{"id":28838,"date":"2022-12-02T08:16:34","date_gmt":"2022-12-02T01:16:34","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28838"},"modified":"2022-12-02T08:16:34","modified_gmt":"2022-12-02T01:16:34","slug":"ranah-kajian-dan-aliran-filsafat-pendidikan-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ranah-kajian-dan-aliran-filsafat-pendidikan-islam\/","title":{"rendered":"Ranah Kajian dan Aliran Filsafat Pendidikan Islam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_81 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ranah-kajian-dan-aliran-filsafat-pendidikan-islam\/#Ranah_kajian_Filsafat_Pendidikan_Islam\" >Ranah kajian Filsafat Pendidikan Islam\u00a0<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/ranah-kajian-dan-aliran-filsafat-pendidikan-islam\/#Aliran-aliran_Filsafat_Pendidikan_Islam\" >Aliran-aliran\u00a0Filsafat Pendidikan Islam<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Ranah_kajian_Filsafat_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Ranah kajian Filsafat Pendidikan Islam\u00a0<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Filsafat pendidikan Islam sebagaimana pendapat al-Syaibani yang dikutip oleh Ahmad Syar\u2019i menjelaskan bahwa filsafat pendidikan Islam adalah prinsip-prinsip dan berbagai kepercayaan yang berasal\u00a0dari ajaran Islam atau minimal sesuai dengan jiwa Islam yang mendukung dan memiliki kepentingan pelaksanaan dan bimbingan dalam bidang pendidikan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam filsafat Islam juga akan mengkaji tiga pijakan yaitu\u00a0ontologi, epistemologi, dan aksiologi.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Ontologi<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Filsafat pendidikan Islam bertitik tolak pada manusia dan alam<em>\u00a0(the creature of God)<\/em>. Sebagai pencipta, Tuhan telah mengatur alam ciptaan-Nya. Pendidikan berpijak dari\u00a0<em>human<\/em>\u00a0sebagai dasar perkembangan dalam pendidikan. Seluruh aktivitas hidup dan kehidupan manusia adalah transformasi pendidikan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yang menjadi dasar kajian filsafat pendidikan Islam di sini adalah sebagaimana yang tercantum dalam wahyu mengenai pencipta, ciptaan-Nya, hubungan antara ciptaan dan pencipta, hubungan antara sesama ciptaan-Nya dan utusan yang menyampaikan risalah (rasul).<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Epistemologi<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Landasan ini merupakan dasar ajaran Islam yaitu al-Quran dan al-Hadits. Dari kedua sumber itulah muncul pemikiran-pemikiran terkait masalah-masalah keislaman dalam berbagai aspeknya termasuk filsafat pendidikan. Apa yang tercantum dalam al-Quran dan al-Hadits merupakan dasar dari filsafat pendidikan Islam.\u00a0Hal ini pada dasarnya selaras dengan hasil pemikiran para filosof Barat, karena akal sehat tidak akan bertentangan dengan wahyu. Jika terjadi ketidakcocokan berarti itu bukan karena kesalahan wahyu itu, namun itu adalah hasil pikiran yang belum mampu menjangkau apa yang dimaksudkan oleh landasan tersebut.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Aksiologi<\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yang tidak kalah pentingnya adalah kandungan nilainya dalam bidang pendidikan. Ada tiga hal yang menjadi nilai dari filsafat pendidikan Islam yaitu:<\/p>\n<p>a) Keyakinan bahwa akhlak termasuk makna yang terpenting dalam hidup, akhlak di sini tidak hanya sebatas hubungan antara manusia, namun lebih luas lagi sampai kepada hubungan manusia dengan segala yang ada, bahkan antara hamba dan Tuhan.