{"id":36251,"date":"2023-07-19T12:19:19","date_gmt":"2023-07-19T05:19:19","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=36251"},"modified":"2023-07-19T12:19:19","modified_gmt":"2023-07-19T05:19:19","slug":"malam-1-suro-pengertian-sejarah-dan-tradisi-khas-masyarakat-jawa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/malam-1-suro-pengertian-sejarah-dan-tradisi-khas-masyarakat-jawa\/","title":{"rendered":"Malam 1 Suro: Pengertian, Sejarah, dan Tradisi Khas Masyarakat Jawa"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/malam-1-suro-pengertian-sejarah-dan-tradisi-khas-masyarakat-jawa\/#Pengertian_Malam_1_Suro\" >Pengertian Malam 1 Suro<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/malam-1-suro-pengertian-sejarah-dan-tradisi-khas-masyarakat-jawa\/#Sejarah_Malam_1_Suro\" >Sejarah Malam 1 Suro<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/malam-1-suro-pengertian-sejarah-dan-tradisi-khas-masyarakat-jawa\/#Tradisi_Khas_Masyarakat_Jawa\" >Tradisi Khas Masyarakat Jawa<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Malam_1_Suro\"><\/span>Pengertian Malam 1 Suro<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li>Malam 1 suro atau malam satu suro adalah malam pertama di bulan Suro, yaitu sasi atau bulan pertama dalam kalender Jawa<sup>1<\/sup>.<\/li>\n<li>Perayaan atau ritual tahun baru dalam kalender Jawa ini biasanya dirayakan pada malam hari, tepatnya setelah matahari terbenam<sup>1<\/sup>.<\/li>\n<li>Malam 1 suro juga bertepatan dengan tanggal 1 Muharram dalam kalender Hijriah, yaitu tahun baru Islam<sup>2<\/sup>.<\/li>\n<li>Malam 1 suro dianggap sebagai gerbang dunia manusia dan gaib bertemu, sehingga banyak orang Jawa yang melakukan berbagai upacara dan ritual untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memohon perlindungan dari segala bencana<sup>3<\/sup>.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_Malam_1_Suro\"><\/span>Sejarah Malam 1 Suro<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li>Awal mula perayaan malam 1 suro konon bertujuan untuk memperkenalkan kalender Islam di kalangan masyarakat Jawa pada zaman pemerintahan kerajaan Demak, oleh Sunan Giri II yang membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriah dengan sistem kalender Jawa pada masa itu<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<li>Penetapan satu Suro sebagai awal tahun baru Jawa dilakukan sejak zaman kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (1613-1645), yang ingin memperluas ajaran Islam di tanah Jawa dan menyatukan rakyatnya yang terpecah belah karena perbedaan keyakinan agama<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<li>Sultan Agung memadukan kalender Saka yang diwariskan dari tradisi Hindu dengan kalender Hijriah menjadi kalender Jawa, dan menetapkan 1 Suro sebagai tanda awal tahun baru Jawa<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<li>Penyatuan kalender tersebut dimulai sejak Jumat Legi bulan Jumadil akhir tahun 1555 Saka atau 8 Juli 1633 Masehi, yang juga dikeramatkan sebagai hari pengajian, ziarah kubur, dan haul ke makam Ngampel dan Giri<sup>4<\/sup>.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tradisi_Khas_Masyarakat_Jawa\"><\/span>Tradisi Khas Masyarakat Jawa<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li>Berbagai macam acara diselenggarakan masyarakat Jawa dari berbagai daerah dengan kegiatan dan makna berbeda-beda dalam rangka merayakan malam satu Suro<sup>2<\/sup>.<\/li>\n<li>Beberapa tradisi yang umum dilakukan adalah:\n<ul>\n<li>Tirakat, lelaku, atau perenungan diri, yaitu melakukan puasa, sholat, dzikir, membaca Al-Quran, atau meditasi untuk membersihkan diri dan melawan nafsu manusiawi<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/li>\n<li>Selametan khusus, yaitu melakukan doa bersama, membaca surat Yasin, atau menyantuni anak yatim dan fakir miskin sebagai bentuk syukur dan sedekah<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/li>\n<li>Ziarah kubur atau haul, yaitu mengunjungi makam leluhur, tokoh agama, atau keramat untuk menghormati mereka dan memohon berkah serta ampunan<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/li>\n<li>Labuhan atau sesaji laut, yaitu melempar sesaji berupa bunga-bungaan, makanan, minuman, uang logam, atau hewan kurban ke laut sebagai tanda penghormatan kepada Nyai Roro Kidul (ratu pantai selatan) dan meminta keselamatan bagi nelayan dan pelaut<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/li>\n<li>Sedekah bumi atau gunung, yaitu memberikan sesaji berupa hasil bumi atau hewan kurban ke tanah atau gunung sebagai tanda penghormatan kepada roh-roh penjaga alam dan meminta kesuburan serta kesejahteraan bagi petani dan penduduk<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/li>\n<li>Mandi keramat, yaitu mandi di sungai, sumber air, atau tempat rekreasi yang dianggap memiliki khasiat untuk menyembuhkan penyakit, awet muda, panjang umur, atau mendapatkan jodoh<sup>2<\/sup><sup>3<\/sup>.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Malam 1 Suro: Pengertian, Sejarah, dan Tradisi Khas Masyarakat Jawa. https:\/\/yogyakarta.kompas.com\/read\/2023\/07\/13\/070500878\/malam-1-suro&#8211;pengertian-sejarah-dan-tradisi-khas-masyarakat-jawa.<br \/>\n(2) Tradisi Malam 1 Suro dalam Masyarakat Jawa &amp; Perspektif Islam. https:\/\/tirto.id\/tradisi-malam-1-suro-dalam-masyarakat-jawa-perspektif-islam-gM81.<br \/>\n(3) Malam 1 Suro, Pemkab Batang Mandikan Tombak Abirawa dan 70 Pusaka. https:\/\/news.okezone.com\/read\/2023\/07\/19\/512\/2848744\/malam-1-suro-pemkab-batang-mandikan-tombak-abirawa-dan-70-pusaka.<br \/>\n(4) Ritual Sedekah Merapi Malam 1 Suro di Boyolali dengan Proses Labuhan Kepala Kerbau. https:\/\/surakarta.suara.com\/read\/2023\/07\/19\/113345\/ritual-sedekah-merapi-malam-1-suro-di-boyolali-dengan-proses-labuhan-kepala-kerbau.<br \/>\n(5) Arti Malam 1 Suro bagi Orang Jawa dan Macam-macam Peringatannya &#8211; Tirto.ID. https:\/\/tirto.id\/arti-malam-1-suro-bagi-orang-jawa-dan-macam-macam-peringatannya-gihs.<br \/>\n(6) Sejarah Malam 1 Suro dan Maknanya bagi Masyarakat Jawa &#8211; detikNews. https:\/\/news.detik.com\/berita\/d-6829247\/sejarah-malam-1-suro-dan-maknanya-bagi-masyarakat-jawa.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Malam 1 Suro Malam 1 suro atau malam satu suro adalah malam pertama di bulan Suro, yaitu sasi atau bulan pertama dalam kalender Jawa1.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-36251","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36251","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=36251"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/36251\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=36251"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=36251"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=36251"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}