{"id":30107,"date":"2022-12-09T17:04:18","date_gmt":"2022-12-09T10:04:18","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=30107"},"modified":"2022-12-09T17:04:18","modified_gmt":"2022-12-09T10:04:18","slug":"wahyu-pengertian-cara-penyampaian-dan-konsep-wahyu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wahyu-pengertian-cara-penyampaian-dan-konsep-wahyu\/","title":{"rendered":"Wahyu: Pengertian, Cara Penyampaian, dan Konsep Wahyu"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wahyu-pengertian-cara-penyampaian-dan-konsep-wahyu\/#Pengertian_Wahyu\" >Pengertian Wahyu<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wahyu-pengertian-cara-penyampaian-dan-konsep-wahyu\/#Wahyu_dan_Tanzil\" >Wahyu dan Tanzil<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wahyu-pengertian-cara-penyampaian-dan-konsep-wahyu\/#Cara_Penyampaian_Wahyu\" >Cara Penyampaian Wahyu<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-3'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wahyu-pengertian-cara-penyampaian-dan-konsep-wahyu\/#Konsep_Tentang_Wahyu\" >Konsep\u00a0Tentang Wahyu<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Wahyu\"><\/span><strong>Pengertian Wahyu<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dikatakan\u00a0<em>wahaituilaih<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>auhaitu<\/em>, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat.Itu terjadi melalui pembicaran yang berupa rumus dan lambang, dan terkadang melalui suara semata, dan terkadang pula melalui isyarat dengan sebagian anggota badan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>Al<\/em><em>-wahy<\/em>\u00a0atau wahyu adalah kata masdar; dan materi kata itu menunjukkan dua pengertian dasar, yaitu; tersembunyi dan cepat. Oleh sebab itu maka dikatakan bahwa wahyu adalah: pemberitahuan secara tersembunyi dan cepat dan khusus ditujukan kepada orang yang diberitahu tanpa diketahui orang lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Secara\u00a0istilah wahyu didefinisikan sebagai: kalam Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi. Definisi ini menggunakan pengertian maf`ul, yaitu\u00a0<em>al muha\u00a0<\/em>(yang diwahyukan).[2]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ibnu Mandzur mendefinisikan, ahyu adalah pemberian informasi yang tersembunyi yang khusus disampaikan kepada para nabi Allah SWT.ma\u2019na al qaththan wahyu adalah kalamullah yang diturunkan kepada Nabi dari para Nabi-Nya.sebagaimana diungkapkan oleh Al-Asfahani, bahwa wahyu adalah ilmu rabbaniy dan bersifat pasti.[3]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ustadz\u00a0Muhammad Abduh membedakan antara wahyu dengan ilham. Ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui darimana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan rasa lapar, haus sedih dan senang.[4]<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Wahyu_dan_Tanzil\"><\/span><strong>Wahyu dan Tanzil<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Catatan\u00a0dari al-Qaththan bahwa wahyu itu\u00a0<em>munazzal<\/em>; diturunkan langsung, perlu mendapatkan perhatian tersendiri. Karena itu berarti bahwa apa yang diterima Nabi adalah murni sebagai\u00a0firman\u00a0Allah Swt secara utuh.\u00a0\u00a0Tidak terkandung didalamnya penafsiran dan pengalihan bahasa oleh malaikat atau oleh Nabi sendiri. Dalam berbagai ayat al-Qur\u2019an penegasan wahyu sebagai tanzil ini dapat ditemukan:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cAl-Qur\u2019an adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (<\/em><em>Muhammad<\/em><em>) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) kami, Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya (langsung menyiksanya). Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya.Maka sekali-sekali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. (QS. Al-Haqqah: 43-47)<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cDan sesungguhnya al-Qur\u2019an ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (jibril), kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantara orrag-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa arab yang jelas\u201d. (QS. As-Syu\u2019ara: 192-195)<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam ayat ini Allah swt dengan sangat tegas menyatakan bahwa al-Qur\u2019an tanzil; diturunkan langsung dalam bahasa arab kedalam sanubari Nabi Muhammad saw. Tidak ada campur tangan malaikat sedikitpun.Termasuk juga Nabi, sebagaimana dinyatakan dalam ayat sebelumnya.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Jelas sekali bahwa wahyu yang diturunkan Allah swt kepada para Nabi, termasuk kepada Nabi Muhammad saw, adalah kalam Allah, dan tentunya tidak akan sama dengan hasil kreasi manusia. Dengan sendirinya wahyu ini pun metahistoris; tidak terikat sejarah; tidak terikat oleh ruang dan waktu.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang wahyu, khususnya al-Qur\u2019an merupakan hasil kreasi manusia tepatnya Nabi Muhammad saw, tentu manusia-manusia yang lainpun akan mampu membuat karya yang serupa dengan al-Qur\u2019an. Akan tetapi fakta berbicara lain, al-qur\u2019an tidak bisa disamai oleh karya manusia yang ada waktu itu, bahkan sampai hari ini.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Allah menentang manusia membuat yang serupa dengan al-Qur\u2019an, mulai dari satu mushaf seperti al-Qur\u2019an, sepuluh surat, bahkan sampai satu surat, akan tetapi sampai hari ini memang tidak ada yang bisa membuatnya. Ini menjadi bukti shahih bahwa al-Quran bukan dihasilkan oleh kreasi manusia yang terikat oleh sejarah itu, melainkan kalam Allah swt yang melintasi sejarah.[5]<\/p>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Cara_Penyampaian_Wahyu\"><\/span><strong>Cara Penyampaian Wahyu<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Qur&#8217;an diturunkan kepada\u00a0Nabi Muhammad\u00a0melalui perantaraan\u00a0Malaikat Jibril\u00a0selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Dalam proses\u00a0pewahyuannya, terdapat beberapa cara untuk menyampaikan wahyu yang dibawa Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad, diantaranya:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Malaikat Jibril memasukkan wahyu ke dalam hati Nabi. Dalam hal ini, Nabi tidak melihat sesuatu apapun, hanya merasa bahwa wahyu itu sudah berada di dalam kalbunya. Mengenai hal ini, Nabi mengatakan:\u00a0Ruhul Qudus mewahyukan ke dalam kalbuku,<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi menjadi seorang lelaki yang mengucapkan kata-kata kepadanya sehingga Nabi mengetahui dan dapat menghafal kata-kata itu.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Wahyu datang kepada Nabi seperti gemerincingnya lonceng. Cara ini dirasakan paling berat bagi Nabi. Kadang pada keningnya berkeringat, meskipun turunnya wahyu di musim dingin. Kadang unta Baginda Nabi terpaksa berhenti dan duduk karena merasa berat bila wahyu turun ketika Nabi sedang mengendarai unta.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Malaikat menampakkan dirinya kepada Nabi, tidak berupa seorang laki-laki, tetapi benar-benar sebagaimana rupa aslinya.[6]<\/li>\n<\/ol>\n<h3><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Konsep_Tentang_Wahyu\"><\/span><strong>Konsep<\/strong><strong>\u00a0Tentang Wahyu<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h3>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Secara umum gagasan tentang wahyu muncul pada saat manusia mempunyai gagasan tentang tuhan yang transeden, sehingga diperlukan adanya cara\/perantara yang menghubungkan kehidupan manusia yang\u00a0<em>\u201creal\u201d<\/em>\u00a0dengan tuhan yang \u201ctranseden\u201d.Maka lahirlah gagasan tentang wahyu.Gagasan tentang wahyu tidak muncul dan mengemukakan pada saat manusia memahami tuhan\/dewa sebagai sesuatu yang personal. Karena sebagai tuhan yang personal, tuhan akan bicara kepada manusia selayaknya cara manusia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seiring berjalannya waktu,konsep tentang wahyu itu sendiri menjadi sangat bervariasi. Ada yang mengatakan bahwa tuhan bicara secara \u201cverbatim\u201d seperti kisah \u201cbertemunya\u201d Musa dengan tuhan di gunung dan kemudian Musa turun membawa lempengan batu yang berisi \u201cfirman tuhan\u201d.