{"id":33526,"date":"2023-05-11T11:31:11","date_gmt":"2023-05-11T04:31:11","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=33526"},"modified":"2023-05-11T11:31:11","modified_gmt":"2023-05-11T04:31:11","slug":"taman-nasional-way-kambas-perlindungan-gajah-dan-keanekaragaman-hayati-di-lampung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/taman-nasional-way-kambas-perlindungan-gajah-dan-keanekaragaman-hayati-di-lampung\/","title":{"rendered":"Taman Nasional Way Kambas: Perlindungan Gajah dan Keanekaragaman Hayati di Lampung"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/taman-nasional-way-kambas-perlindungan-gajah-dan-keanekaragaman-hayati-di-lampung\/#Sejarah_dan_Status_Kawasan\" >Sejarah dan Status Kawasan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/taman-nasional-way-kambas-perlindungan-gajah-dan-keanekaragaman-hayati-di-lampung\/#Flora_dan_Fauna\" >Flora dan Fauna<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/taman-nasional-way-kambas-perlindungan-gajah-dan-keanekaragaman-hayati-di-lampung\/#Wisata_Alam_dan_Budaya\" >Wisata Alam dan Budaya<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/taman-nasional-way-kambas-perlindungan-gajah-dan-keanekaragaman-hayati-di-lampung\/#Alamat_dan_Rute_Lokasi\" >Alamat dan Rute Lokasi<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/taman-nasional-way-kambas-perlindungan-gajah-dan-keanekaragaman-hayati-di-lampung\/#Tips_Berkunjung_ke_Taman_Nasional_Way_Kambas\" >Tips Berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Taman Nasional Way Kambas (TNWK) adalah salah satu taman nasional tertua di Indonesia yang berada di daerah Lampung, tepatnya di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur.\u00a0Taman nasional ini memiliki luas sekitar 1.300 km2 dan terletak pada ketinggian antara 0-50 m dpl dengan topografi datar sampai landai.\u00a0TNWK merupakan kawasan konservasi yang memiliki empat tipe ekosistem utama, yaitu ekosistem hutan rawa, hutan pantai, hutan dataran rendah, dan hutan alam.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sejarah_dan_Status_Kawasan\"><\/span>Sejarah dan Status Kawasan<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>TNWK memiliki sejarah yang panjang dalam upaya pelestarian alam di Indonesia.\u00a0Pada tahun 1924, kawasan hutan Way Kambas dan Cabang disisihkan sebagai daerah hutan lindung oleh pemerintah kolonial Belanda.\u00a0Pada tahun 1937, kawasan ini ditetapkan sebagai suaka margasatwa oleh Gubernur Belanda dengan luas 26.000 ha.\u00a0Pada tahun 1978, suaka margasatwa Way Kambas diubah menjadi Kawasan Pelestarian Alam (KPA) oleh Menteri Pertanian dengan luas 130.000 ha.\u00a0Pada tahun 1985, KPA Way Kambas diubah menjadi Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) oleh Menteri Kehutanan<sup>1<\/sup>.\u00a0Pada tahun 1999, KSDA Way Kambas ditetapkan sebagai taman nasional oleh Menteri Kehutanan dengan luas 125.631 ha.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Flora_dan_Fauna\"><\/span>Flora dan Fauna<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>TNWK memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi dan menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna yang langka dan endemik.\u00a0Beberapa jenis flora yang terdapat di TNWK antara lain adalah meranti (Shorea sp.), ramin (Gonystylus bancanus), tengkawang (Shorea pinanga), nyatoh (Palaquium sp.), jambu-jambuan (Syzygium sp.), dan rotan (Calamus sp.).\u00a0Beberapa jenis fauna yang terdapat di TNWK antara lain adalah gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), tapir (Tapirus indicus), beruang madu (Helarctos malayanus), siamang (Hylobates syndactylus), lutung (Trachypithecus cristatus), kukang (Nycticebus coucang), biawak air (Varanus salvator), buaya muara (Crocodylus porosus), elang bondol (Haliastur indus), rangkong gading (Rhinoplax vigil), dan merak hijau (Pavo muticus).<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Wisata_Alam_dan_Budaya\"><\/span>Wisata Alam dan Budaya<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>TNWK menawarkan berbagai macam kegiatan wisata alam dan budaya yang menarik dan edukatif bagi para pengunjung. Beberapa kegiatan wisata alam yang bisa dilakukan di TNWK antara lain adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Mengunjungi Pusat Latihan Gajah (PLG) atau Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang merupakan sekolah gajah pertama di Indonesia yang didirikan pada tahun 1985. Di sini, pengunjung bisa melihat gajah-gajah yang telah dilatih untuk berbagai keperluan seperti patroli, transportasi, atau atraksi. Pengunjung juga bisa berinteraksi dengan gajah-gajah dengan memberi makan, menyikat, atau bahkan menungganginya.<\/li>\n<li>Mengunjungi Pusat Konservasi Badak Sumatera (PKBS) yang merupakan pusat penangkaran dan perlindungan badak Sumatera yang terancam punah<sup>1<\/sup>. Di sini, pengunjung bisa melihat badak-badak yang dirawat dan dibesarkan di kandang-kandang khusus. Pengunjung juga bisa belajar tentang kehidupan dan ancaman yang dihadapi oleh badak Sumatera.