{"id":31443,"date":"2023-01-06T21:53:44","date_gmt":"2023-01-06T14:53:44","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=31443"},"modified":"2023-01-06T21:53:44","modified_gmt":"2023-01-06T14:53:44","slug":"syarat-takbirotul-ihrom","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/syarat-takbirotul-ihrom\/","title":{"rendered":"Syarat takbirotul ihrom"},"content":{"rendered":"<p>Takbiratul ihram adalah komponen esensial dalam shalat yang menandai dimulainya ibadah ini. Sebagai rukun pertama, takbiratul ihram memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar shalat dianggap sah. Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai syarat-syarat takbiratul ihram sesuai dengan panduan dari Kitab Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami.<\/p>\n<p><strong>1. Mengucapkan Takbiratul Ihram dalam Posisi Berdiri (untuk Shalat Fardhu)<\/strong><\/p>\n<p>Dalam shalat fardhu, takbiratul ihram harus diucapkan saat berdiri tegak. Jika diucapkan saat sedang bangkit menuju posisi berdiri, maka takbir tersebut tidak sah. Hal ini menegaskan pentingnya posisi tubuh yang benar saat memulai shalat.<\/p>\n<p><strong>2. Menggunakan Bahasa Arab<\/strong><\/p>\n<p>Takbiratul ihram wajib diucapkan dalam bahasa Arab. Bagi yang belum mampu melafalkannya dalam bahasa Arab dan tidak memungkinkan untuk belajar saat itu juga, diperbolehkan menggunakan terjemahan yang maknanya sama. Namun, kewajiban untuk mempelajari lafaz Arab tetap ada.<\/p>\n<p><strong>3. Menggunakan Lafaz &#8220;Allah&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Pengucapan lafaz &#8220;Allah&#8221; adalah syarat mutlak dalam takbiratul ihram. Penggantian atau penambahan kata lain yang bukan sifat Allah dapat membatalkan shalat.<\/p>\n<p><strong>4. Menggunakan Lafaz &#8220;Akbar&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Lafaz &#8220;Akbar&#8221; yang berarti &#8220;Maha Besar&#8221; harus diucapkan setelah lafaz &#8220;Allah&#8221; tanpa penambahan atau pengurangan. Penggunaan kata lain atau perubahan susunan kata dapat mempengaruhi keabsahan takbiratul ihram.<\/p>\n<p><strong>5. Urutan Pengucapan yang Tepat<\/strong><\/p>\n<p>Lafaz &#8220;Allah&#8221; harus diikuti oleh &#8220;Akbar&#8221; tanpa jeda atau tambahan kata lain di antara keduanya. Urutan ini harus dijaga untuk memastikan keabsahan takbiratul ihram.<\/p>\n<p><strong>6. Tidak Memanjangkan Huruf Hamzah pada Lafaz &#8220;Allah&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Pengucapan huruf Hamzah pada lafaz &#8220;Allah&#8221; harus sesuai tanpa pemanjangan yang berlebihan, seperti mengucapkan &#8220;Aallah&#8221;. Pemanjangan yang tidak sesuai dapat mengubah makna dan mempengaruhi keabsahan shalat.<\/p>\n<p><strong>7. Tidak Memanjangkan Huruf Ba pada Lafaz &#8220;Akbar&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Huruf Ba pada lafaz &#8220;Akbar&#8221; harus diucapkan tanpa pemanjangan, seperti mengucapkan &#8220;Akbaar&#8221;. Pemanjangan ini dapat mengubah makna kata dan mempengaruhi keabsahan takbiratul ihram.<\/p>\n<p><strong>8. Tidak Mentasyidkan Huruf Ba pada Lafaz &#8220;Akbar&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Pengucapan huruf Ba pada lafaz &#8220;Akbar&#8221; harus tanpa tasydid (penekanan ganda), seperti mengucapkan &#8220;Akbbar&#8221;. Penambahan tasydid yang tidak sesuai dapat mempengaruhi keabsahan shalat.<\/p>\n<p><strong>9. Tidak Menambahkan Huruf Waw di Antara Dua Lafaz<\/strong><\/p>\n<p>Tidak diperbolehkan menambahkan huruf &#8220;Waw&#8221; baik berharakat maupun tidak di antara lafaz &#8220;Allah&#8221; dan &#8220;Akbar&#8221;, seperti mengucapkan &#8220;Allahu wa Akbar&#8221;. Penambahan ini dapat mengubah makna dan mempengaruhi keabsahan takbiratul ihram.<\/p>\n<p><strong>10. Tidak Menambahkan Huruf Waw Sebelum Lafaz &#8220;Allah&#8221;<\/strong><\/p>\n<p>Penambahan huruf &#8220;Waw&#8221; sebelum lafaz &#8220;Allah&#8221;, seperti mengucapkan &#8220;Wallahu Akbar&#8221;, tidak diperbolehkan dan dapat membatalkan shalat.<\/p>\n<p><strong>11. Tidak Berhenti Antara Dua Lafaz<\/strong><\/p>\n<p>Pengucapan takbiratul ihram harus dilakukan tanpa jeda antara lafaz &#8220;Allah&#8221; dan &#8220;Akbar&#8221;. Berhenti sejenak di antara keduanya dapat mempengaruhi keabsahan takbir.<\/p>\n<div class=\"relative inline-flex items-center\"><span class=\"truncate\">Islam Nusantara<\/span><\/div>\n<p><strong>12. Mendengar Pengucapan Sendiri<\/strong><\/p>\n<p>Orang yang mengucapkan takbiratul ihram harus dapat mendengar sendiri pengucapannya, asalkan pendengarannya normal. Hal ini memastikan bahwa lafaz diucapkan dengan benar dan jelas.<\/p>\n<p><strong>13. Mengucapkan Takbiratul Ihram Setelah Masuk Waktu Shalat<\/strong><\/p>\n<p>Takbiratul ihram harus diucapkan setelah waktu shalat yang ditentukan telah masuk. Jika diucapkan sebelum waktunya, shalat dianggap tidak sah.<\/p>\n<p><strong>14. Menghadap Kiblat<\/strong><\/p>\n<p>Saat mengucapkan takbiratul ihram, seseorang harus dalam posisi menghadap kiblat. Menghadap ke arah lain dapat membatalkan shalat.<\/p>\n<p><strong>15. Tidak Mengubah atau Menghilangkan Huruf dalam Lafaz<\/strong><\/p>\n<p>Setiap huruf dalam lafaz takbiratul ihram harus diucapkan dengan benar tanpa perubahan atau penghilangan. Kesalahan dalam pengucapan dapat mempengaruhi keabsahan shalat.<\/p>\n<p><strong>16. Takbiratul Ihram Makmum Setelah Imam<\/strong><\/p>\n<p>Bagi makmum, takbiratul ihram harus diucapkan setelah imam selesai mengucapkannya. Mengucapkannya bersamaan atau sebelum imam dapat membatalkan shalat makmum.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Takbiratul ihram adalah komponen esensial dalam shalat yang menandai dimulainya ibadah ini. Sebagai rukun pertama, takbiratul ihram memiliki syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi agar shalat&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"default","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"default","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-31443","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31443","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31443"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31443\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31443"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31443"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31443"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}