{"id":35598,"date":"2023-06-23T17:49:28","date_gmt":"2023-06-23T10:49:28","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=35598"},"modified":"2023-06-23T17:49:28","modified_gmt":"2023-06-23T10:49:28","slug":"kapan-boleh-potong-kuku-bagi-yang-berkurban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kapan-boleh-potong-kuku-bagi-yang-berkurban\/","title":{"rendered":"Kapan Boleh Potong Kuku Bagi yang Berkurban?"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kapan-boleh-potong-kuku-bagi-yang-berkurban\/#Pengertian_Berkurban\" >Pengertian Berkurban<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kapan-boleh-potong-kuku-bagi-yang-berkurban\/#Larangan_Memotong_Kuku_dan_Rambut\" >Larangan Memotong Kuku dan Rambut<\/a><ul class='ez-toc-list-level-3' ><li class='ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kapan-boleh-potong-kuku-bagi-yang-berkurban\/#Pendapat_Pertama_Larangan_Bagi_Orang_yang_Berkurban\" >Pendapat Pertama: Larangan Bagi Orang yang Berkurban<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kapan-boleh-potong-kuku-bagi-yang-berkurban\/#Pendapat_Kedua_Larangan_Bagi_Hewan_Kurban\" >Pendapat Kedua: Larangan Bagi Hewan Kurban<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/kapan-boleh-potong-kuku-bagi-yang-berkurban\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Berkurban\"><\/span>Pengertian Berkurban<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Berkurban adalah menyembelih hewan tertentu pada hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hewan yang boleh dijadikan kurban adalah unta, sapi, kerbau, kambing dan domba. Berkurban merupakan sunnah muakkad bagi orang yang mampu secara finansial dan fisik.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Larangan_Memotong_Kuku_dan_Rambut\"><\/span>Larangan Memotong Kuku dan Rambut<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ada sebuah hadis dari Ummu Salamah, istri Nabi shallallahu \u2018alaihi wa sallam, yang menyatakan:<\/p>\n<p>\u0625\u0630\u0627 \u062f\u062e\u0644 \u0627\u0644\u0639\u0634\u0631 \u0645\u0646 \u0630\u064a \u0627\u0644\u062d\u062c\u0629 \u0648\u0623\u0631\u0627\u062f \u0623\u062d\u062f\u0643\u0645 \u0623\u0646 \u064a\u0636\u062d\u064a \u0641\u0644\u0627 \u064a\u0645\u0633 \u0645\u0646 \u0634\u0639\u0631\u0647 \u0648\u0644\u0627 \u0628\u0634\u0631\u0647 \u0634\u064a\u0626\u0627 \u062d\u062a\u0649 \u064a\u0636\u062d\u064a<\/p>\n<p>Artinya: \u201cApabila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan seorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikitpun, sampai (selesai) berkurban.\u201d (HR. Ibnu Majah, Ahmad, dan lain-lain).<\/p>\n<p>Hadis ini menunjukkan adanya larangan bagi orang yang ingin berkurban untuk memotong kuku dan rambutnya selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Namun, ulama berbeda pendapat dalam memahami hadis ini. Ada yang mengatakan bahwa larangan ini ditujukan kepada orang yang berkurban (al-mudhahhi), dan ada yang mengatakan bahwa larangan ini ditujukan kepada hewan kurban (al-mudhahha).<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendapat_Pertama_Larangan_Bagi_Orang_yang_Berkurban\"><\/span>Pendapat Pertama: Larangan Bagi Orang yang Berkurban<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pendapat pertama mengatakan bahwa hadis di atas bermaksud melarang orang yang berkurban untuk memotong kuku dan rambutnya selama sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Artinya, ia diperbolehkan memotong kuku dan rambutnya setelah selesai kurban.<\/p>\n<p>Pendapat ini didukung oleh Imam Malik, Imam Syafi&#8217;i, Imam Ahmad, dan sebagian ulama lainnya. Mereka berdalil dengan lafazh hadis yang menunjukkan bahwa larangan tersebut berlaku bagi orang yang berniat untuk berkurban. Jika larangan tersebut ditujukan kepada hewan kurban, maka tidak perlu ada syarat niat.<\/p>\n<p>Adapun hikmah dari larangan ini adalah agar orang yang berkurban menyerupai orang yang berihram dalam hal tidak memotong kuku dan rambutnya. Hal ini menunjukkan kesucian dan kekhusyukan dalam melaksanakan ibadah kurban. Selain itu, larangan ini juga bermakna agar orang yang berkurban tidak mengurangi apa-apa dari tubuhnya, karena ia akan mendapatkan pahala sebanyak rambut dan kulitnya di akhirat.