{"id":31811,"date":"2023-01-16T10:26:51","date_gmt":"2023-01-16T03:26:51","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=31811"},"modified":"2023-01-16T10:26:51","modified_gmt":"2023-01-16T03:26:51","slug":"pengertian-maqamat-ahwal-manazil-madarij-dan-hubungan-dengan-aspek-kejiwaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-maqamat-ahwal-manazil-madarij-dan-hubungan-dengan-aspek-kejiwaan\/","title":{"rendered":"Pengertian Maqamat, Ahwal, Manazil, Madarij Dan Hubungan Dengan Aspek Kejiwaan"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-maqamat-ahwal-manazil-madarij-dan-hubungan-dengan-aspek-kejiwaan\/#Maqamat\" >Maqamat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-maqamat-ahwal-manazil-madarij-dan-hubungan-dengan-aspek-kejiwaan\/#Ahwal\" >Ahwal<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-maqamat-ahwal-manazil-madarij-dan-hubungan-dengan-aspek-kejiwaan\/#Manazil\" >Manazil<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-maqamat-ahwal-manazil-madarij-dan-hubungan-dengan-aspek-kejiwaan\/#Madarij\" >Madarij<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-maqamat-ahwal-manazil-madarij-dan-hubungan-dengan-aspek-kejiwaan\/#Hubungan_dengan_aspek_kejiwaan\" >Hubungan dengan aspek kejiwaan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Maqamat\"><\/span><em><strong>Maqamat<\/strong><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Secara harfiah Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat kepada Allah. Dalam bahasa inggris Maqamat dikenal dengan istilah stages yang artinya tangga. Sedangkan dalam ilmu tasawuf maqamat berarti keddudukan hamba dalam pandangan Allah berdasarkan apa yang telah diusahakan, baik melalui Riyadhah, Ibadah, maupun mujahadah[1].<\/p>\n<p><em>Maqamat<\/em> adalah bentuk jamak dari kata <em>maqam<\/em>, yang secara terminologi berarti tingkatan, posisi, stasiun, lokasi. Secara terminologi <em>Maqam<\/em>at bermakna kedudukan spiritual atau <em>Maqam<\/em>at adalah stasiun-stasiun yang harus dilewati oleh para pejalan spiritual (<em>salik<\/em>) sebelum bisa mencapai ujung perjalanan[2]. Menurut menurut As-Sarraj ath-Thusi, maqomah terdiri dari tujuh tingkatan, Yaitu <em>Taubat, Wara\u2019, Zuhud, Faqr, Sabar, Ridha Dan Tawaka<\/em><em>l.<\/em><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ahwal\"><\/span><em><strong>Ahwal<\/strong><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p>Ahwal adalah bentuk jama\u2019 dari kata hal, yang berarti kondisi mental atau situasi kejiwaan yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia Allah, bukan hasil dari usahanya.Hal bersifat sementara, datang dan pergi ;datang dan pergi bagi seorang sufi dalam perjalananya mendekati Tuhan. Dalam penentuan hal juga terdapat perbedaan pendapat dikalangan kaum sufi. Adapun akhwal yang paling banyak disepakati adalah; <em>al-muroqobah, al-khauf, ar-raja\u2019, ath-thuma\u2019minah, al musyahadah dan al yaqin<strong>[3]<\/strong>..<\/em><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Manazil\"><\/span><em><strong>Manazil<\/strong><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><em><strong>Manazil <\/strong><\/em><em>adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh seseorang muslim dalam pengamalan agamanya secara bertahap dan bertingkst \u2013 tingkat dengan melalui tahapan \u2013 tahapan itu dapat menghantarkannya ke tingkat yang tertinggi dalam perjalanan hidupnya yaiitu kepada Allah swt<\/em>[4]<em>. Manazil yang harus ditempuh oleh para sufi berjumlah sepuluh macam, setiap satu manazil terbagi sepuluh manazil pula, sehingga berjumlah seratus manazil.