{"id":32681,"date":"2023-03-27T15:34:07","date_gmt":"2023-03-27T08:34:07","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=32681"},"modified":"2023-03-27T15:34:07","modified_gmt":"2023-03-27T08:34:07","slug":"hukum-ketika-seseorang-pingsan-saat-berpuasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-ketika-seseorang-pingsan-saat-berpuasa\/","title":{"rendered":"Hukum Ketika Seseorang Pingsan Saat Berpuasa"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-ketika-seseorang-pingsan-saat-berpuasa\/#Pingsan_sehari_penuh\" >Pingsan sehari penuh<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-ketika-seseorang-pingsan-saat-berpuasa\/#Pingsan_tidak_sehari_penuh\" >Pingsan tidak sehari penuh<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Puasa adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh umat Islam di bulan Ramadhan. Puasa memiliki banyak manfaat baik secara fisik maupun spiritual. Namun, ada beberapa hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, bersetubuh, dan lain-lain. Lalu, bagaimana dengan pingsan? Apakah pingsan saat berpuasa dapat membatalkan puasa?<\/p>\n<p>Pingsan adalah kondisi di mana seseorang menjadi hilang kesadaran karena kurangnya aliran darah ke otak. Penyebab pingsan bisa bermacam-macam, antara lain dehidrasi, kondisi psikologis, shock, obat, gangguan detak jantung, dan alkohol. Pingsan dapat terjadi kapan saja dan kepada siapa saja, termasuk orang yang sedang berpuasa.<\/p>\n<p>Menurut para ulama, hukum pingsan saat berpuasa tergantung pada lamanya pingsan dan kesadaran orang yang pingsan. Ada dua kemungkinan yang dapat terjadi:<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pingsan_sehari_penuh\"><\/span>Pingsan sehari penuh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ini adalah kondisi di mana seseorang pingsan sejak sebelum fajar hingga terbenam matahari atau selama waktu diwajibkannya puasa. Menurut pendapat mayoritas ulama dari mazhab Maliki, Syafi\u2019i, dan Hanbali, puasa orang yang pingsan sehari penuh tidak sah dan wajib mengganti (qadha) di hari lain. Alasannya adalah karena orang yang pingsan sehari penuh tidak memiliki niat untuk berpuasa secara sengaja dan tidak menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.<\/p>\n<p>Dalil yang digunakan oleh ulama ini adalah hadis qudsi berikut:<\/p>\n<p>\u064a\u064e\u062a\u0652\u0631\u064f\u0643\u064f \u0637\u064e\u0639\u064e\u0627\u0645\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0634\u064e\u0631\u064e\u0627\u0628\u064e\u0647\u064f \u0648\u064e\u0634\u064e\u0647\u0652\u0648\u064e\u062a\u064e\u0647\u064f \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u062c\u0652\u0644\u0650\u064a<\/p>\n<p>\u201cOrang yang berpuasa ini meninggalkan makan, minum, serta syahwatnya karena-Ku.\u201d (HR. Bukhari dan Muslim)<\/p>\n<p>Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang berpuasa harus memiliki kesengajaan untuk meninggalkan hal-hal yang membatalkan puasa karena Allah. Sedangkan orang yang pingsan sehari penuh tidak sadar dan tidak memiliki kesengajaan tersebut.<\/p>\n<p>Dalil lain yang digunakan oleh ulama ini adalah ayat berikut:<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646\u0652 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0645\u064e\u0631\u0650\u064a\u0636\u064b\u0627 \u0623\u064e\u0648\u0652 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0633\u064e\u0641\u064e\u0631\u064d \u0641\u064e\u0639\u0650\u062f\u0651\u064e\u0629\u064c \u0645\u0650\u0646\u0652 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064e\u0627\u0645\u064d \u0623\u064f\u062e\u0652\u0631\u064e<\/p>\n<p>\u201cSiapa yang sakit atau dalam kondisi safar (sehingga dia tidak puasa), maka wajib mengqadha di hari yang lain.\u201d (QS. Al-Baqarah: 185)<\/p>\n<p>Ayat ini menunjukkan bahwa siapa saja yang tidak berpuasa karena alasan tertentu, termasuk karena pingsan sehari penuh, maka wajib mengganti puasanya di hari lain.<\/p>\n<p>Adapun pendapat minoritas ulama dari mazhab Hanafi dan sebagian ulama Syafi\u2019i, puasa orang yang pingsan sehari penuh sah dan tidak perlu mengganti. Alasannya adalah karena orang yang pingsan sehari penuh sama dengan orang yang tidur sehingga tidak mempengaruhi puasanya. Selain itu, mereka berpendapat bahwa niat puasa sudah cukup dilakukan di malam hari sebelum fajar.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pingsan_tidak_sehari_penuh\"><\/span>Pingsan tidak sehari penuh<span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>Ini adalah kondisi di mana seseorang pingsan tidak pada seluruh siang atau tidak selama waktu diwajibkannya puasa sehingga ketika tersadar masih terdapat waktu menjalani puasa pada hari tersebut. Menurut pendapat semua ulama dari empat mazhab, puasa orang yang pingsan tidak sehari penuh sah dan tidak perlu mengganti.<\/p>\n<p>Alasannya adalah karena orang yang pingsan tidak sehari penuh masih memiliki kesempatan untuk menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa ketika sadar. Selain itu, mereka juga masih memiliki niat puasa yang tidak terputus oleh pingsan.<\/p>\n<p>Dalil yang digunakan oleh ulama ini adalah pendapat Imam Nawawi berikut:<\/p>\n<p>\u0648\u0623\u0635\u062d \u0627\u0644\u0623\u0642\u0648\u0627\u0644 : \u064a\u0634\u062a\u0631\u0637 \u0627\u0644\u0625\u0641\u0627\u0642\u0629 \u0641\u064a \u062c\u0632\u0621\u064d \u0645\u0646\u0647<\/p>\n<p>\u201cPendapat paling kuat, disyaratkan harus pernah sadar pada siang hari.\u201d (Hasyiyah Ibnu Qosim untuk Ar-Raudhul Murbi\u2019, 3:381)<\/p>\n<p>Pendapat ini menunjukkan bahwa syarat sahnya puasa orang yang pingsan adalah dia harus sadar beberapa saat di siang hari.<\/p>\n<p>Demikianlah penjelasan tentang hukum pingsan saat berpuasa. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan kita tentang puasa. Aamiin.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puasa adalah salah satu ibadah yang wajib dilakukan oleh umat Islam di bulan Ramadhan. Puasa memiliki banyak manfaat baik secara fisik maupun spiritual. Namun, ada&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-32681","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32681"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32681\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}