<\/p>\n<p>b) Meyakini bahwa akhlak adalah sikap atau kebiasaan yang terdapat dalam jiwa manusia yang merupakan sumber perbuatan-perbuatan yang lahir secara mudah.<\/p>\n<p>c) Keyakinan bahwa akhlak islami yang berdasar syari\u2019at yang ditunjukkan oleh berbagai teks keagamaan serta diaktualkan oleh para ulama merupakan akhlak yang mulia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Bertolak dari tiga kajian di atas,\u00a0setidaknya kita telah memiliki pandangan dan arah yang akan dilakukan oleh filsafat pendidikan Islam tersebut.<\/p>\n<h1 style=\"font-weight: 400;\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Aliran-aliran_Filsafat_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Aliran-aliran\u00a0Filsafat Pendidikan Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Terdapat\u00a0tiga aliran utama dalam pemikiran filosofis pendidikan Islam, yaitu: (1) Aliran Agamis-Konservatif, (2) Aliran Religius-Rasional, dan (3) Aliran Pragmatis-Instrumental. Penjabaran tentang ketiga aliran tersebut dapat dilihat berikut ini.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Aliran Konservatif\u00a0<\/strong><\/b><b><strong><em>(al Muha&gt;fidz})<\/em><\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Aliran ini\u00a0cenderung\u00a0bersikap murni keagamaan yang\u00a0mencakup\u00a0ilmu-ilmu yang dibutuhkan saat sekarang dan akan membawa manfaat kelak di Akhirat. Para pelajar harus mengawali belajarnya dengan mengkaji Al Qur\u2019an dan\u00a0<em>Ulumul<\/em>\u00a0Qur\u2019an, lalu dilanjutkan belajar\u00a0<em>hadi&gt;th<\/em>,\u00a0<em>Ulumul Hadi&gt;th<\/em>,\u00a0<em>Us}ul Fiqh, Nah}wu,<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>S}araf<\/em>.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Para\u00a0ulama\u00a0yang\u00a0termasuk\u00a0dalam kategori aliran pemikiran pendidikan ini adalah Al-Ghazali, Zarnuji, Nasiruddin Al-Thusi, Ibnu Jama\u2019ah, Sahnun, Ibnu Al-Haitami, dan Abdul Hasan Ali bin Muhammad bin Khalaf (al-Qabisi).<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Thusi\u00a0\u2013 sebagaimana dikutip Muhammad Jawwad Ridha-menganalogikan jeinis ilmu yang pertama dengan makanan pokok, sedangkan jenis ilmu yang kedua dianalogikan dengan obat yang hanya dimakan sewaktu terpaksa. Selain dua jenis ilmu tersebut, ada pula ilmu yang hukum mempelajari termasuk\u00a0<em>fad}i&gt;lah<\/em>\u00a0(keutamaan, anjuran), seperti mempelajari tentang deatilnya ilmu hitung dan ilmu kedokteran. Terkait dengan ini, maka ilmu dapat dipilah menjadi ilmu terpuji dan ilmu yang tercela.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Al-Ghazali membagi ilmu-ilmu adat dan ilmu-ilmu komplementer, termasuk di dalam filsafat, menjadi empat bidang. Pertama, ilmu ukur dan ilmu hitung. Disiplin ilmu ini boleh dipelajari dan dilarang apabila membahayakan bagi yang mempelajarinya karena dapat mengantarkan pada ilmu tercela. Kedua, ilmu\u00a0<em>mantiq<\/em>\u00a0(logika), yaitu ilmu yang berkaitan dengan dalil (argumentasi) dan syarat-syaratnya. Ketiga, ilmu ketuhanan (teologi), yaitu ilmu yang berisi tentang kajian eksistensi Tuhan. Keempat, ilmu kealaman. Sebagian ilmu ini dianggap bertentangan dengan syara\u2019, agama, dan kebenaran.\u00a0Sebagian lainnya mengkaji tentang anatomi tubuh, rincian organ-organ, perubahannya.<\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Aliran Religius-Rasional\u00a0<\/strong><\/b><b><strong><em>(al-Diniy al-Aqlany)<\/em><\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Menurut\u00a0Ridha, aliran ini tidak jauh berbeda dengan aliran\u00a0pemikiran\u00a0tradisionalis-tekstualis\u00a0(<em>Naqliyyun).