{"id":36417,"date":"2022-11-01T04:56:00","date_gmt":"2022-11-01T04:56:00","guid":{"rendered":"http:\/\/abi.an-nur.ac.id\/?p=68"},"modified":"2025-02-14T13:26:16","modified_gmt":"2025-02-14T06:26:16","slug":"shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/","title":{"rendered":"Shalat Tarawih dan Witir Menurut NU dan Muhammadiyah"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#1_Muhammadiyah\" >1. Muhammadiyah<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#a_Shalat_Tarawih\" >a. Shalat Tarawih<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#b_Shalat_witir\" >b. Shalat witir<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#Nahdhatul_Ulama_NU\" >Nahdhatul Ulama (NU)<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#a_Shalat_tarawih\" >a. Shalat tarawih<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/shalat-tarawih-dan-witir-menurut-nu-dan-muhammadiyah\/#b_Shalat_Witir\" >b. Shalat Witir<\/a><\/li><\/ul><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Shalat tarawih adalah ibadah yang khusus dikerjakan pada bulan Ramadhan, waktunya adalah setelah shalat Isya. Shalat Tarawih bisa dikerjakan berjamaah, maupun dengan cara munfarid (sendiri). Shalat Tarawih hukumnya sunnah muakad. Semua keterangan diatas tidak terdapat ikhtilaf atau disepakati oleh jumhur ulama, termasuk dari kalangan NU maupun Muhammadiyah.<\/p>\n<p>Ikhtilaf bab shalat Tarawih terdapat pada cara pelaksanaannya, lebih khusus lagi pada jumlah raka\u2018atnya. Di kalangan warga NU shalat tarawih biasa dikerjakan dengan 20 raka\u2018at dan diakhiri dengan 3 raka\u2018at witir. Sementara di kalangan warga Muhammadiyah tarawih biasa dilaksanakan 8 raka\u2018at, dan diakhiri dengan 3 raka\u2018at witir. Pada pelaksanaan shalat witir yang menutup shalat tarawih pun terdapat ikhtilaf. Kalangan Muhammadiyah melakukan shalat witir tiga raka\u2018at sekali salam, dan tidak ada qunut pada separuh terakhir bulan Ramadhan. Sedangkan NU melakukan shalat witir 3 raka\u2018at dengan dua raka\u2018at salam, dan satu raka\u2018at salam, juga qunut witir pada separuh terakhir bulan Ramadhan. Apa yang sudah dipraktekkan di kalangan Muhammadiyah tersebut sebenarnya berbeda dengan apa yang diterangkan dalam kitab Putusan Tarjih Muhammadiyah mengenai jumlah raka\u2018at shalat tarawih. Dalam HTP diterangkan bahwa jumlah rakakat shalat tarawih plus witir tidak harus 11 raka\u2018at (sudah termasuk witir), tetapi bisa kurang dari itu, asalkan jumlah raka\u2018atnya gasal. Demikian pula untuk shalat witir, Tarjih Muhammadiyah memberikan beberapa pilihan, tidak hanya 3 raka\u2018at saja.<\/p>\n<p>Berbeda dengan Muhammadiyah, kalangan NU juga memiliki ciri khas tersendiri dalam mengerjakan shalat tarawih dan witir, khususnya yang dikerjakan berjamaah. Ciri khas, meski tidak dikerjakan oleh semua warga NU, yakni ada pada suratan yang dibaca setelah membaca al-Fatihah, biasanya dimulai dari surat atTakastur sampai al-Lahab untuk shalat tarawih.<\/p>\n<p>Pada bab ini, penulis hanya akan membahas ikhtilaf shalat tarawih dan witir, beserta raka\u2018at serta suratan yang dibaca pada shalat tarawih dan witir. Untuk pembahasan mengenai qunut witir sudah kami bahas pada bab tersendiri, bersamasama dengan qunut subuh dan qunut nazilah.