{"id":31953,"date":"2023-02-18T10:48:33","date_gmt":"2023-02-18T03:48:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=31953"},"modified":"2023-02-18T10:48:33","modified_gmt":"2023-02-18T03:48:33","slug":"sejarah-malaysia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/sejarah-malaysia\/","title":{"rendered":"Sejarah Malaysia"},"content":{"rendered":"<p style=\"font-weight: 400;\">Terdapat banyak kerajaan Tiongkok dan India pada abad ke-2 dan ke-3\u00a0Masehi\u2014sebanyak 30 buah menurut sumber Tiongkok. Kedah\u2014dikenal sebagai Kedaram, Cheh-Cha (menurut I-Ching), atau Kataha di dalam tulisan\u00a0Palawa\u00a0atau bahasa\u00a0Sanskerta\u00a0kuno\u2014berada di jalur serbuan pedagang dan raja India.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Rajendra\u00a0Chola,\u00a0Kaisar\u00a0Tamil\u00a0kuno\u00a0yang diduga berada di sekitar\u00a0Kota Gelanggi, menjadikan Kedah tunduk pada 1025, tetapi penggantinya,\u00a0Vira Rajendra Chola, harus melumpuhkan pemberontakan Kedah untuk mengatasi para penyerbu. Kedatangan Chola berhasil meredam keagungan\u00a0Sriwijaya, yang memberi pengaruh besar kepada Kedah dan\u00a0Pattani\u00a0bahkan sampai ke\u00a0Ligor.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kerajaan Buddha,\u00a0Ligor\u00a0mengambil kendali Kedah segera setelahnya, dan rajanya,\u00a0Chandrabhanu\u00a0menggunakan tempat ini sebagai basis untuk menyerang\u00a0Sri Lanka\u00a0pada abad ke-11, sebuah peristiwa yang dipahat di atas\u00a0prasasti\u00a0batu di Nagapattinum di\u00a0Tamil Nadu\u00a0dan di dalam kisah-kisah bangsa Sri Lanka,\u00a0<em>Mahavamsa<\/em>. Selama milenium pertama, masyarakat di Semenanjung Malaya mengadopsi\u00a0Hindu\u00a0dan\u00a0Buddha\u00a0dan penggunaan bahasa\u00a0Sanskerta\u00a0hingga mereka beralih kepada\u00a0Islam.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa laporan dari wilayah lain yang lebih tua dari Kedah\u2014misalnya kerajaan kuno\u00a0Gangga Negara, di sekitar\u00a0Beruas\u00a0di\u00a0Perak, mendorong sejarah Malaysia lebih jauh ke belakang. Jika itu belum cukup, sebuah puisi Tamil,\u00a0<em>Pattinapillai<\/em>, dari abad ke-2 M, menjelaskan barang-barang dari Kadaram menumpuk di jalanan ibukota Chola. Sebuah drama sanskerta dari abad ke-7,\u00a0<em>Kaumudhimahotsva<\/em>, merujuk Kedah sebagai Kataha-nagari.\u00a0<em>Agnipurana<\/em>\u00a0juga menyebutkan sebuah daerah yang dikenal Anda-Kataha dengan salah satu batasnya menggambarkan sebuah puncak gunung, yang diyakini para sarjana sebagai Gunung Jerai. Kisah-kisah dari\u00a0<em>Katasaritasagaram<\/em>\u00a0menjelaskan kemewahan hidup di Kataha.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Gedung Sultan Abdul Samad\u00a0di Kuala Lumpur, kompleks\u00a0Pengadilan Tinggi Malaysia\u00a0dan Pengadilan Perdagangan. Kuala Lumpur adalah ibukota Negara-negara Melayu Bersekutu dan ibukota Malaysia saat ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada permulaan abad ke-15,\u00a0Kesultanan Melaka\u00a0didirikan di bawah sebuah dinasti yang didirikan oleh\u00a0Parameswara, pangeran dari\u00a0Palembang, Indonesia, di dalam kerajaan Sriwijaya. Penaklukan memaksa dia dan pendukungnya melarikan diri dari Palembang. Untuk menghindari penganiayaan, Parameswara berlayar ke\u00a0Temasek\u00a0demi mendapatkan perlindungan\u00a0Temagi, seorang penghulu Melayu dari\u00a0Pattani\u00a0yang ditunjuk oleh Raja\u00a0Siam\u00a0sebagai\u00a0bupati\u00a0Temasek. Beberapa hari kemudian, Parameswara membunuh Temagi dan mengangkat dirinya sendiri sebagai bupati. Kira-kira lima tahun kemudian, dia meninggalkan Temasek karena ancaman dari Siam. Selama periode ini, Temasek juga diserang oleh serombongan armada\u00a0Jawa\u00a0dari\u00a0Majapahit.