{"id":32630,"date":"2023-03-26T11:23:24","date_gmt":"2023-03-26T04:23:24","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=32630"},"modified":"2023-03-26T11:23:24","modified_gmt":"2023-03-26T04:23:24","slug":"hukum-menqadha-puasa-bagi-orang-yang-telah-meninggal-dunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-menqadha-puasa-bagi-orang-yang-telah-meninggal-dunia\/","title":{"rendered":"Hukum Menqadha\u2019 Puasa Bagi Orang yang Telah Meninggal Dunia"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-menqadha-puasa-bagi-orang-yang-telah-meninggal-dunia\/#Pendapat_Pertama_Tidak_Ada_Kewajiban_Apa_Pun\" >Pendapat Pertama: Tidak Ada Kewajiban Apa Pun<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-menqadha-puasa-bagi-orang-yang-telah-meninggal-dunia\/#Pendapat_Kedua_Wajib_Mengqadha_atau_Membayar_Fidyah\" >Pendapat Kedua: Wajib Mengqadha\u2019 atau Membayar Fidyah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-menqadha-puasa-bagi-orang-yang-telah-meninggal-dunia\/#Pendapat_Ketiga_Boleh_Mengqadha_atau_Membayar_Fidyah\" >Pendapat Ketiga: Boleh Mengqadha\u2019 atau Membayar Fidyah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-4'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/hukum-menqadha-puasa-bagi-orang-yang-telah-meninggal-dunia\/#Kesimpulan\" >Kesimpulan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p>Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mukallaf. Namun, ada beberapa hal yang dapat menghalangi seseorang untuk berpuasa, seperti sakit, musafir, haid, nifas, atau pekerja berat. Dalam hal ini, Allah SWT memberikan keringanan kepada mereka untuk tidak berpuasa dan menggantinya di hari lain setelah Ramadhan. Allah SWT berfirman:<\/p>\n<p>\u0648\u064e\u0645\u064e\u0646 \u0643\u064e\u0627\u0646\u064e \u0645\u064e\u0631\u0650\u064a\u0636\u064b\u0627 \u0623\u064e\u0648\u06e1 \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649\u0670 \u0633\u064e\u0641\u064e\u0631\u0656 \u0641\u064e\u0639\u0650\u062f\u0651\u064e\u0629\u065e \u0645\u0651\u0650\u0646\u06e1 \u0623\u064e\u064a\u0651\u064e\u0627\u0645\u064d \u0623\u064f\u062e\u064e\u0631\u064e\u06d7 \u064a\u064f\u0631\u0650\u064a\u062f\u064f \u0671\u0644\u0644\u0651\u064e\u0647\u064f \u0628\u0650\u0643\u064f\u0645\u064f \u0671\u0644\u06e1\u064a\u064f\u0633\u06e1\u0631\u064e \u0648\u064e\u0644\u064e\u0627 \u064a\u064f\u0631\u0650\u064a\u062f\u064f \u0628\u0650\u0643\u064f\u0645\u064f \u0671\u0644\u06e1\u0639\u064f\u0633\u06e1\u0631\u064e<\/p>\n<p>\u201cDan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.\u201d (al-Baqarah; 185)<\/p>\n<p>Namun, bagaimana jika seseorang meninggal dunia sebelum sempat mengqadha\u2019 puasanya? Apakah ada kewajiban bagi ahli warisnya untuk menggantikannya? Atau cukup dengan membayar fidyah? Atau tidak ada tanggung jawab apa pun?<\/p>\n<p>Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Secara umum, ada tiga pendapat utama:<\/p>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendapat_Pertama_Tidak_Ada_Kewajiban_Apa_Pun\"><\/span><strong>Pendapat Pertama: Tidak Ada Kewajiban Apa Pun<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama dari madzhab Malikiyyah, Hanafiyyah, dan Syafi\u2019iyyah (menurut pendapat baru) serta sebagian ulama Hanabilah. Mereka berpendapat bahwa tidak ada kewajiban apa pun bagi ahli waris untuk mengqadha\u2019 puasa orang yang meninggal dunia atau membayar fidyah atas namanya. Alasannya adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Puasa adalah ibadah badaniyah yang tidak dapat diwakilkan oleh orang lain. Hanya orang yang berpuasa sendiri yang mendapatkan pahala dan keutamaannya. Tidak ada dalil yang menunjukkan bahwa puasa dapat digantikan oleh orang lain setelah kematian.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang memiliki waktu tertentu dan tidak dapat ditunda tanpa udzur. Jika seseorang meninggal dunia sebelum sempat mengqadha\u2019 puasanya, maka ia dianggap telah terhalang oleh takdir Allah SWT dan tidak berdosa atasnya.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang bersifat individu dan tidak berkaitan dengan hak orang lain. Tidak ada kewajiban bagi ahli waris untuk menunaikan hutang puasa orang yang meninggal dunia seperti halnya hutang uang atau zakat.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang tidak memiliki nisab atau batas minimal. Tidak ada ketentuan tentang jumlah hari puasa yang harus diganti oleh ahli waris jika mereka ingin melakukannya.<\/li>\n<\/ul>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendapat_Kedua_Wajib_Mengqadha_atau_Membayar_Fidyah\"><\/span><strong>Pendapat Kedua: Wajib Mengqadha\u2019 atau Membayar Fidyah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Pendapat ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi\u2019iyyah (menurut pendapat lama) dan sebagian ulama Hanabilah. Mereka berpendapat bahwa wajib bagi ahli waris untuk mengqadha\u2019 puasa orang yang meninggal dunia atau membayar fidyah atas namanya. Alasannya adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Puasa adalah ibadah yang memiliki kewajiban dan hutang yang harus ditunaikan. Jika seseorang meninggal dunia sebelum sempat mengqadha\u2019 puasanya, maka ia masih memiliki tanggung jawab atasnya dan ahli warisnya harus menyelesaikannya.