{"id":29828,"date":"2022-12-06T11:29:29","date_gmt":"2022-12-06T04:29:29","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=29828"},"modified":"2022-12-06T11:29:29","modified_gmt":"2022-12-06T04:29:29","slug":"persiapan-bekal-untuk-menghadapi-hidup-setelah-mati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/persiapan-bekal-untuk-menghadapi-hidup-setelah-mati\/","title":{"rendered":"Persiapan Bekal untuk Menghadapi Hidup Setelah Mati"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput. Kematian adalah pintu dan setiap manusia akan memasuki pintu itu, tanpa ada seorang pun yang dapat menghindar darinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Artinya: Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati. (<i><em style=\"font-weight: inherit;\">QS. \u0100li \u2018Imr\u0101n<\/em><\/i>\/3:185)<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Kita juga akan mati sebab kita ini manusia yang memiliki nyawa. Kematian datang tidak pernah pilih-pilih. Apabila ajal datang, tidak ada satu kekuatan pun untuk mempercepat atau memperlambat. Adakalanya kematian itu menjemput saat masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, bahkan orang yang sudah tua renta. Kadang ia menjemputnya saat manusia sedang tidur, terjaga, sedang sedih, sedang bahagia, sedang sendiri, sedang bersama-sama.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Kematian datang tak pernah ada yang tahu. Oleh karena itu, mengingat mati harus sering dilakukan agar manusia menyadari bahwa dirinya tidaklah akan hidup kekal. Tentu saja di samping kita mengingat mati, kita juga harus mempersiapkan bekal untuk menghadapi hidup setelah mati yaitu segera bertobat dan memperbanyak amal saleh.\u00a0<\/span><br \/>\n<span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\"><br \/>\n<\/span><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Salah satu cara untuk mengingat mati adalah sering-seringlah ber-<i><em style=\"font-weight: inherit;\">ta\u2019ziyyah<\/em><\/i>\u00a0(mendatangi keluarga yang terkena musibah meninggal dunia), mengurus jenazah, mulai dari memandikan, mengafani, menyalati, sampai menguburnya. Sungguh, hanya orang-orang yang cerdaslah yang banyak mengingat mati dan menyiapkan bekal untuk mati.<\/span><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><span style=\"font-style: inherit; font-weight: inherit;\">Seorang putra dari sahabat yang mulia, Abdullah bin \u2018Umar ra. mengabarkan, \u201cAku sedang duduk bersama Rasulullah saw. tatkala datang seorang lelaki dari kalangan An\u1e61ar. Ia mengucapkan salam kepada Rasulullah saw., lalu berkata, \u201cYa Rasulullah, mukmin manakah yang paling utama?\u201d Beliau menjawab, \u201cYang paling baik akhlaknya di antara mereka.\u201d\u00a0\u00a0\u201cMukmin manakah yang paling cerdas?\u201d tanya lelaki itu lagi. Beliau menjawab: \u201cOrang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.\u201d (HR. Ibnu Majah).<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hidup di dunia ini tidaklah selamanya. Akan datang masanya kita berpisah dengan dunia berikut isinya. Perpisahan itu terjadi saat kematian menjemput. Kematian adalah pintu dan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[],"class_list":["post-29828","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29828","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29828"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29828\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29828"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29828"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29828"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}