{"id":33205,"date":"2023-04-20T08:21:33","date_gmt":"2023-04-20T01:21:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=33205"},"modified":"2023-04-20T08:21:33","modified_gmt":"2023-04-20T01:21:33","slug":"perbedaan-rukyah-dan-hisab","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/perbedaan-rukyah-dan-hisab\/","title":{"rendered":"Perbedaan Rukyah dan Hisab"},"content":{"rendered":"<p>Rukyah dan hisab adalah dua metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah, khususnya bulan yang berkaitan dengan ibadah seperti Ramadhan, Syawwal, dan Zulhijjah. Namun, apa sebenarnya perbedaan antara rukyah dan hisab? Berikut ini adalah penjelasannya.<\/p>\n<p>Rukyah adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yaitu bulan sabit muda yang tampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak (konjungsi) antara matahari dan bulan.\u00a0Rukyah dilakukan dengan mata telanjang atau alat bantu optik seperti teleskop setelah matahari terbenam.\u00a0Tujuan rukyah adalah untuk memverifikasi hasil hisab secara faktual.<\/p>\n<p>Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan pada kalender Hijriah.\u00a0Hisab dapat dilakukan dengan berbagai metode dan kriteria yang berbeda-beda, tergantung pada pilihan penggunanya.\u00a0Salah satu kriteria yang sering digunakan adalah imkan rukyat, yaitu kemungkinan bisa dirukyat atau keterlihatan hilal secara astronomi.<\/p>\n<p>Kedua metode ini saling berkaitan dan saling menguatkan.\u00a0Rukyah tidak bisa dilakukan tanpa bantuan hisab yang baik untuk mengetahui kapan dan di mana harus mengamati hilal.\u00a0Hisab juga perlu diverifikasi oleh rukyah untuk memastikan kebenaran perhitungannya.\u00a0Keduanya merupakan cara untuk menentukan awal bulan yang tidak bisa dinafikan.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rukyah dan hisab adalah dua metode yang digunakan untuk menentukan awal bulan dalam kalender Hijriah, khususnya bulan yang berkaitan dengan ibadah seperti Ramadhan, Syawwal, dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-33205","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33205","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33205"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33205\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33205"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33205"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33205"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}