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada pula konsep lain yang mengatakan firman tuhan (wahyu) sampai pada nabi\/rasulnya melalui perantara malaikat Jibril, dan wahyu ini tidak disampaikan secara \u201cverbatim\u201d tapi dengan cara yang bevariasi, ada yang berisikan wahyu bisa datang ke Muhammad berupa suara lonceng, yang dengan demikian tugas Muhammad adalah menerjemahkan suara lonceng tadi menjadi sebuah kalimat yang bisa dipahami oleh umatnya.[7]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Memahami konsep wahyu dapat terbagi kedalam dua besaran. Salah satunya makna wahyu alam arti yang lebih luas yakni sebagai proses komunikasi. Dalam pemaknaan demikian wahyu merupakan proses pemberian informasi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tampaknya tidak berlebihan jika Izutsu kemudian mengupasnya dalam perspektif semantik linguistik untuk memahami konsep ini.Dalam makna inilah (firman) maka wahyu menjadi sakral dan memerlukan penalaran keagamaan untuk memahaminya. Hal ini terjadi, karena dalam suatu dimensi tertentu, wahyu meliputi keseluruhan informasi yang Tuhan berikan kepada manusia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Akan tetapi dalam Al-Qur\u2019an, wahyu diperlukan sedemikian istimewa, sesuatu yang misterius dan tidak tertangkap oleh pikiran manusia biasa, yang karenanya memerlukan perantara \u201cnabi\u201d. Jadi dalam konteks ini wahyu dalam makna firman tuhan harusnya diterima para nabi untuk kemudian disampaikan kepada umat\u00a0\u00a0manusia. Satu hal yang unik, wahyu dalam islam disampaikan tuhan tidak dengan bahasa yang misterius, bahasa yang berjarak dengan manusia, melainkan dengan bahasa manusia itu sendiri.[8]<\/p>\n<p><strong>Konsep Tentang Sumber Wahyu<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Konsep tentang sumber wahyu juga bervariasi.Ada yang mengemukakan gagasan bahwa sumber wahyu itu tunggal (dari tuhan), ada juga yang berpendapat sumber wahyu itu plural[9]. Dari sisi literal tekstual-penggunaan ayat-ayat al-Qur\u2019an yang menegaskan bahwa pewahyuan, turunnya dan penjagaan al-Qur\u2019en menggunakan kata \u201ckami\u201d bukan \u201csaya\/aku\u201d-maupun proses kesejarahan al-qur\u2019an sendiri, sumber dan proses al-qur\u2019an memang tidak tunggal, tapi plural: berasal dari \u201csumber dan proses kreatif-kolektif\u201d yang lebih mengarah pada konteks dimana Nabi Muhammad itu hidup, baik sebelum dia menerima wahyu ataupun setelahnya. Malah, proses kreatif \u201cpewahyuan\u201d itu lebiyh banyak sebelum Mugammad menerima wahyu. Hanya saja, periode Muhammad sebelum menerima wahyu adalah \u201ctahun-tahunyang hilang\u201d ataupun tidak menjadi perhatian.Tujuannya adalah untuk menunjukkanpewahyuan yang tunggal dari tuhan, tidak ada pengaruh konteks dan sejarah terhadap pewahyuan itu.[10]<\/p>\n<p><strong>Deskontruksi Konsep Wahyu<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Saat\u00a0ini konsep wahyu yang sangat jelas dan gamblang sebagaimana diuraikan diatas, didekonstruksi oleh sebagian pihak.Wahyu dinilai bukan kalam Allah, melainkan teks yang dibuat oleh sejarah.Maka hermeneutika pun menjadi satu-satunya model penafsiran yang tepat untuk al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut\u00a0komaruddin, al-Qur\u2019an haruslah dilihat dari persefektif teologi filsafat linguistik.Sebuah pandangan teologis menyebutkan al-Qur\u2019an adalah suci, kebenarannya absolut, berlaku dimana dan kapan saja.Sehingga dia tidak bisa dirubah dan