{"id":36419,"date":"2022-11-01T05:10:29","date_gmt":"2022-11-01T05:10:29","guid":{"rendered":"http:\/\/abi.an-nur.ac.id\/?p=80"},"modified":"2025-02-14T13:26:14","modified_gmt":"2025-02-14T06:26:14","slug":"tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/","title":{"rendered":"Tahlilan Menurut NU dan Muhammadiyah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#1_Pengertian_Tahlil_dalam_Islam\" >1. Pengertian Tahlil dalam Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#2_Sejarah_dan_Asal_Usul_Tradisi_Tahlilan\" >2. Sejarah dan Asal Usul Tradisi Tahlilan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#3_Perspektif_Muhammadiyah_terhadap_Tahlilan\" >3. Perspektif Muhammadiyah terhadap Tahlilan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#4_Perspektif_Nahdlatul_Ulama_NU_terhadap_Tahlilan\" >4. Perspektif Nahdlatul Ulama (NU) terhadap Tahlilan<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#Tahlilan_Memiliki_Dasar_Syariat\" >Tahlilan Memiliki Dasar Syariat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#Tahlilan_Sebagai_Bentuk_Silaturahmi\" >Tahlilan Sebagai Bentuk Silaturahmi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#Harmonisasi_dengan_Budaya_Lokal\" >Harmonisasi dengan Budaya Lokal<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#5_Analisis_Dalil-Dalil_tentang_Mengirim_Pahala\" >5. Analisis Dalil-Dalil tentang Mengirim Pahala<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#6_Implikasi_Sosiologis_dan_Budaya\" >6. Implikasi Sosiologis dan Budaya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/tahlilan-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#7_Penutup\" >7. Penutup<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 data-pm-slice=\"1 1 []\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Pengertian_Tahlil_dalam_Islam\"><\/span>1. Pengertian Tahlil dalam Islam<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Secara bahasa, kata &#8220;tahlil&#8221; dalam bahasa Arab (\u0627\u0644\u062a\u0647\u0644\u064a\u0644) berarti mengucapkan kalimat syahadat atau kalimat tauhid: <em>\u201cL\u0101 il\u0101ha illall\u0101h\u201d<\/em> (\u0644\u0627 \u0625\u0644\u0647 \u0625\u0644\u0627 \u0627\u0644\u0644\u0647). Dalam konteks budaya Islam di Indonesia, istilah tahlil merujuk pada serangkaian doa yang biasanya dilantunkan secara berjamaah untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Tradisi ini sering disebut sebagai &#8220;tahlilan.&#8221;<\/p>\n<p>Di Indonesia, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama (NU), tahlil telah menjadi amalan yang mengakar kuat. Sebaliknya, Muhammadiyah, sebagai salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia, memandang tahlilan sebagai sesuatu yang tidak memiliki dasar dalam syariat Islam. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan metodologi dalam memahami dan menerapkan ajaran Islam.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Sejarah_dan_Asal_Usul_Tradisi_Tahlilan\"><\/span>2. Sejarah dan Asal Usul Tradisi Tahlilan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tahlilan diduga kuat memiliki akar dari pendekatan dakwah Wali Songo, yang merupakan tokoh penyebar Islam di tanah Jawa. Dalam pendekatannya, Wali Songo tidak serta-merta menghapus tradisi Hindu-Buddha yang telah mengakar di masyarakat. Sebaliknya, mereka menyisipkan nilai-nilai Islam ke dalam tradisi lokal, termasuk dalam acara memperingati kematian.<\/p>\n<p>Tradisi Hindu mengenal peringatan kematian pada hari pertama, ketiga, ketujuh, keempat puluh, seratus, hingga seribu hari. Unsur-unsur ini kemudian diadaptasi ke dalam bentuk tahlilan dengan mengisi acara tersebut dengan dzikir, pembacaan ayat-ayat Al-Qur&#8217;an, dan doa.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Perspektif_Muhammadiyah_terhadap_Tahlilan\"><\/span>3. Perspektif Muhammadiyah terhadap Tahlilan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Muhammadiyah sebagai gerakan Islam tajdid atau pembaharu berfokus pada pemurnian ajaran Islam dari praktik yang dianggap bid\u2019ah. Muhammadiyah memandang tahlilan sebagai sesuatu yang:<\/p>\n<ol start=\"1\" data-spread=\"false\">\n<li>Tidak memiliki dalil yang jelas dari Al-Qur&#8217;an maupun Sunnah.<\/li>\n<li>Merupakan adaptasi dari tradisi Hindu yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.<\/li>\n<li>Bertentangan dengan hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa amal seseorang terputus setelah kematiannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh (HR. Muslim).<\/li>\n<\/ol>\n<p>Ayat-ayat Al-Qur&#8217;an yang sering dikutip oleh Muhammadiyah untuk menolak tahlilan antara lain:<\/p>\n<ul data-spread=\"false\">\n<li><em>\u201cDan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.\u201d<\/em> (QS. An-Najm: 39)<\/li>\n<li><em>\u201cDan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.\u201d<\/em> (QS. Al-An\u2018am: 164)<\/li>\n<\/ul>\n<p>Muhammadiyah juga menyoroti praktik pengumpulan massa di rumah duka, yang mereka anggap sebagai perbuatan yang dapat memperberat beban keluarga yang sedang berduka. Mereka mengacu pada hadis yang menganjurkan tetangga atau kerabat dekat untuk membantu menyediakan makanan bagi keluarga yang berduka, sebagaimana diriwayatkan oleh Tirmidzi.