{"id":28832,"date":"2022-12-02T07:59:10","date_gmt":"2022-12-02T00:59:10","guid":{"rendered":"https:\/\/an-nur.ac.id\/?p=28832"},"modified":"2022-12-02T07:59:10","modified_gmt":"2022-12-02T00:59:10","slug":"faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/","title":{"rendered":"Faktor &#8211; Faktor Yang Mempengaruhi Pendidikan Islam"},"content":{"rendered":"<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_88 ez-toc-wrap-left counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\" style=\"cursor:inherit\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" aria-label=\"Toggle Table of Content\"><span class=\"ez-toc-js-icon-con\"><span class=\"\"><span class=\"eztoc-hide\" style=\"display:none;\">Toggle<\/span><span class=\"ez-toc-icon-toggle-span\"><svg style=\"fill: #999;color:#999\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" class=\"list-377408\" width=\"20px\" height=\"20px\" viewBox=\"0 0 24 24\" fill=\"none\"><path d=\"M6 6H4v2h2V6zm14 0H8v2h12V6zM4 11h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2zM4 16h2v2H4v-2zm16 0H8v2h12v-2z\" fill=\"currentColor\"><\/path><\/svg><svg style=\"fill: #999;color:#999\" class=\"arrow-unsorted-368013\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" width=\"10px\" height=\"10px\" viewBox=\"0 0 24 24\" version=\"1.2\" baseProfile=\"tiny\"><path d=\"M18.2 9.3l-6.2-6.3-6.2 6.3c-.2.2-.3.4-.3.7s.1.5.3.7c.2.2.4.3.7.3h11c.3 0 .5-.1.7-.3.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7zM5.8 14.7l6.2 6.3 6.2-6.3c.2-.2.3-.5.3-.7s-.1-.5-.3-.7c-.2-.2-.4-.3-.7-.3h-11c-.3 0-.5.1-.7.3-.2.2-.3.5-.3.7s.1.5.3.7z\"\/><\/svg><\/span><\/span><\/span><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1 ' ><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Pengertian_Faktor\" >Pengertian Faktor<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Pendidik_dalam_Pendidikan_Islam\" >Faktor Pendidik dalam Pendidikan Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Peserta_Didik_dalam_Pendidikan_Islam\" >Faktor Peserta Didik dalam Pendidikan Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Lingkungan_Keluarga\" >Faktor Lingkungan Keluarga<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Lingkungan_Sekolah\" >Faktor\u00a0Lingkungan\u00a0Sekolah<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Lingkungan_Masyarakat\" >Faktor Lingkungan Masyarakat<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-7\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Materi_dalam_Pendidikan_Islam\" >Faktor Materi dalam Pendidikan Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-8\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Alat_atau_Media_dalam_Pendidikan_Islam\" >Faktor Alat\u00a0atau\u00a0Media\u00a0dalam Pendidikan Islam<\/a><ul class='ez-toc-list-level-2' ><li class='ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-9\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Jenis_alat_media\" >Jenis alat media\u00a0<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-10\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Fungsi_Alat_Media\" >Fungsi Alat Media<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-11\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Macam-macam_media\" >Macam-macam\u00a0media<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-12\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Pengaruh_Alat_atau_Media_Dalam_Pendidikan\" >Pengaruh\u00a0Alat atau Media Dalam Pendidikan<\/a><\/li><\/ul><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-13\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Kurikulum_dalam_Pendidikan_Islam\" >Faktor Kurikulum dalam Pendidikan Islam<\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-1'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-14\" href=\"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/faktor-faktor-yang-mempengaruhi-pendidikan-islam\/#Faktor_Metode_dalam_Pendidikan_Islam\" >Faktor Metode\u00a0dalam Pendidikan Islam<\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengertian_Faktor\"><\/span><strong>Pengertian Faktor<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Faktor\u00a0dapat diartikan sebagai suatu kesatuan unsur-unsur yang saling berinteraksi secara fungsional yang memproses masukan menjadi keluaran. Faktor bisa pula diartikan sebagai seperangkat komponen yang berinteraksi satu sama lain menuju ke suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan. Dengan demikian, faktor atau sistem merupakan totalitas dari bagian-bagian yang saling berkaitan.[1]\u00a0Briggs mengatakan bahwa sistem adalah rencana kerja yang terpadu dari semua komponen sistem yang dirancang untuk memecahkan suatu masalah atau untuk memenuhi kebutuhan tertentu[2]\u00a0sebagai contoh, sistem pencernaan makanan pada manusia meliputi berbagai fungsi organ tubuh yang saling bekerja dan mempengaruhi satu sama lain, semisal mulut, tenggorokan, lambung, usus, anus, dan lain-lain. Apabila satu organ tubuh tersebut tidak bekerja dengan baik maka akan mempengaruhi kerja organ yang lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Begitu pula halnya dengan sistem pendidikan. Sistem pendidikan memiliki berbagai komponen yang saling mempengaruhi. Sutari Imam Barnadib membagi unsur-unsur yang mempengaruhi pendidikan tersebut menjadi lima bagian, yaitu tujuan, pendidik, anak didik, alat dan alam sekitar.[3]\u00a0Namun pada makalah ini disebutkan faktor yang lain, karena faktor-faktor lain sudah disebutkan pada makalah sebelumnya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Pendidik_dalam_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Faktor Pendidik dalam Pendidikan Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Salah\u00a0satu faktor penting dari proses kependidikan Islam adalah pendidik. Di pundak pendidik terletak tanggung jawab yang amat besar dalam upaya mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang dicita-citakan. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan\u00a0<em>cultural transition<\/em>\u00a0yang bersifat dinamis ke arah suatu perubahan secara kontinu, sebagai sarana vital bagi membangun kebudayaan dan peradaban umat manusia.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas kemanusiaannya (baik sebagai\u00a0<em>khalifah fi al-ardh<\/em>\u00a0maupun\u00a0<em>\u2018abd<\/em>) sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Oleh karena itu, pendidik dalam konteks ini bukan hanya terbatas pada orang-orang yang bertugas di sekolah tetapi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan anak mulai sejak alam kandungan hingga ia dewasa, bahkan sampai ia meninggal.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tugas pendidik yang utama adalah menyempurnakan, membersihkan, mensucikan, serta membawa hati manusia untuk\u00a0<em>taqarrub ila Allah<\/em>. Para pendidik hendaknya mengarahkan peserta didik untuk mengenal Allah lebih dekat melalui seluruh ciptaan-Nya. Sementara dalam batasan lain, tugas pendidik dapat dijabarkan dalam beberapa pokok pikiran, yaitu:[4]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan program pengajaran, melaksanakan program yang disusun, dan akhirnya dengan pelaksanaan penilaian setelah program tersebut dilaksanakan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pendidik (edukator) yang mengarahkan peserta didik pada tingkat kedewasaan kepribadian sempurna (<em>insa&gt;n<\/em><em>\u00a0<\/em><em>ka&gt;mil<\/em>), seiring dengan tujuan penciptaan-Nya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan diri (baik diri sendiri, peserta didik, maupun masyarakat), upaya pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, dan partisipasi atas program yang dilakukan.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam\u00a0konteks pendidikan Islam, pendidik adalah\u00a0<em>spiritual father<\/em>\u00a0atau bapak rohani bagi murid. Pendidiklah yang memberi santapan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya, maka menghormati pendidik berarti penghormatan terhadap anak-anak pula.[5]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan\u00a0merupakan kewajiban setiap Muslim. Di samping itu, Islam memberi motivasi agar dalam melaksanakan tugas atau kewajiban tersebut mengarah kepada nilai tambah yang positif, bukan negatif. Sebab tiap upaya demikian bernilai alternatif, pahala atau dosa. Hadits Nabi SAW menyebutkan:[6]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\"><em>\u201cBarangsiapa mengajak kepada petunjuk (kebaikan), ia akan mendapat pahala semisal pahala orang yang mengikuti (petunjuknya) tadi tanpa berkurang sedikitpun pahalanya. Sebaliknya, barangsiapa mengajak kepada kesesatan (kejahatan), ia akan mendapat dosa semisal dosa orang yang mengikuti (kesesatannya tadi) tanpa berkurang sedikitpun dari dosanya\u201d<\/em>. (HR. Bukhori)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Itu sebabnya, pendidik menurut Islam bukanlah sekadar pembimbing melainkan juga sebagai figur teladan yang memiliki karakteristik baik, sedang hal itu belum tentu terdapat dalam diri pembimbing. Dengan begitu pendidik Muslim haruslah aktif dari dua arah; secara eksternal dengan jalan mengarahkan atau membimbing peserta didik, secara internal dengan jalan merealisasikan karakteristik akhlak mulia.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Peserta_Didik_dalam_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Faktor Peserta Didik dalam Pendidikan Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam paradigma pendidikan Islam, peserta didik merupakan orang yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar yang masih perlu dikembangkan. Di sini, peserta didik merupakan makhluk Allah yang memiliki\u00a0<em>fitrah<\/em>\u00a0jasmani maupun rohani yang belum mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan pada bagian-bagian lainnya. Dari segi rohaniah, ia memiliki bakat, memiliki kehendak, perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu dikembangkan.[7]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Melalui paradigma di atas dijelaskan bahwa peserta didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengarahkannya mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan. Potensi suatu kemampuan dasar yang dimilikinya tidak akan tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa bimbingan pendidik. Berikut ada beberapa deskripsi tentang hakikat peserta didik dan implikasinya terhadap pendidikan Islam, yaitu:[8]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa akan tetapi memiliki dunianya sendiri. Hal ini sangat penting untuk dipahami agar perlakuan terhadap mereka dalam proses kependidikan tidak disamakan dengan pendidikan orang dewasa.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peserta didik adalah manusia yang memiliki diferensiasi periodisasi perkembangan dan pertumbuhan. Pemahaman ini cukup perlu untuk diketahui agar aktivitas kependidikan Islam disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang pada umumnya dilalui oleh setiap peserta didik.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang menyangkut kebutuhan jasmani maupun rohani yang harus dipenuhi. Di antara kebutuhan tersebut adalah kebutuhan biologis, kasih sayang, rasa aman, harga diri, realisasi diri, dan sebagainya. Kesemuanya itu penting dipahami oleh pendidik agar tugas-tugas kependidikannya dapat berjalan secara baik dan lancar.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peserta didik adalah makhluk Allah yang memilki perbedaan individual (<em>diferensiasi individual<\/em>), baik yang disebabkan oleh faktor pembawaan maupun lingkungan di mana ia berada. Pemahaman tentang\u00a0<em>diferensiasi individual<\/em>\u00a0peserta didik sangat penting untuk dipahami oleh seorang pendidik. Hal ini disebabkan karena menyangkut bagaimana pendekatan yang perlu dilakukan pendidik dalam menghadapi ragam sikap dan perbedaan tersebut dalam suasana yang dinamis, tanpa harus mengorbankan kepentingan salah satu pihak atau kelompok.