{"id":35916,"date":"2023-07-07T14:47:19","date_gmt":"2023-07-07T07:47:19","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=35916"},"modified":"2023-07-07T14:47:19","modified_gmt":"2023-07-07T07:47:19","slug":"emha-ainun-najib-tokoh-intelektual-budayawan-dan-aktivis-muslim-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/emha-ainun-najib-tokoh-intelektual-budayawan-dan-aktivis-muslim-indonesia\/","title":{"rendered":"Emha Ainun Najib: Tokoh Intelektual, Budayawan dan Aktivis Muslim Indonesia"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/emha-ainun-najib-tokoh-intelektual-budayawan-dan-aktivis-muslim-indonesia\/#Latar_Belakang_Keluarga_dan_Pendidikan\" >Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/emha-ainun-najib-tokoh-intelektual-budayawan-dan-aktivis-muslim-indonesia\/#Perjalanan_Karier_dan_Kegiatan\" >Perjalanan Karier dan Kegiatan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/emha-ainun-najib-tokoh-intelektual-budayawan-dan-aktivis-muslim-indonesia\/#Penghargaan_dan_Prestasi\" >Penghargaan dan Prestasi<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Emha Ainun Najib atau biasa dikenal sebagai Cak Nun atau Mbah Nun adalah seorang tokoh intelektual, budayawan dan aktivis Muslim Indonesia yang lahir di Jombang, Jawa Timur pada 27 Mei 1953<sup>1<\/sup>\u00a0Cak Nun memiliki ragam dan cakupan tema pemikiran, ilmu dan kegiatan yang sangat luas, seperti dalam bidang sastra, teater, tafsir, tasawwuf, musik, filsafat, pendidikan, kesehatan, Islam dan lain-lain<sup>1<\/sup>\u00a0Ia juga dikenal sebagai seniman, penyair, cendekiawan, ilmuwan, sastrawan dan kyai<sup>1<\/sup>\u00a0Banyak orang mengatakan Cak Nun adalah manusia multi-dimensi<sup>1<\/sup><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Latar_Belakang_Keluarga_dan_Pendidikan\"><\/span>Latar Belakang Keluarga dan Pendidikan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Cak Nun merupakan anak keempat dari 15 bersaudara<sup>1<\/sup>\u00a0Lahir dari pasangan Muhammad Abdul Latief dan Chalimah.\u00a0Ayahnya adalah petani dan tokoh agama (kyai) yang sangat dihormati masyarakat Desa Menturo, Sumobito, Jombang<sup>1<\/sup>\u00a0Ia juga seorang pemimpin masyarakat yang menjadi tempat bertanya dan mengadu tentang masalah yang masyarakat hadapi<sup>1<\/sup>\u00a0Begitu juga ibunya menjadi panutan warga yang memberikan rasa aman dan banyak membantu masyarakat<sup>1<\/sup><\/p>\n<p>Dalam ingatan Cak Nun, ketika ia kecil sering diajak ibunya mengunjungi para tetangga, menanyakan keadaan mereka. Apakah mereka bisa makan dan menyekolahkan anak. Pengalaman ini membentuk kesadaran dan sikap sosialnya yang didasarkan nilai-nilai Islam.\u00a0Bahwa menolong sesama manusia dari kemiskinan dan membuat mereka mampu berfungsi sebagai manusia seutuhnya, merupakan kunci dalam Islam<sup>1<\/sup><\/p>\n<p>Cak Nun memiliki keluarga yang besar dan berpengaruh di dunia Islam Indonesia.\u00a0Kakak tertuanya, yaitu Ahmad Fuad Effendi, adalah anggota Dewan Pembina King Abdullah bin Abdul Aziz International Center For Arabic Language (KAICAL) Saudi Arabia selama dua periode (2013-2019)<sup>1<\/sup>\u00a0Paman Cak Nun, adik ayahnya, yaitu almarhum K.H.\u00a0Hasyim Latief, adalah pendiri Pertanu (Persatuan Tani dan Nelayan NU), ketua PWNU Jawa Timur, wakil Ketua PBNU, wakil Rais Syuriah PBNU dan Mustasyar PBNU yang mendirikan Yayasan Pendidikan Maarif (YPM) di Sepanjang, Sidoarjo<sup>1<\/sup>\u00a0Dari garis ayah, Cak Nun bersaudara dengan aktivis masyarakat miskin kota Wardah Hafidz dan eks wakil bupati Jombang Ali Fikri yang masih sepupu ayah Cak Nun<sup>1<\/sup><\/p>\n<p>Cak Nun menempuh pendidikan dasar di SDN Menturo 2 Sumobito Jombang pada tahun 1960-1966. Kemudian ia melanjutkan pendidikan menengah pertama di SMPN 2 Jombang pada tahun 1966-1969. Setelah itu ia pindah ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan menengah atas di SMA Negeri 3 Yogyakarta pada tahun 1969-1972. Di sana ia aktif dalam berbagai kegiatan ekstrakurikuler seperti teater dan jurnalistik. Ia juga mulai menulis puisi dan cerpen yang dimuat di berbagai media massa.<\/p>\n<p>Pada tahun 1972-1977 ia kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan Sastra Indonesia dengan minat utama pada kritik sastra. Di kampus ia bergabung dengan kelompok studi Islam Paramadina yang dipimpin oleh Nurcholish Madjid. Ia juga aktif dalam organisasi mahasiswa seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Senat Mahasiswa Fakultas Sastra UGM. Selain itu ia juga terlibat dalam berbagai kegiatan kesenian seperti teater, musik dan film.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perjalanan_Karier_dan_Kegiatan\"><\/span>Perjalanan Karier dan Kegiatan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah lulus dari UGM, Cak Nun bekerja sebagai dosen di Fakultas Sastra UGM dan Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia juga menjadi penulis lepas untuk berbagai media massa seperti Kompas, Tempo, Republika, Suara Merdeka dan lain-lain. Ia menulis tentang berbagai topik mulai dari sastra, budaya, politik, agama, sosial, ekonomi hingga lingkungan. Ia juga menulis beberapa buku seperti \u201cMembuka Pintu Langit\u201d, \u201cIslam dan Budaya\u201d, \u201cTafsir Al-Quran Tematik\u201d dan lain-lain.