{"id":31154,"date":"2023-01-04T14:24:56","date_gmt":"2023-01-04T07:24:56","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=31154"},"modified":"2023-01-04T14:24:56","modified_gmt":"2023-01-04T07:24:56","slug":"pengertian-hukum-keluarga-sumber-asas-serta-ruang-lingkupnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-keluarga-sumber-asas-serta-ruang-lingkupnya\/","title":{"rendered":"Pengertian Hukum Keluarga, Sumber, Asas, serta Ruang Lingkupnya"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-keluarga-sumber-asas-serta-ruang-lingkupnya\/#Pengertian_Hukum_Keluarga\" >Pengertian Hukum Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-keluarga-sumber-asas-serta-ruang-lingkupnya\/#Sumber_Hukum_Keluarga\" >Sumber Hukum Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-keluarga-sumber-asas-serta-ruang-lingkupnya\/#Asas-Asas_Hukum_Keluarga\" >Asas-Asas Hukum Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/pengertian-hukum-keluarga-sumber-asas-serta-ruang-lingkupnya\/#Ruang_Lingkup_Hukum_Keluarga\" >Ruang Lingkup Hukum Keluarga<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Hukum_Keluarga\"><\/span><strong>Pengertian Hukum Keluarga<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Istilah hukum keluarga berasal dari terjemahan kata\u00a0<em>\u00a0familierecht<\/em>\u00a0(belanda) atau\u00a0<em>law of familie<\/em>\u00a0(inggris). Istilah keluarga dalam arti sempit adalah suami, anak, dan istri. Sedangkan dalam arti luas keluarga berarti sanak saudara atau anggota kerabat dekat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun pendapat-pendapat lain terkait pengertian hukum keluarga adalah sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Van Apeldoorn<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201dHukum keluarga adalah peraturan hubungan hukum yang timbul dari hubungan keluarga\u201d.<\/em><\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">C.S.T Kansil<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cHukum keluarga memuat rangkaian peraturan hukum yang timbul dari pergaulan hidup kekeluargaan\u201d.<\/em><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">R. Subekti<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cHukum keluarga adalah hukum yang mengatur perihal hubungan-hubungan hukum yang timbul dari hubungan kekeluargaan\u201d.<\/em><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Rachmadi Usman<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cHukum kekeluargaan adalah ketentuan-ketentuan hukum yang mengatur mengenai hubungan antar pribadi alamiah yang berlainan jenis dalam suatu ikatan kekeluargaan\u201d.<\/em><\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Djaja S. Meliala<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cHukum keluarga adalah keseluruhan ketentuan yang mengatur hubungan hukum antara keluarga sedarah dan keluarga kerena terjadinya perkawinan\u201d.<\/em><\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sudarsono<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cHukum kekeluargaan adalah keseluruhan ketentuan yang menyangkut hubungan hukum mengenai kekeluargaan sedarah dan kekeluargaan karena perkawinan<\/em><em>\u201d.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jika dikaji pendapat para ahli di atas terkait pengertian hukum keluarga, ada dua hal pokok yang menjadi aspek penting dalam pendapat mereka, yaitu hubungan sedarah dan perkawinan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun pertalian keluarga karena turunan disebut\u00a0<em>keluarga sedarah<\/em>,artinya sanak saudara yang senenek moyang. Keluarga sedarah ini ada yang ditarik menurut garis bapak yang disebut\u00a0<em>matrinial<\/em>\u00a0dan ada yang ditarik menurut garis ibu dan bapak yang disebut\u00a0<em>parental\u00a0<\/em>atau\u00a0<em>bilateral.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pertalian keluarga karena perkawinan disebut\u00a0<em>keluarga semenda<\/em>, artinya sanak saudara yang terjadi karena adanya ikatan perkawinan, yang terdiri dari sanak saudara suami dan sanak saudara istri. Sedangkan pertalian keluarga karena adat disebut\u00a0<em>keluarga adat<\/em>, artinya yang terjadi karena adanya ikatan adat, misalnya saudara angkat.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Sumber_Hukum_Keluarga\"><\/span><strong>Sumber Hukum Keluarga<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada dasarnya sumber hukum keluarga dibedakan menjadi dua, yaitu sumber hukum tertulis dan sumber hukum tidak tertulis. Sumber hukum tertulis yaitu segala bentuk peraturan perundang-undangan, yurisprudensi, dan traktat. Sedangkan sumber hukum tidak tertulis yaitu hukum kebiasaan yang hidup dan berkembang di masyarakat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun bentuk-bentuk peraturan tertulis yang mengatur tentang hukum keluarga, yaitu sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kitab undang-undang hukum perdata (KUH Perdata).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peraturan perkawinan campuran (regelijk op de gemengdehuwelijk), Stb. 1898 Nomor 158.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Ordonansi perkawinan indonesia, kristen, jawa, minahasa, dan ambon, Stb. 1933 Nomor 74.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">UU Nomor 32 Tahun 1954 tentang pencatatan nikah, talak, dan rujuk (beragama Islam).