<\/em><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Madarij\"><\/span><em><strong>Madarij<\/strong><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><em><strong>Madarij <\/strong><\/em><em>\u00a0artinya tingkatan atau tahapan \u2013 tahapan yang dilalui oleh yang berjalan (para sufi) kepada Allah swt<\/em>[5]<em>.<\/em><\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Hubungan_dengan_aspek_kejiwaan\"><\/span><em><strong>Hubungan dengan aspek kejiwaan<\/strong><\/em><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p><em>Untuk dapat merasakan berada lebih dekat pada Tuhan, untuk membersihkan batin dari kotoran \u2013 kotoran yang selama ini menodai batin, dan menerapkan<strong> TAKHALLAQU BI AKHLAQI ALLAH<\/strong>&#8211; berakhlak dengan akhlak Allah, di dalam kehidupannya, seorang sufi harus menempuh jalan panjang dan mempunyai tingkatan. Tingkatan \u2013 tingkatan yang harus dilalui seorang sufi atau seorang yang akan menempuh jalan sufi ini disebut dengan bermacam nama dan istilah, diantaranya maqamat, manazil, masalik, dan madarij. Yang arti dan tujuannya sama. Setiap tokoh sufi berbeda dalam menentukan tingkatan \u2013 tingkatan yang harus dilalui<\/em>[6]<em>. <\/em><\/p>\n<p><em>Jadi, Hubungan kesemua tingkatan (mahqamat,ahwal, manazil dan madarij) dengan aspek kejiwaan adalah :<\/em><\/p>\n<p>Dalam pandangan akum sufi, akhlak dan sifat seseorang bergantung pada jenis jiwa yang berkuasa atas dirinya. Jika yang berkuasa dalam tubuhnya adalah nafsu-nafsu hewani atau nabati, perilaku yang tampiladalah perilaku hewani atau nabati pula. Sebaliknya, jika yang berkuasa adalah nafsu insani, yang tampil adalah perilaku insani pula.<\/p>\n<p>Kalau para sufi menekankan unsur kejiwaan dalam konsepsi tentang manusia, berarti bahwa hakikat, zat, dan inti kehidupan manusia terletak pada unsur spiritual atau kejiwaannya. Ditekankannya unsur jiwa dalam konsepsi tasawuf tidaklah berarti bahwa para sufi mengabaikan unsur jasmani manusia. Unsur ini juga mereka pentingkan karena rohani sangat memerlukan jasmani dalam melaksanakan kewajibannya beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah-Nya di bumi. seseorang tidak akan mungkin sampai kepada Allah dan beramal dengan baik dan sempurna selama jasmaninya tidak sehat. Kehidupan jasmani yang sehat merupakan jalan kepada kehidupan rohani yang baik. Pandangan kaum sufi mengenai jiwa berhubungan erat dengan ilmu kesehatan mental, yang merupakan bagian dari ilmu jiwa (Psikologi).<\/p>\n<p>[1] Fathuliah Gulen, <em>Kunci \u2013 Kunci Rahasia Sufi, <\/em>Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada, 2001, hal 50.<\/p>\n<p>[2] Simuh, <em>Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam, <\/em>Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, hal. 49<\/p>\n<p>[3] Media Zainul Bahri, <em>Menembus Tirai Kesendirian-Nya, <\/em>Jakarta : Prenada Media, 2005, hal 37.<\/p>\n<p>[4] yamsul Bahri, <em>Tasawuf Abd al-Rauf Singkel Dalam Tanbih Al-Masyi, <\/em>\u00a0(Padang : Hayfa\u00a0 Press, 2012), hal.129.<\/p>\n<p>[5] <em>Ibid : <\/em>hal 130.<\/p>\n<p>[6] <em>Ibid : <\/em>hal 131.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Maqamat Secara harfiah Maqamat berasal dari bahasa Arab yang berarti tempat orang berdiri atau pangkal mulia. Istilah ini selanjutnya digunakan untuk arti sebagai jalan panjang&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-31811","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31811","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31811"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31811\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31811"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31811"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31811"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}