{"id":32660,"date":"2023-03-27T10:30:27","date_gmt":"2023-03-27T03:30:27","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=32660"},"modified":"2023-03-27T10:30:27","modified_gmt":"2023-03-27T03:30:27","slug":"batalkah-puasa-orang-yang-tidak-sengaja-makan-dan-minum","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/batalkah-puasa-orang-yang-tidak-sengaja-makan-dan-minum\/","title":{"rendered":"Batalkah Puasa Orang yang Tidak Sengaja Makan dan Minum?"},"content":{"rendered":"<p>Puasa adalah salah satu ibadah wajib bagi umat Islam di bulan Ramadan. Puasa memiliki banyak hikmah dan manfaat, baik secara spiritual maupun kesehatan. Namun, puasa juga memiliki syarat dan rukun yang harus dipenuhi agar sah dan diterima oleh Allah SWT.<\/p>\n<p>Salah satu syarat puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa, seperti makan, minum, berhubungan seks, muntah dengan sengaja, dan lain-lain. Namun, bagaimana jika seseorang tidak sengaja makan atau minum ketika sedang berpuasa? Apakah puasanya batal atau tidak?<\/p>\n<p>Menurut sebagian besar ulama, puasa orang yang tidak sengaja makan atau minum tidak batal, asalkan ia segera berhenti ketika sadar dan tidak menambah jumlah makanan atau minuman yang dikonsumsi. Hal ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim:<\/p>\n<p>\u0639\u0646 \u0623\u0628\u064a \u0647\u0631\u064a\u0631\u0629 \u0631\u0636\u064a \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0646\u0647 \u0642\u0627\u0644: \u0642\u0627\u0644 \u0631\u0633\u0648\u0644 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0635\u0644\u0649 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0639\u0644\u064a\u0647 \u0648\u0633\u0644\u0645: \u0645\u0646 \u0646\u0633\u064a \u0648\u0647\u0648 \u0635\u0627\u0626\u0645 \u0641\u0623\u0643\u0644 \u0623\u0648 \u0634\u0631\u0628 \u0641\u0644\u064a\u062a\u0645 \u0635\u0648\u0645\u0647 \u0641\u0625\u0646\u0645\u0627 \u0623\u0637\u0639\u0645\u0647 \u0627\u0644\u0644\u0647 \u0648\u0633\u0642\u0627\u0647<\/p>\n<p>Dari Abu Hurairah radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: \u201cBarangsiapa lupa sedang berpuasa lalu ia makan atau minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.\u201d (HR. al-Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155)<\/p>\n<p>Hadis ini menunjukkan bahwa orang yang lupa sedang berpuasa tidaklah termasuk dalam kategori orang yang sengaja membatalkan puasanya.\u00a0Oleh karena itu, ia tidak perlu mengqadha atau membayar kafarat (denda) atas kesalahannya.\u00a0Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama dari kalangan madzhab Hanafi, Maliki, Syafi\u2019i, dan Hanbali.<\/p>\n<p>Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masalah ini:<\/p>\n<ol>\n<li>Orang yang tidak sengaja makan atau minum itu harus benar-benar lupa bahwa dirinya sedang berpuasa. Jika ia hanya pura-pura lupa atau disengaja, maka puasanya menjadi batal.\u00a0Selain itu, sengaja lupa itu dapat menjadi tanda telah melakukan dosa.<\/li>\n<li>Orang yang kelupaan itu harus segera berhenti ketika tersadar bahwa dirinya sedang berpuasa.\u00a0Jika ia melanjutkan makan atau minum setelah sadar, maka puasanya bata.<\/li>\n<li>Jumlah makanan atau minuman yang dikonsumsi juga masih menjadi perbincangan di kalangan ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa jika jumlahnya sedikit, misalnya satu atau dua suap atau teguk, maka puasanya tidak batal.\u00a0Namun jika jumlahnya banyak, misalnya tiga suap atau teguk atau lebih, maka puasanya batal.\u00a0Pendapat ini didasarkan pada alasan bahwa orang yang lupa sampai makan atau minum dalam jumlah banyak adalah hal yang jarang terjadi dan mudah dihindari. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa jumlah makanan atau minuman tidak mempengaruhi hukum puasa orang yang lupa, karena hadis Rasulullah SAW bersifat umum<\/li>\n<li>Tidak ada perbedaan pendapat ulama yang signifikan tentang masalah ini.\u00a0Sebagian besar ulama sepakat bahwa puasa orang yang tidak sengaja makan atau minum tidak batal, asalkan ia segera berhenti ketika sadar dan tidak menambah jumlah makanan atau minuman yang dikonsumsi.\u00a0Hanya ada sedikit perbedaan pendapat tentang jumlah makanan atau minuman yang dapat membatalkan puasa jika dikonsumsi dalam keadaan lupa. Namun, hal ini tidak mengurangi keutamaan puasa dan kewajiban mengikuti hadis Rasulullah SAW yang bersifat umum.<\/li>\n<li>Cara menghindari lupa saat puasa adalah dengan meningkatkan kesadaran dan konsentrasi dalam beribadah. Orang yang berpuasa harus selalu ingat bahwa ia sedang menjalankan perintah Allah SWT dan mengharapkan pahala-Nya.\u00a0Orang yang berpuasa juga harus menjauhi hal-hal yang dapat mengganggu konsentrasinya, seperti bermain game, menonton film, atau mendengarkan musik.\u00a0Selain itu, orang yang berpuasa juga harus memperbanyak membaca Al-Quran, berdzikir, bershalawat, berdoa, dan melakukan amal sholeh lainnya.<\/li>\n<li>Tidak ada doa khusus untuk orang yang lupa saat puasa.\u00a0Namun, orang yang lupa saat puasa dapat bersyukur kepada Allah SWT atas karunia-Nya yang telah memberinya makan dan minum.\u00a0Orang yang lupa saat puasa juga dapat memohon ampun kepada Allah SWT atas kelalaian dan kekhilafannya.\u00a0Orang yang lupa saat puasa juga dapat memperbanyak membaca doa-doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, seperti doa istighfar, doa taubat, doa memohon perlindungan dari syaitan, dan doa-doa lainnya.<\/li>\n<\/ol>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puasa adalah salah satu ibadah wajib bagi umat Islam di bulan Ramadan. Puasa memiliki banyak hikmah dan manfaat, baik secara spiritual maupun kesehatan. Namun, puasa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-32660","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32660","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32660"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32660\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32660"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32660"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32660"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}