{"id":31955,"date":"2023-02-18T10:50:45","date_gmt":"2023-02-18T03:50:45","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=31955"},"modified":"2023-02-18T10:50:45","modified_gmt":"2023-02-18T03:50:45","slug":"ekonomi-malaysia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ekonomi-malaysia\/","title":{"rendered":"Ekonomi Malaysia"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Semenanjung Malaya\u00a0dan pastinya\u00a0Asia Tenggara menjadi pusat perdagangan di kawasan selama berabad-abad. Berbagai komoditas seperti keramik\u00a0dan\u00a0rempah\u00a0aktif diperdagangkan bahkan sebelum\u00a0Kesultanan Melaka\u00a0dan\u00a0Singapura\u00a0mengemuka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menara Petronas\u00a0di\u00a0Kuala Lumpur. Pertumbuhan cepat ekonomi dan kemakmuran Malaysia dicirikan oleh\u00a0Menara Petronas, kantor pusat raksasa minyak nasional.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada abad ke-17, mereka didirikan di beberapa negara bagian. Kemudian, sejak\u00a0Britania Raya\u00a0mulai mengambil alih sebagai administrator\u00a0Malaya Britania, pohon\u00a0karet\u00a0dan\u00a0kelapa sawit diperkenalkan untuk tujuan komersial. Di dalam waktu lama, Malaya menjadi penghasil timah, karet, dan minyak sawit terbesar di dunia.\u00a0Tiga komoditas ini, beserta bahan mentah lainnya, mengatur tempo ekonomi Malaysia lebih baik sampai abad ke-20.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sebagai ganti kebergantungan pada Suku Melayu sebagai sumber tenaga kerja, Britania membawa Tionghoa dan orang India untuk bekerja di pertambangan, perkebunan, dan mengisi kekosongan ahli profesional. Kendati banyak dari mereka kembali ke negara asal mereka setelah kontrak dipenuhi, beberapa di antaranya menetap di Malaysia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ketika Malaya bergerak ke arah kemerdekaan, pemerintah mulai menerapkan perencanaan ekonomi lima tahunan, dimulai dengan\u00a0Rencana Lima Tahun Malaya Pertama\u00a0pada 1955. Ketika Malaysia didirikan, istilah perencanaan diganti dan dinomori, dimulai dengan\u00a0Rencana Malaysia Pertama\u00a0pada 1965.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada 1970-an, Malaysia mulai meniru ekonomi\u00a0Empat Macan Asia (Taiwan, Korea Selatan, Hong Kong, dan Singapura) dan berkomitmen kepada transformasi dari ekonomi yang bergantung pada pertambangan dan pertanian ke ekonomi berbasis manufaktur. Dengan investasi Jepang, industri-industri berat mulai dibuka dan beberapa tahun kemudian, ekspor Malaysia menjadi mesin pertumbuhan primer negara ini. Malaysia secara konsisten menerima lebih dari 7% pertumbuhan\u00a0PDB\u00a0disertai dengan\u00a0inflasi\u00a0yang rendah pada 1980-an dan 1990-an. Pada dasarnya, pertumbuhan Malaysia bergantung pada ekspor bahan\u00a0elektronik\u00a0seperti\u00a0chip komputer\u00a0dan sebagainya. Akibatnya, Malaysia merasakan tekanan hebat semasa\u00a0krisis ekonomi\u00a0pada tahun 1998 dan kemerosotan dalam sektor\u00a0teknologi informasi\u00a0pada tahun 2001. KDNK pada tahun 2001 hanya meningkat sebanyak 0,3% disebabkan pengurangan 11% dalam bilangan ekspor tetapi paket perangsang fiskal yang besar telah mengurangi dampak tersebut.