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Muhammadiyah\"><\/span>1. Muhammadiyah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p>Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) Muhammadiyah pembahasan masalah shalat tarawih dimasukkan pada sub bab tersendiri, disatukan dengan tuntunan mengenai shalat <em>lail<\/em>. HTP menjelaskan bahwa shalat lail adalah shalat sunat yang biasa dilakukan oleh Nabi saw pada waktu malam hari. Menurut<\/p>\n<p>Muhammadiyah shalat <em>lail<\/em> disebut juga shalat tahajjud, <em>qiyamul-lail <\/em>dan<em> qiyamu Ramadlan<\/em>. Di samping itu juga sering disebut dengan shalat witir. Shalat lail hukumnya sunnah, tetapi tarjih lebih senang menggunakan istilah <em>\u201etathawwu\u201f<\/em> untuk ragam shalat semacam ini.<\/p>\n<p>Dalam tanya jawab masalah agama di Majalah suara Muhammadiyah pernah disinggung masalah shalat tarawih. Di sana ditulis, bahwa shalat <em>lail<\/em> disebut shalat <em>tahajjud<\/em> karena, shalat tersebut dilaksanakan setelah bangun tidur. Disebut shalat witir karena dalam melaksanakan shalat tersebut diakhiri dengan witir (bilangan ganjil). Disebut <em>qiyamul-lail<\/em> karena, shalat tersebut dilaksanakan hanya pada waktu malam. Disebut <em>qiyamu Ramadlan<\/em> karena shalat tersebut dilakukan pada bulan Ramadlan dan istilah yang sering digunakan untuk shalat lail di bulan Ramadlan adalah shalat tarawih karena, dalam shalat malam tersebut dilaksanakan dengan bacaan yang bagus dan lama dan setelah empat raka\u2018at pertama dan kedua ada istirahat sebentar.<\/p>\n<p>Untuk mempermudah kita memahami pembahasan <em>shalat lail<\/em> karena dalam HPT diterangkan dengan panjang lebar, maka alangkah baiknya pembahasannya ini kita pecah menjadi tiga, yakni, shalat tarawih, dan shalat witir.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Shalat_Tarawih\"><\/span>a. Shalat Tarawih<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Jumlah raka\u2018at yang dituntunkan Tarjih dalam shalat tarawih adalah 11 raka\u2018at, dikerjakan dengan cara dua-dua raka\u2018at (sebanyak 4 kali) ditambah tiga raka\u2018at witir.<\/p>\n<p>Pendapat tersebut didasarkan pada hadis Rasulullah saw yang artinya:<\/p>\n<p>Beralasan hadis Ibnu Umar yang mengatakan<em>: \u201cSeorang lelaki bangkit berdiri lalu menanyakan: \u201cBagaimana cara shalat malam, hai Rasulullah?\u201d <\/em>Jawab Rasulullah: <em>\u201cShalat malam itu dua raka\u201fat dua raka\u201fat. Jika engkau khawatir akan terkejar shubuh, hendaklah negkau kerjakan witir atau satu raka\u201fat saja.\u201d <\/em>(HR.<\/p>\n<p>Jama\u2018ah)<\/p>\n<p>Juga berdasar pada hadist Ibnu Abbas, yang artinya:<\/p>\n<p><em>\u201cLalu aku berdiri di samping rasulullah; kemudian ia letakkan tangan kanannya pada kepala saya dan digangnya telinga kanan saya dan ditelitinya, lali ia shalat dua raka\u201fat kemudian dua raka\u201fat lagi, lalu dua raka\u201fat lagi kemudian dua raka\u201fat, lalu shalat witir, kemudian ia tiduran menyamping sehingga datang bilal menyerukan adzan. Maka bangunlah ia dan shalat dua raka\u201fat singkat-singkat, kemudian pergi