Syafi\u2019i, seorang ulama NU, untuk menjadi khatib Jumat di Masjid Al-Azhar. Sikap ini menunjukkan pentingnya kerjasama dan penghormatan dalam menghadapi perbedaan.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Menghindari_Fanatisme_Buta\"><\/span>Menghindari Fanatisme Buta<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bahaya_Fanatisme\"><\/span>Bahaya Fanatisme<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Fanatisme terhadap suatu pendapat tanpa memahami dasar-dasarnya dapat menyebabkan perpecahan. Rasulullah SAW bersabda:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cPenyakit umat-umat sebelum kalian telah berjangkit kepada kalian, yaitu kedengkian dan permusuhan. Permusuhan adalah pencukur agama.\u201d (HR Tirmidzi).<\/p><\/blockquote>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Solusi_Melalui_Pemahaman_Ilmiah\"><\/span>Solusi Melalui Pemahaman Ilmiah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Untuk menghindari fanatisme, umat Islam perlu mempelajari proses pengambilan hukum (istinbath) yang dilakukan oleh para ulama. Imam Abu Hanifah pernah berkata:<\/p>\n<blockquote><p>\u201cApabila telah shahih sebuah hadis, maka itu adalah madzhabku.\u201d<\/p><\/blockquote>\n<p>Pernyataan ini menunjukkan pentingnya keterbukaan terhadap dalil-dalil yang kuat, meskipun itu berbeda dengan pendapat awal.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Peran_Majelis_Ulama_Indonesia_MUI\"><\/span>Peran Majelis Ulama Indonesia (MUI)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>MUI memiliki peran strategis sebagai wadah pemersatu umat Islam di Indonesia. Melalui fatwa dan program-programnya, MUI dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan fiqh ikhtilaf kepada masyarakat. Dengan memahami perbedaan fiqh, masyarakat dapat lebih menghargai pandangan yang berbeda dan menghindari konflik yang tidak perlu.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penutup\"><\/span>Penutup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Menyikapi ikhtilaf antara NU dan Muhammadiyah memerlukan sikap bijak, toleransi, dan pemahaman mendalam. Perbedaan adalah rahmat yang harus dirayakan, bukan alasan untuk berpecah. Dengan menjadikan Al-Qur&#8217;an dan Sunnah sebagai pedoman utama, serta menghormati hasil ijtihad ulama, umat Islam dapat bersatu dalam keragaman. Semoga semangat ini terus terjaga, membawa umat Islam menuju persatuan yang kokoh dan penuh keberkahan.<\/p>\n<p>Sumber: M.Yusuf Amin Nugroho, FIQH AL-IKHTILAF NU-Muhammadiyah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam menyikapi perbedaan pendapat atau ikhtilaf, penting bagi umat Islam untuk kembali pada prinsip dasar agama yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu kisah inspiratif&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-36421","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36421","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36421"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36421\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36421"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36421"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36421"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}