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada periode yang sama, pemerintah berupaya mengurangi angka kemiskinan dengan\u00a0Kebijakan Ekonomi Baru Malaysia\u00a0(NEP) yang kontroversial, setelah\u00a0Peristiwa 13 Mei, kerusuhan antar-etnis pada 1969. Tujuan utamanya adalah menghilangkan keterkaitan ras dengan fungsi ekonomi, dan rencana lima tahun pertama mulai menerapkan NEP sebagai\u00a0Rencana Malaysia Kedua. Kejayaan atau kegagalan NEP menjadi bahan perdebatan, kendati secara resmi berakhir pada 1990 dan diganti dengan\u00a0Kebijakan Pembangunan Nasional (NDP). Baru-baru ini banyak debat muncul sekali lagi tentang hasil dan relevansi NEP. Sebagian pihak berdalih bahwa NEP jelas-jelas berjaya menciptakan pengusaha dan tenaga profesional Melayu kelas menengah-atas. Kendati beberapa perbaikan di dalam kekuatan ekonomi Melayu secara umum, pemerintah Malaysia memelihara kebijakan diskriminasi yang menguntungkan Suku Melayu di atas suku lain &#8211; termasuk pengutamaan penerimaan kerja, pendidikan, beasiswa, perdagangan, akses mendapatkan rumah murah dan tabungan yang dibantu.\u00a0Perlakuan khusus ini memicu kecemburuan dan kebencian di antara non-Melayu dan Melayu.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Penguasaan Tionghoa terhadap sektor ekonomi negara yang dimiliki pihak lokal telah banyak diserahkan demi menguntungkan Bumiputra\/Melayu di banyak industri strategis\/penting seperti distribusi turunan minyak bumi, transportasi, pertanian, dan lain-lain. Sebagian besar profesional per kapita masih didominasi orang India-Malaysia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ledakan ekonomi yang cepat memicu macam-macam masalah pemasokan. Sedikitnya tenaga kerja segera dipenuhi dengan mengalirnya jutaan pekerja imigran, banyak di antaranya ilegal.\u00a0PLC\u00a0yang kaya akan modal tunai dan konsorsium bank-bank segera menguntungkan pertambahan dan mencepatnya pemulaian pembangunan projek-projek infrastruktur besar. Ini berakhir ketika\u00a0krisis finansial Asia\u00a01997 melanda pada musim gugur 1997, menghantarkan kejutan besar bagi ekonomi Malaysia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seperti negara lain yang dipengaruhi krisis, terjadi penjualan singkat spekulatif mata uang Malaysia,\u00a0ringgit.\u00a0Penanaman modal asing\u00a0jatuh pada tingkatan yang berbahaya, karena modal menguap ke luar negara, nilai ringgit jatuh dari MYR 2,50 per USD ke, MYR 4,80 per USD. Indeks komposit\u00a0Bursa Malaysia\u00a0terjungkal dari hampir 1.300 poin ke kisaran 400 poin dalam hitungan pekan. Setelah penangkapan kontroversial menteri keuangan\u00a0Anwar Ibrahim, sebuah Dewan Aksi Ekonomi Nasional dibentuk untuk mengantisipasi krisis moneter.\u00a0Bank Negara Malaysia\u00a0menentukan\u00a0pengendalian modal\u00a0dan\u00a0<strong>mematok nilai tukar<\/strong>\u00a0ringgit Malaysia pada 3,80 terhadap dolar Amerika Serikat. Bagaimanapun, Malaysia menolak paket bantuan ekonomi dari\u00a0Dana Moneter Internasional\u00a0(IMF) dan Bank Dunia, tindakan yang mengejutkan analis asing.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada Maret, 2005,\u00a0United Nations Conference on Trade and Development\u00a0(UNCTAD) menerbitkan sebuah makalah tentang sumber-sumber dan langkah pemulihan Malaysia, ditulis oleh Jomo K.S. dari departemen ekonomi terapan,\u00a0Universitas Malaya,\u00a0Kuala Lumpur. Makalah itu menyimpulkan bahwa kontrol yang ditentukan pemerintah Malaysia tidaklah memperparah tidak pula membantu pemulihan. Faktor terbesar adalah menaiknya jumlah ekspor komponen elektronik, yang disebabkan oleh menaiknya permintaan komponen di Amerika Serikat, yang disebabkan oleh kekhawatiran dampak kedatangan tahun 2000 (Y2K) pada komputer dan perangkat digital lain yang lebih tua.