shalat shubuh. <\/em>(HR. Muslim)<\/p>\n<p>Juga hadis Rasulullah yang artinya<\/p>\n<p><em>\u201cDiriwayatkan dari Zaed bin Khalid al-Juhany ia berkata, sungguh saya mencermati shalat Rasulullah saw. pada suatu malam, beliau shalat dua raka\u201fat yang ringanringan, kemudian shalat dua raka\u201fat yang panjang (lama) sekali, lalu shalat dua raka\u201fat yang lebih pendek dari dua raka\u201fat sebelumnya, lalu shalat dua raka\u201fat yang lebih pendek dari dua raka\u201fat sebelumnya, lalu shalat dua raka\u201fat yang lebih pendek dari dua raka\u201fat sebelumnya, lalu shalat dua raka\u201fat yang lebih pendek dari dua raka\u201fat sebelumnya, lalu kemudian melakukan witir. Maka demikianlah, shalat tigabelas raka\u201fat.\u201d<\/em> [HR Abu Dawud, bab fi Shalat al-Lail]<\/p>\n<p>Dalil lain yang digunakan Dewan Tarjih Muhammadiyah adalah hadist dari Abu Salamah yang artinya sebagai berikut:<\/p>\n<p><em>\u201cDiriwayatkan dari Abu Salamah Ibn \u201eAbdul Rahman bahwa, ia bertanya kepada \u201eAisyah r.a bagaimana shalat Rasulullah saw di bulan Ramadlan. \u201eAisyah menjawab: Baik di bulan Ramadlan ataupun bukan bulan Ramadlan Rasulullah saw melakukan shalat (lail) tidak lebih dari sebelas raka\u201fat. Beliau shalat empat raka\u201fat; dan jangan ditanyakan tentang baik dan panjangnya shalat yang beliau lakukan. Kemudian shalat lagi empat raka\u201fat; (demikian pula) jangan ditanyakan tentang baik dan panjangnya shalat yang beliau lakukan. Lalu beliau shalat tiga raka\u201fat.\u201d<\/em> (HR alBukhari, Kitab Shalat at-Tarawih, Bab Man Qama Ramadlan)<\/p>\n<p>Mengenai cara pelaksanaannyanya, tentang berapa raka\u2018at lalu salam, HPT menyatakan: \u2015Jika engkau hendak mengerjakan shalat dengan cara lain, maka yang sebelas raka\u2018at itu boleh engkau kerjakan dua-dua raka\u2018at, atau empat-empat raka\u2018at seperti di atas, atau di enam raka\u2018at.\u2016 Di samping juga dinyatakan: \u2015Atau delapan raka\u2018at terus menerus dan hanya duduk pada penghabisan salam.\u2016<\/p>\n<p>Dalil yang dijadikan rujukan adalah hadis Abdullah bin Abu Qais dan hadist Abi Salamah, yang artinya:<\/p>\n<p><em>Abdullah bin Abu Qais bertanya kepada Aisyah \u201cBerapa raka\u201fat Rasulullah shalat witir?\u201d Ia menjawab: \u201cIa kerjakan witir empat lalu tiga atau enam lalu tiga, atau delapan lalu tiga atau sepuluh lalu tiga, ia tak pernah berwitir kurang dari tujuh raka\u201fat dan tidak lebih dari tiga belas.\u201d <\/em>(HR. Abu Dawud)<\/p>\n<p>Selain itu juga berdasar pada hadis Abu Salamah, yang artinya:<\/p>\n<p>Pernah Abu Salamah bertanya kepada Aisyah tentang shalat Rasulullah, maka ia menjawab: <em>\u201cIa kerjakan tiga belas raka\u201fat. Ia shalat delapan raka\u201fat kemudian shalat witir lalu shalat dua raka\u201fat sambil duduk kalau ia hendak ruku\u201f ia bangkit lalu ruku\u201f. Kemudian dari pada itu ia shalat dua raka\u201fat antara adzan dan iqamah pada shalat shubuh. <\/em>(HR. Muslim)<em>\u00a0 <\/em><\/p>\n<p><em>Diterangkan riwayat Abu Dawud dari Qatadah, kadanya: \u201cNabi shalat delapan raka\u201fat dengan tidak duduk (tahiyat) kecuali pada raka\u201fat yang kedelapan. Dalam duduk itu membaca dzikir dan doa kemudian membaca salam dengan salam yang terdengar sampai kepada kami; lalu shalat dua raka\u201fat sambil duduk setelah ia baca salam, kemudian ia shalat lagi satu raka\u201fat. Itulah sebelas raka\u201fat semuanya, hai anakku.