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">PP Nomor 9 Tahun 1975 tentang peraturan pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">PP Nomor 10 Tahun 1983 jo. PP Nomor 45 Tahun 1990 Tentang Izin Perkawinan Dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia (hukum ini berlaku bagi warga yang beragama Islam).<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Asas-Asas_Hukum_Keluarga\"><\/span><strong>Asas-Asas Hukum Keluarga<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan analisa yang merujuk kepada KUH Perdata dan UU No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, ada beberapa asas yang berlaku dalam hukum keluarga, yaitu sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas Monogami<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya seorang pria hanya boleh mempunyai seorang istri, dan seorang istri hanya boleh mempunyai seorang suami.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas Konsensual<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya perkawinan dapat dikatakan sah apabila terdapat persetujuan atau consensus antara calon suami-istri yang akan melangsungkan perkawinan.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas Persatuan Bulat<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya suatu asas dimana antara suami-istri terjadi persatuan harta benda yang dimilikinya. (Pasal 119 KUHPerdata)<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas Proporsional<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kewajiban suami dalam kehidupan rumah tangga dan di dalam pergaulan masyarakat. (Pasal 31 UUNo.1 Tahun 1974 tentang perkawinan)<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas tak dapat dibagi-bagi<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya suatu asas yang menegaskan bahwa dalam tiap perwalian hanya terdapat seorang wali. Dalam keberlakuan asas ini ada dua pengecualian, yaitu sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Jika perwalian itu dilakukan oleh ibu sebagai orang tua yang hidup lebih lama maka kalau ia kawin lagi, suaminya menjadi wali serta\/wali peserta.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Jika sampai ditunjuk pelaksana pengurusan yang mengurus barang-barang dari anak di bawah umur di luar Indonesia.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas prinsip calon suami istri harus telah matang jiwa raganya. (Pasal 7 UU No.1 Tahun 1974)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas Monogami Terbuka\/Poligami Terbatas<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya seorang suami dapat beristri lebih dari seorang dengan izin dari pengadilan setelah mendapat izin dari istrinya dengan dipenuhhinya syarat-syarat yang ketat.<\/p>\n<ol start=\"8\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas Perkawinan Agama<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya suatu perkawinan hanya sah apabila dilaksanakan sesuai dengan hukum agama dan kepercayaannya masing-masing. (Pasal 31 UU No.1 Tahun 1974 tentang perkawinan)<\/p>\n<ol start=\"9\">\n<li style=\"font-weight: 400;\">Asas Perkawinan Sipil<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya perkawinan adalah sah apabila dilaksanakan dan dicatat oleh pegawai pencatat sipil (kantor catatan sipil), perkawinan secara agama belum berakibat sahnya suatu perkawinan.<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ruang_Lingkup_Hukum_Keluarga\"><\/span><strong>Ruang Lingkup Hukum Keluarga<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan bahasan mengenai pengertian hukum keluarga di atas, kita dapat mengetahui apa saja ruang lingkup hukum keluarga. Adapun ruang lingkup hukum keluarga meliputi hal-hal sebagai berikut:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perkawinan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perceraian<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Harta benda<strong>\u00a0<\/strong>dalam perkawinan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kekuasaan orang tua<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengampuan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perwalian<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Namun terlepas dari hal yang diatur dalam hukum keluarga, perkawinan, perceraian, dan harta benda dalam keluarga menjadi fokus perhatian dalam kajian hukum keluarga.<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Komariah (2008)\u00a0<em>Hukum Perdata<\/em>. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kusuma, Hilman Hadi. (2005).\u00a0<em>Bahasa Hukum Indonesia<\/em>. Bandung: PT Alumni.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sudarsono. (1991).\u00a0<em>Hukum Kekeluargaan Nasional<\/em>. Jakarta: Rineka Cipta<\/li>\n<li>Syahrani, riduan. (2006).<em>\u00a0Seluk-beluk Asas-asas Hukum Perdata<\/em>. Banjarmasin: PT Alumni.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Hukum Keluarga Istilah hukum keluarga berasal dari terjemahan kata\u00a0\u00a0familierecht\u00a0(belanda) atau\u00a0law of familie\u00a0(inggris). Istilah keluarga dalam arti sempit adalah suami, anak, dan istri. Sedangkan dalam&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-31154","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31154","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31154"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31154\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31154"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31154"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31154"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}