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dia kemudian memimpin ke utara untuk mendirikan permukiman baru. Di\u00a0Muar, Parameswara berkehendak mendirikan kerajaan barunya di Biawak Busuk atau di Kota Buruk. Mengetahui lokasi Muar tidaklah cocok, dia meneruskan perjalanannya ke utara. Di sepanjang jalan, dia mengunjungi Sening Ujong (nama lama untuk Sungai Ujong modern) sebelum sampai di sebuah perkampungan nelayan di bibir Sungai Bertam (nama lama untuk Sungai Melaka modern). Tempat itu lambat laun berkembang menjadi lokasi\u00a0Melaka\u00a0masa kini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut\u00a0<strong>Sejarah Melayu<\/strong>, di situlah dia menyaksikan kancil mengecoh anjing ketika berteduh di bawah pohon Melaka. Dia mengambil apa yang dia lihat sebagai pertanda yang baik dan kemudian dia mendirikan sebuah kerajaan yang disebut Melaka, kemudian dia membangun dan memperbaiki fasilitas untuk tujuan perdagangan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peralihan agama Parameswara ke Islam tidaklah jelas. Sabri Zain mengemukakan, Parameswara menjadi seorang Muslim ketika dia menikahi seorang Puteri Samudera Pasai dan menyertakan gelar bergaya Persia &#8220;Syah&#8221;, dengan menyebut dirinya Iskandar Syah . Juga ada referensi yang menunjukkan bahwa beberapa anggota kelas penguasa dan komunitas saudagar yang menetap di Melaka telah menjadi Muslim. Kisah-kisah Tiongkok menyebutkan bahwa pada 1414, putera penguasa pertama Melaka mengunjungi\u00a0Ming\u00a0untuk mengabari mereka bahwa ayahnya telah wafat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Putera Parameswara diakui secara resmi sebagai penguasa kedua Melaka oleh Kaisar Tiongkok dan bergelar Raja Sri Rama Vikrama, Raja Parameswara dari Temasik dan Melaka dan dia dikenal sebagai tokoh Muslim Sultan Sri Iskandar Zulkarnain Syah atau\u00a0Sultan Megat Iskandar Syah, dan dia menguasai Melaka dari 1414 sampai 1424. Kerajaan ini menguasai wilayah yang sekarang ini disebut Semenanjung Malaya, selatan\u00a0Thailand\u00a0(Pattani, dan pantai timur\u00a0Sumatera. Kerajaan ini berlangsung selama lebih dari satu abad, dan dalam periode tersebut menyebarkan\u00a0Islam\u00a0ke seluruh\u00a0Nusantara.\u00a0Melaka, sebagai pelabuhan perdagangan penting, terletak hampir di tengah-tengah rute perdagangan Tiongkok dan India.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada 1511, Melaka ditaklukkan oleh\u00a0Portugal, yang mendirikan sebuah koloni di sana; maka berakhirlah\u00a0Kesultanan Melaka. Tetapi,\u00a0Sultan\u00a0terakhir melarikan diri ke\u00a0Kampar,\u00a0Riau,\u00a0Sumatera\u00a0dan meninggal di sana. Putera-putera Sultan Melaka terakhir mendirikan dua kesultanan di tempat lain di semenanjung &amp; mdash;\u00a0Kesultanan Perak\u00a0di utara, dan\u00a0Kesultanan Johor\u00a0(mulanya kelanjutan kesultanan\u00a0Melaka\u00a0kuno) di selatan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Setelah jatuhnya Melaka, tiga negara berjuang menguasai\u00a0Selat Malaka: Portugis (di Melaka), Kesultanan Johor, dan\u00a0Kesultanan Aceh. Konflik ini berlangsung sampai tahun 1641, ketika\u00a0Belanda\u00a0(bersekutu dengan Kesultanan Johor) untuk merebut Melaka.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari\u00a0Kesultanan Malaka\u00a0tua, tapi sekarang dikenal dengan nama\u00a0Kesultanan Johor, yang masih ada sampai sekarang. Setelah jatuhnya\u00a0Melaka, tiga negara berebut untuk mengambil kontrol\u00a0Selat Malaka:\u00a0Portugis\u00a0(di Malaka), Kesultanan Johor, dan\u00a0Kesultanan Aceh; dan peperangan berakhir pada\u00a01641, ketika\u00a0Belanda\u00a0(bersekutu dengan Kesultanan Johor) merebut Malaka.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terdapat banyak kerajaan Tiongkok dan India pada abad ke-2 dan ke-3\u00a0Masehi\u2014sebanyak 30 buah menurut sumber Tiongkok. Kedah\u2014dikenal sebagai Kedaram, Cheh-Cha (menurut I-Ching), atau Kataha di&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-31953","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31953","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31953"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31953\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31953"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31953"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31953"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}