{"id":29078,"date":"2022-12-03T17:56:33","date_gmt":"2022-12-03T10:56:33","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=29078"},"modified":"2022-12-03T17:56:33","modified_gmt":"2022-12-03T10:56:33","slug":"indonesia-dibawah-pemerintahan-raffles","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-dibawah-pemerintahan-raffles\/","title":{"rendered":"Indonesia Dibawah Pemerintahan RAFFLES"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-dibawah-pemerintahan-raffles\/#Bidang_Pemerintahan\" >Bidang Pemerintahan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-dibawah-pemerintahan-raffles\/#Bidang_Ekonomi_dan_Keuangan\" >Bidang Ekonomi dan Keuangan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-dibawah-pemerintahan-raffles\/#Bidang_Sosial\" >Bidang Sosial<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-dibawah-pemerintahan-raffles\/#Bidang_ilmu_pengetahuan\" >Bidang ilmu pengetahuan<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/indonesia-dibawah-pemerintahan-raffles\/#Bidang_Pertahanan_dan_Keamanan\" >Bidang Pertahanan dan Keamanan<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun 1811 pimpinan Inggris di India yaitu Lord Muito memerintahkan Thomas Stamford Raffles yang berkedudukan di Penang (Malaya) untuk menguasai Pulau Jawa. Dengan mengerahkan 60 kapal, Inggris berhasil menduduki Batavia pada tanggal 26 Agustus 1811 dan pada tanggal 18 September 1811 Belanda menyerah melalui\u00a0<em>Kapitulasi Tuntang.<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pemerintahaan Inggris di Indonesia dipegang oleh Raffles yang. Raffles diangkat sebagai Letnan Gubernur dengan tugas mengatur pemerintahan\u00a0dan peningkatan perdagangan dan keamanan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pemerintahan Raffles didasarkan pada prinsip liberal. Prinsip kebebasan mencakup kebebasan menanam dan kebebasan perdagangan keduanya akan menjamin kebebasan produksi eksport. Raffles bermaksud menerapkan politik colonial seperti yang di terapkan Ingris di India menurut suatu system yang kemudian dikenal dengan pajak tanah ( Landrent-sytem) Kesetaraan rakyat dapat dicapainya dengan memberikan kebebasan serta jaminan hokum. ( Sartono, 1987 : 292)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pokok pikiran rafles adalah sebagai berikut :<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Penghapusan seluruh penyerahan wajib dan wajib kerja dengan member kebebasan penuh untuk kultur dan berdagang<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pemerintah secara langsung mengawasi tanah-tanah, hasilnya dipungut langsung oleh pemerintah tanpa perantara Bupati yang tugasnya terbatas pada dinas-dinas umum.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Penyewaan tanah di beberapa daerah dilakukan berdasarkan kontrak dan terbatas waktunya.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bagi Rafles yang menjadi penghalang utama pelaksanaan politiknya adalah struktor masyarakat feudal yang sangat kuat kedudukannya dan system ekonomi yang masih bersifat tertutup sehingga pembayaran pajak belum dapat dilakukan sepenuhnya dengan uang tetapi dengan In Natura.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kebijakan Raffles selama memerintah di Indonesia.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Pemerintahan\"><\/span><strong>Bidang Pemerintahan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Langkah-langkah Raffles pada bidang pemerintahan sebagai berikut :<\/p>\n<p>1)Pulau Jawa dibagi menjadi 16 keresidenan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">2) Sistem pemerintahan feodal oleh Raffles dianggap dapat mematikan usaha-usaha rakyat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">3) Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dijadikan pegawai pemerintah kolonial yang langsung di bawah kekuasaan pemerintah pusa<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Ekonomi_dan_Keuangan\"><\/span><strong>Bidang Ekonomi dan Keuangan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">1) Penghapusan pajak hasil bumi <em>(contingenten)<\/em>\u00a0dan sistem penyerahan wajib\u00a0<em>(verplichte Leverantie)<\/em>\u00a0yang sudah diterapkan sejak zaman VOC. Kedua peraturan tersebut dianggap terlalu berat dan dapat mengurangi daya beli rakyat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">2) Menetapkan Sistem Sewa Tanah <em>(Landrent)<\/em><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">3) Mengadakan monopoli garam dan minuman keras.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Sosial\"><\/span><strong>Bidang Sosial<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">1) Penghapusan kerja rodi (kerja paksa)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">2) Penghapusan perbudakan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">3) Peniadaan <em>Pynbank<\/em>\u00a0(disakiti) yaitu hukuman yang sangat kejam dengan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0melawan Harimau.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_ilmu_pengetahuan\"><\/span><strong>Bidang ilmu pengetahuan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Masa pemerintahan Raffles di Indonesia memberikan banyak peninggalan yang berguna bagi Ilmu Pengetahuan, seperti :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">1) Menulis buku History of Java<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">2) Menemukan bunga Rafflesia Arnoldi<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">3) Merintis Kebun Raya Bogor<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Bidang_Pertahanan_dan_Keamanan\"><\/span><strong>Bidang Pertahanan dan Keamanan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p>1) Membangun jalan anatara Anyer-Panarukan, baik sebagai lalu lintas pertahanan maupun perekonomian<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">2) Menambah jumlah angkatan perang dari 3000 orang menjadi 20.000 orang<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">3) Membangun pabrik senjata di Gresik dan Semarang. Hal itu dilakukan karena ia tidak dapat mengharapkan lagi bantuan dari eropa akibat blokade Inggris di lautan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">4) Membangun pangkalan laut di Ujung Kulon dan Surabaya<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Keadaan di negeri jajahan rupanya sangat bergantung pada keadaan di negeri Eropa. Pada tahun 1814 Napoleon Bonaparte kalah melawan raja\u2013raja di Eropa dalam perang koalisi. Untuk memulihkan kembali keadaan Eropa maka diadakan konggres Wina 1814 sedangkan antara Inggris dan Belanda ditindaklanjuti<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Konsekuensi dari perjanjian tersebut maka Inggris meninggalkan Pulau Jawa. Raffles kemudian menduduki pos di Bengkulu. Pada tahun 1819 Inggris berhasil memperoleh Singapura dari Sultan Johor. Pada Tahun 1824 Inggris dan Belanda kembali berunding melalui Treaty Of London tahun 1824 isinya antara lain menegaskan:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Belanda memberikan Malaka kepada Inggris dan sebaliknya Inggris memberikan Bengkulu kepada Belanda.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Belanda dapat berkuasa di sebelah selatan garis paralel Singapura sedangkan Inggis di sebelah Utaranya.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Sumber: academia.edu<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tahun 1811 pimpinan Inggris di India yaitu Lord Muito memerintahkan Thomas Stamford Raffles yang berkedudukan di Penang (Malaya) untuk menguasai Pulau Jawa. Dengan mengerahkan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-29078","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29078","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=29078"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/29078\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=29078"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=29078"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=29078"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}