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang memiliki dalil yang menunjukkan bahwa dapat digantikan oleh orang lain setelah kematian. Dalil-dalil tersebut adalah:\n<ul>\n<li>Hadits dari Ibnu Abbas radliallahu &#8216;anhuma, ia berkata: Seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu \u2018alaihi wasallam dan berkata, \u2018Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia memiliki hutang puasa selama satu bulan. Apakah saya harus membayarkan untuknya?\u201d Beliau menjawab: \u2018Sekiranya ibumu memiliki utang uang, apakah kamu harus membayarnya?\u2019 Laki-laki itu menjawab, \u2018Ya, tentu.\u2019 Beliau bersabda: \u2018Kalau begitu, maka utang kepada Allah adalah lebih berhak untuk dilunasi.\u2019\u201d (HR Muslim)<\/li>\n<li>Hadits dari Aisyah radliallahu &#8216;anha; Bahwa Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam bersabda: \u2018Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki utang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya.\u201d (HR Bukhari, Muslim)<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang berkaitan dengan hak Allah SWT dan juga hak orang lain. Jika seseorang meninggal dunia sebelum sempat mengqadha\u2019 puasanya, maka ia telah menyia-nyiakan hak Allah SWT dan juga hak dirinya sendiri untuk mendapatkan pahala dan keutamaan puasa.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang memiliki nisab atau batas minimal. Jumlah hari puasa yang harus diganti oleh ahli waris adalah sama dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia.<\/li>\n<\/ul>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pendapat_Ketiga_Boleh_Mengqadha_atau_Membayar_Fidyah\"><\/span><strong>Pendapat Ketiga: Boleh Mengqadha\u2019 atau Membayar Fidyah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Pendapat ini adalah pendapat sebagian ulama Syafi\u2019iyyah (menurut pendapat shahih) dan sebagian ulama Hanabilah. Mereka berpendapat bahwa boleh bagi ahli waris untuk mengqadha\u2019 puasa orang yang meninggal dunia atau membayar fidyah atas namanya. Alasannya adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Puasa adalah ibadah yang memiliki kewajiban dan hutang yang harus ditunaikan. Jika seseorang meninggal dunia sebelum sempat mengqadha\u2019 puasanya, maka ia masih memiliki tanggung jawab atasnya dan ahli warisnya boleh menyelesaikannya.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang memiliki dalil yang menunjukkan bahwa dapat digantikan oleh orang lain setelah kematian. Dalil-dalil tersebut adalah hadits-hadits yang telah disebutkan sebelumnya.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang berkaitan dengan hak Allah SWT dan juga hak orang lain. Jika seseorang meninggal dunia sebelum sempat mengqadha\u2019 puasanya, maka ia telah menyia-nyiakan hak Allah SWT dan juga hak dirinya sendiri untuk mendapatkan pahala dan keutamaan puasa. Oleh karena itu, ahli warisnya boleh menggantikannya dengan puasa atau fidyah sebagai bentuk kebaikan dan keutamaan.<\/li>\n<li>Puasa adalah ibadah yang memiliki nisab atau batas minimal. Jumlah hari puasa yang boleh diganti atau dibayar fidyahnya oleh ahli waris adalah sama dengan jumlah hari puasa yang ditinggalkan oleh orang yang meninggal dunia.<\/li>\n<\/ul>\n<h4><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Kesimpulan\"><\/span><strong>Kesimpulan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h4>\n<p>Dari ketiga pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa masalah mengqadha\u2019 puasa bagi orang yang meninggal dunia adalah masalah khilafiyah yang tidak ada dalil yang qath\u2019i atau pasti tentangnya. Oleh karena itu, tidak ada paksaan atau keharusan bagi ahli waris untuk mengikuti salah satu pendapat tertentu. Namun, jika mereka ingin berbuat baik dan mendapatkan pahala, maka mereka boleh mengqadha\u2019 puasa orang yang meninggal dunia atau membayar fidyah atas namanya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT dan kasih sayang kepada orang yang telah tiada.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Puasa Ramadhan adalah salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim yang mukallaf. Namun, ada beberapa hal yang dapat menghalangi seseorang untuk berpuasa,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-32630","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32630","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=32630"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/32630\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=32630"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=32630"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=32630"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}