{"id":29083,"date":"2022-12-03T18:02:37","date_gmt":"2022-12-03T11:02:37","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=29083"},"modified":"2022-12-03T18:02:37","modified_gmt":"2022-12-03T11:02:37","slug":"indonesia-di-bawah-pemerintahan-daendels","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-di-bawah-pemerintahan-daendels\/","title":{"rendered":"Indonesia Di Bawah Pemerintahan DAENDELS"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-di-bawah-pemerintahan-daendels\/#Bidang_Pertahanan_dan_Keamanan\" >Bidang Pertahanan dan Keamanan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-di-bawah-pemerintahan-daendels\/#Bidang_Keuangan\" >Bidang Keuangan:<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-di-bawah-pemerintahan-daendels\/#Bidang_Pemerintahan\" >Bidang Pemerintahan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-di-bawah-pemerintahan-daendels\/#Bidang_Sosial\" >Bidang Sosial<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-di-bawah-pemerintahan-daendels\/#Bidang_Hukum_dan_Peradilan\" >Bidang Hukum dan Peradilan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 1800 mulai berlangsung pemerintahan baru di Indonesia. Negeri Belanda sudah dibawah pemerintahan Perancis. Sehubungan dengan sentralisasi kekuasaan yang semakin besar maka Napoleon Bnaparte mengangkat Luois Napoleon, adiknya sebagai penguasa di Negeri Belnada tahun 1806. Dan pada 1808 Lous mengirim Marsekal Herman Willem Daendels ke Batavia untukmenjadi Gurbernur Jendral dan memperkuat pertahanan Jawa sebagai bassis melawan Inggris di Samudra Hindia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Daendels adalah seorang pemuja prinsip Revolusioner. Dia membawa suatu perpaduan antara semangat pembaruan dan metode-metode revolusioner. Dia berusaha memberantas ketidakefisiennan, penyelewengan dan korupsi yang menyelimuti administrasi Eropa ((Ricklefs, 2005 : 171 )<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kebijakan Deandels di Indonesia<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Pertahanan_dan_Keamanan\"><\/span><strong>Bidang Pertahanan dan Keamanan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menambah jumlah prajurit menjadi 18.000 yang sebagian besar dari suku-suku bangsa di Indonesia (pribumi).<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membangun benteng di beberapa kota dan pusat pertahananya di Kalijati Bandung.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membangun jalan raya dari Anyer sampai Panarukan kurang lebih 1.000 kilometer yang diselesaikan dalam waktu 1 tahun dengan kerja paksa\/rodi di setiap 7 kilometer dibangun pos jaga. Yang kemudian di kenal dengan Jalan Raya Pos ( <em>Grote Postweg)<\/em><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membangun armada laut dan pelabuhan armada dengan pusat di Surabaya<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Keuangan\"><\/span><strong>Bidang Keuangan:<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mengeluarkan mata uang kertas<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menjual tanah produktif milik rakyat kepada swasta sehingga muncul tanah swasta (partikelir) yang banyak dimiliki orang Cina, Arab, Belanda.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Meningkatkan pemasukan uang dengan cara-cara sebelumnya (VOC) yaitu memborongkan pungutan pajak. Contingenten, Penanaman Kopi dll.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Pemerintahan\"><\/span><strong>Bidang Pemerintahan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membentuk sekretariat negara untuk membereskan administrasi Negara<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Kedudukan Bupati sebagai penguasa tradisional diubah menjadi pegawai pemerintahan dan digaji.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Memindahkan pusat pemerintahan dari Sunda Kelapa ke Welterreden (sekarang gedung Mahkamah Agung di Jakarta)<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pulau Jawa dibagi menjadi 9 perfec\/wilayah.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membangun kantor-kantor pengadilan<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membatasi kekuasaan para raja, antara lain hak mengangkat penguasa daerah diatur kembali, Termasuk larangan menjual belikan jabatan tersebut. Karena mengadakan pemberontakan kesultanan banten diahpuskan. ( Sartono, 1987 : 292 )<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Sosial\"><\/span><strong>Bidang Sosial<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Rakyat dipaksa melakukan kerja paksa (rodi) untuk membangun jalan Anyer-Panarukan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perbudakkan dibiarkan berkembang.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Menghapus upacara penghormatan kepada residen, sunan, atau sultan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Membuat jaringan pos distrik dengan menggunakan kuda pos.<\/li>\n<\/ul>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Hukum_dan_Peradilan\"><\/span><strong>Bidang Hukum dan Peradilan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Dalam bidang hukum, Daendels membentuk 3 jenis pengadilan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengadilan untuk orang Eropa.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengadilan untuk orang pribumi.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengadilan untuk orang Timur Asing.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pengadilan untuk pribumi ada di setiap\u00a0 prefektuur\u00a0 dengan prefek sebagai ketua dan para bupati sebagai anggota. Hukum ini diterapkan di wilayah kabupaten, sedangkan di wilayahprefektuur seperti Batavia, Semarang, dan Surabaya diberlakukan hukum Eropa.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu, termasuk terhadap bangsa Eropa sekalipun. Akan tetapi, Daendels sendiri malah melakukan korupsi besar-besaran dalam penjualan tanah kepada swasta.<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sisi negatif pemerintahan Daendels adalah membiarkan terus praktek perbudakan serta hubungan dengan raja-raja di Jawa yang buruk, sehingga menimbulkan perlawanan.Selain itu\u00a0\u00a0Daendels\u00a0juga\u00a0menjual tanah-tanah negara kepada swasta (China) merupakan kesalahan besar, maka ia dipanggil kembali ke Belanda dan sebagai gantinya dikirim Gubernur Jenderal baru yaitu Janssens<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pemerintahan Jenssens sangat lemah dan ketika Inggris menyerang, ia menyerah dan harus menandatangani perjanjian Tuntang (Kapitulasi Tuntang) tahun 1811 dan sejak itu Indonesia dikuasai Inggris.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Isi dari Kapitulasi Tuntang adalah :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Seluruh Jawa dan sekitarnya diserahkan kepada Inggris<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Semua tentang Belanda menjadi tawanan Inggris<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Semua pegawai Belanda yang mau bekerja sama dengan Inggris dapat memegang jabatannya terus<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Semua utang pemerintah Belanda yang dahulu, bukan menjadi tanggung jawab Inggris.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kapitulasi\u00a0Tuntang\u00a0ditandatangani pada tanggal 18 September 1811 oleh S. Auchmuty. Seminggu sebelum Kapitulasi Tuntang, 11-8-1811 raja muda ( Viceroy ) Lord Minto yang berkedudukan di India, mengangkat Thomas Stamford rafless sebagai wakil gubernur di jawa dan bawahannya, ( Bengkulu, Maluku, Bali, Sulawesi,dan Kalimantan Selatan ).<\/p>\n<p>Sumber: academia.edu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tahun 1800 mulai berlangsung pemerintahan baru di Indonesia. Negeri Belanda sudah dibawah pemerintahan Perancis. Sehubungan dengan sentralisasi kekuasaan yang semakin besar maka Napoleon Bnaparte&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-29083","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29083","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29083"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29083\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29083"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29083"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29083"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}