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peserta didik merupakan resultan dari dua unsur utama, yaitu jasmani dan rohani. Unsur jasmani memiliki daya fisik yang menghendaki latihan dan pembiasaan yang dilakukan melalui proses pendidikan. Sementara unsur rohaniah memiliki dua daya, yaitu daya akal dan daya rasa. Untuk mempertajam daya akal, maka proses pendidikan hendaknya diarahkan untuk mengasah daya intelektualisnya melalui ilmu-ilmu rasional. Sedangkan untuk mempertajam daya rasa dapat dilakukan melalui pendidikan akhlak dan ibadah.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi (<em>fitrah<\/em>) yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis. Di sini tugas pendidik adalah membantu mengembangkan dan mengarahkan perkembangan tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan yang diinginkan, tanpa melepaskan tugas kemanusiaannya; baik secara vertikal maupun horizontal. Ibarat sebidang sawah, peserta didik adalah orang yang berhak bercocok tanam dan memanfaatkan sawahnya (potensi). Sementara pendidik (termasuk orang tua) hanya bertugas menyirami dan mengontrol tanaman agar tumbuh subur sebagaiman mestinya, sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Faktor Lingkungan dalam Pendidikan Islam<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Yang dimaksud dengan lingkungan (milieu) di sini adalah semua faktor yang mempengaruhi potensi dan kecenderungan anak, semisal rumah (keluarga) di mana anak tersebut tinggal, sekolah tempat ia belajar, lapangan tempat ia bermain, dan masyarakat di mana ia hidup bergaul. Lingkungan di mana manusia itu hidup akan mengantarnya kepada melihat sesuatu sedang lainnya tidak ia lihat, atau mendorongnya memiliki keyakinan tertentu, sedang keyakinan lainnya tidak ia miliki. Dengan sarana lingkungan inilah secara\u00a0<em>gradual<\/em>\u00a0tumbuh kokoh dalam jiwanya cara tertentu yang mesti ia jalani berupa sopan santun, pergaulan, percakapan, perbuatan beserta aturannya, tugasnya dan sebagainya. Lingkungan akan mengkokohkan jiwanya, bagaimana berbincang-bincang dengannya dan bagaimana cara mempraktekkan ilmunya sampai sukses.[9]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berikut dijelaskan beberapa lingkungan yang berpengaruh besar dalam berjalannya suatu sistem kependidikan Islam:<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Lingkungan_Keluarga\"><\/span><strong>Faktor Lingkungan Keluarga<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Islam mengajarkan bahwa pendidik pertama dan utama yang paling bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik adalah kedua orang tua. Islam memerintahkan kedua orang tua untuk mendidik diri dan keluarganya, terutama anak-anaknya, agar mereka terhindar dari azab yang pedih. Firman Allah:<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Artinya:\u00a0<em>\u201cHai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.\u201d<\/em>\u00a0(QS. Al-Tahri&gt;m\u00a0ayat 6)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam\u00a0implementasinya, orang tualah sebagai\u00a0penanggung\u00a0jawab pendidikan di lingkungan keluarga\u00a0 atau di rumah tangga; pendidik dan pengelola sekolah termasuk pemerintah sebagai penanggung jawab pendidikan di lingkungan sekolah; tokoh masyarakat dan selainnya sebagai penanggung jawab pendidikan di lingkungan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan dalam lingkungan rumah tangga, disebut dengan jalur pendidikan informal. Lingkungan rumah tangga atau lingkungan keluarga, memberikan peranan yang sangat berarti dalam proses pembentukan kepribadian muslim sejak dini. Sebab di lingkungan inilah seseorang menerima sejumlah nilai dan norma yang ditanamkan sejak masa kecilnya.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Lingkungan_Sekolah\"><\/span><strong>Faktor\u00a0Lingkungan\u00a0Sekolah<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sekolah merupakan lembaga pendidikan dan pengajaran. Sekolah mempunyai\u00a0aturan-aturan khusus, tata tertib tertentu yang dibuat untuk tujuan kehidupan, yaitu mengarahkan masyarakat kepada segala seuatu yang baik. Sebagian dari tujuannya adalah merealisasikan prinsip umum dan pemikiran mulia, yaitu mendidik tiap anak dengan pendidikan yang sejati sehingga menjadikannya sebagai anggota yang bermanfaat bagi masyarakat, dengan cara memberinya petunjuk secara sistematis dan pengajaran yang kontinu.[10]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Peranan sekolah tidak sekedar mengembangkan pengajaran membaca, menulis dan berhitung, tetapi berperan untuk mempersiapkan individu terhadap sesuatu yang dibutuhkan masyarakat di mana ia hidup, dan kehidupan sempurna yang harus dikerjakan oleh pihak sekolah agar sampai pada tujuan tersebut; serta mengarahkannya pada perbuatan yang baik baginya agar ia berjalan sampai tuujuan dengan sukses.[11]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sekolah umumnya dianggap sebagai mikrokosmos dari masyarakat secara keseluruhan. Di sini siswa dapat mempelajari berbagai problematika dan isu-isu yang dihadapi oleh komunitas secara keseluruhan. Sekolah menjadi laboratorium tempat belajar yang hidup, sebuah upaya model demokrasi.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Baik sekolah, masjid, perpustakaan, kuttab, toko buku, rumah ulama atau lainnya dianggap oleh Islam -dan ini telah terbukti dalam lintasan sejarah Islam- sebagai lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan Islam, menurut Hasan Langgulung, bukanlah lembaga beku, tetapi fleksibel, yakni berkembang menurut kehendak waktu dan tempat.[12]\u00a0Sebagai\u00a0<em>agent of change<\/em>, sekolah diharapkan bisa mengadakan pembaruan (reformasi) dan perubahan ke arah perbaikan (rekonstruksi), baik berjangka panjang maupun pendek, sosial maupun individual, dan karena sekolah merupakan bagian dari masyarakat.