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Perspektif_Nahdlatul_Ulama_NU_terhadap_Tahlilan\"><\/span>4. Perspektif Nahdlatul Ulama (NU) terhadap Tahlilan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>NU memiliki pandangan yang berbeda mengenai tahlilan. Mereka berpendapat bahwa:<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tahlilan_Memiliki_Dasar_Syariat\"><\/span>Tahlilan Memiliki Dasar Syariat<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>NU menekankan bahwa doa dan dzikir untuk orang yang telah meninggal adalah bagian dari ajaran Islam. Dalil-dalil yang sering digunakan NU untuk mendukung praktik tahlilan antara lain:<\/p>\n<ul data-spread=\"false\">\n<li><em>\u201cDan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu daripada kami.\u201d<\/em> (QS. Al-Hasyr: 10)<\/li>\n<li>Hadis Nabi yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA: *\u201cSesungguhnya ada seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah SAW: \u2018Ibuku telah meninggal, apakah ada manfaatnya jika aku bersedekah untuknya?\u2019 Rasulullah menjawab: \u2018Ya.\u2019\u201d (HR. Tirmidzi)<\/li>\n<\/ul>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tahlilan_Sebagai_Bentuk_Silaturahmi\"><\/span>Tahlilan Sebagai Bentuk Silaturahmi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Tahlilan tidak hanya dipandang sebagai bentuk doa, tetapi juga sebagai sarana mempererat silaturahmi di antara masyarakat. Tradisi ini menjadi momentum bagi umat Islam untuk saling membantu, berbagi sedekah, dan memberikan penguatan moral kepada keluarga yang berduka.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Harmonisasi_dengan_Budaya_Lokal\"><\/span>Harmonisasi dengan Budaya Lokal<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Sebagaimana dicontohkan oleh Wali Songo, NU memandang bahwa Islam harus mampu beradaptasi dengan budaya lokal tanpa mengorbankan nilai-nilai syariat. Tradisi tahlilan yang menggabungkan dzikir, doa, dan pembacaan Al-Qur&#8217;an dianggap sebagai salah satu wujud Islam yang membumi di Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Analisis_Dalil-Dalil_tentang_Mengirim_Pahala\"><\/span>5. Analisis Dalil-Dalil tentang Mengirim Pahala<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>NU dan Muhammadiyah berbeda dalam memahami apakah pahala dari bacaan Al-Qur&#8217;an, dzikir, dan doa dapat sampai kepada orang yang telah meninggal. Dalam hal ini, NU berpegang pada pendapat mayoritas ulama (jumhur) yang menyatakan bahwa pahala dari amalan tertentu, seperti sedekah dan doa, dapat sampai kepada almarhum. Pendapat ini didukung oleh ulama seperti Ibnu Qayyim al-Jawziyah dan Syekh Nawawi al-Bantani.<\/p>\n<p>Muhammadiyah, di sisi lain, cenderung mengikuti pandangan Imam Syafi&#8217;i yang menyatakan bahwa bacaan Al-Qur&#8217;an untuk orang yang meninggal tidak sampai pahalanya, berdasarkan QS. An-Najm: 39.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"6_Implikasi_Sosiologis_dan_Budaya\"><\/span>6. Implikasi Sosiologis dan Budaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Tradisi tahlilan memiliki dimensi sosiologis yang kuat. Dalam masyarakat Indonesia, tahlilan menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas sosial, menghibur keluarga yang berduka, dan menjaga hubungan kekeluargaan. Namun, praktik ini juga dapat menjadi beban ekonomi jika dilakukan dengan berlebihan.<\/p>\n<p>NU menyadari potensi ini dan mengingatkan bahwa sedekah dalam tahlilan tidak bersifat wajib. Keluarga yang tidak mampu tidak perlu memaksakan diri untuk mengadakan jamuan mewah.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"7_Penutup\"><\/span>7. Penutup<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Perbedaan pandangan antara NU dan Muhammadiyah mengenai tahlilan mencerminkan keragaman dalam memahami Islam. NU menekankan harmoni budaya dan nilai sosial, sementara Muhammadiyah berfokus pada kemurnian syariat. Keduanya memiliki dalil dan argumen yang kuat berdasarkan metodologi masing-masing.<\/p>\n<p>Umat Islam di Indonesia dapat menjadikan perbedaan ini sebagai peluang untuk saling menghormati dan belajar, dengan tetap berpegang pada prinsip dasar Islam: <em>ukhuwah islamiyah<\/em> (persaudaraan Islam) dan <em>rahmatan lil &#8216;alamin<\/em> (rahmat bagi semesta alam).<\/p>\n<p>Sumber: M.Yusuf Amin Nugroho, FIQH AL-IKHTILAF NU-Muhammadiyah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1. Pengertian Tahlil dalam Islam Secara bahasa, kata &#8220;tahlil&#8221; dalam bahasa Arab (\u0627\u0644\u062a\u0647\u0644\u064a\u0644) berarti mengucapkan kalimat syahadat atau kalimat tauhid: \u201cL\u0101 il\u0101ha illall\u0101h\u201d (\u0644\u0627 \u0625\u0644\u0647&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44955,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-36419","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36419","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36419"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36419\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51362,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36419\/revisions\/51362"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/44955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36419"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36419"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36419"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}