\u201d <\/em>(HR. Abu Dawud)<\/p>\n<p>Mengenai hadis Abdullah bin Qais, Tarjih memberi catatan penjelasan bahwa yang dimaksud Shahabat Abdullan bin Abi Qais pada pernyayaannya ialah bilangan raka\u2018at yang dikerjakan oleh Nabi sepanjang malam hari.<\/p>\n<p>Sedangkan mengenai surat yang dibaca setelah al-Fatihah di setiap raka\u2018at shalat lain, Tarjih tidak menentukan nama suratnya, melainkan hanya menyebutnya surat dari Al-Qur\u2018an.<\/p>\n<p>Dasarnya ialah hadis dari Aisyah, yang artinya:<\/p>\n<p><em>Aisyah pernah ditanya tentang shalat Rasulullah di tengah malam lalu ia mengatakan: \u201cIa kerjakan shalat Isya dengan berjamaah kemudian ia kembali kepada keluarganya, lalu shalat empat raka\u201fat kemudian ia pergi ke peraduannya lalu tidur, di arah kepalanya terletak tempat air wudhu yang ditutupi dan sikat gigi, sampai ia dibangunkan Allah pada saat ia dibangunkan pada tengah malam, ia lalu menggosok giginya dan berwudhu, dengan sempruna kemudian pergi ke tempat shalat lalu ia shalat delapan raka\u201fat. <\/em><\/p>\n<p><em>\u201cDalam raka\u201fat-raka\u201fat itu ia membaca fatihah dan surat al-Quran dan ayat-ayat lainnya. Ia tidak duduk (untuk tahiyat awal) selama itu kecuali pada raka\u201fat ke delapan dan tidak menutup dengan salam. Pada raka\u201fat ke sembilan ia membaca seperti seblumnya lalu duduk tahiyat akhir membaca doa dengan macam-macam doa dan mohon kepada Allah serta menyatakan keinginannya kemdian ia membaca salam sesekali dengan suara keras yang hampir membangunkan isi rumah karena nyaringnya. Kemudian ia shalat sambil duduk dengan memabca Fatihah dan ruku\u201f sambil duduk lalu ia kerjakan raka\u201fat kedua serta ruku\u201f dan sujud sambil duduk kemudian membaca doa sepuas hatinya dan akhirnya menutup dengan salam dan lalu bangkit pergi. <\/em><\/p>\n<p><em>\u201cDemikianlah selalu shalat Rasulullah sampai akhirnya bertambah berat badannya. Maka lalu yang sembilan raka\u201fat itu dikurangi dua sehingga menjadi enam dan tujuh ditambah dua raka\u201fat yang dikerjakan sambil duduk. Demikianlah dikerjakan sampai Nabi wafat. <\/em>(HR Abu Dawud)<\/p>\n<p>Tarjih menerangkan mengenai bilangan enam dan tujuh dalam hadis di atas, yaitu bahwa Nabi mengerjakan shalat enam raka\u2018at lalu duduk untuk <em>tahiyat awwal<\/em> kemudian berdiri dan pada raka\u2018at ketujuh menutupnya dengan salam lalu shalat dua raka\u2018at sambil duduk\u2016. Dari hadis tersebut di atas itulah didapati pengertian mengenai mudahnya mengerjakan shalat <em>lail<\/em>, sehingga tidak mengharuskan bilangan raka\u2018at sebelas, tetapi asalkan gasal.<\/p>\n<p>Abdul Munir Mulkhan menulis, apa yang tercantum di HTP Muhammadiyah dalam masalah shalat <em>lail<\/em> berbeda dengan praktik kebiasaan di kalangan warga Muhammadiyah, khusunya yang menyangkut jumlah raka\u2018at. Hal ini juga bisa dilihat pada putusan Tarjih mengnai jumlah raka\u2018at witir.