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Lingkungan_Masyarakat\"><\/span><strong>Faktor Lingkungan Masyarakat<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Berkaitan dengan lingkungan (masyarakat) ini, al-Abrasyi menyebutkan bahwa lingkungan sosial (masyarakat) itu memiliki pengaruh besar bagi perkembangan pendidikan. Tidaklah sulit bagi manusia untuk merasakan atau bersinggungan dengan pengaruh tersebut pada diri manusia yang terlihat dari luar dan adat sosial.[13]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada aspek sekolah dan masyarakat ini al-Abrasyi menyebutkan hubungan antara madrasah dengan sekolah ini dengan ungkapannya:[14]\u00a0\u0627\u0644\u0645\u062f\u0631\u0633\u0629 \u0645\u062c\u062a\u0645\u0639 \u0635\u063a\u064a\u0631\u00a0di mana keduanya berarti: sekolah merupakan masyarakat dalam bentuk kecil.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kondisi sosial mestilah kooperatif dan demokratis. Posisi semacam ini merupakan perkembangan alam yang menganggap bahwa sekolah sebagai mikrokosmos dari masyarakat yang lebih luas, dan bahwa pendidikan itu sendiri adalah kehidupan, bukan persiapan untuk hidup. Sekolah melakukan kompetisi secara tidak alami. Dalam dunia kerja, apabila seseorang menghadapi suatu persoalan, biasanya ia diperkenankan meminta bantuan dari teman kerjanya. Di sekolah, anak-anak dilarang pindah, bicara, atau bahkan dilarang mencoba membantu temannya menyelesaikan persoalan. Titik tekan sekolah tradisional terletak pada perhatian yang tidak semestinya terhadap kompetisi yang tidak sehat secara sosial, dan tidak efisien menurut\u00a0\u00a0pendidikan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Interaksi sosial terbentuk dari sekelompok individu, karena ketergantungan lingkungan terhadap individu, masa eksistensi dan potensi dinamikanya dipengaruhi oleh individu pula. Sehubungan dengan ini, Mahmud Ahmad al-Sayyid menyatakan bahwa individu adalah bagian dari masyarakat, tidak\u00a0<em>exist<\/em>\u00a0dengan sendirinya. Individu hidup dalam masyarakat, untuk masyarakat, dan dengan masyarakat, sebagaimana halnya masyarakat tidak\u00a0<em>exist<\/em>\u00a0kecuali dengan adanya komponen individu. Masyarakat itu ibarat tubuh, agar tubuh tersebut hidup, harus menumbuhkan seluruh anggotanya, dan menunaikan tugasnya secara tepat dan teratur.[15]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Materi_dalam_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Faktor Materi dalam Pendidikan Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Materi\u00a0dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sesuatu yang menjadi bahan untuk diujikan, dipikirkan, dibicarakan, dikarangkan, dll. Sedangkan Pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Istilah materi pendidikan berarti mengorganisir bidang ilmu pengetahuan yang membentuk basis aktivias lembaga pendidikan, bidang-bidang ilmu pengetahuan ini satu dengan lainnya dipisah-pisah namun merupakan satu kesatuan terpadu. Materi pendidikan harus mengacu pada tujuan, bukan sebaliknya tujuan mengarah kepada suatu materi, oleh karenanya materi pendidikan tidak boleh berdiri sendiri sendiri terlepas dari kontrrol tujuannya.[16]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Terkait\u00a0materi-materi dalam pendidikan islam, H. M. Arifin seorang tokoh pendidikan islam terkemuka di Indonesia berpendapat tentang pengertian materi, dengan perkataannya \u201cpada hakikatnya, materi yaitu bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam proses pendidikan, dan dalam suatu sistem institusional pendidikan.\u201d selanjutnya beliau menyunting pendapat para pakar pendidikan islam mengenai materi dan ilmu dalam pendidikan sebagai berikut :<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pemilihan\u00a0materi di samping harus sesuai dengan tujuan, dituntut pula agar sesuai dengan subjek didik yang dipelajarinya.\u00a0Materi yang akan diberikan harus dapat disesuaikan dengan kemampuan peserta didik, menarik perhatian, minat, umur, bakat, jenis kelamin, latar belakang, dan pengalaman. Materi juga perlu diorganisasikan menurut urutannya dengan memperhatikan keseimbangan dari yang sederhana kepada yang kompleks, dari yang konkret menuju yang abstrak, sehingga dapat menuntun para pelajar secara runtun atau sistematis, sehingga melahirkan kurikulum.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam sistem pendidikan sekolah, materi telah diramu dalam kurikulum yang akan disajikan sebagai sarana pencapaian tujuan. Materi ini meliputi materi inti maupun muatan lokal. Materi ini bersifat nasional yang mengandung misi pengendalian dan persatuan bangsa. Sedangkan muatan lokal misinya adalah mengembangkan kebhinnekaan kekayaan budaya sesuai dengan kondisi lingkungan. Dengan demikian jiwa dan semangat Bhinneka Tunggal Ika dapat dikembangkan.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Alat_atau_Media_dalam_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Faktor Alat\u00a0atau\u00a0Media\u00a0dalam Pendidikan Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pengertian\u00a0alat pendidikan ialah segala sesuatu yang dipergunakan\u00a0dalam usaha\u00a0untuk mencapai tujuan dari pendidikan.\u00a0Dengan demikian yang dimaksud dengan alat pendidikan agama ialah; Segala sesuatu yang dipakai dalam mencapai tujuan pendidikan agama.\u00a0Ada yang berpendapat bahwa\u00a0Faktor alat dan metode adalah meliputi materi pendidikan\u00a0dan\u00a0metode pendidikan.[17]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dari beberapa literatur, tidak terdapat perbedaan pengertian antara alat dan media pendidikan, Zakiah Daradjat menyebutkan pengertian alat pendidikan sama dengan media pendidikan sebagai sarana pendidikan.\u00a0Term alat berarti barang sesuatu yang dipakai untuk mencapai suatu maksud. Sedangkan media berasal dari bahasa latin dan bentuk jamak dari medium yang secara hafifah berarti perantara atau pengantar. Dalam hal ini batasan makna media pendidikan dirumuskan pada beberapa batasan. Diantaranya, Gegne menyebutkan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang peserta didik untuk belajar.