{"id":31445,"date":"2023-01-06T21:54:23","date_gmt":"2023-01-06T14:54:23","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=31445"},"modified":"2023-01-06T21:54:23","modified_gmt":"2023-01-06T14:54:23","slug":"syarat-syarat-sah-membaca-surat-al-fatihah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/syarat-syarat-sah-membaca-surat-al-fatihah\/","title":{"rendered":"Syarat-syarat sah membaca surat al-Fatihah"},"content":{"rendered":"<p>Membaca Surat Al-Fatihah merupakan rukun qauli dalam shalat yang harus dipenuhi agar shalat dianggap sah. Menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadrami dalam kitab <em>Saf\u00eenatun Naj\u00e2<\/em>, terdapat sepuluh syarat yang harus dipenuhi saat membaca Surat Al-Fatihah dalam shalat:<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Tartib (Berurutan)<\/strong>: Membaca ayat-ayat Surat Al-Fatihah sesuai dengan urutan yang terdapat dalam Al-Qur&#8217;an, tanpa mengubah susunannya.<\/li>\n<li><strong>Muwalah (Berturut-turut)<\/strong>: Membaca Surat Al-Fatihah secara berkesinambungan tanpa diselingi oleh ucapan atau diam yang tidak berkaitan dengan shalat. Jika terhenti karena alasan tertentu seperti bersin dan mengucapkan &#8220;Alhamdulillah&#8221;, maka bacaan harus diulang dari awal.<\/li>\n<li><strong>Memperhatikan Makhraj Huruf dan Tasydid<\/strong>: Mengucapkan setiap huruf dengan tepat sesuai makhrajnya dan tidak mengabaikan tasydid yang terdapat dalam Surat Al-Fatihah. Terdapat 14 tasydid dalam Surat Al-Fatihah yang harus diperhatikan.<\/li>\n<li><strong>Tidak Terputus Lama atau Sengaja Memutus Bacaan<\/strong>: Tidak berhenti lama di tengah bacaan tanpa alasan yang dibenarkan, atau berhenti sebentar dengan niat memutus bacaan. Jika terhenti karena lupa atau kelelahan, hal ini dapat dimaafkan.<\/li>\n<li><strong>Membaca Seluruh Ayat Termasuk Basmalah<\/strong>: Membaca semua ayat Surat Al-Fatihah, termasuk Basmalah, karena dalam Mazhab Syafi&#8217;i, Basmalah dianggap sebagai bagian dari Surat Al-Fatihah.<\/li>\n<li><strong>Tidak Melakukan Lahn yang Mengubah Makna<\/strong>: Menghindari kesalahan bacaan (lahn) yang dapat mengubah makna ayat, seperti mengubah &#8220;an&#8217;amta&#8221; menjadi &#8220;an&#8217;amtu&#8221;, yang berarti mengubah makna dari &#8220;Engkau memberi nikmat&#8221; menjadi &#8220;Aku memberi nikmat&#8221;.<\/li>\n<li><strong>Membaca dalam Keadaan Berdiri pada Shalat Fardhu<\/strong>: Bagi yang mampu, membaca Surat Al-Fatihah harus dilakukan dalam posisi berdiri saat melaksanakan shalat fardhu.<\/li>\n<li><strong>Mendengar Bacaan Sendiri<\/strong>: Membaca dengan suara yang cukup terdengar oleh diri sendiri, minimal dalam hati, terutama bagi yang memiliki pendengaran normal.<\/li>\n<li><strong>Tidak Diselingi oleh Dzikir atau Ucapan Lain<\/strong>: Tidak menyelingi bacaan Surat Al-Fatihah dengan dzikir atau ucapan lain yang tidak berkaitan dengan shalat, karena hal ini dapat memutus muwalah bacaan.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Memahami dan menerapkan syarat-syarat ini sangat penting untuk memastikan keabsahan shalat yang kita lakukan. Dengan memperhatikan setiap detail dalam bacaan Surat Al-Fatihah, kita dapat melaksanakan ibadah shalat dengan lebih khusyuk dan sesuai dengan tuntunan syariat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membaca Surat Al-Fatihah merupakan rukun qauli dalam shalat yang harus dipenuhi agar shalat dianggap sah. Menurut Syekh Salim bin Sumair Al-Hadrami dalam kitab Saf\u00eenatun Naj\u00e2,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-31445","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31445","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31445"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31445\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31445"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31445"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31445"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}