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Shalat_witir\"><\/span>b. Shalat witir<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Kalau dalam praktik dan kebiasaan warga Muhammadiyah melakukan witir 3 raka\u2018at, dalam HTP diterangkan bahwa witir tidak harus 3 raka\u2018at. Melainkan, bisa 1, 3, 5, atau 9 raka\u2018at. Dasar pelaksanaan witir 3 raka\u2018at adalah sebagaimana hadis dari Aisyah tersebut di atas.<\/p>\n<p>Berikut akan dikemukakan penjelasan Tarjih mengenai ragam jumlah raka\u2018at witir, sebagaimana telah ditulis Abdul Munir Mulkhan (2007):<\/p>\n<ul>\n<li>Satu atau tiga raka\u2018at. Ragam jumlah raka\u2018at witir satu atau tiga demikian berdasarkan dua buah hadis Aisyah yang artinya sebagai berikut:<\/li>\n<\/ul>\n<p><em>\u201cAdapun Rasulullah mengerjakan shalat pada waktu antara ia selesai shalat Isya yaitu yang orang namakan \u201eatamah hingga fajar sebelas raka\u201fat dengan membaca salam antara dua raka\u201fat lalu shalat witir satu raka\u201fat, kemudian apabila muadzin telah selesai seruan shubuhnya, dan terlihat olehnya akan fajar dan Bilal menghampirinya ia lalu shalat dua raka\u201fat singkat-singkat kemudian berbaring pada lambung kanan sampai muadzin datang kepadanya untuk seruan iqamah\u201d. <\/em>(HR. Bukhari dan Muslim)<\/p>\n<p><em>\u00a0<\/em>Dasar lainnya adalah:<\/p>\n<p><em>\u201cAsisyah menerangkan: \u201cAdapun Rasulullah mengerjakan shalat witir tiga raka\u201fat dengan tidak dipisah-pisahkan <\/em>(HR. Ahmad, Nasai, Baihaqi, dan Hakim mengatakan bahwa hadis shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim)<\/p>\n<ul>\n<li>Lima atau tujuh raka\u2018at. Penjelasan tarjih mengenai jumlah raka\u2018at witir menyatakan bahwa bilangan raka\u2018at witir dpat terdiri dari lima atau tujuh raka\u2018at dengan duduk pada penghabisannya. Dasar dari ragam jumlah raka\u2018at witir di ata ialah hadis Abu Hurairah, Airyah, Ummi salamah dan Ibnu Abbas.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Hadis Abu Hurairah, yang artinya:<\/p>\n<p><em>Dari Nabi Saw, ia berkata: \u201cJangan mengerjakan witir tiga raka\u201fat seperti shalat maghrib (dengan tahiyat awal). Hendaklah kamu kerjakan lima atau tujuh raka\u201fat\u201d. <\/em>(HR. Daraquthni, Ibu Hibban, dan Hatim dengan kata-kata yang berbeda. Kata al Iraqi sanadnya shohih)<\/p>\n<p>Hadist Aisyah, yang artinya:<\/p>\n<p><em>Rasulullah sering mengerjakan shalat malam tiga belas raka\u201fat dengan perhitungan lima daripadanya selaku witir yang ia kerjakan terusan tanpa duduk kecuali pada akhirny\u201d <\/em>(HR. Bukhari dan Muslim)<\/p>\n<p>Hadist Ummi Salamah, yang artinya:<\/p>\n<p><em>\u201cRasulullah selalu mengerjakan witir tujuh atau lima raka\u201fat tanpa dipisah antara semuanya dengan bacaan salam atau lainnya.(<\/em>HR. Nasai dan Ibnu<\/p>\n<p>Majah)Dan hadis Ibnu \u2017Abbas, yang artinya:<\/p>\n<p><em>\u201cKemudian Nabi shalat tujuh atau lima raka\u201fat dengan pengertian witir, yang tidak ia memabca salam kecuali pada raka\u201fat terakhir.