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Sementara Brigs mendefinisikan media sebagai salah satu bentuk alat fisik yang dapat menyajikan pesan yang dapat merangsang siswa untuk belajar. Dari dua definisi mengacu pada penggunaan alat yang berupa benda untuk membantu proses penyampaian pesan.\u00a0Selanjutnya yang dimaksud dengan alat atau media pendidikan Islam disini adalah jalan atau cara yang dapat ditempuh unuk menyampaikan bahan atau materi pendidikan Islam kepada anak didik agar terwujud keperibadian muslim<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Alat pendidikan Islam yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mencpai tujuan pendidikan Islam, dengan demikian maka alat ini mencangkup apa saja yang dapat digunakan dan mempunyai peranan penting sebab alat\u00a0atau\u00a0media dapat digunakan untuk menuntun atau membumbing anak dalam masa pertumbuhannya agar kelak menjadi kepribadian muslim\u00a0yang diridhai oleh Allah.[18]<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Jenis_alat_media\"><\/span><strong>Jenis alat media\u00a0<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adapun Sutari Imam Barnadib mengemukakan bahwa alat pendidikan ialah tindakan atau perbutan atau situasi atau benda yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai tujuan pendidikan.\u00a0Alat pendidikan ternyata mencangkup pengertian yang luas. Yang termasuk didalamnya berupa benda, seperti kelas, perlengkapan belajar dan yang sejenisnya. Alat ini disebut juga dengan alat peraga. Sedangkan yang merupakan alat bukan benda ialah dapat berupa situasi pergaulan bimbingan perintah, ganjaran teguran, anjuran serta tugas ancaman maupun hukuman. Media pendidikan atau alat pendidikan yang bersifat non materi memiliki sifat yang abstrak dan hanya dapat diwujudkan melalui perbuatan dan tingkah laku seorang pendidik terhadap anak didiknya. Diantara\u00a0media dan sumber belajar yang termasuk kedalam katagori ini adalah : keteladanan, perintah,tingkah laku, ganjaran dan hukuman.<\/p>\n<p><strong>a) Keteladanan<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada umumnya manusia memerlukan figure (sosok) identidikasi yang dapat membimbing manusia kearah kebenaran untuk memenuhi keinginan tersebut, untuk itu Alla\u00adh mengutus Muhammad menjadi tauladan bagi manusia dan wajib diikuti oleh umatnya. Untuk menjadi sosok yang ditauladani, Allah menmerintahkan manusia termasuk pendidik selaku khalifah\u00a0<em>fial-ard}\u00a0<\/em>mengerjakan perintah Allah dan Rasul sebelum mengajarkannya kepada ornag yang akan dipimpin.<\/p>\n<p><strong>b) Perintah dan larangan<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Seorang Muslim diberi oleh Allah tugas dan tanggung jawab melaksanakan peserta didikan\u00a0<em>\u201camar ma\u2019ruf nahi munkar\u201d<\/em>.\u00a0<em>Amar ma\u2019ruf nahi munkar<\/em><em>\u00a0<\/em>merupakan alat\u00a0atau\u00a0media dalam pendidikan. Perintah adalah suatu keharusan untuk berbuat atau melaksanakan sesuatu. Suatu perintah akan mudah ditaati oleh peserta didik jika pendidik sendiri menaati peraturan-peraturan, atau apa yang dilakukan sipendidik sudah dimiliki atau menjadi pedoman pula bagi hidup si pendidik. Sementara larangan dikeluarkan apabila si peserta didik melakukan sesuatu yang tidak baik atau membahayakan dirinya.larangan sebenarnya sama dengan perintah. Kalau perintah merupakan suatu keharusan\u00a0untuk\u00a0berbuat sesuatu yang bermanfaat, maka larangan adalah keharusan untuk tidak melakukan sesuatu yang merugikan.<\/p>\n<p><strong>c) Ganjaran<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Maksud ganjaran dalam konteks ini adalah memberikan sesuatu yang menyenangkan\u00a0(penghargaan) dan dijadikan sebuah hadiah bagi peserta didik yang berprestasi, baik dalam belajar maupun sikap prilaku. Pendidik dalam pendidikan Islam yang tidak memberikan ganjaran kepada peserta didik yang telah memperoleh prestasi sebagai hasila belajar, maka dapat diartikan secara implsit bahwa pendidik belum memanfaatkan alat pengajaran seoptimalnya.<\/p>\n<p><strong>d ) Hukuman<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Selain ganjaran, hukuman juga merupakan alat\u00a0atau\u00a0media pendidikan. Dalam Islam hukuman disebut dengan\u00a0<em>iqab.\u00a0<\/em>Abdurahman\u00a0al-Nahkawi\u00a0menyebutkan\u00a0bahwa\u00a0<em>tahrib\u00a0<\/em>yang berarti ancaman atau intimidasi melalui hukuman karena melakukan sesuatu yang dilarang. Sejak dahulu, hukuman dianggap sebagai alat\u00a0atau\u00a0media yang istimewa kedudukannya, sehingga hukuman itu diterapkan tidak hanya dibidang pengadilan raja, tetapi juga diterapkan pada semua bidang, termasuk bidang pendidikan.[19]<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Fungsi_Alat_Media\"><\/span><strong>Fungsi Alat Media<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Abu Bakar Muhammad berpendapat bahwa kegunan alat atau media pendidikan itu adalah:<\/p>\n<p>a) Mampu mengatasi kesulitan-kesulitan dan memperjelasmateri pelajaran yang sulit<\/p>\n<p>b Mampu mempermudah pemahaman dan menjadikan pelajaran lebih hidup<\/p>\n<p>c) Merangsang anak untuk bekerja dan menggerakan naluri kecintaan, melatih belajar dan menimbulkan kemauan keras untuk mempelajari sesuatu.<\/p>\n<p>d) Membantu pembentukan kebiasaan, melahirkan pendapat memperhatikan dan memikirkan suatu pelajaran.<\/p>\n<p>e) Menimbulkan kekuatan perhatian (ingatan), mempertajam indra memperhalus perasaan dan cepat belajar.[20]<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Macam-macam_media\"><\/span><strong>Macam-macam\u00a0media<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Alat-alat pendidikan agama dapat dikelompokkan menjadi 3 dengan uraian atau klasifikasi\u00a0sebagai berikut:<\/p>\n<p>a )<strong>Alat pengajaran agama<\/strong>: Yang dibedakan menjadi tiga ;<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Alat pengajaran Klasikal, Seperti Papan Tulis, kapur dan lain-lain.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">2) Alat Pengajaran Individual. Seperti alat tulis, buku pelajaran dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">3) Alat Peraga.