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tetapi, pasca-memudarnya Y2K pada 2001 tidak memengaruhi Malaysia seperti banyak negara lain. Ini menjadi bukti yang lebih jelas bahwa ada sebab-sebab dan dampak-dampak lain yang mungkin lebih bersesuaian untuk pemulihan. Satu kemungkinan adalah bahwa para spekulan mata uang mengalami kebangkrutan keuangan setelah jatuh di dalam aksi serang mereka terhadap\u00a0dolar Hong Kong\u00a0pada Agustus 1998 dan setelah rubel Rusia tumbang. (Lihat\u00a0George Soros)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tanpa memperhatikan sebab dan akibat klaim, peremajaan ekonomi juga bergulir dengan defisit anggaran dan belanja pemerintah besar-besaran pada tahun-tahun setelah krisis. Kemudian, Malaysia menikmati pemulihan ekonomi lebih cepat dibandingkan dengan jiran-jirannya. Bagaimanapun, di banyak cara negara ini belum mengalami kepulihan pada tingkatan pra-krisis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sementara langkah pembangunan kini tidak secepat dulu, tetapi terasa lebih stabil. Kendati kontrol dan penjagaan ekonomi bukan menjadi alasan utama pemulihan, tidak ada keraguan bahwa sektor perbankan menjadi lebih kenyal terhadap serangan luar negara. Akun saat ini berada di surplus struktural, memberikan bantalan bagi pengambangan modal. Harga-harga aset kini, fraksi dari ketinggian pra-krisis mereka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Malaysia mempunyai sejumlah elemen makroekonomi yang stabil (di mana tingkat\u00a0inflasi\u00a0dan tingkat\u00a0pengangguran\u00a0tetap di bawah 3%), simpanan pertukaran uang asing yang sehat, dan utang luar negeri yang rendah. Ini memungkinkan Malaysia untuk tidak mengalami krisis yang sama seperti\u00a0Krisis finansial Asia\u00a0pada tahun 1997. Walau bagaimanapun, prospek jangka panjang kelihatan kurang baik disebabkan kurangnya perubahan dalam sektor\u00a0badan hukum\u00a0terutama sektor yang berurusan dengan utang korporat yang tinggi dan kompetitif.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Nilai tukar yang dipatok dibuka kembali pada Juli 2005 untuk\u00a0nilai tukar mengambang yang terawasi setelah satu jam pemberlakuan yang sama oleh Tiongkok.\u00a0Pada pekan yang sama, ringgit menguat satu persen dibandingkan mata uang utama lainnya dan diharapkan akan mengalami apresiasi lebih jauh. Tetapi pada Desember 2005, harapan apresiasi lebih jauh menjadi bisu karena\u00a0aliran modal\u00a0melampaui USD 10 miliar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada September 2005, Howard J. Davies, direktur\u00a0London School of Economics, di dalam sebuah pertemuan di\u00a0Kuala Lumpur, memperingatkan para pejabat Malaysia bahwa jika mereka ingin pasar modal fleksibel kembali, mereka harus mencabut larangan penjualan singkat. Pada Maret 2006, Malaysia mencabut larangan penjualan singkat.\u00a0Kini, Malaysia dipandang sebagai\u00a0negara industri baru.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semenanjung Malaya\u00a0dan pastinya\u00a0Asia Tenggara menjadi pusat perdagangan di kawasan selama berabad-abad. Berbagai komoditas seperti keramik\u00a0dan\u00a0rempah\u00a0aktif diperdagangkan bahkan sebelum\u00a0Kesultanan Melaka\u00a0dan\u00a0Singapura\u00a0mengemuka. Menara Petronas\u00a0di\u00a0Kuala Lumpur. Pertumbuhan cepat ekonomi&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-31955","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31955","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31955"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31955\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31955"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31955"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31955"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}