\u201d<\/em> (HR. Abu Dawud)<\/p>\n<ul>\n<li>Tujuh raka\u2018at. Penjelasan tarjih mengenai ragam bilangan witir menyatakan bahwa berjumlah tujuh raka\u2018at dengan duduk <em>tasyahud awwal<\/em> pada raka\u2018at keenam dan diakhiri pada raka\u2018at ketujuh dengan duduk untuk salam. Dasarnya ialah hadis Sa\u2018ad bin hisyam, yang artinya sebagai berikut:<\/li>\n<\/ul>\n<p><em>\u201cMaka setelah ia bertambah berat badannya karena usia lanjut, ia kerjakan witir tujuh raka\u201fat dengan hanya duduk antara yang keenam dan yang ketujuh untuk hanya membaca salam pada raka\u201fat yang ketujuh.\u201d<\/em> (HR. Ahmad, Nasai, dan<\/p>\n<p>Abu Dawud)<\/p>\n<ul>\n<li>Sembilan Raka\u2018at. Tarjih menyatakan bahwa ragam jumlah bilangan raka\u2018at witir ada yang mencapai sembilan raka\u2018at. Dalam hal ini tarjih menyatakan bahwa jumlah witir ialah sembilan raka\u2018at dengan duduk tasyahud awwal pada raka\u2018at kedelapan dan diakhiri pada raka\u2018at kesembilan dengan duduk untuk salam.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Penjelasan mengenai jumlah raka\u2018at sebanyak sembilan raka\u2018at tersebut didasarkan sumber dalil dari hadis Aisyah sebagaimana telah dikutip dalam bahasan mengenai ketentuan membaca fatihah dan surat dari alQur\u2018an sebagaimana telah tersebut di atas.<\/p>\n<p>Kemudian, mengenai surat-surat yang dibaca dalam shalat witir sebagaimana kebiasaan Rasulllah, dalam HTP dijelaskan bahwa surat yang dibaca ialah surat alA\u2018la sesudah membaca al-Fatihah pada raka\u2018at pertama. Selanjutnya, membaca surat al-Kafirun pada raka\u2018at kedua, sementara itu surat al-Ikhlas dibaca pada raka\u2018at ketiga. Cara demikian ini berdasarkan hadis Ubai Bin Ka\u2018ab yang artinya:<\/p>\n<p><em>Bahwasannya, Nabi saw pada shalat witir, ia membaca: \u201cSabbihisma rabikal a\u201fla dan \u201cQul ya-ayyuhal kafirun\u201d pada raka\u201fat kedua dan: \u201cQulhuwallahu ahad\u201f pada raka\u201fat ketiganya.\u201d<\/em> (HR. Nasai dan Tirmidzi serta Ibnu majah)<\/p>\n<p>Demikianlah pendapat Muhammadiyah berkaitan dengan shalat <em>lail, qiyamu Ramadhan<\/em>, atau tarawih dan juga shalat witir. Ternyata memang cukup panjang sehingga dimasukkan dalam sub bab khusus, tidak digabung dengan shalat sunnah atau \u2017tathawwu\u2018 yang lain.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Nahdhatul_Ulama_NU\"><\/span>Nahdhatul Ulama (NU)<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<\/li>\n<\/ol>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"a_Shalat_tarawih\"><\/span>a. Shalat tarawih<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>NU memiliki basis massa tidak hanya dipelosok-pelosok pedesaan, tetapi juga di pesantren-pesantren. Praktik shalat tarawih di lingkungan pesantren dan luar pesantren yang nota bene masih sama-sama NU ternyata memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Jumlah raka\u2018atnya kalangan NU menyepakati yang 20 raka\u2018at ditambah dengan 3 raka\u2018at witir. Ciri khas tersebut terletak pada suratan yang dibaca setelah fatihah.<\/p>\n<p>Sebelum lebih jauh ke sana, barangkali lebih tepat jika kita bahas lebih dulu mengenai dasar-dasar yang digunakan NU berkaitan dengan shalat tarawih. Bahwa shalat tarawih secara berjamaah adalah mengikuti tuntunan dari shahabat Umar bin Khaththab r.a. dan Sahabat Umar beserta pada shabat yang lain menjalankannya 20 raka\u2018at ditambah 3 raka\u2018at witir. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab alMuwaththa\u2018, juz I, yang artinya sebagai berikut:<\/p>\n<p>Dari Yazid bin Hushaifah, <em>\u201cOrang-orang (kaum muslimin) pada masa Umar melakukan shalat tarawih di bulan Ramadhan 23 raka\u201fat.\u201d<\/em><\/p>\n<p>Selain dasar di atas, sebagaimana ditulis KH Munawwir Abdul Fattah dari Pesantren Krapyak Yogyakarta, bahwa Warga Nahdliyyin yang memilih Tarawih 20 raka\u2018at ini berdasar pada beberapa dalil. Dalam <em>Fiqh as-Sunnah<\/em> Juz II, disebutkan bahwa mayoritas pakar hukum Islam sepakat dengan riwayat yang menyatakan bahwa kaum muslimin mengerjakan shalat pada zaman Umar, Utsman dan Ali sebanyak 20 raka\u2018at.<\/p>\n<p>Juga berdasar dari hadis Ibnu Abbas yang meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW shalat Tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 Raka\u2018at ditambah Witir. <em>(<\/em>HR Baihaqi dan Thabrani)<em>. <\/em><\/p>\n<p>Ibnu Hajar juga menyatakan bahwa Rasulullah shalat bersama kaum muslimin sebanyak 20 raka\u2018at di malam Ramadhan. Ketika tiba di malam ketiga, orang-orang berkumpul, namun Rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya beliau bersabda:<\/p>\n<p>\u2015<em>Aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakannya<\/em>.\u2016<\/p>\n<p>Hadits tersebut di atas disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadits lain yang diriwayatkan Aisyah yang tidak menyebutkan raka\u2018atnya. (<em>Dalam ham\u00eesy Muhibah, Juz II, hlm.466-467<\/em>)<\/p>\n<p>Hadis lengkapnya adalah sebagai berikut:<\/p>\n<p><em>\u201cPada suatu malam Rasulullah saw. keluar dan shalat di masjid, maka ada beberapa bermakmum padanya dan pada pagi harinya orang bicara, bahwa ia telah shalat bersama Rasulullah semalam, maka berkumpullah orang-orang dan ikut shalat bersama Nabi saw. Dan pada pagi hari mereka juga memberitahu kepada kawankawannya sehingga banyak orang yang shalat di malam ketiga, dan Rasulullah saw. tetap keluar untuk shalat bersama mereka, kemudian pada malam keempat penuhlah masjid sehingga tidak muat masjid karena banyaknya orang, tetapi Rasulullah saw sengaja tidak keluar kecuali setelah adzan subuh untuk shalat subuh, kemudian setelah shalat subuh menghadap kepada Shahabat dan membaca dua kalimat syahadat lalu bersabda: Amma ba\u201fdu, sebenarnya keadaanmu semalam telah aku ketahui, tetapi sengaja aku tidak keluar karena kuatir kalau-kalau shalat malam ini diwajibkan atas kalian sehingga kalian mereasa tidak kuat melaksanakannya.\u201d<\/em> (HR. Bukkhari danMuslim)<\/p>\n<p>Demikianlah dasar shalat tarawih di kalangan NU, meskipun tidak terlalu panjang tetapi sudah dianggap cukup untuk mengambil cara pelaksanaan shalat tarawih yang 20 raka\u2018at.<\/p>\n<p>Ciri khas pelaksanaan shalat tarawih di \u2015masjid-masjid NU\u2016 yakni biasanya ada seorang petugas yang dikenal dengan istilah bilal yang tugasnya adalah akan mengumumkan tibanya shalat tarawih.<\/p>\n<p>Shalat tarawih dikerjakan dengan cara dua raka\u2018at salam. Pada tiap raka\u2018at pertama biasanya setelah al-Fatihah membaca surat-surat pendek, yang diawali dengan surat at-Takastur, demikian seterusnya hingga pada surat al-Lahab. Sementara untuk raka\u2018at yang kedua suratan yang dibaca adalah surat al-Ikhlas.