diterjemahkan. Begitu diterjemahkan dna ditafsirkan, maka ia bukan lagi al-Qur\u2019an, melainkan terjemahan dan tafsiran al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Komaruddin juga menjelaskan, wahyu itu pada dasarnya bukanlah bahasa tertulis.Wujud wahyu adalah \u201csuara\u201d atau \u201cbisikan\u201d. Proses kalam Allah yang abadi, universal dan metahistoris tersebut menjadi bahasa arab yang bersifat budaya, berdimensi lokal dan partikular merupakan sebuah hal yang selalu memancing nalar kritis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Komaruddin juga menjelaskan lebih lanjut, dalam al-qur\u2019an yang telah tersaji saat ini, setidaknya telah melalui dua proses penafsiran, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">\u00a0penafsiran al-quran yang dilakukan oleh jibril yang kemudian didiktekan kepada Muhammad secara filosofis, persoalan siapa jibril, masih bisa diperdebatkan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">\u00a0penafsiaran yang mungkin terjadi dalam diri muhammad Rasulullah. Bukankah Muhammad sebagai sosok yang cerdas, jujur, amanah, dan sebuah kaset kosong untuk diisi rekaman?Jadi, ketika mendapat wahyu, Muhammad bertindak aktif memahami, menyerap dan kemudian mengungkapkannya dalam bahasa Arab.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dekonstruksi yang dilakukan dikalangan liberal tertuju pada dua hal, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Hakikat wahyu yang berujung pada pemberlakuan heurmeneutika<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kedudukan mushaf \u2018Utsmani yang menurut mereka sudah tidak otentik lagi.[11]<\/li>\n<\/ol>\n<p>[1]\u00a0Desakralisasi adalah penghapusan atau pelenyapan nilai yang dianggap keramat (sakral)<\/p>\n<p>[2]http:\/\/alfarabi1706.blogspot.com\/2012\/10\/konsep-wahyu.html<\/p>\n<p>[3]http:\/\/.google.com\/gt\/x?=id&amp;u=http:\/\/iraanmalik.blogspot.com\/2013\/05\/konsep-wahyu.html&amp;q=konsep+wahyu&amp;sa=X&amp;ei=DRmKoW8MlaRrAeOhoDADw&amp;ved=OCCsQFjAEOBQ\/2013\/11\/19\/11:39<\/p>\n<p>[4]http:\/\/alfarabi1706.blogspot.com\/2012\/10\/konsep-wahyu.html<\/p>\n<p>[5]\u00a0Nashruddin syarief, Menangkal Virus Islam Liberal, 2010, hal\u00a0\u00a0148-153<\/p>\n<p>[6]ahmadbudi2991.blogspot.com\/2012\/03\/konsep-wahyu.html<\/p>\n<p>[7]http:\/\/ww.google.com\/gwt\/x?hl=id&amp;u=http:\/qiemo.tumblr.com\/post\/875683055\/konsep-tentang\u00a0wahyu&amp;q=konsep+wahyu&amp;sa=X&amp;ei=TeGJUuayJYaCrAegilGIA&amp;ed=OCCoQFjAC\/2013\/11\/18\/17:41<\/p>\n<p>[8]\u00a0http:\/\/w.google.com\/gt\/x?hl=id&amp;u=http:\/\/bdkbandung.kemenag.go.id\/jurnal\/117-tinjauan-islam-tentang-konsep-wahyu-dan-pewarisan-amanat-keagungan-ilahi&amp;q=konsep+wahyu&amp;sa=X&amp;ei=ufOJUtGfL8v9rAfltlG4BQ&amp;ved=OCCgFjABOAo\/2013\/11\/19\/11:25<\/p>\n<p>[9]\u00a0Plural adalah lebih dari satu, jamak<\/p>\n<p>[10]http:\/\/ww.google.com\/gwt\/x?hl=id&amp;u=http:\/qiemo.tumblr.com\/post\/875683055\/konsep-tentangwahyu&amp;q=konsep+wahyu&amp;sa=X&amp;ei=TeGJUuayJYaCrAegilGIA&amp;ed=OCCoQFjAC\/2013\/11\/18\/17:41<\/p>\n<p>[11]\u00a0Nashiruddin Syarief,\u00a0<em>Menangkal Virus Islam Liberal (Panduan Worldvie Untuk Para Aktivis Da\u2019wah)<\/em>. Bandung, hal. 164<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Wahyu Dikatakan\u00a0wahaituilaih\u00a0dan\u00a0auhaitu, bila kita berbicara kepadanya agar tidak diketahui orang lain. Wahyu adalah isyarat yang cepat.Itu terjadi melalui pembicaran yang berupa rumus dan lambang,&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-30107","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30107","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30107"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30107\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30107"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30107"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30107"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}