<\/p>\n<p>Meskipun pendapat pertama sepakat bahwa larangan ini berlaku bagi orang yang berkurban, namun mereka berbeda pendapat tentang hukum memotong kuku dan rambut tersebut. Apakah haram? Makruh? Atau hanya mubah?<\/p>\n<p>&#8211; Imam Malik dan Imam Syafi&#8217;i berpendapat bahwa disunnahkan untuk tidak memotong kuku dan rambut bagi orang yang berkurban. Jika ia melakukannya, maka makruh.<br \/>\n&#8211; Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa memotong kuku dan rambut bagi orang yang berkurban itu mubah (boleh). Tidak makruh jika dipotong, dan tidak sunnah jika tidak dipotong.<br \/>\n&#8211; Imam Ahmad berpendapat bahwa memotong kuku dan rambut bagi orang yang berkurban itu **haram**.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendapat_Kedua_Larangan_Bagi_Hewan_Kurban\"><\/span>Pendapat Kedua: Larangan Bagi Hewan Kurban<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Pendapat kedua mengatakan bahwa hadis di atas bermaksud melarang memotong kuku dan rambut bagi hewan kurban, bukan bagi orang yang berkurban. Artinya, hewan kurban harus utuh dan tidak cacat, tidak boleh dipotong kuku atau rambutnya sebelum disembelih.<\/p>\n<p>Pendapat ini didukung oleh sebagian ulama, seperti Imam Abu Tsaur, Imam Ibnu Hazm, Imam Ibnu Qudamah, dan lain-lain. Mereka berdalil dengan beberapa hal, antara lain:<\/p>\n<p>&#8211; Lafazh hadis yang menggunakan kata yudahi (hendak berkurban) bukan yadhahi (sedang berkurban). Ini menunjukkan bahwa larangan tersebut berlaku sejak hewan kurban dipilih dan ditetapkan, bukan sejak orang yang berkurban berniat.<br \/>\n&#8211; Lafazh hadis yang menggunakan kata shu&#8217;rihi (rambutnya) dan basyarihi (kulitnya) bukan shu&#8217;arihi (rambutnya) dan basyarihi (kulitnya). Ini menunjukkan bahwa kata-kata tersebut merujuk kepada hewan kurban yang berjenis kelamin jantan, bukan kepada orang yang berkurban yang bisa laki-laki atau perempuan.<br \/>\n&#8211; Larangan memotong kuku dan rambut bagi hewan kurban sesuai dengan syarat-syarat hewan kurban yang harus utuh dan tidak cacat. Jika hewan kurban dipotong kuku atau rambutnya, maka bisa mengurangi keindahan dan kesempurnaannya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ada dua pendapat ulama tentang larangan memotong kuku dan rambut bagi yang berkurban. Pendapat pertama mengatakan bahwa larangan tersebut berlaku bagi orang yang berkurban, sedangkan pendapat kedua mengatakan bahwa larangan tersebut berlaku bagi hewan kurban.<\/p>\n<p>Kedua pendapat ini memiliki dalil dan argumentasi masing-masing. Sebagai umat Islam, kita harus menghormati perbedaan pendapat ini dan tidak saling mencela atau menyalahkan. Kita juga harus mengikuti pendapat yang paling kuat menurut kita atau menurut ulama yang kita percayai.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Orang yang Memotong Kuku Sebelum Menyembelih, Qurbannya Tidak Sah?. https:\/\/bing.com\/search?q=kapan+boleh+potong+kuku+bagi+yang+berkurban+nu+muhammadiyah+kemenag+konsultasi+syariah+mui.<br \/>\n(2) Kapan Batas Memotong Kuku dan Rambut sebelum Qurban Idul Adha 2021?. https:\/\/tirto.id\/kapan-batas-memotong-kuku-dan-rambut-sebelum-qurban-idul-adha-2021-ghFK.<br \/>\n(3) Hukum Potong Kuku dan Rambut Ketika Kurban | NU Online. https:\/\/islam.nu.or.id\/post\/read\/71090\/hukum-potong-kuku-dan-rambut-ketika-kurban.<br \/>\n(4) Orang yang Memotong Kuku Sebelum Menyembelih, Qurbannya Tidak Sah?. https:\/\/konsultasisyariah.com\/14473-orang-yang-memotong-kuku-sebelum-menyembelih-qurbannya-tidak-sah.html.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Berkurban Berkurban adalah menyembelih hewan tertentu pada hari raya Idul Adha dan tiga hari setelahnya sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hewan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-35598","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35598","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35598"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35598\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}