<\/p>\n<p>Pada tahun 1980-an ia mendirikan kelompok teater Bengkel Teater yang menjadi salah satu kelompok teater paling produktif dan kritis di Indonesia. Dengan Bengkel Teater ia menghasilkan berbagai karya pentas yang mengangkat isu-isu sosial, politik, agama dan budaya dengan gaya yang satir, humoris dan menggugah. Beberapa karya pentasnya yang terkenal antara lain \u201cOpera Kecoa\u201d, \u201cOpera Ikan Asin\u201d, \u201cOpera Kuda-Kudaan\u201d dan \u201cOpera Jawa\u201d.<\/p>\n<p>Pada tahun 1990-an ia mendirikan kelompok musik Gamelan Kiai Kanjeng yang menggabungkan unsur-unsur musik tradisional Jawa dengan musik modern dan Islam. Dengan Gamelan Kiai Kanjeng ia menyebarkan pesan-pesan keagamaan, kebangsaan, kemanusiaan dan kesenian melalui lagu-lagu yang dibawakan dengan suara merdu dan penuh makna. Beberapa lagu yang populer antara lain \u201cTombo Ati\u201d, \u201cLingsir Wengi\u201d, \u201cSholawat Badar\u201d dan \u201cSyi\u2019ir Tanpo Waton\u201d.<\/p>\n<p>Pada tahun 1998 ia menjadi salah satu tokoh yang diundang ke Istana Merdeka untuk dimintakan nasihatnya oleh Presiden Soeharto yang sedang menghadapi krisis politik.\u00a0Cak Nun memberikan celetukan yang kemudian diadopsi oleh Soeharto berbunyi \u201cOra dadi presiden ora path\u00e8ken\u201d (tidak jadi presiden tidak apa-apa)<sup>1<\/sup><\/p>\n<p>Setelah reformasi 1998, Cak Nun bersama Gamelan Kiai Kanjeng memfokuskan berkegiatan bersama masyarakat di pelosok Indonesia.\u00a0Aktivitasnya berjalan terus dengan menginisiasi Masyarakat Maiyah, yang berkembang di seluruh negeri hingga mancanegara<sup>1<\/sup>\u00a0Cak Nun bersama Kiai Kanjeng dan Masyarakat Maiyah mengajak untuk membuka yang sebelumnya belum pernah dibuka.\u00a0Memandang, merumuskan dan mengelola dengan prinsip dan formula yang sebelumnya belum pernah ditemukan dan dipergunakan<sup>1<\/sup>\u00a0Dalam pandangan akademisi Barat, pemikiran dan kegiatan ini bisa dimasukkan dalam perjuangan decoloniality<sup>1<\/sup><\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Penghargaan_dan_Prestasi\"><\/span>Penghargaan dan Prestasi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Caknun telah menerima banyak penghargaan dan prestasi dalam dunia sastra, antara lain:<\/p>\n<ul>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1991) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak Ladang Jagung<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1992) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sesobek Kertas Koran<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1993) untuk buku puisi\u00a0<strong>Ketika Batu Bicara<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1994) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Sepatu Tua<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1995) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Lembah Kali Brantas<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1996) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Langit<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1997) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Negeriku Indonesia<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (1998) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Cinta<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (2000) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Hujan Bulan Juni<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (2001) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Matahari<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (2003) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Bumi Manusia<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (2004) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Nusantara<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (2005) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Tanah Air<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (2006) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Merah Putih<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Hadiah Sastra Pusat Bahasa (2007) untuk buku puisi\u00a0<strong>Sajak-sajak Indonesia Raya<\/strong>\u00a0<sup>2<\/sup><\/li>\n<li>Penghargaan Achmad Bakrie 2017 kategori sastra dan budaya<sup>3<\/sup><\/li>\n<\/ul>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Emha Ainun Nadjib &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Emha_Ainun_Nadjib.<br \/>\n(2) Emha Ainun Nadjib (Cak Nun\/Mbah Nun). https:\/\/www.caknun.com\/.<br \/>\n(3) Prestasi Cak Nun dalam dunia sastra&#8230; &#8211; Noura Publishing &#8211; Facebook. https:\/\/www.facebook.com\/NouraPublishing\/posts\/prestasi-cak-nun-dalam-dunia-sastra-tidak-diragukan-lagi-banyak-penghargaan-yang\/3455490921186314\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Emha Ainun Najib atau biasa dikenal sebagai Cak Nun atau Mbah Nun adalah seorang tokoh intelektual, budayawan dan aktivis Muslim Indonesia yang lahir di Jombang,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-35916","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35916","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35916"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35916\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35916"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35916"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35916"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}