<\/p>\n<p>b) <strong>Alat<em>\u00a0<\/em>pendidikan langsung<\/strong>: termasuk alat pendidikan yang\u00a0langsung juga adalah menggunakan emosi dan dramatisasi dalam menerangkan masalah agama. Karena agama lebih menyangkut perasaan.<\/p>\n<p>c) <strong>Alat-alat pendidikan tidak langsung<\/strong>: Alat yang bersifat kuratif. Agar dengan demikian anak-anak menyadari perbuatannya yang salah dan berusaha untuk memperbaikinya.<\/p>\n<h2><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Pengaruh_Alat_atau_Media_Dalam_Pendidikan\"><\/span><strong>Pengaruh\u00a0Alat atau Media Dalam Pendidikan<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam\u00a0pendidikan Islam, alat\u00a0atau\u00a0media jelas\u00a0diperlukan. Sebab,\u00a0alat atau media pengajaran mempunyai peran yang besar dan berpengaruh terhadap pencapaian tujuan pendidikanyang diinginkan. Terdapat pendapat beberapa para ahli pendidikan mengenai manfaat atau kegunaan dari alat atau media dalam pendidikan. Yusuf Hadi Miraso dkk, menyatakan bahwa alat atau media berupa benda dalam pendidikan memiliki nilai-nilai praktis edukatif yang meliputi:<\/p>\n<p>a) Membuat konsep abstrak menjadi konkret<\/p>\n<p>b) Membawa objek yang sukar didapat dalam lingkunagan belajar siswa<\/p>\n<p>c) menampilakan objek yang terlalu besar<\/p>\n<p>d) Menampilkan objek yang diamati dengan mata telanjang<\/p>\n<p>e) Mengamati gerakan yangterlalu cepat<\/p>\n<p>f) Memungkunkan keseragaman pengamtan dan presepsi bagi pengalaman belajar siswa<\/p>\n<p>g) Membangkitkan motivasi belajar<\/p>\n<p>h) Menyajikan informasi belajar yang konsisten dan dapat diulangmaupun disimpan. Sedangkan alat berupa non-benda, karena sifatnya abstrak maka ia berperan dalam pemahaman nilai dan penilaian akhlak.<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Kurikulum_dalam_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Faktor Kurikulum dalam Pendidikan Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada\u00a0umumnya\u00a0penyusunan kurikulum dibuat berdasarkan pengalaman pribadi dan sosial siswa. Pelajaran yang diberikan sering kali berhubungan dengan ilmu sosial agar dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan berupa pengalaman dan rencana siswa. Namun karena penyelesaian persoalan itu melibatkan kemampuan komunikasi, proses matematis, dan pembahasan ilmiah, maka kurikulumnya dirancang secara interdisipliner dengan alam sekitar. Buku dipandang sebagai alat untuk membantu proses belajar, bukan sebagai sumber utama ilmu pengetahuan.[21]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam pandangan al-Abras}i, penyusunan kurikulum itu hendaknya berpegang pada beberapa prinsip, yaitu :[22]<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Pertimbangan pada adanya pengaruh mata pelajaran itu dalam pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Adanya pengaruh suatu pelajaran dalam menjalani cara hidup yang mulia, sempurna, seperti pengaruh ilmu akhlak, hadis, fikih atau yang lainnya.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Perlunya menuntut ilmu karena ilmu itu sendiri.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mempelajari ilmu pengetahuan karena ilmu itu dianggap yang terlezat bagi manusia.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Prinsip pendidikan kejuruan, teknik, dan industrialiasasi buat mencari penghidupan.<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\">Mempelajari beberapa mata pelajaran adalah alat dan pembuka jalan unuk mempelajari ilmu-ilmu lain.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian kurikulum pendidikan Islam meliputi kepentingan\u00a0<em>duniawi<\/em>\u00a0(point 3 sampai 6) dan kepentingan\u00a0<em>uh}rawi<\/em>\u00a0(spiritual) (poin 1 dan 2)<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Kurikulum dalam pandangan Islam dikembangkan kearah tauhid atau iman kepada Allah SWT. Hamid al-Hasan Bilgrami dan Syed \u2018Ali Asyraf menerangkan bahwa inti dari sarana pengembangan kurikulum dilihat dari sudut pandang Islami adalah kebenaran yang fundamental dan yang tidak dapat diubah, yaitu prinsip<em>\u00a0tauhid<\/em>.[23]<\/p>\n<h1><span class=\"ez-toc-section\" id=\"Faktor_Metode_dalam_Pendidikan_Islam\"><\/span><strong>Faktor Metode\u00a0dalam Pendidikan Islam<\/strong><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h1>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan\u00a0merupakan usaha membimbing dan membina serta bertanggung jawab untuk mengembangkan intelektual pribadi anak didik ke arah kedewasaan dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka pendidikan Islam adalah sebuah proses dalam membentuk manusia-manusia muslim yang mampu mengembangkan potensi yang dimilikinya untuk mwujudkan dan merealisasikan tugas dan fungsinya sebagai Khalifah Allah SWT. baik kepada Tuhannya, sesama manusia, dan sesama makhluk lainnya. Pendidikan yang dimaksud selalu berdasarkan kepada ajaran al Qur&#8217;an dan Al Hadits. Oleh karena itu, yang dimaksud dengan metodologi pendidikan Islam adalah cara yang dapat ditempuh dalam\u00a0memudahkan pencapaian tujuan pendidikan\u00a0Islam.[24]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Tugas\u00a0utama metode pendidikan adalah mengadakan aplikasi prinsip-prinsip psikologis dan paedagosis sebagai kaegiatan antar hubungan pendidikan yang terealisasi melalui penyampaian keterangan dan pengetahuan agar siswa mengetahui, memahami, menghayati, dan meyakini materi yang diberikan, serta meningkatkan keterampilan olah pikir.[25]<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Pada\u00a0dasarnya\u00a0metode pendidikan islam sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik dan memotivasi mereka sehingga aplikasi metode ini memungkinkan puluhan ribu kaum mukminin dapat membuka hati manusia untuk menerima petunjuk ilahi dan konsep-konsep pendepan Islam. Selain itu, metode pendidikan Islam akan mampu menempatkan manusia diatas luasnya permukan bumi dan dalam masa yang tidak demikian kepada penghuni bumi lainnya[26].