{"id":35369,"date":"2023-06-19T21:57:30","date_gmt":"2023-06-19T14:57:30","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=35369"},"modified":"2023-06-19T21:57:30","modified_gmt":"2023-06-19T14:57:30","slug":"syekh-abdul-wahab-rokan-ulama-sufi-dan-pejuang-islam-di-sumatra","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/syekh-abdul-wahab-rokan-ulama-sufi-dan-pejuang-islam-di-sumatra\/","title":{"rendered":"Syekh Abdul Wahab Rokan: Ulama Sufi dan Pejuang Islam di Sumatra"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/syekh-abdul-wahab-rokan-ulama-sufi-dan-pejuang-islam-di-sumatra\/#Asal_Usul_dan_Pendidikan\" >Asal Usul dan Pendidikan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/syekh-abdul-wahab-rokan-ulama-sufi-dan-pejuang-islam-di-sumatra\/#Perjuangan_dan_Dakwah\" >Perjuangan dan Dakwah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/syekh-abdul-wahab-rokan-ulama-sufi-dan-pejuang-islam-di-sumatra\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Syekh Abdul Wahab Rokan adalah salah satu ulama terkemuka yang berperan besar dalam penyebaran Islam dan perjuangan melawan penjajah di Sumatra pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai ulama ahli fikih, sufi, dan mursyid (pembimbing rohani) Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Berikut adalah biografi singkat dan perjuangannya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Asal_Usul_dan_Pendidikan\"><\/span>Asal Usul dan Pendidikan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syekh Abdul Wahab Rokan lahir dengan nama Abu Qosim pada 28 September 1811 di Kampung Danau Runda, Rantau Binuang Sakti, Nagari Tinggi, Kabupaten Kampar, Riau. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang berpendidikan, taat beragama, dan sangat dihormati. Ayahnya bernama Abdul Manaf bin Muhammad Yasin bin Tuanku Abdullah Tambusai, seorang ulama terkemuka dan keturunan raja Siak. Ibunya bernama Arbaiyah binti Dagi yang masih keturunan Kesultanan Langkat. \u00b9<\/p>\n<p>Setelah menunaikan ibadah haji, ia berganti nama menjadi Haji Abdul Wahab. Sedangkan tambahan nama Rokan menunjukkan bahwa ia berasal dari wilayah Sungai Rokan. \u00b9<\/p>\n<p>Ia pertama kali mendapatkan pendidikan al-Quran langsung dari ayahnya. Namun setelah ayahnya meninggal, ia melanjutkan belajarnya kepada Tuanku Muhammad Shaleh Tambusai dan Tuanku Haji Abdul Halim Tambusai. Ia juga belajar kepada Syeikh Muhammad Yusuf di Semenanjung Melayu selama dua tahun. \u00b9<\/p>\n<p>Pada tahun 1863, ia berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji sekaligus memperdalam ilmu-ilmu keislaman di sana. Selama enam tahun (1863-1869) ia bermukim dan belajar kepada ulama-ulama terkenal di Mekah, di antaranya:<\/p>\n<p>&#8211; Syeikh Saidi Syarif Dahlan (mufti mazhab Syafi&#8217;i)<br \/>\n&#8211; Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (ulama hadis)<br \/>\n&#8211; Syeikh Sulaiman Zuhdi (pemimpin Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah)<br \/>\n&#8211; Syeikh Ahmad al-Fatani (ulama tafsir)<br \/>\n&#8211; Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari (ulama fiqih) \u00b9<\/p>\n<p>Dari para guru-gurunya tersebut, ia mendapatkan banyak ijazah (izin mengajar) dalam berbagai bidang ilmu keislaman, terutama fikih dan tasawuf.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Perjuangan_dan_Dakwah\"><\/span>Perjuangan dan Dakwah<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Setelah kembali dari Mekah, Syekh Abdul Wahab Rokan menetap di Besilam, sebuah kampung di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Di sana ia mendirikan sebuah pesantren yang menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam bagi masyarakat sekitar. Ia juga mengajarkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah kepada murid-muridnya yang ingin menyempurnakan ibadah dan akhlak mereka.<\/p>\n<p>Selain sebagai ulama dan sufi, Syekh Abdul Wahab Rokan juga dikenal sebagai pejuang Islam yang gigih melawan penjajahan Belanda. Ia bersama murid-muridnya ikut berperang dalam Perang Aceh melawan Belanda pada tahun 1873-1904. Ia juga membantu Sultan Deli dalam menghadapi tekanan Belanda yang ingin menguasai tanah-tanah milik rakyat. Ia bahkan pernah ditangkap dan dipenjara oleh Belanda karena dianggap sebagai tokoh yang menghasut rakyat untuk memberontak. \u00b2<\/p>\n<p>Syekh Abdul Wahab Rokan meninggal dunia pada 27 Desember 1926 di usia 115 tahun. Ia dimakamkan di Besilam dan makamnya menjadi tempat ziarah bagi banyak orang. Nama beliau diabadikan oleh pendiri Pondok Pesantren Babussalam, Pekanbaru, Riau sebagai nama lembaga berbadan hukum yang menaungi Pondok Pesantren ini, yaitu: Yasasan Syekh Abdul Wahab Rokan. \u00b9<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span>Kesimpulan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Syekh Abdul Wahab Rokan adalah salah satu ulama terkemuka yang berperan besar dalam penyebaran Islam dan perjuangan melawan penjajah di Sumatra pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia dikenal sebagai ulama ahli fikih, sufi, dan mursyid (pembimbing rohani) Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang berpendidikan, taat beragama, dan sangat dihormati. Ia mendapatkan pendidikan al-Quran dari ayahnya dan belajar kepada banyak ulama terkenal di Mekah. Ia menetap di Besilam dan mendirikan pesantren yang menjadi pusat dakwah dan pendidikan Islam. Ia juga ikut berperang melawan Belanda dalam Perang Aceh dan membantu Sultan Deli. Ia meninggal dunia pada usia 115 tahun dan dimakamkan di Besilam.<\/p>\n<p>Sumber:<br \/>\n(1) Abdul Wahab Rokan &#8211; Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Abdul_Wahab_Rokan.<br \/>\n(2) Biografi Syekh Abdul Wahab Rokan &#8211; Wawasan Sejarah. https:\/\/wawasansejarah.com\/biografi-syekh-abdul-wahab-rokan\/.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Syekh Abdul Wahab Rokan adalah salah satu ulama terkemuka yang berperan besar dalam penyebaran Islam dan perjuangan melawan penjajah di Sumatra pada abad ke-19 hingga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-35369","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35369","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=35369"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/35369\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=35369"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=35369"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=35369"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}