\u00a0<\/em>Aliran pemikiran\u00a0pendidikan\u00a0ini mengakui bahwa semua ilmu dan sastra yang tidak mengantarkan pemiliknya menuju kehidupan akhirat, dan tidak memberikan makna sebagai bekal di sana, maka ilmu\u00a0demikian\u00a0hanya akan menjadi bumerang bagi si pemilik kelak di akhirat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ikhwan\u00a0al-Shafa adalah salah satu penganut aliran ini.\u00a0Batasan\u00a0ilmu\u00a0menurut\u00a0Ikhwan al-Shafa adalah gambaran tentang sesuatu yang diketahui pada benak (jiwa) orang yang mengetahui. Lawan dari ilmu adalah kebodohan, yaitu tiadanya gambaran yang diketahui pada jiwanya. Belajar dan mengajar tiada lain adalah\u00a0mengaktualisasikan\u00a0hal-hal potensial, melahirkan hal-hal yang terpendam dalam jiwa.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain\u00a0Ikhwan\u00a0al Shafa, yang termasuk aliran ini antara lain al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Miskawih. Pergumulan intensif kelompok Ikhwan al-Shafa dengan pemikiran filsafat Yunani telah memberikan landasan bagi aliran pendidikannya, yaitu bahwa pangkal segala sesuatu yang terkait dengan jiwa beserta semua potensinya, serupa dengan apa yang diutarakan oleh kecenderungan\u00a0<em>Gnostik.<\/em><\/p>\n<p><b><\/b><b><strong>Aliran Pragmatis\u00a0<\/strong><\/b><b><strong><em>(al-Dharai\u2019iy)<\/em><\/strong><\/b><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tokoh utama aliran ini adalah Ibnu Khladun.\u00a0Pemikiran Ibnu Khaldun lebih banya bersifat pragmatis dan lebih berorientasi pada dataran aplikatif-praktis.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Aliran ini merupakan wacana baru dalam pemikiran pendidikan Islam. Apabila kalangan konservatif mempersempit ruang lingkupsekuler di hadapan rasionalitas Islam dan mengaitkannya secara kaku dengan pemikiran atau warisan salaf, sedangkan kalangan Rasionalis dalam sistem pendidikan (program kurikuler) berpikiran idealistik sehingga memasukkan semua disiplin keilmuan yang dianggap substantif bernilai, maka Ibnu Khaldun mengakomodir ragam jenis keilmuan yang nyata terkait dengan kebutuhan langsung manusia, baik berupa kebutuhan spiritual-ruhaniah maupun kebutuhan material-jasmaniah.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><strong>Daftar Pustaka\u00a0<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Djumransjah,\u00a0M.\u00a0<em>Filsafat Pendidikan<\/em><em>,<\/em><em>\u00a0<\/em>Malang: Bayumedia Publishing, 2006<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Gandhi, Teguh Wangsa.\u00a0<em>Madzhab-Madzhab Filsafat Pendidikan,<\/em>\u00a0Jogjakarta: Ar-Ruzz\u00a0Media, 2013<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Haris, Abdul dan Kivah Aha Putra.\u00a0<em>Filsafat Pendidikan Islam,\u00a0<\/em>Jakarta: Amzah,\u00a02012<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Maksum\u00a0Ali.\u00a0<em>Pengantar Filsafat,\u00a0<\/em>Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ranah kajian Filsafat Pendidikan Islam\u00a0 Filsafat pendidikan Islam sebagaimana pendapat al-Syaibani yang dikutip oleh Ahmad Syar\u2019i menjelaskan bahwa filsafat pendidikan Islam adalah prinsip-prinsip dan berbagai&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-28838","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ragam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28838","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28838"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28838\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28838"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28838"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28838"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}