<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode\u00a0yang menonjol dan dianggap penting adalah:<\/p>\n<p><strong>Metode Dialog\u00a0<em>Qur\u2019ani<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Nabawi<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Adalah pendidikan dengan cara berdiskusi sebagaimana yang digunakan oleh al Qur\u2019an dan hadits-hadits nabi. Metode ini, disebut pula metode\u00a0<em>khiwar<\/em><em>\u00a0<\/em>yang\u00a0meliputi dialog\u00a0<em>khitabi\u00a0<\/em>dan\u00a0<em>ta\u2019abbudi\u00a0<\/em>(bertanya dan lalu menjawab) dialog deskriftif dan dialog naratif (menggambarkan dan lalu mencermati), dialog argumentatif (berdiskusi lalu mengemukakan alasan), dan dialog nabawi (menanamkan rasa percaya diri, lalu beriman).\u00a0Untuk yang terkhir ini, dialog\u00a0<em>Nabawi<\/em>\u00a0sering dipraktekkan oleh sahabat ketika mereka bertanya sesuatu kepada Rasulullah.\u00a0\u00a0Dialog\u00a0<em>qur\u2019ani<\/em>\u00a0merupakan jembatan yang dapat menghubungkan pemikiran seseoarang dengan orang lain sehingga mempunyai dampak terhadap jiwa peserta didik.<\/p>\n<p><strong>Metode\u00a0Kisah\u00a0<em>Qur\u2019ani<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>Nabawi<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode kisah disebut juga metode cerita yakni cara mendidik dengan mengandalkan bahasa, baik lisan maupun tertulis dengan menyampaikan pesan dari sumber pokok sejarah Islam, yakin al-Qur\u2019an dan Hadits.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Dalam\u00a0al-Qur\u2019an dijumpai banyak kisah, terutama yang\u00a0berkenaan\u00a0dengan misi kerasulan dan umat masa lampau.muhammad Qutb berpendapat bahwa kisah-kisah yang ada dalam al-Qur\u2019an dikategorikan kedalam tiga bagian :\u00a0<em>Pertama<\/em>, kisah yang menunjukkan tempat, tokoh dan gambaran peristiwa.\u00a0<em>Kedua<\/em>, kisah yang menunjukkan peristiwa dan keadaan tertentu tanpa menyebut nama dan tempat kejadian.\u00a0<em>Ketiga<\/em>, kisah dalam bentuk dialog yang terkadang taidak disebutkan pelakunya dan diman tempat kejadiannya.<\/p>\n<p><strong>Metode\u00a0Perumpamaan<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode\u00a0ini, disebut pula metode\u00a0<em>\u201camsal\u201d\u00a0<\/em>yakni cara mendidik dengan memberikan perumpamaan, sehingga mudah memahami suatu konsep. perumpamaan yang diungkapkan Al-qur\u2019an memiliki tujuan psikologi edukatif, yang ditunjukkan oleh kedalaman makna dan ketinggian maksudnya.\u00a0Dampak edukatif dari\u00a0perumpamaan al-Qur\u2019an dan Nabawi diantaranya:<\/p>\n<p>a) Memberikan kemudahan dalam memahami suatu konsep yang abstrak, ini terjadi karena perumpamaan itu mengambil benda sebagai contoh konkrit dalam al-Qur\u2019an.<\/p>\n<p>b) Mempengaruhi emosi yang sejalan dengan konsep yang diumpamakan dan untuk mengembangkan aneka perasaan ketuhanan.<\/p>\n<p>c) Membina akal untuk terbiasa berfikir secara valid pada analogis melalui penyebutan premis-premis.<\/p>\n<p>d) Mampu mencipatan motivasi yang menggerakkan aspek emosi dan mental manusia.<\/p>\n<p><strong>Metode\u00a0keteladanan<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode\u00a0ini, disebut juga metode meniru yakni suatu metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberikan contoh teladan yang baik kepada anak didik. Dalam Al-qur\u2019an, kata teladan diproyeksikan dengan kata<em>uswah<\/em>\u00a0yang kemudian diberikan sifat dibelakangnya seperti sifat\u00a0<em>hasanah<\/em>yang berarti teladan yang baik. Metode keteladanan adalah suatu metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberikan contoh teladanan yang baik kepada anak didik agar ditiru dan dilaksanakan. Dengan demikian metode keteladanan ini bertujuan untuk menciptakan akhlak\u00a0<em>al-mahmudah\u00a0<\/em>\u00a0kepada\u00a0\u00a0peserta didik.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Acuan dasar dalam berakhlak\u00a0<em>al-mahmudah\u00a0<\/em>\u00a0adalah\u00a0Rosulullah\u00a0dan para Nabi lainnya yang merupakan suri tauladan bagi umatnya.seorang pendidik dalam berinteraksi dengan anak didiknya akan menimbulkan respon tertentu baik positif maupun negatif, seorang pendidik sama sekali tidak boleh bersikap otoriter, terlebih memaksa anak didik dengan cara-cara yang merusak fitrahnya.\u00a0Nilai edukatif keteladanan daam dunia pendidikan adalah metode influitif yang paling meyakinkan keberhasilannya dalam\u00a0mempersiapkan dan\u00a0membentuk moral spriritual dan sosial anak didik. Keteladanan itu ada dua macam:<\/p>\n<p>a) Sengaja berbuat untuk secara sadar ditiru oleh si terdidik.<\/p>\n<p>b) Berperilaku sesuaidengan nilai dan norma yang akan ditanamkan pada terdidik, sehingga tanpa sengaja menjadi teladan bagi terdidik<\/p>\n<p><strong>Metode\u00a0Ibrah\u00a0dan Mau\u2019izhah<\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode ini\u00a0disebut\u00a0juga metode \u201cnasehat\u201d yakni suatu metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik\u00a0memberi\u00a0motivasi. Metode\u00a0<em>Ibrah<\/em>\u00a0atau\u00a0<em>mau\u2019z}ah<\/em>\u00a0(nasehat) sangat efektif\u00a0dalam pembentukan mana anak didik terhadap hakekat sesuatu,\u00a0serta memotivasinya untuk bersikap luhur, berakhlak mulia dan membekalinya dengan prinsip-prinsip Islam. Menurut al-Qur\u2019an, metode nasehat hanya diberikan kepada mereka yang melanggar peraturan dalam arti ketika suatu kebenaran telah sampai kepadanya, mereka seolah-olah tidak mau tau kebenaran tersebut terlebih melaksanakannnya. Pernyataan ini menunjukkan adanya dasar psikologis yang kuat, karena orang pada umumnya kurang senang dinasehati, terlebih jika ditunjukkan kepada pribadi tertentu.