<\/li>\n<li>Mengunjungi Pusat Informasi Satwa Liar (PISL) yang merupakan pusat edukasi dan informasi tentang satwa liar yang ada di TNWK. Di sini, pengunjung bisa melihat berbagai koleksi spesimen, foto, video, dan papan informasi tentang satwa liar. Pengunjung juga bisa berinteraksi dengan petugas dan peneliti yang bekerja di TNWK.<\/li>\n<li>Menyaksikan atraksi gajah di PLG atau PKG yang dilakukan setiap hari pada pukul 10.00 dan 15.00. Pengunjung bisa menyaksikan gajah-gajah yang menampilkan berbagai keahlian seperti bermain bola, bermain harmonika, melukis, atau menari. Pengunjung juga bisa berfoto bersama gajah-gajah yang jinak dan ramah.<\/li>\n<li>Menikmati keindahan alam di TNWK dengan melakukan kegiatan seperti berkemah, penelusuran hutan, pengamatan kehidupan liar, atau outbound training. Pengunjung bisa merasakan sensasi bermalam di tengah hutan dengan mendengar suara-suara binatang. Pengunjung juga bisa menjelajahi hutan dengan dipandu oleh petugas atau pemandu lokal. Pengunjung juga bisa mengamati berbagai jenis satwa liar yang hidup di TNWK dengan menggunakan alat bantu seperti teropong atau kamera. Pengunjung juga bisa mengasah kemampuan diri dengan melakukan outbound training yang melibatkan permainan-permainan seru dan menantang.<\/li>\n<li>Mengenal budaya lokal di sekitar TNWK dengan mengunjungi desa-desa penyangga kawasan seperti Braja Harjosari, Braja Asri, Way Kanan, atau Margahayu. Pengunjung bisa melihat kehidupan masyarakat lokal yang hidup harmonis dengan alam dan satwa liar. Pengunjung juga bisa belajar tentang adat istiadat, kesenian, kerajinan tangan, atau kuliner khas daerah tersebut.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Alamat_dan_Rute_Lokasi\"><\/span>Alamat dan Rute Lokasi<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>TNWK berada di Jl.\u00a0Taman Nasional Way Kambas, Labuhan Ratu, Lampung Timur, Lampung. Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung bisa menggunakan berbagai moda transportasi sebagai berikut:<\/p>\n<ul>\n<li>Dari Bandar Lampung, pengunjung bisa menggunakan bus jurusan Metro-Bandar Jaya dengan tarif sekitar Rp 20.000-Rp 25.000 per orang.\u00a0Setelah sampai di Terminal Bandar Jaya, pengunjung bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek atau angkot jurusan Labuhan Ratu dengan tarif sekitar Rp 10.000-Rp 15.000 per orang.\u00a0Setelah sampai di Labuhan Ratu, pengunjung bisa menggunakan ojek lagi untuk menuju ke pintu masuk TNWK dengan tarif sekitar Rp 20.000-Rp 25.000 per orang.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Dari Jakarta, pengunjung bisa menggunakan pesawat terbang menuju Bandara Radin Inten II di Lampung Selatan dengan tarif sekitar Rp 300.000-Rp 500.000 per orang.\u00a0Setelah sampai di bandara, pengunjung bisa menggunakan taksi atau bus Damri menuju ke Terminal Rajabasa dengan tarif sekitar Rp 50.000-Rp 100.000 per orang. Setelah sampai di terminal, pengunjung bisa mengikuti rute yang sama seperti dari Bandar Lampung.<\/li>\n<li>Dari Palembang, pengunjung bisa menggunakan kereta api menuju Stasiun Kertapati dengan tarif sekitar Rp 50.000-Rp 100.000 per orang.\u00a0Setelah sampai di stasiun, pengunjung bisa menggunakan bus atau travel menuju ke Terminal Rajabasa dengan tarif sekitar Rp 100.000-Rp 150.000 per orang. Setelah sampai di terminal, pengunjung bisa mengikuti rute yang sama seperti dari Bandar Lampung.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Tips_Berkunjung_ke_Taman_Nasional_Way_Kambas\"><\/span>Tips Berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Untuk membuat kunjungan ke TNWK menjadi lebih menyenangkan dan aman, berikut adalah beberapa tips yang bisa dipertimbangkan:<\/p>\n<ul>\n<li>Membawa perlengkapan yang sesuai dengan kegiatan yang ingin dilakukan, seperti tenda, sleeping bag, obat-obatan, senter, kamera, teropong, pakaian ganti, dan lain-lain.<\/li>\n<li>Mematuhi peraturan dan petunjuk yang ada di kawasan TNWK, seperti tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak tanaman atau mengganggu satwa liar, tidak membawa senjata api atau benda tajam, tidak membawa hewan peliharaan, dan lain-lain.<\/li>\n<li>Menghormati budaya dan adat istiadat masyarakat lokal yang tinggal di sekitar TNWK, seperti tidak berpakaian terlalu terbuka, tidak mengambil barang-barang milik warga tanpa izin, tidak membuat keributan atau kegaduhan, dan lain-lain.<\/li>\n<li>Memanfaatkan jasa pemandu lokal yang berpengalaman dan mengetahui kondisi kawasan TNWK dengan baik, terutama untuk kegiatan penelusuran hutan atau pengamatan kehidupan liar.<\/li>\n<li>Membuat reservasi terlebih dahulu jika ingin menginap di penginapan yang tersedia di TNWK atau di sekitar kawasan tersebut.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Taman Nasional Way Kambas (TNWK) adalah salah satu taman nasional tertua di Indonesia yang berada di daerah Lampung, tepatnya di Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur.\u00a0Taman&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":33514,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-33526","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33526","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33526"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33526\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}