<\/p>\n<p>Para imam Tarawih NU umumnya, demikian Munawir Fattah\u00a0 memilih shalat yang tidak perlu bertele-tele. Sebab ada hadits berbunyi: &#8220;<em>Di belakang Anda ada orang tua yang punya kepentingan.<\/em>\u2016 Maka, 23 raka\u2018at umumnya shalat Tarawih lengkap dengan Witirnya selesai dalam 45 menit.<\/p>\n<p>Tetapi di lingkungan pesantren terkadang berbeda. Ada beberapa \u2015pesantren NU\u2016 yang mengerjakan tarawih dengan membaca surat-surat yang panjang. Dalam 20 raka\u2018at tarawih ada yang sampai menyelesaikan 2 juz al-Qur\u2018an. Apa yang dilakukan di pesantren tidak berbeda jauh dengan shalat tarawih di Masjidil Haram, Makkah. Di sana, 23 raka\u2018at diselesaikan dalam waktu kira-kira 90-120 menit. Surat yang dibaca imam ialah ayat -ayat suci Al-Qur\u2018an dari awal, terus berurutan menuju akhir Al-Qur\u2018an.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"b_Shalat_Witir\"><\/span>b. Shalat Witir<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Shalat witir sebagai penutup shalat tarawih di kalangan NU dikerjakan 3 raka\u2018at dengan cara dua raka\u2018at salam dan diteruskan dengan satu raka\u2018at salam.<\/p>\n<p>Hal tersebut sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab <em>Shalat al-Tarawih fi <\/em><\/p>\n<p><em>Masjid al-Haram <\/em>bahwa shalat Tarawih di Masjidil Haram sejak masa Rasulullah, Abu Bakar, Umar, Usman, dan seterusnya sampai sekarang selalu dilakukan 20 raka\u2018at dan 3 raka\u2018at Witir.<\/p>\n<p>Untuk suratan yang dibaca setelah al-Fatihah dalam shalat witir, pada raka\u2018at pertama dianjurkan surat al-A\u2018la dan raka\u2018at kedua adalah surat al-Kafirun. Hal ini senada dengan Muhammadiyah dan dasar yang digunakan juga sama. Yang berbeda adalah raka\u2018at witir yang ketiga.<\/p>\n<p>Raka\u2018at witir yang ketiga dikerjakan sendiri, atau dengan 1 raka\u2018at. Biasanya surat yang dibaca secalah al-Fatihah adalah surat al-Ikhlas, ditambah al-Falaq, dan an-Nas. Selain itu pada separuh terakhir bulan ramadhan, pada raka\u2018at yang ketiga ini, setelah bangun dari rukuk dilakukan pembacaan qunut, biasa disebut dengan qunut<\/p>\n<p>Sumber: M.Yusuf Amin Nugroho, FIQH AL-IKHTILAF NU-Muhammadiyah.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Shalat tarawih adalah ibadah yang khusus dikerjakan pada bulan Ramadhan, waktunya adalah setelah shalat Isya. Shalat Tarawih bisa dikerjakan berjamaah, maupun dengan cara munfarid (sendiri).&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-36417","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36417","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36417"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36417\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":51365,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36417\/revisions\/51365"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36417"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36417"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36417"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}