<\/p>\n<p><strong>Metode\u00a0<em>targhib<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>tarhib<\/em><\/strong><\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Metode ini, disebut pula metode \u201cancaman\u201d\u00a0\u00a0dan atau \u201cintimidasi\u201d yakni suatu metode pendidikan dan pengajaran dengan cara pendidik memberikan hukuman atas kesalahan yang dilakukan peserta didik. Istilah\u00a0<em>targhib<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>tarhib<\/em>\u00a0dalam al-Qur\u2019an dan al-Sunnah berarti ancaman atau intimidasi melalui hukuman yang disebabkan oleh suatu dosa kepada Allah dan Rasulnya. jadi, iya juga dapat diartikan sebagai ancaman Allah melalui penonjolan salah satu sifat keagungan dan kekuatan\u00a0<em>illahiyah<\/em>\u00a0agar mereka\u00a0(peserta didik) teringat untuk tidak melakukan kesalahan.<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa kelebihan yang palinh berkenaan dengan metode\u00a0<em>targhib<\/em>\u00a0dan\u00a0<em>tarhib<\/em>\u00a0ini antara lain:<\/p>\n<p>a) Taghib dan tarhib bertumpu pada pemberian kepuasan dan argumentasi.<\/p>\n<p>b) Targhib dan tarhip disertai gambaran keindahan surgaynag menakjubkan atau pembebasan azab neraka.<\/p>\n<p>c) Targhib dan tarhib islami bertumpu pada pengobatan emosa dan pembinaan efeksi ketuhanan.<\/p>\n<p>d) Targhib dan tarhib bertumpu pada pengontrolan emosi dan keseimbangan antara keduanya<\/p>\n<p style=\"font-weight: 400;\">\n<p>[1]\u00a0Assegaf, Abd. Rahman.\u00a0<em>Filsafat Pendidikan Islam<\/em>\u00a0(Jakarta : Rajawali Pers, 2011).109.<\/p>\n<p>[2]\u00a0Karti, Soeharto, dkk,\u00a0<em>Teknologi Pembelajaran<\/em>\u00a0(Surabaya: SIC, 1995).6.<\/p>\n<p>[3]\u00a0Sutari Imam Barnadib,\u00a0<em>Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis<\/em>, (Yogyakarta : Andi offset, 1987).35.<\/p>\n<p>[4]\u00a0Al-Rasyidin\u00a0&amp; Samsul Nizar,\u00a0<em>Filsafat Pendidikan Islam<\/em>, (Ciputat : PT. Ciputat Press, 2002), h. 44.<\/p>\n<p>[5]\u00a0Omar Mohammad al-Thoumy al-Syaibany,\u00a0<em>Falsafah Pendidikan Islam<\/em>, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979), h. 136.<\/p>\n<p>[6]\u00a0Al-Imam Muslim,\u00a0<em>S}ahi&gt;h<\/em><em>\u00a0Muslim<\/em>, Jilid II, (Bandung : Dah}la&gt;n, tt), h. 466.<\/p>\n<p>[7]\u00a0Ahmad D. Marimba,\u00a0<em>Pengantar Filsafat Pendidikan Islam<\/em>, (Bandung : Al-Ma\u2019arif, 1989), h. 37.<\/p>\n<p>[8]\u00a0Al-Rasyidin,\u00a0<em>Filsafat<\/em>. Ibid, 48-50.<\/p>\n<p>[9]\u00a0Hasan Langgulung,\u00a0<em>Asas-asas Pendidikan<\/em>, (Jakarta : Pustaka al-Husna, 1988), h. 26-27.<\/p>\n<p>[10]\u00a0Muhammad \u2018Athiyyah al-Abrasyi,\u00a0<em>Al-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa\u00a0<\/em><em>Fala&gt;sifatuha&gt;<\/em>, (Lebanon : Da&gt;r al-Fikr, 1969), h. 90.<\/p>\n<p>[11]\u00a0<em>Ibid<\/em>., h. 90-91<\/p>\n<p>[12]\u00a0<em>Ibid<\/em>., h. 111.<\/p>\n<p>[13]\u00a0<em>Ibid<\/em>., h. 27.<\/p>\n<p>[14]\u00a0Muhammad \u2018Athiyyah al-Abrasyi,\u00a0<em>Al-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa\u00a0<\/em><em>Fala&gt;sifatuha&gt;<\/em>, (Lebanon : Da&gt;r al-Fikr, 1969), h. 100.<\/p>\n<p>[15]\u00a0Mahmud Ahmad al-Sayyid<em>, Mu\u2019jizat al-Islam al-Tarbawiyah<\/em>, (Kuwait :\u00a0Da&gt;r\u00a0al-Buhu&gt;s\u00a0al-Ilmiyah, 1978), h. 146.<\/p>\n<p>[16]\u00a0Saleh, Abdurrahman Abdullah.\u00a0<em>Teori-Teori Pendidikan berdasarkan Al-Qur\u2019an.\u00a0<\/em>(PT Rineka Cipta, Jakarta, 1994). 159.<\/p>\n<p>[17]\u00a0Daradjat,\u00a0Zakiah Dr dkk,\u00a0<em>Metodologi Pengajaran Agama Islam,<\/em>\u00a0(Bumi Angkasa, Jakarta, 2001). 91.<\/p>\n<p>[18]\u00a0Ramayulis,\u00a0<em>Ilmu Pendidikan Islam<\/em>, (Jakarta : Kalam Mulia, 2008).2.<\/p>\n<p>[19]\u00a0<em>Ibid<\/em>. 27<\/p>\n<p>[20]\u00a0<em>Uhbiyati<\/em>, Nur.\u00a0<em>Ilmu Pendidikan Islam<\/em>, (Bandung : Pustaka Setia, 1996). 123.<\/p>\n<p>[21]\u00a0Arthur K. Ellis,\u00a0<em>Introduction To The Foundation Of Education<\/em>, (New Jersey: Eaglewood Clift Prentice Hall. 1986). 119-120.<\/p>\n<p>[22]\u00a0Al-Abra&gt;shi, Muhammad \u2018At}iyah,\u00a0<em>Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam<\/em>. Terjemah: Prof. H. Bustami A. Gani dan Johar Bahri dari :\u00a0<em>al-Tarbiyali al-Islamiyah<\/em>, Jakarta : Bulan Bintang, 1990.<\/p>\n<p>[23]\u00a0Hamid Hasan Bilgrami &amp; Sayid \u2018Ali Ashraf,\u00a0<em>Konsep Universitas Islam<\/em>\u00a0(Yogyakarta : Tiara Wacana, 1989). 84.<\/p>\n<p>[24]\u00a0Armai, arif.\u00a0<em>Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam<\/em>\u00a0(Jakarta : Ciputat Press, 2001). 41.<\/p>\n<p>[25]\u00a0Mujib, Abdullah,\u00a0<em>Ilmu Pendidikan Islam<\/em>. (Jakarta : Fajar Inter Pratama Uffset, 2008). 16.<\/p>\n<p>[26]\u00a0Al-nahlawi, Abdurrahman.\u00a0<em>Pendidikan Islam Di Rumah, Sekolah, Dan Masyarakat<\/em>. (Jakarta : Gema Insani, 1995). 204.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pengertian Faktor Faktor\u00a0dapat diartikan sebagai suatu kesatuan unsur-unsur yang saling berinteraksi secara fungsional yang memproses masukan menjadi keluaran. Faktor bisa pula diartikan sebagai seperangkat komponen&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_customify_content_layout":"","_customify_sidebar":"","_customify_page_header_display":"","_customify_disable_header":"","_customify_disable_header_top":"","_customify_disable_header_main":"","_customify_disable_header_bottom":"","_customify_disable_page_title":"","_customify_disable_content_vertical_padding":"","_customify_disable_footer_top":"","_customify_disable_footer_main":"","_customify_disable_footer_bottom":"","_customify_breadcrumb_display":"","_customify_header_transparent_display":"","footnotes":""},"categories":[285],"tags":[295],"class_list":["post-28832","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-islam"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28832","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28832"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28832\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28832"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28832"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wirabuana.ac.id\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28832"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}